NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUNTUHNYA MENARA KESERAKAHAN

Pukull delapan lewat empat puluh lima menit. Koridor lantai tujuh Hotel Amethyst Executive tampak begitu sunyi, hanya menyisakan pantulan cahaya lampu dinding bergaya klasik di atas karpet beludru merah yang tebal. Namun, di balik kesunyian itu, udara terasa begitu pekat dan menegangkan. Beberapa pria berpakaian kasual tampak duduk santai di area ruang tunggu dekat lift, berpura-pura memainkan ponsel mereka, sementara pandangan mereka sesekali melirik tajam ke arah pintu kayu mahoni bernomor 709. Mereka adalah tim intelijen dari Satuan Tugas Khusus Penindakan Korupsi yang sudah menyusup sejak sore.

​Di dalam kamar 709, suasana berbanding terbalik. Ruang privat itu dipenuhi oleh asap cerutu yang tebal dan aroma kemewahan yang busuk. Tuan Surya duduk di sofa kulit utama dengan kaki menyilang, menampilkan wibawa palsu seorang pejabat tinggi kota. Di sampingnya, Tuan Bramanto tersenyum lebar dengan perut buncitnya yang bergoyang setiap kali ia tertawa kecil, sementara Adrian berdiri di dekat jendela, sesekali memeriksa jam tangan Rolex barunya dengan perasaan tidak sabar.

​Tok, tok, tok.

​Pintu kamar diketuk dengan ritme yang teratur. Salah seorang pengawal pribadi Tuan Surya yang berjaga di dalam segera membuka selot pintu setelah memeriksa melalui lubang intip.

​Juragan Jaya melangkah masuk dengan napas yang agak memburu. Di belakangnya, dua orang anak buahnya yang berbadan tegap membawa dua koper kulit berwarna hitam dengan sangat hati-hati. Wajah tua tengkulak desa itu tampak tegang, namun kilat keserakahan di matanya tidak bisa disembunyikan.

​"Ah, Juragan Jaya! Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Silakan duduk," sambut Tuan Bramanto dengan suara menggelegar, bangkit untuk menjabat tangan rekan bisnisnya.

​Juragan Jaya mengangguk pelan, lalu mengambil tempat duduk di seberang Tuan Surya. Ia segera memberi isyarat kepada kedua anak buahnya untuk meletakkan koper-koper tersebut di atas meja kaca yang memisahkan mereka.

​"Saya tidak suka membuang waktu di kota ini, Tuan Surya, Tuan Bramanto," ujar Juragan Jaya dengan suara seraknya yang khas pedesaan. "Di dalam dua koper ini ada uang tunai bersih sebesar lima milyar rupiah, sesuai dengan jaminan tambahan yang Anda minta. Sekarang, serahkan dokumen asli izin Amdal dan pemutihan pajak untuk lahan pergudangan saya di Distrik Utara."

​Tuan Surya tersenyum tipis, sebuah senyuman meremehkan yang biasa ia berikan kepada orang-orang daerah yang mengemis kekuasaannya. Ia membuka tas kerja kulit miliknya, lalu mengeluarkan map plastik berwarna biru tua—map yang beberapa hari lalu dipotret oleh Kirana di dalam brankas rumah pribadinya.

​"Tenang saja, Juragan. Di sini, segala urusan birokrasi bisa diselesaikan dengan cepat selama... pelumasnya sesuai," kata Tuan Surya sembari mengetuk-ngetuk map biru itu di atas meja. "Adrian, periksa isi koper itu."

​Adrian melangkah maju dengan penuh semangat. Di dalam benaknya, setiap lembar uang di dalam koper itu adalah tiket emas untuk membawa Kirana keluar dari The Velvet Rose dan menjadikannya miliknya seutuhnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Adrian membuka kunci kombinasi kedua koper kulit tersebut.

​KLIK. KLIK.

​Begitu tutup koper terbuka, tumpukan uang pecahan seratus ribu rupiah berwarna merah menyala berjejer rapi, memenuhi seluruh ruang di dalam koper. Bau kertas uang baru yang khas seketika menguar, memenuhi ruangan VIP tersebut.

​"Semuanya lengkap, Ayah. Lima milyar rupiah, tunai," ucap Adrian dengan mata berbinar-binar, menatap sang ayah dengan pandangan penuh kemenangan.

​"Bagus," Tuan Surya mengangguk puas. Ia mendorong map plastik biru tua itu ke hadapan Juragan Jaya. "Ini dokumen aslinya. Begitu Anda keluar dari pintu ini, proyek pergudangan itu sepenuhnya sah di bawah hukum Wilayah Barat. Selamat, Juragan, Anda sekarang adalah orang paling berkuasa di Distrik Utara."

​Juragan Jaya meraih map tersebut dengan tangan yang gemetar oleh kegembiraan yang meluap-luap. Ia membuka lembar demi lembar, menatap tanda tangan dan stempel dinas perpajakan yang selama ini ia impikan untuk melancarkan bisnis haramnya. Ia merasa telah memenangkan segalanya, merasa berada di puncak dunia tanpa menyadari bahwa tanah yang sedang ia pijak sudah siap runtuh.

​Namun, tepat saat tangan Juragan Jaya hendak menutup kembali map tersebut, dan saat tangan Adrian baru saja memegang gagang koper uang, terdengar suara dentuman keras yang menghancurkan pintu kamar 709 hingga hancur berantakan.

​BRAAAKKK!

​"JANGAN BERGERAK! KEPOLISIAN SATGAS KHUSUS PENINDAKAN KORUPSI! ANGKAT TANGAN DI ATAS MEJA!"

​Terdengar teriakan bergemuruh yang memecah kesunyian malam. Belasan petugas berpakaian hitam dan bersenjata lengkap merangsek masuk ke dalam ruangan dengan kecepatan kilat. Moncong-moncong laras panjang seketika mengunci tubuh Tuan Surya, Tuan Bramanto, Juragan Jaya, dan Adrian.

​"Angkat tangan! Jangan ada yang mencoba menyentuh barang bukti atau melakukan gerakan tambahan!" bentak seorang komandan operasi dengan suara yang menggelegar.

​Suasana ruangan seketika berubah menjadi kekacauan yang mencekam. Tuan Surya yang tadinya begitu angkuh, kini wajahnya pucat pasi seperti mayat. Cerutu di jarinya terjatuh ke atas karpet, membakar sedikit permukaannya sebelum diinjak oleh sepatu bot petugas.

​"Apa-apaan ini?! Saya ini Kepala Dinas Perpajakan! Anda tidak punya hak untuk melakukan ini tanpa surat tugas resmi!" teriak Tuan Surya, mencoba menggunakan sisa kekuasaannya dengan suara yang bergetar hebat.

​"Kami memiliki Surat Perintah Penangkapan dan Tangkap Tangan resmi dari Pusat, Tuan Surya," sahut sang komandan sembari menunjukkan selembar kertas berstempel hukum di depan wajah Surya. "Kami juga telah menerima salinan seluruh dokumen ilegal yang ada di dalam map biru itu sejak sore tadi. Anda tidak bisa mengelak lagi."

​Di sudut sofa, Juragan Jaya terduduk lemas dengan mata melotot. Tubuh tuanya gemetar hebat hingga map plastik di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Uang lima milyar yang ia kumpulkan dengan cara memeras dan menjual seluruh aset hidupnya di desa kini berada di bawah penguasaan petugas sebagai barang bukti utama suap. Seluruh dunianya, kehormatannya, dan masa depannya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

​"Ayah... ada apa ini, Ayah? Jelasin ke mereka, kita gak salah!" ratap Adrian yang mulai menangis ketakutan saat seorang petugas menarik paksa tangannya ke belakang dan menguncinya dengan borgol besi yang dingin. Pemuda itu menatap koper uang dan dokumen yang kini sedang dipotret oleh tim identifikasi dengan pandangan tidak percaya.

​Belum sempat kepanikan itu mereda, kilatan lampu lampu kilat (flash) kamera mendadak bertubi-tubi menembus pintu yang hancur. Belasan jurnalis investigasi dari Valerion Post dan media massa lainnya telah memenuhi koridor luar, mengarahkan lensa kamera mereka tepat ke arah wajah-wajah para penguasa hitam yang kini sedang digelandang keluar dengan tangan terborgol.

​Skandal korupsi terbesar di Kota Valerion malam itu resmi pecah ke permukaan.

​Sementara itu, di seberang jalan, di dalam kamar 303 The Velvet Rose, suasana begitu sunyi dan tenang. Kirana berdiri diam di dekat jendela kaca besar, menyaksikan kerumunan mobil polisi dengan lampu rotator biru dan merah yang membelah kegelapan malam di depan lobi Hotel Amethyst Executive. Suara sirine yang bersahut-sahutan terdengar samar hingga ke kamarnya, menjadi musik pengiring yang paling indah bagi akhir perjuangannya.

​Mbak Lastri masuk ke dalam kamar dengan mata yang berkaca-kaca karena haru. Ia memegang sebuah radio saku kecil yang sedang menyiarkan siaran berita kilat.

​"...Telah terjadi operasi tangkap tangan di Hotel Amethyst Executive malam ini. Kepala Dinas Perpajakan Wilayah Barat, Tuan Surya, beserta pengusaha lokal Tuan Bramanto dan seorang tengkulak daerah bernama Juragan Jaya, berhasil diamankan beserta barang bukti uang tunai senilai lima milyar rupiah..."

​Suara penyiar radio itu bergetar penuh semangat, mengabarkan kejatuhan orang-orang yang selama ini merasa kebal hukum di Kota Valerion.

​Lastri berjalan mendekati Kirana, lalu memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Air mata kemenangan mengalir di pipi wanita paruh baya tersebut. "Mereka hancur, Rana... Mereka semua ditangkap. Juragan Jaya tidak akan pernah bisa kembali ke desa lagi. Keadilan untuk bapakmu... akhirnya tunai malam ini."

​Kirana tidak menangis. Ia membalas pelukan Mbak Lastri dengan lembut, namun sepasang matanya tetap menatap lurus ke arah lampu rotator polisi di seberang jalan. Perlahan, ia menunduk melihat baju kurung usang yang dikenakannya. Duri-duri yang ia tumbuhkan di dalam dirinya selama berada di kelab malam ini telah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.

​"Ini baru permulaan, Mbak," bisik Kirana dengan suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan yang tak tergoyahkan. "Menara keserakahan mereka sudah runtuh. Sekarang, mari kita pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bangkit kembali dari dasar neraka hukum."

​Mawar Hitam dari The Velvet Rose malam itu tidak lagi mekar dalam kepalsuan asmara; ia telah menjelma menjadi lambang pembalasan dendam yang dingin, yang berhasil meruntuhkan kekuasaan mutlak dengan jerat tipu daya yang tak kasat mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!