NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pernikahan

Hari sudah mulai siang, Hanif berpapasan dengan adiknya yang baru saja akan masuk ke ruang khusus dokter.

"Kamu semalam gak pulang? Ibu tanya ke Abang. Kok gak izin."

Seyila menunduk. Nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan singkat dari abangnya.

"Seyila!?"

"Semalem Yila gak pulang karena ikutan nobar sama temen yang lain. Terus pulangnya ke kost-an temen karena udah malem banget, lupa gak izin dulu sama ibu," jawab Seyila.

"Nanti pulang jelasin ke ibu. Abang gak mau bantu jelasin ya!"

Seyila hanya mengangguk mengiyakan.

Di sisi lain, Riyani sudah merasa lebih baik sekarang. Menstruasinya sudah kembali normal, rasa pusing kunang-kunang juga hanya tinggal sisa.

Wanita itu berjalan ke dapur toko kue, meminta izin pada neneknya untuk membantu walaupun hanya sedikit. Tapi nenek dengan tegasnya memintanya untuk pulang kembali, menyuruhnya untuk beristirahat lebih dulu sampai benar-benar pulih. Apalagi menuju hari pernikahan yang dimana bisa lebih melelahkan dibanding sebelumnya.

Selama beberapa minggu menuju pernikahan, Riyani memilih untuk memulihkan badannya. Ia sama sekali tidak banyak bekerja, berbeda dengan Hanif yang cukup sibuk setiap harinya.

Sampai beberapa hari sebelum pernikahan, Hanif belum bertemu kembali dengan calon istrinya. Apalagi ibunya sedikit melarang Hanif untuk terlalu banyak bertemu jika waktunya hampir tiba.

...----------------...

Hari Pernikahan Tiba,

Di rumah kakek dayat sudah ramai sanak saudara yang akan menyaksikan hari bahagia riyani dan juga Hanif.

Riyani sudah sibuk dengan riasan pada wajahnya, rasa gugupnya, dan pikiran tentang bapaknya.

Di kamar—Riyani berulang kali mengecek ponselnya. Ia sudah banyak berkabar dengan Hanif sejak dini hari. Lelaki itu nampaknya sudah siap untuk berangkat. Sedangkan Riyani akan memenuhi sesi potret lebih dulu lalu kembali berganti pakaian dengan pakaian adat sunda—khasnya memakai siger.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, matahari sudah mulai menyorot pelaminan serba putih dengan hiasan daun untuk menambah kesejukannya. Indah, indah sekali.

Rombongan keluarga Hanif sudah datang. Petasan bersuara nyaring menyambut mereka, ditambah dengan iringan musik dan sambutan selamat datang dari MC yang bertugas.

Rombongan keluarga riyani nampak menyambut di hadapan rombongan keluarga mempelai pria. Hanif juga nampak gugup ditengah gandengan orang tuanya. Yang nampak ia sedikit lega adalah Pak Adam dan Bu Sinta yang menyambutnya. Setidaknya pikiran riyani tidak akan terlalu kalut di pernikahannya.

Proses mapag panganten berlangsung, ada kakek-kakek dan beberapa penari serta pembawa payung yang mengiringi. Bu Sinta mengalungkan rangkaian bunga melati pada calon menantunya.

Selesainya, rombongan dipersilahkan untuk duduk pada kursi-kursi yang sudah berjajar rapih menghadap pelaminan. Hanif duduk pada kursi yang disediakan untuk akad, ada Pak Adam, pegawai KUA, dan saksi yang sudah bersiap di sana.

Riyani membacakan izin menikah untuk orang tuanya. Sekalipun sebenarnya, ia belum mengetahui jika orang taunya hadir di sana.

Setelahnya, semua orang tertuju pada Hanif. Akad nikah akan segera dimulai, Hanif menjabat tangan Pak Adam. Bacaan mulai terdengar, Hanif begitu fokus dengan ucapan yang harus dia suarakan setelahnya.

Dengan lantang dan satu tarikan napas ia berkata:

Saya terima nikah dan kawinnya Riyani Syifaul binti Adam Hafidz dengan mas kawin 20g emas dan uang sebanyak 10 juta rupiah dibayar tunai.

"Sah!?"

"SAH!!!!"

"Alhamdulillah!!!"

Hanif menghela napasnya lega. Sebelum bertemu dengan istrinya, lelaki itu bersujud pada kaki ibunya. Berterima kasih sudah mendidik dan bertanggungjawab untuk hidupnya selama ini.

Setelah cukup tenang, Hanif menghadap pelaminan—menunggu istrinya keluar dari tempat persembunyiannya tadi.

"Aa manggil ke istrinya apa sih? Panggil dong A biar cepet keluar," pinta MC-nya.

Dengan wajah merah padam, Hanif berkata, "Neng, yuk sini yuk!!"

Sorakan terdengar menggema. Pasalnya, di keluarga saja Hanif memang cukup pendiam dan jarang berbicara. Bahkan ia hanya seperlunya saja. Mendengarnya seperti itu, malah terdengar sedikit aneh bagi semua orang.

Riyani dibawa keluar neneknya, tatapan langsung tertuju pada mamah dan bapak yang kini menunggunya pada jalan menuju pelaminan.

"Bapak, mamah!?" seru Riyani tidak lagi bisa menahan tangisnya.

Mamah mengelus punggungnya.

"Syutttt.... jangan dulu nangis, nanti harus ketemu sama suami kamu itu."

Gandengan keduanya membuat Riyani merasa senang, begitu bahagia bercampur dengan sedih. Ternyata yang mengucap ijab tadi bapaknya.

Setelah berjalan menuju pertengahan, Riyani harus berjalan seorang diri menghampiri Hanif yang kini menunggunya.

"Aa sudah ada teteh ini di belakangnya. Sudah siap bertemu istrinya?"

Hanif mengangguk.

"Sok... Aa berbalik terus nanti deketin si tetehnya, berhadapan, terus do'ain yaa!"

Hanif kembali mengangguk.

Lelaki itu berbalik. Menatap istrinya yang kini berhadapan dengannya. Make-up yang tertancap pada wajah riyani membuat Hanif sedikit tertegun, begitu menambah kecantikan riyani sampai ia tidak rela membaginya pada siapapun.

Tatapannya terus menempel pada istrinya. Belum lagi langkah demi langkah mendekat. Hanif menangis, telinganya sampai memerah menahan tangisan haru bisa sampai di titik ini.

Riyani tersenyum tipis melihat suaminya. Ia usap lengan hanif agar lebih tenang.

Setelahnya, Hanif menaruh tangannya pada puncak kepala riyani lalu membaca do'a yang selama ini ia hapalkan. Lalu kecupan pada keningnya yang cukup lama.

Keduanya berjalan pada meja akad, menandatangani surat menikah dan beberapa berkasnya. Sesi pemotretan mahar dan juga pemasangan cincin nikah.

Dilanjut dengan beberapa adat yang memang ada di pernikahannya. Seperti sungkeman, sawer dan yang lainnya.

Rangkaian acara berlangsung lancar, alhamdulilah kini tatapan riyani tidak lagi sedih—apalagi orang tuanya menemaninya di pelaminan. Ditambah Hanif yang terus mengeluarkan kata-kata manis yang sebelumnya belum ia dengar.

...----------------...

Sorenya, Riyani sudah masuk lebih dulu ke kamar. Ia kebingungan membuka kebaya yang masih terpasang di badannya. Sedangkan Hanif masih terlihat mengobrol dengan temannya.

Ponselnya muncul notifikasi pesan.

Dimana banyak orang memberikannya selamat tapi pesan dari Seyila baru saja masuk padanya.

(Ri ada kado besar di depan meja pager ayu. Katanya tadi ada yang kasih, cowok terus balik lagi)

(Aku curiga kalau itu si bajingan)

"Neng lagi baca apa sampe serius begitu?" tanya Hanif yang baru saja masuk ke kamar.

Riyani langsung menutup ponselnya.

"Enggak, A. Lagi baca chat dari banyak orang tadi."

Hanif hanya mengangguk paham.

"Aa, Neng boleh minta tolong gak?"

"Kenapa cantik?" tanya Hanif mendekat padanya.

"Tolong bantuin buka baju!" pinta Riyani membuat Hanif terdiam.

"Kamu..."

"Maksudnya kebayanya, Aa. Bukan semuanya," ucap Riyani.

Hanif terkekeh mendengarnya. Apalagi melihat wajah merah istrinya.

"Gemes banget ..... Aa bercanda."

"Sini Aa bantu," ucapnya.

Riyani duduk pada kursi meja rias. Hanif membuka satu persatu jarum yang ditancap pada kerudung dan aksesoris lainnya.

Tapi.... dengan keisengannya, ia kecup pipi riyani begitu saja lalu melanjutkan kerjaannya kembali dengan santai.

Riyani terdiam, menatap suaminya yang kini tersenyum sembari fokus pada jarum yang masih cukup banyak.

"Boleh gak sih?" tanya Hanif.

"Apa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!