Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Melihat kondisinya, dokter memutuskan memberikan obat penenang sesuai kebutuhan agar Karin dapat beristirahat dan memulihkan tenaganya. Perlahan, kelopak matanya mulai terasa berat. Tangisnya mereda, napasnya menjadi lebih teratur, hingga akhirnya ia tertidur di bawah pengawasan tenaga medis dan keluarganya yang terus menunggu di samping ranjang dengan harapan esok hari kondisinya akan semakin membaik.
***
Hari ketiga Karin dirawat di rumah sakit, Reno akhirnya muncul. Pria itu datang dengan wajah lelah dan pakaian yang tampak kusut. Ia membawa sebuket bunga serta beberapa kantong berisi perlengkapan bayi. Saat pintu kamar dibuka, Karin yang sedang menatap bayinya hanya melirik sekilas, lalu memalingkan wajah. Senyum Reno seketika menghilang. "Masih ingat kamu sama aku?" tanya Karin ketus.
Kalimat itu membuat Reno terdiam beberapa saat. Ia tahu, keterlambatannya datang telah meninggalkan luka yang sulit dijelaskan dengan alasan apa pun. Reno mendekat ke sisi ranjang, meminta maaf karena tidak menemani Karin saat operasi maupun setelah melahirkan. Ia bercerita bahwa selama beberapa hari terakhir hidupnya benar-benar berantakan. Bisnisnya terus merugi, para kreditur mendesak pembayaran, dan bank mulai memperketat pencairan pinjaman baru. Dengan suara yang dibuat selembut mungkin, Reno mengatakan bahwa ia ingin memperbaiki semuanya demi masa depan keluarga kecil mereka.
Karin mendengarkan tanpa banyak bicara. Hatinya masih dipenuhi kecewa, tetapi rasa cintanya kepada Reno belum benar-benar hilang.
Melihat sikap Karin mulai melunak, Reno perlahan menyampaikan maksud sebenarnya. Ia menjelaskan bahwa usahanya masih memiliki peluang bangkit apabila memperoleh tambahan modal dari bank. Namun, kondisi keuangannya sudah tidak lagi meyakinkan. Ia berharap Karin bersedia membantunya melengkapi persyaratan pengajuan pinjaman dan mendukung rencana penyelamatan bisnisnya.
Karin menatap Reno lama. Di dalam hatinya terjadi pergulatan yang berat. Ia sadar telah berkali-kali dikecewakan. Bahkan beberapa hari sebelumnya Reno masih berusaha meminta Nadia kembali. Namun melihat pria yang dicintainya kini tampak begitu terpuruk, hatinya kembali luluh.
Reno segera menggenggam tangan Karin. "Aku janji, setelah semua usahaku kembali, kita akan liburan bertiga dengan bayi kita. Kita mulai hidup yang baru."
Karin memejamkan mata. Janji itu terdengar begitu indah, meski di sudut hatinya masih tersimpan keraguan. Ia ingin mempercayai Reno sekali lagi, bukan karena telah melupakan semua luka yang terjadi, melainkan karena ia masih berharap ayah dari anaknya benar-benar berubah dan menepati ucapannya kali ini.
Di sisi lain, Reno mengembuskan napas lega. Setidaknya untuk saat itu, ia berhasil mendapatkan kembali kepercayaan Karin. Namun apakah kepercayaan itu akan menjadi awal perubahan, atau justru kembali dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Suasana kamar perlahan menjadi lebih tenang. Bayi mungil itu masih tertidur pulas di dalam boks transparan di samping ranjang. Karin menatap wajah putrinya dengan penuh kasih, lalu menoleh kepada Reno yang berdiri di sisinya. "Mas, mau kamu beri nama siapa putri kita?"
Reno sedikit terkejut. Ia memandang bayinya beberapa detik, tetapi tidak segera menjawab.
Keheningan itu membuat senyum Karin perlahan memudar. Dalam hatinya muncul rasa kecewa. Selama sembilan bulan mengandung, ia sering membayangkan momen ketika mereka berdua memilih nama terbaik untuk anak pertama mereka. Namun ternyata Reno bahkan belum menyiapkannya.
Melihat perubahan raut wajah Karin, Reno buru-buru mencari ide. "Reka."
Karin mengernyit. "Reka?"
"Iya. Dari Reno dan Karin."
Karin terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Nggak."
"Lho, kenapa? Bagus, kan?"
Karin menatap putrinya dengan lembut. "Namanya Abel."
Reno tampak bingung. "Abel?"
"Iya."
"Kamu sudah menyiapkan?" Karin mengangguk. "Sudah lama." Ia mengusap lembut pipi bayinya. "Aku ingin dia tumbuh menjadi anak yang membawa kebaikan, apa pun ujian hidup yang nanti dia hadapi."
Reno menatap putrinya beberapa saat. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Kalau itu yang kamu inginkan... kita panggil dia Abel."
Mendengar persetujuan itu, Karin kembali tersenyum. Untuk sesaat, ia melupakan semua pertengkaran dan luka yang memenuhi rumah tangga mereka. Perhatiannya kini hanya tertuju pada bayi mungil yang terlelap di hadapan mereka, berharap kehadiran Abel benar-benar menjadi awal yang lebih baik bagi keluarga kecilnya.
Setelah suasana kembali hening, Karin masih menatap wajah putrinya yang tertidur pulas. Kehadiran Abel membuat cara pandangnya berubah. Jika dulu ia hanya memikirkan hubungannya dengan Reno, kini setiap keputusan yang diambil harus mempertimbangkan masa depan anak mereka. Dengan suara pelan, Karin akhirnya menyampaikan satu permintaan yang sejak tadi memenuhi pikirannya. "Mas, kita harus mengurus pernikahan kita."
Reno menoleh. "Maksudnya?"
"Kita sahkan secara negara." Karin melanjutkan dengan nada serius. Ia tidak ingin Abel tumbuh dengan persoalan administrasi yang seharusnya bisa dihindari. Ia ingin putrinya memiliki dokumen kependudukan yang lengkap dan tidak perlu menanggung akibat dari keputusan orang tuanya. "Aku ingin semua hak Abel terpenuhi. Aku nggak mau nanti dia kesulitan mengurus dokumen hanya karena kita menunda-nunda."
Reno menghela napas panjang. Di tengah kondisi usahanya yang sedang terpuruk, permintaan itu terasa seperti beban baru. Namun saat melihat bayi mungil yang tertidur di samping Karin, ia sadar bahwa kali ini yang dipertaruhkan bukan lagi hanya hubungan mereka berdua, melainkan masa depan anaknya. "Aku akan urus," ucap Reno akhirnya.
Karin menatap Reno sejenak, berusaha mencari kesungguhan di wajah pria itu. "Aku harap kali ini bukan cuma janji."
Reno mengangguk pelan. "Kali ini bukan."
Meski demikian, di dalam hati Karin masih tersimpan keraguan. Ia sudah terlalu sering mendengar janji dari Reno. Karena itu, ia memutuskan tidak akan lagi percaya hanya pada kata-kata. Baginya, bukti nyata jauh lebih berarti daripada seribu janji yang mudah diucapkan.
***
Beberapa hari setelah keadaan mulai tenang, sebuah kabar tak terduga datang menghampiri Nadia. Pagi itu, saat sedang menyelesaikan pesanan pelanggan, ponselnya berdering berkali-kali. Awalnya ia mengira hanya pesan dari pelanggan yang ingin memesan pakaian. Namun setelah dibuka, ternyata sebuah merek busana muslim ternama menghubunginya melalui surat elektronik dan pesan langsung di media sosial.
Perusahaan tersebut mengaku telah lama memperhatikan sosok Nadia sejak kisahnya menjadi perhatian publik. Akan tetapi, yang membuat mereka tertarik bukanlah kisah rumah tangganya, melainkan pembawaan Nadia yang dinilai anggun, sederhana, serta memiliki citra seorang ibu yang kuat dan menginspirasi. Mereka juga melihat beberapa foto lama di media sosial Nadia ketika mengenakan busana hasil jahitannya sendiri. Meski diambil secara sederhana di rumah, potongan pakaian yang dikenakan Nadia tampak rapi dan memiliki ciri khas yang menarik perhatian tim kreatif mereka.
Dalam pesan itu, pihak brand mengajak Nadia berkolaborasi untuk menjadi wajah kampanye koleksi busana muslim terbaru sekaligus memperkenalkan beberapa desain eksklusif hasil karyanya. Mereka menegaskan bahwa kerja sama tersebut bukan untuk mengeksploitasi kisah pribadi Nadia, melainkan ingin mengangkat perempuan yang bangkit dengan karya dan keteguhannya.