Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Manifes penerbangan jet pribadi Gulfstream G650 milik keluarga Abbey dengan nomor registrasi PK-ABB telah tertera rapi di sistem navigasi Bandara Internasional John F. Kennedy.
Pukul empat sore, burung besi itu lepas landas membelah langit New York, bergerak stabil menuju Zurich, Swiss.
Di bursa saham dan ruang rapat Osborn Group, kabar kepergian Adiba Abbey dianggap sebagai bentuk pelarian seorang wanita yang patah hati setelah badai perceraiannya dengan Raynazh bocor ke publik.
Namun, di sebuah rumah aman tersembunyi di kawasan elite berpagar tinggi di Long Island—kurang dari tiga puluh mil dari hiruk-pikuk Manhattan—sebuah taksi hitam premium perlahan memasuki pekarangan.
Pintu taksi terbuka. Sepatu hak tinggi hitam yang semalam mengejar Louis di pelataran parkir, kini melangkah turun ke atas rerumputan yang basah. Adiba Abbey berdiri di sana. Dia menanggalkan mantel bulu hitamnya, menyisakan gaun rajut longgar berwarna krem yang menyamarkan lekuk tubuhnya.
Ke Swiss hanyalah taktik jahanam yang dirancangnya dengan cerdas dalam hitungan jam. Adiba tahu, dengan memalsukan keberadaannya di manifes penerbangan, perhatian mata-mata Arthur Osborn, kecurigaan Raynazh, dan yang paling penting—pandangan elang abu-abu milik Louis—akan teralih ke benua Eropa.
Dia sengaja membiarkan jet pribadinya terbang kosong hanya untuk memotong tali pelacak yang mengikat kakinya.
Adiba melangkah menuju pintu masuk rumah aman tersebut. Wajahnya masih pucat, lingkaran hitam di bawah matanya kian menegaskan betapa fisiknya sedang digilas habis oleh awal kehamilan dan stres emosional yang ekstrem.
Namun, tidak ada lagi kebingungan atau keputusasaan di wajah itu. Tatapan matanya telah mengeras, membeku menjadi lapisan es yang tidak akan pernah bisa dicairkan oleh siapa pun lagi.
Tangan Adiba bergerak perlahan, mendekap perutnya yang masih rata dengan sentuhan yang teramat protektif.
"Anakku..." bisik Adiba, suaranya sedingin angin utara yang berembus di pantai Long Island. "Kau hanya milikku. Hanya anak dari Adiba Abbey. Pria bajingan di Brooklyn itu tidak akan pernah memiliki hak, bahkan untuk sekadar memanggil namamu kelak."
Kilat kemarahan yang pekat berkobar di dalam manik mata hitamnya. Sumpah yang dia ucapkan di pelataran parkir semalam kini telah bermutasi menjadi sebuah janji suci yang gelap.
Dia tidak akan pernah memaafkan Louis Enver Osborn. Tidak akan pernah. Hinaan Louis yang menyebut calon anaknya sebagai makhluk hina dan menjijikkan telah membakar habis sisa-sisa kemanusiaan dan cinta yang dia rawat selama sepuluh tahun.
Cinta itu kini telah resmi menjelma menjadi dendam kesumat yang siap dia simpan rapat-rapat sampai waktu yang tepat tiba.
Pintu besar rumah aman itu mendadak terbuka dari dalam sebelum Adiba sempat mengetuknya.
Di ambang pintu, berdiri dua sosok yang selama ini terpisah jarak New York–Paris dengannya. George Abbey, sang kepala klan Abbey yang berwibawa dengan rambut yang mulai memutih di pelipis, dan istrinya, Eleanor Abbey, seorang wanita paruh baya berwajah anggun yang mengenakan selendang sutra.
Melihat putri tunggal mereka berdiri di sana dengan wajah pias, bibir yang terluka, dan tubuh yang tampak begitu rapuh, pertahanan kedua orang tua itu runtuh seketika.
"Adiba... Putriku..." Eleanor Abbey terisak, suara tangisnya pecah memenuhi keheningan teras rumah. Dia berlari kecil, langsung merengkuh tubuh Adiba ke dalam pelukannya yang teramat erat.
George Abbey menyusul di belakang, merangkul kedua wanita yang paling dicintainya di dunia ini.
Air mata mengalir di pipi pria tua yang biasanya ditakuti di dunia bisnis itu. Tangisan haru dan kerinduan dari kedua orang tuanya menyelimuti Adiba, meruntuhkan keheningan malam yang sunyi.
Mereka tahu segalanya. Mereka tidak butuh penjelasan tentang apa yang terjadi di menara Osborn semalam, karena mata-mata klan Abbey telah melaporkan setiap jengkal penderitaan yang diterima putri mereka selama menjadi istri Raynazh.
"Masuklah, Nak. Masuk... kau aman di sini. Papi dan Mami di sini," bisik George dengan suara baritonnya yang bergetar menahan tangis.
Di dalam ruang keluarga yang hangat dengan perapian yang menyala, Adiba duduk di antara mami dan papinya. Sebuah cangkir teh chamomile hangat diletakkan di depannya, namun Adiba hanya menatap kepulan uapnya dengan pandangan kosong.
Eleanor tidak henti-hentinya mengusap jemari tangan Adiba yang terasa teramat dingin.
Sebagai seorang ibu, dia tahu betul penyakit hati apa yang telah menggerogoti jiwa putrinya selama sepuluh tahun terakhir ini.
Obsesi gila Adiba pada sosok Louis Osborn bukanlah rahasia bagi mereka. Di Paris, kamar Adiba dipenuhi oleh potongan berita, foto, dan laporan mengenai pergerakan Louis.
George dan Eleanor telah mencoba segala cara untuk menyembuhkan putrinya, termasuk mengurungnya di fasilitas medis terbaik, namun batin Adiba telah terkunci mati pada pria itu sejak insiden sepuluh tahun lalu di Queens.
"Kami sudah tahu tentang kehamilanmu, Adiba," George membuka suara, suaranya berat dan sarat akan kepedihan yang mendalam selaku seorang ayah. "Dokter pribadi kita telah mengirimkan salinan rekam medis itu pada Papi pagi ini."
Adiba mendongak, menatap papinya dengan tatapan lurus. "Aku akan membesarkannya sendiri, Papi. Anak ini tidak memiliki ayah. Dia hanya berdarah Abbey."
Eleanor kembali menangis, menarik Adiba ke dalam dekapannya, mengusap rambut hitam panjang putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Mami dan Papi, Nak... Maafkan kami yang membiarkanmu masuk ke dalam lingkaran keluarga Osborn itu. Kami mengira dengan menyetujui pernikahanmu dengan Raynazh, kau bisa melupakan Louis atau setidaknya mengendalikan obsesimu. Tapi kami salah... mereka adalah sekumpulan monster."
George Abbey bangkit dari duduknya, berjalan mendekati perapian dengan kedua tangan yang dikepalkan di belakang punggung. Rahangnya mengeras ekstrem saat mengingat laporan tentang bagaimana Louis mencaci maki putrinya di pelataran parkir malam lalu.
"Pria seperti Louis Enver Osborn... dia tidak pernah pantas untukmu, Adiba!" ucap George dengan nada tegas, berbalik menatap putrinya dengan pandangan mata yang sarat akan otoritas seorang ayah yang terluka.
"Papi tahu kau menganggapnya sebagai pahlawanmu. Kau melihatnya sebagai pria kuat yang mengorbankan dirinya demi orang lain. Tapi lihat apa yang dia lakukan padamu?! Dia menghinamu, dia mengutuk darah dagingnya sendiri hanya karena egonya yang picik sebagai berandal Brooklyn!"
"George, tenanglah... Adiba sedang terguncang," sela Eleanor dengan suara bergetar.
"Tidak, Eleanor! Adiba harus mendengar ini!" George melangkah mendekati Adiba, berlutut di depan putrinya agar mata mereka sejajar.
"Dengar Papi, Nak. Louis Osborn mungkin memiliki fisik yang kokoh dan darah Osborn di tubuhnya, tapi jiwanya adalah jiwa seorang pengecut. Pria sejati tidak akan pernah melontarkan kata-kata sehina itu kepada wanita yang telah mengorbankan segalanya untuknya. Dia tidak pantas menerima setetes pun air matamu, apalagi mendapatkan cinta agungmu yang kau simpan selama sepuluh tahun ini."
Adiba tertegun mendengar perkataan papinya. Kata-kata George laksana tamparan realitas yang kian mempertegas batas garis perang di dalam kepalanya. Benar. Louis tidak pernah pantas untuknya. Pria itu terlalu buta oleh rasa bersalahnya pada Christine, terlalu bodoh untuk menyadari siapa yang benar-benar berdiri di belakangnya untuk memberikan takhta.
"Papi benar..." Adiba berucap, suaranya kini terdengar teramat stabil, kering, dan kosong dari segala bentuk emosi rasa sakit. "Dia tidak pantas. Dan mulai malam ini, aku bersumpah di depan Papi dan Mami... aku tidak akan pernah membiarkan nama Osborn menyentuh sejengkal pun kehidupan anak ini."
Adiba menggenggam tangan kedua orang tuanya dengan erat. Wajah pucatnya yang lebam akibat sisa kekerasan Raynazh kini memancarkan aura kepemimpinan seorang ratu klan Abbey yang sesungguhnya.
"Sandiwara di Swiss akan menahan mereka selama beberapa minggu," lanjut Adiba, matanya berkilat dingin.
"Biarkan Louis membusuk di dalam penyesalannya di Brooklyn setelah dia tahu aku benar-benar hamil dari detektif swastanya. Aku ingin dia mencari bayanganku ke ujung bumi, dan aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menghadapi kehampaan yang dia berikan padaku. Kita akan tetap di sini, menyusun kekuatan... Agar menyaksikan kehancuran Osborn Group hingga menjadi debu."
George Abbey tersenyum bangga di tengah sisa air matanya. Dia mengecup kening putri tunggalnya dengan penuh rasa kagum. Di dalam keheningan rumah aman Long Island, aliansi berdarah yang baru telah terbentuk—bukan lagi atas dasar cinta gila seorang gadis melainkan atas nama dendam seorang ibu yang dikhianati oleh takdirnya sendiri.