Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELEWATI BATAS
Langit Jakarta malam itu seolah ikut bersekongkol dengan takdir. Hujan turun dalam tirai-tirai tebal yang pekat, membasahi aspal ibu kota hingga mengilat seperti sisik ular di bawah pendar lampu merkuri. Petir sesekali menyambar di kejauhan, membelah langit malam yang kelabu dengan kilatan perak yang dingin.
Di dalam kamar utama penthouse mereka, Aris berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemeja polo rajut premium berwarna abu-abu melange. Di atas tempat tidur, sebuah koper kabin berlogo merek ternama sudah tertutup rapi.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf harus pergi mendadak di akhir pekan seperti ini," ucap Aris, membalikkan badannya untuk menatap Kirana yang duduk di tepi ranjang. Wajah Aris menampilkan ekspresi penyesalan yang sangat meyakinkan—sebuah mahakarya akting seorang suami yang berdedikasi tinggi. "Tender proyek resor di Uluwatu itu mengalami kendala perizinan analisis dampak lingkungan. Investor dari Singapura mendadak ingin bertemu besok pagi di Denpasar. Kalau aku tidak berangkat malam ini, kita bisa kehilangan momentum."
Kirana menatap suaminya dengan sepasang mata yang teduh, seolah ia adalah air tenang yang siap menampung seluruh keluh kesah sang kepala keluarga. "Tidak apa-apa, Aris. Aku mengerti. Bisnis properti memang tidak kenal waktu, kan? Pergilah, jangan sampai terlambat ke bandara."
"Kamu memang istri yang paling pengertian, Kirana," Aris melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Kirana. Kecupan yang biasanya membuat hati Kirana berdesir penuh cinta, kini hanya terasa seperti tempelan es yang membekukan pori-porinya.
Aroma parfum Aris malam ini terasa sedikit berbeda. Ada jejak wangi body lotion vanila yang sangat samar—bukan milik Aris, dan tentu saja bukan milik Kirana. Kirana tahu persis, satu jam yang lalu, Sarah telah melakukan check-in mandiri untuk penerbangan kelas bisnis maskapai nasional menuju Denpasar yang sama dengan penerbangan Aris. Mereka tidak hanya pergi untuk urusan perizinan; mereka pergi untuk merayakan "kemenangan kecil" mereka di sebuah vila privat di tebing Uluwatu, jauh dari jangkauan mata publik Jakarta.
"Aku berangkat ya, Sayang. Jaga dirimu di rumah. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Siska atau Bimo," kata Aris sambil menarik gagang kopernya.
"Ya, Aris. Sampaikan salamku untuk... proyekmu," jawab Kirana dengan seulas senyuman manis yang begitu simetris.
Begitu pintu utama penthouse tertutup dengan bunyi klik yang berat, senyuman di wajah Kirana lenyap seketika. Ia berdiri, melangkah menuju jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota Jakarta yang buram oleh air hujan. Ia melihat mobil sedan mewah Aris perlahan menjauh dari lobi gedung, membelah kegelapan malam menuju bandara.
Kirana mengembuskan napas panjang. Rasa sakit itu masih ada, menyengat di sudut hatinya, namun kini rasa sakit itu telah bermutasi menjadi sebuah energi dingin yang menuntut penyelesaian. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Malam ini, ia tidak akan menjadi istri yang duduk manis di rumah menanti kepulangan seorang pembohong. Malam ini adalah waktu untuk menggerakkan bidak caturnya melewati garis pembatas yang paling sakral.
Ia mengambil ponsel cadangannya yang tidak terdaftar atas namanya, membuka aplikasi pesan instan, dan mencari kontak Bimo.
Pukul sembilan malam. Di sebuah kawasan jalanan yang cukup sepi di daerah Wijaya, Jakarta Selatan, sebuah mobil SUV putih terparkir di tepi jalan dengan lampu darurat (hazard) yang berkedip-kedip ritmis. Di dalam mobil, Kirana duduk dengan tenang sambil mengamati jarum jam di dasbor.
Ia sengaja mematikan mesin mobilnya dan mencabut sekring utama pemantik daya, membuat seluruh sistem kelistrikan mobil mati total seolah-olah mengalami staving atau kerusakan alternator yang parah. Ini adalah sebuah jebakan yang dirancang dengan sangat rapi. Kirana tahu, Bimo baru saja menyelesaikan rapat kerja dengan asosiasi hukum di daerah Senayan dan jalur pulangnya menuju rumahnya di kawasan Jakarta Selatan pasti melewati jalan ini.