Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Bayang-bayang Masa Lalu
Atmosfer di dalam laboratorium mendadak merosot drastis hingga ke titik beku. Kehangatan
sisa interaksi intim beberapa detik lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh ketegangan tak
kasat mata yang mencekik udara. Arkan berdiri kaku, jemarinya mencengkeram sisi ponsel
begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang gelap menatap lurus ke layar,
merekam setiap piksel foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal itu.
Di dalam foto digital berkualitas tinggi tersebut, Kiara terlihat berdiri di bawah temaram
lampu jalanan di samping lorong darurat hotel tempat konferensi pers kemarin. Dan di
hadapannya, seorang pria bertubuh tegap mengenakan jaket *hoodie* hitam sedang
menyerahkan sebuah map cokelat tebal. Wajah pria itu sengaja disamarkan oleh bayangan,
namun posisi tubuh Kiara yang condong ke depan menunjukkan tingkat kedekatan atau
setidaknya kepatuhan yang tidak biasa.
"Ini gel penenangnya, Tuan Arkan. Oleskan tipis-tipis di area yang memerah." Suara Kiara
memecah keheningan. Gadis itu kembali dengan sebuah botol kaca kecil berisi gel transparan
berwarna hijau muda.
Arkan dengan gerakan tenang namun cepat langsung membalikkan layar ponselnya ke
bawah, menyembunyikan ancaman itu dari pandangan mata Kiara. Ekspresi wajahnya
bertransformasi dalam sekejap mata kembali menjadi topeng es yang dingin dan tak terbaca.
Sepasang mata elangnya mengunci manik mata Kiara, mencoba mencari riak kebohongan di
sana.
"Taruh saja di sana," suara Arkan terdengar datar, kehilangan getaran emosional yang
hangat beberapa saat lalu.
Kiara menghentikan langkahnya tepat dua langkah sebelum meja. Instingnya yang tajam
menangkap perubahan drastis pada aura pria di hadapannya. Kerutan di dahi Arkan bukan lagi
karena iritasi kulit, melainkan karena kemarahan yang ditekan dalam-dalam. "Ada masalah
dengan saham kita? Atau... Madam Amalia mengubah pikirannya?" tanya Kiara, mencoba
memancing.
"Tidak ada masalah dengan saham, ataupun dengan nenekku," Arkan menegakkan
tubuhnya, melangkah perlahan mendekati Kiara, mengintimidasi dengan tinggi badannya. "Aku
hanya baru menyadari satu hal, Kiara. Aku membayar mahal untuk kontrak ini, bukan hanya
untuk kecerdasanmu di dalam laboratorium, tapi juga untuk kesetiaan mutlakmu selama
kesepakatan ini berlangsung." Kiara menaikkan sebelah alisnya, tidak gentar oleh tekanan mental yang dilayangkan
Arkan. "Kesetiaan? Saya rasa saya sudah menyerahkan formula terbaik saya dan
menyelamatkan reputasi perusahaan Anda dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Bagian mana dari kesetiaan saya yang Anda ragukan, Tuan?"
Arkan tersenyum sinis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahaya. "Apakah ada orang
lain yang mengetahui tentang formula rahasia ini sebelum kamu membawanya kepadaku?
Seseorang dari masa lalumu, mungkin? Atau seseorang yang mengirimmu untuk menjadi
mata-mata di dalam Narendra Cosmetics?"
Mendengar tuduhan itu, kilatan amarah langsung menyambar di mata Kiara. Rahangnya
mengeras. Ia meletakkan botol gel di atas meja dengan hentakan yang cukup keras hingga
menimbulkan bunyi dentingan nyaring. "Jaga bicara Anda, Tuan Narendra! Jika saya adalah
mata-mata, saya tidak akan bersusah payah menaikkan nilai saham Anda sebesar lima persen
sore ini. Saya bisa saja menjual formula ini ke kompetitor terbesar Anda, PT Mahardika Utama,
dan mendapatkan uang sepuluh kali lipat tanpa harus terjebak dalam pernikahan kontrak
yang konyol ini!"
Nama *Mahardika Utama* yang disebut Kiara membuat Arkan menyipitkan mata.
Perusahaan raksasa itu dipimpin oleh Baskoro Mahardika—musuh bebuyutan keluarga
Narendra yang selama ini menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan mereka. Apakah pria
berkerudung di foto itu adalah orang suruhan Baskoro? Ataukah pria itu adalah bagian dari
alasan mengapa Kiara begitu membenci masa lalunya?
"Bagus kalau kamu tahu batasannya," ucap Arkan dingin, menyembunyikan kecamuk
cemburu dan curiga yang berkecamuk di dadanya. Pria itu mengambil ponselnya kembali, lalu
berjalan melewati Kiara begitu saja menuju pintu keluar lab. "Mulai besok, sopir pribadi dari
kediaman Narendra akan menjemputmu setiap pagi. Jangan pergi ke mana pun sendirian
tanpa sepengetahuanku. Ingat, Kiara... satu langkah salah darimu, dan kontrak ini batal secara
hukum."
Pintu laboratorium tertutup rapat dengan bunyi klik yang tegas, meninggalkan Kiara
sendirian di bawah pendar lampu neon yang dingin. Kiara mengepalkan kedua tangannya di sisi
tubuh. Napasnya memburu. Bukan karena takut pada gertakan Arkan, melainkan karena dia
tahu bahwa bayang-bayang masa lalu yang dia sembunyikan rapat-rapat kini mulai mengendus
langkah kakinya.
Kiara berjalan ke sudut lab, meraba saku blusnya dan mengeluarkan ponselnya sendiri. Ia
membuka sebuah aplikasi pesan terenkripsi. Di sana, terdapat pesan keluar yang ia kirimkan
semalam kepada kontak bernama 'R': *'Dokumen internal Mahardika sudah di tangan saya.
Mereka yang memulai perang ini, dan saya yang akan mengakhirinya.'* Kiara menatap langit-langit lab dengan tatapan kosong namun penuh tekad. "Maafkan aku,
Arkan," bisiknya lirih pada keheningan. "Aku memanfaatkanmu untuk menghancurkan mereka.
Tapi aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan Narendra Cosmetics ikut hancur karena
dendam pribadiku."
Tanpa Kiara ketahui, di dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir di basement gedung,
Arkan sedang menatap layar tabletnya. Sistem pelacak yang terpasang di area sekitar
laboratorium baru saja menangkap adanya transmisi data terenkripsi dari ponsel Kiara. Seringai
dingin muncul di wajah tampan sang CEO.
"Kamu punya rahasia besar, Kiara Sabitha," gumam Arkan pada kegelapan malam,
sementara jemarinya mengetik sebuah perintah untuk asisten pribadinya. "Mari kita lihat, siapa
yang akan terbakar lebih dulu dalam permainan ini."