NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Kedekatan Tak Terjadwal

Aroma sup ayam ginseng hangat dan nasi putih pulen yang dipesan Adrian dari restoran bintang lima di lantai bawah benar-benar terbukti menjadi penawar ketegangan paling efektif siang itu.

Mereka menghabiskan makan siang di atas meja makan panjang tanpa diiringi adu mulut atau sindiran tajam seperti biasanya.

Keheningan yang tercipta kali ini terasa jauh lebih bersahabat.

Bahkan, Alea terpaksa mengakui di dalam hatinya tentu saja dengan gengsi yang teramat besar untuk diucapkan secara lisan bahwa pilihan makanan hangat pilihan Adrian jauh lebih ramah di lambungnya yang sensitif daripada sereal gandum garing organiknya yang hambar.

Sesuai dengan perjanjian konyol yang mereka sepakati di ruang kerja sebelumnya, Adrian mendapatkan hak eksklusifnya untuk mengetuk-ngetukkan pulpen logamnya ke atas meja selama sepuluh menit pascamakan siang.

Menariknya, suara ketukan itu tidak lagi membuat Alea merasa gusar atau kehilangan fokus.

Suara ritmis itu justru memicu gelengan kepala geli dari sang wanita, sebuah reaksi spontan yang menandakan bahwa benteng pertahanan di antara mereka berdua perlahan-lahan mulai terkikis oleh rutinitas domestik.

Namun, ketenangan domestik yang damai dan kasual itu kembali diuji saat matahari Kota Valerika mulai bergeser jauh ke arah barat, menyisakan semburat warna jingga dan keunguan yang pekat di cakrawala langit.

Sore itu, sebuah badai petir mendadak melanda pusat kota dengan intensitas yang sangat masif.

Hujan deras yang bagaikan ditumpahkan dari langit mengguyur dinding-dinding kaca besar penthouse The Obsidian dengan hantaman angin yang keras.

Suara gemuruh guntur yang menggelegar sesekali terdengar beruntun, menciptakan getaran halus yang terasa hingga ke dalam ruangan tengah yang luas.

Alea sedang berada di ruang tengah sendirian, duduk menyilangkan kakinya di atas sofa marmer sambil mencoba fokus memeriksa berkas kerja dan laporan analitik di layar tabletnya.

Namun, konsentrasinya buyar seketika saat sebuah sentakan listrik terdengar dari panel utama.

Pet.

Sistem pencahayaan otomatis yang megah, gorden-gorden pintar, hingga seluruh layar digital di dalam penthouse mati total secara serentak.

Ruang tengah yang semula terang benderang langsung diselimuti oleh kegelapan yang sangat pekat dan pekat, hanya diterangi oleh kilatan petir dari luar jendela yang sesekali membelah langit malam dengan cahaya putih yang menyilaukan.

Alea tersentak kaget di tempat duduknya.

Tubuhnya seketika mematung di atas sofa, sementara kedua tangannya bergerak cepat mencengkeram pinggiran bantal kursi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di balik citra dirinya sebagai wanita karier yang tangguh, mandiri, dingin, dan tidak tersentuh oleh kelemahan apa pun, ada satu rahasia kecil masa kecil yang dijaganya rapat-rapat dari endusan publik maupun media: Alea memiliki klaustrofobia ringan serta trauma tersendiri jika terjebak di dalam ruang gelap yang asing tanpa persiapan.

Napasnya mulai memburu dengan ritme yang tidak teratur, dan dadanya terasa menyempit seolah-olah pasokan udara di dalam penthouse mewah itu mendadak menipis.

Bayangan-bayangan mengerikan tentang ancaman Thomas dan ruang kontrol yang gelap semalam mendadak berputar kembali di dalam kepala dan memorinya, memicu kepanikan yang nyata.

"Adrian?" panggil Alea, mencoba menahan getaran hebat yang mulai merayap di dalam suaranya.

Tidak ada jawaban yang terdengar di antara deru angin di luar.

"Adrian! Kau di mana? Tolong jawab aku!"

Detik berikutnya, sebuah langkah kaki yang mantap dan teratur terdengar mendekat dari arah koridor timur.

Sebuah cahaya kecil yang bersumber dari lampu senter ponsel pintar membelah kegelapan ruang tengah, bergerak dengan tenang menuju ke arah sofa tempat Alea berada.

"Aku di sini, Alea. Tetaplah di tempatmu dan jangan bergerak," suara bariton Adrian yang berat terdengar sangat tenang, stabil, dan membumi di tengah gemuruh badai yang menakutkan.

Pria itu berjalan mendekat dengan langkah pasti, lalu meletakkan ponsel pintarnya di atas meja marmer dengan posisi lensa senter menghadap ke atas langit-langit.

Tindakan sederhana itu menciptakan pendaran cahaya pantulan yang redup namun cukup luas untuk menerangi area sofa tempat mereka berada, mengusir kegelapan yang mencekam.

Adrian mendudukkan tubuhnya di sebelah Alea.

Matanya yang jeli dan tajam langsung menangkap gestur tubuh wanita itu yang tampak sangat tegang, dengan bahu yang bergetar halus dan wajah yang memucat pasi di bawah cahaya temaram.

"Kau tidak apa-apa, Alea? Tubuhmu gemetar sangat hebat."

"Aku... aku hanya benci situasi kegelapan yang datang tiba-tiba seperti ini," alibi Alea, mencoba menyembunyikan kelemahannya saat giginya berantuk kecil karena rasa cemas yang mendera.

Dia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan sarafnya, namun sebuah kilatan petir yang sangat besar menyambar tepat di luar jendela kaca, disusul oleh suara guntur yang menggelegar dahsyat seolah meruntuhkan langit.

Tubuh Alea refleks terlonjak kaget karena ketakutan.

Tanpa diduga dan tanpa memberikan peringatan apa pun, sebuah tangan yang besar, kokoh, dan sangat hangat mendarat di atas bahu Alea yang tertutup oleh jubah tidur sutra putih gadingnya.

Kemudian, dengan sebuah gerakan yang sangat perlahan, lembut, namun penuh kepastian, Adrian menarik tubuh Alea ke dalam dekapannya.

Pria itu membawa kepala Alea untuk bersandar dengan nyaman di dada bidangnya yang kokoh, sementara telapak tangan kirinya mulai mengusap punggung Alea dengan ritme yang konstan dan menenangkan.

Alea tertegun seketika, seluruh urat sarafnya seolah membeku.

Tubuhnya sempat menegang selama beberapa detik saat dia bisa merasakan detak jantung Adrian yang berdetak dengan ritme yang konstan, kuat, dan tenang di balik kaus katun abu-abu yang dikenakannya.

Aroma maskulin khas kayu cendana yang bercampur dengan kehangatan alami tubuh pria itu mendadak menginvasi indra penciuman Alea, memberikan rasa nyaman yang aneh.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ego tinggi dan gengsi seorang Alea Corisand menyerah kalah pada keadaan.

Dia tidak menggerakkan tangannya untuk mendorong dada Adrian menjauh, dia juga tidak melayangkan protes tajam tentang batasan kontrak domestik mereka.

Alih-alih memberontak, Alea justru menyembunyikan wajah pucatnya di ceruk leher Adrian yang hangat, membiarkan dekapan erat pria itu mengusir rasa takut, sesak, dan dingin yang sempat mencekik dadanya beberapa saat lalu.

"Sistem generator darurat sirkuit The Obsidian biasanya membutuhkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit untuk beralih secara manual jika terjadi gangguan sirkuit utama akibat sambaran petir di gardu bawah," bisik Adrian dengan suara yang sangat rendah dan lembut, tepat di dekat telinga Alea.

Usapan tangannya yang hangat di punggung wanita itu tidak berhenti, memberikan sebuah rasa aman dan perlindungan yang belum pernah Alea rasakan dari pria mana pun sebelumnya dalam hidupnya.

"Tenanglah, Alea. Tarik napasmu perlahan. Aku ada di sini bersamamu. Tidak akan ada satu hal buruk pun yang bisa menyentuhmu malam ini."

Alea memejamkan kedua matanya rapat-rapat, jemarinya tanpa sadar meremas pelan kain kaus abu-abu yang dikenakan Adrian, mencari pegangan di tengah ketidakpastian.

"Ini... tindakan ini hanya berlaku untuk sementara waktu sampai lampu di ruangan ini menyala kembali, Adrian. Jadi, jangan pernah kau berani berpikir yang macam-macam atau mengira aku lemah."

Adrian tertawa kecil mendengarnya, sebuah getaran halus yang bisa dirasakan langsung oleh Alea karena pipinya menempel erat pada dada bidang sang pria.

"Tentu saja, Nona Corisand yang terhormat. Aku sama sekali tidak berani berpikir macam-macam. Aku hanya sedang melaksanakan tugas keprotokolan keamanan domestik yang tidak tertulis demi menjamin keselamatan fisik dan mental dari mitra bisnis utamaku."

"Sialan kau, Adrian," gumam Alea dengan suara yang teredam di ceruk leher Adrian, namun di balik kegelapan itu, dia tidak bisa menahan seulas senyuman tipis yang mendadak muncul di bibirnya.

Rasa sesak di dadanya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Di dalam kegelapan malam yang sunyi, ditemani oleh suara rintik hujan deras yang menghantam permukaan kaca luar dengan ritme yang konstan, keintiman yang sama sekali tidak terjadwal di dalam kontrak itu terasa begitu nyata, jujur, dan murni.

Di detik ini, tidak ada kamera tersembunyi yang mereka takuti, tidak ada wartawan jurnalis yang harus mereka kelabui dengan senyuman palsu, dan tidak ada tuntutan surat wasiat keluarga yang harus mereka penuhi dengan paksaan hukum.

Yang ada hanyalah dua orang manusia biasa yang perlahan-lahan mulai menurunkan tameng pertahanan ego mereka dan saling berbagi kehangatan sejati di tengah badai yang mengamuk di luar sana.

Sepuluh menit berlalu dengan cepat dalam keheningan yang intim itu. Sesuai dengan prediksi akurat Adrian sebelumnya, terdengar sebuah bunyi dengungan halus yang berasal dari panel listrik utama di koridor depan gedung.

Bzzzrt... Klik.

Lampu gantung kristal yang megah di langit-langit ruang tengah perlahan-lahan kembali menyala, memandikan seluruh ruangan luas itu dengan cahaya kekuningan yang terang benderang dan hangat.

Sadar bahwa kegelapan yang mencekam telah usai dan keadaan telah kembali normal, Alea dengan kecepatan penuh langsung menarik tubuhnya mundur dari dekapan Adrian.

Dia membenarkan posisi duduknya, lalu merapikan jubah tidur sutranya yang sedikit bergeser dengan gerakan yang sangat canggung.

Wajah cantiknya seketika merona merah padam, namun kali ini sama sekali bukan karena rasa malu akibat perutnya yang keroncongan seperti tadi siang, melainkan karena kesadaran penuh akan kedekatan fisik yang sangat intim yang baru saja mereka lalui bersama dalam kegelapan.

Adrian juga ikut berdeham kecil dengan nada canggung, lalu bangkit berdiri dari sofa marmer untuk mengambil ponsel pintarnya kembali dari atas meja.

Pria itu mengusap tengkuk lehernya yang sebenarnya tidak gatal, mencoba dengan keras mengusir atmosfer kecanggungan mendadak yang merayap di antara mereka setelah lampu ruangan menyala terang kembali.

"Kurasa... sistem generator cadangannya sudah bekerja dengan sangat baik," ujar Adrian, nada suaranya kembali berubah menjadi formal meskipun masih terdengar ada sedikit getaran kaku yang tersisa di sana.

"Ya. Tampaknya memang begitu. Terima kasih banyak, Adrian. Untuk... sup ayamnya yang tadi siang, dan untuk tindakanmu yang baru saja," jawab Alea dengan nada yang sangat tulus, sementara matanya menatap lurus ke arah lantai marmer hitam, enggan dan tidak berani untuk bertemu pandang secara langsung dengan sepasang mata elang milik pria itu.

"Sama-sama, Alea. Bukan masalah besar," balas Adrian pendek.

Pria itu membalikkan tubuhnya, berniat untuk melangkah kembali ke kamarnya di koridor timur untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Namun, langkah kaki Adrian mendadak membeku seketika di atas lantai marmer saat matanya yang tajam menangkap sebuah pemandangan yang tidak biasa dan sangat mencurigakan di bawah celah pintu utama penthouse mereka.

Sebuah amplop putih panjang berukuran tebal tergeletak diam di sana.

Adrian membeku di tempatnya berdiri.

Seluruh kehangatan domestik yang baru saja tercipta dan mencairkan hubungan mereka di dalam ruangan itu mendadak lenyap tanpa bekas dalam hitungan detik, digantikan oleh hawa dingin mencekam yang menusuk hingga ke tulang.

Dia melirik ke arah Alea melalui sudut matanya, dan menyadari bahwa wanita itu ternyata juga ikut melihat arah pandangannya yang tertuju pada pintu utama.

Senyuman tipis dan gurat kehangatan di wajah Alea memudar seketika, digantikan oleh sebuah tatapan mata waspada yang sangat tajam dan dingin khas seorang penguasa media.

Badai petir di luar ruangan mungkin baru saja mereda, dan drama domestik kecil mereka yang manis baru saja selesai, namun tampaknya sang pengancam misterius di luar sana menolak dengan mutlak untuk membiarkan pasangan pernikahan kontrak ini bernapas lega terlalu lama.

Adrian melangkah mendekati pintu utama dengan langkah kaki yang penuh kewaspadaan tinggi.

Dia membungkukkan tubuhnya yang tinggi, lalu memungut amplop tebal tersebut dengan ujung jarinya.

Di bagian depan amplop putih bersih itu, tertulis sebuah kalimat pendek yang dicetak menggunakan mesin printer komputer konvensional:

Untuk Suami Istri Terhormat.

Apakah amplop misterius kali ini kembali berisi foto-foto intimidasi baru yang melibatkan sosok Thomas, atau ada sebuah tuntutan baru yang jauh lebih berbahaya yang siap mengacaukan fondasi pernikahan kontrak mereka yang baru seumur jagung?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!