NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEWARIS YANG TERLUPAKAN

Langit sore di atas Kota Aurelia membentang layaknya kanvas yang terbakar, memancarkan warna jingga keemasan yang megah. Di bawahnya, deretan gedung pencakar langit berdiri dengan angkuh, dinding-dinding kacanya memantulkan kilau kemewahan pusat peradaban modern.

Namun, tepat di tengah-tengah kepungan arsitektur futuristik itu, berdiri sebuah anomali. Sebuah bangunan megah bergaya abad pertengahan yang kokoh, kontras dengan struktur baja di sekelilingnya. Pada gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, terukir sebuah lambang kuno menggunakan sepuhan emas murni.

Seekor singa bersayap yang mengenakan mahkota ganda.

Itu adalah lambang Agung Keluarga Aristokrat. Salah satu pilar oligarki paling berpengaruh, penguasa bayangan yang mengendalikan urat nadi perekonomian negara ini selama bergenerasi-generasi. Atau setidaknya... begitulah dunia mengenang mereka di masa kejayaan dulu.

Di halaman belakang mansion yang luas dan sunyi, seorang pemuda tampak duduk dengan tenang di bawah naungan pohon bodhi raksasa. Angin sore yang berhembus konstan membuat kemeja putihnya yang longgar berkibar pelan, helai-helai rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan jatuh menyentuh kening.

Nama pemuda itu adalah Primus Valerian Aristokrat. Usianya dua puluh tiga tahun.

Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dan simetris, ketampanan klasik yang diwarisi dari darah murni para pendahulunya. Namun, tidak seperti sepupu atau saudaranya yang selalu memancarkan aura intimidasi yang pongah, mata abu-abu Primus justru sedalam telaga mati. Dingin, datar, dan menyimpan ketenangan yang mutlak.

"Jadi... mereka mulai bergerak memotong jalur logistik kita di timur," gumam Primus pelan.

Mata abu-abunya menatap tajam barisan grafik zona merah pada layar tablet hitam di tangannya. Angka-angka kerugian perusahaan cabang terus merosot, namun jemarinya justru mengetuk meja kayu dengan ritme yang sangat santai. Ia mengambil sebuah buku catatan bersampul kulit tua, lalu menorehkan beberapa baris rumus kalkulasi menggunakan pena tinta hitam.

"Jika mereka mengira penurunan saham sebanyak lima belas persen ini bisa melumpuhkan fondasiku... mereka terlalu meremehkan matematika," bisik Primus, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan misteri. Ia kemudian menyesap kopi hitam tanpa gula di sampingnya yang mulai mendingin.

Tak jauh dari selasar taman, beberapa pelayan wanita yang membawa nampan perak berjalan melintas. Mereka memperlambat langkah, lalu mulai saling berbisik dengan lirih sembari melirik ke arah pohon besar.

"Itu Tuan Muda Primus, kan? Anak dari mendiang istri pertama?"

"Iya, siapa lagi. Kasihan ya, padahal dia anak tertua, tapi posisinya di mansion ini bahkan lebih rendah dari kepala pelayan."

"Kudengar desas-desus di paviliun utama, tetua adat mau membahas posisi pewaris utama minggu ini. Apa Tuan Muda Primus punya kesempatan?"

Mendengar itu, pelayan yang satunya langsung tertawa kecil, nada suaranya penuh cemoohan. "Mana mungkin! Dia itu cacat secara ambisi. Jangankan memimpin korporasi sebesar Aristokrat Group, mengurus dirinya sendiri saja dia selalu mengurung diri di perpustakaan tua. Dia itu produk gagal."

Meskipun jarak mereka cukup jauh, panca indera Primus yang tajam menangkap setiap kata dari cemoohan tersebut dengan sangat jelas. Namun, tidak ada kemarahan di wajahnya. Ia tidak menggebrak meja, tidak juga memanggil mereka untuk dihukum. Primus hanya tersenyum samar, kembali membalik halaman buku tebalnya.

Bagi Primus, dicap sebagai "produk gagal" adalah perisai terbaik yang sengaja ia ciptakan sendiri. Di dalam keluarga yang dipenuhi oleh manusia-manusia haus darah, ambisius, dan saling menjatuhkan, memperlihatkan taring terlalu cepat sama saja dengan bunuh diri. Di saat saudara-saudaranya sibuk pamer kekayaan di pesta-pesta malam dan mencari muka di hadapan dewan direksi, Primus memilih menenun jaring laba-labanya sendiri di dalam kegelapan.

"Kalau saja dia punya karisma perang seperti Tuan Muda Adrian..."

"Atau setidaknya memiliki setengah dari kecerdasan taktis yang dimiliki Nona Vanessa..."

Kalimat-kalimat pembanding seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak ia berusia sepuluh tahun. Dunia luar mengira Primus adalah domba penakut yang pasrah, tanpa tahu bahwa di balik buku-buku tebal yang dibacanya setiap hari, ada cetak biru dari seluruh pergerakan ekonomi yang sedang ia kendalikan dari balik layar.

"Primus!"

Sebuah suara merdu namun bernada tegas memecah keheningan taman belakang.

Seorang gadis dengan rambut cokelat bergelombang yang indah berjalan menghampiri dengan langkah anggun. Gaun sutra putih yang dikenakannya melambai elegan seiring pergerakannya, memancarkan aura kemewahan yang murni. Wajahnya yang cantik jelita dengan sepasang mata hijau emerald langsung menyedot perhatian siapa pun yang memandang.

Vanessa Laurent.

Perempuan itu adalah tunangan resmi Primus, sekaligus putri tunggal dari Keluarga Laurent—raksasa otomotif dan militer yang menjadi sekutu finansial terbesar Keluarga Aristokrat saat ini.

Primus menutup buku tebalnya tanpa menimbulkan suara, lalu mendongak. "Kau mencariku, Vanessa? Kurasa jam kunjungamu ke mansion ini baru dijadwalkan besok."

Vanessa berdiri di depan meja Primus, melipat kedua tangannya di bawah dada sembari menghela napas panjang. "Akhirnya aku menemukanmu di sini lagi. Kenapa kau selalu bersembunyi di tempat sepi begini sih?"

"Di sini udaranya bagus untuk berpikir," jawab Primus dengan nada flat yang biasa.

Vanessa menggelengkan kepalanya, sedikit gemas dengan tanggapan dingin tunangannya. "Ayahku akan mengadakan pesta makan malam besar minggu depan di Grand Aurelia Hotel. Seluruh petinggi distrik barat akan hadir."

"Lalu?" Primus menaikkan sebelah alisnya.

"Lalu... kau harus datang mendampingiku, Primus Valerian," tegas Vanessa, menekankan setiap suku kata nama panjang pria itu.

Primus tersenyum kecil, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Harus? Kau tahu sendiri aku tidak terlalu menyukai kerumunan orang-orang yang saling memuji topeng mereka masing-masing."

Vanessa memutar bola matanya, namun ada gurat kecemasan yang tersembunyi di balik matanya yang indah. "Tentu saja harus. Bagaimanapun juga, di atas kertas, kau adalah tunanganku. Jika kau absen lagi untuk ketiga kalinya, spekulasi media tentang keretakan hubungan kita akan membuat saham Laurent goyah."

Primus terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar magnetis. "Baiklah. Demi kestabilan saham Laurent, aku akan datang."

Vanessa menghela napas lega, ketegangan di bahunya tampak mengendur. "Syukurlah. Pastikan kau memakai jas yang kukirimkan besok."

Meskipun mereka telah terikat status pertunangan selama dua tahun penuh, hubungan di antara keduanya tidak pernah dilandasi oleh romansa yang membara. Itu adalah murni pernikahan politik yang diatur oleh para tetua untuk mengunci aliansi dua keluarga besar. Namun, jika dibandingkan dengan anggota keluarga Aristokrat lainnya yang memperlakukan Primus seperti hantu, Vanessa adalah satu-satunya orang yang masih memperlakukannya sebagai manusia. Setidaknya, itulah yang selama ini terlihat di permukaan.

"Tuan Muda Primus."

Langkah kaki yang tergesa-gesa memutus percakapan mereka. Seorang kepala pelayan senior bertubuh tambun datang mendekat dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya yang mengenakan sarung tangan putih menyodorkan sebuah nampan perak berisi sebuah amplop hitam pekat dengan segel lilin merah darah berlogo singa bersayap.

Primus menerima amplop tersebut. Begitu ujung jarinya menyentuh tekstur kertas yang tebal, matanya sedikit menyipit.

"Ada apa? Surat dari siapa?" tanya Vanessa, mencoba mengintip.

Primus memecah segel lilin itu perlahan, membaca sebaris kalimat pendek yang tertulis di dalam kertas hitam tersebut menggunakan tinta emas.

"Undangan rapat dewan inti Keluarga Aristokrat," ucap Primus datar. "Malam ini, jam delapan tepat. Di Aula Merah."

Vanessa tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyuman merekah di wajah cantiknya. "Wah, rapat dewan inti? Ini sangat langka. Sepertinya para tetua akhirnya melihat potensimu, Primus. Ini pasti kabar baik tentang suksesi."

"Mungkin," jawab Primus pendek, mengangguk pelan.

Namun, di dalam rongga dadanya, jantung Primus berdegup dengan ritme yang berbeda. Ada sebuah intuisi tajam yang berbisik—sebuah insting yang telah ia asah selama bertahun-tahun di dalam kegelapan. Segel lilin merah darah pada kertas hitam itu bukan penanda sebuah anugerah atau kabar baik.

Itu adalah tanda eksekusi.

Angin sore mendadak berembus jauh lebih kencang, menerbangkan dedaunan kering dari pohon bodhi hingga berputar-putar di udara sebelum jatuh menghantam tanah. Primus berdiri, menatap langit Aurelia yang kini telah sepenuhnya berubah menjadi merah keunguan, gelap yang pekat perlahan mulai merayap naik dari ufuk timur.

Tanpa disadari oleh Vanessa maupun para pelayan yang mencemoohnya, kehidupan tenang yang selama ini dibangun Primus sebagai "pria tak berguna" akan hancur malam ini.

Tirai sandiwara telah ditarik, dan Aula Merah malam ini akan menjadi saksi... apakah sang singa bersayap akan benar-benar kehilangan mahkotanya, atau justru mulai memperlihatkan taring aslinya kepada dunia.

"BERSAMBUNG"

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!