JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Aroma lakban, plastik bubble wrap, dan kardus baru memenuhi ruko lantai dua yang siang itu terasa semakin gerah meskipun AC sudah menyala maksimal. Di tengah riuhnya suara sobekan lakban dari arah meja packing, ponsel Haura yang tergeletak di samping laptop di atas meja kerjanya tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang paling ingin ia hindari hari ini: Anggara.
Haura memijat pangkal hidungnya yang terasa pening sebelum menyambar benda pipih tersebut. Ia menggeser tombol hijau dengan malas.
"Ya, halo, Pa," sapa Haura, suaranya terdengar datar dan kentara sekali sedang menahan lelah.
Dari seberang telepon, suara berat dan penuh wibawa khas Anggara langsung menyambar tanpa basa-basi. "Nanti malam jam tujuh, seperti biasa, kamu ketemu sama pria yang sudah mengajukan ingin berkenalan dengan kamu, Haura."
Haura menghela napas panjang, bersandar pada kursi kerjanya sambil memutar-mutar pena di tangan kanan. "Siapa lagi, Pa? Kemarin Danis, sekarang siapa lagi?"
"Anak temen Papa. Trian. Dia baru pulang menyelesaikan studi masternya di luar negeri dan sekarang memegang kendali perusahaan keluarganya. Pria baik-baik, berpendidikan, dan Papa rasa dia sangat cocok untuk mendampingi kamu."
Haura mendengus sinis, matanya melirik ke arah tiga mahasiswa yang sedang sibuk membungkus barang, terutama ke arah Marco yang tiba-tiba melambatkan gerakannya, seolah-olah telinganya sedang dipasang tajam-tajam untuk mencuri dengar pembicaraannya.
"Hmm... oke. Aku bakal datang," jawab Haura mengalah demi memutus perdebatan, "tapi jangan salahin aku kalau kali ini juga... nggak cocok. Jangan berharap terlalu banyak, Pa."
Suara Anggara di seberang sana langsung memberat, tanda tidak suka dengan nada bicara putrinya. "Jangan kecewakan Papa, Haura. Ini demi kebaikan kamu juga. Jam tujuh malam, jangan terlambat."
Tut.
Sambungan diputus sepihak oleh sang papa. Haura menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan campur aduk antara jengkel dan lelah. Ia membanting pelan ponselnya kembali ke atas meja kerja.
"Kenapa lagi, Ra?" tanya Emilia yang baru saja datang dari pantry membawa dua botol air mineral dingin. Ia meletakkan satu di meja Haura.
"Biasalah, Papa," keluh Haura sambil menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Dulu Kak Aurora nikah sama Mas Langit aja dipersulit setengah mati karena dulu Mas Langit cuma ajudan Papa. Sekarang? Aku malah disuruh nikah mulu, dijodohin sama sana-sini seolah aku ini barang yang nggak laku. Pusing tahu nggak sih, Em."
Emilia menarik kursi di dekat meja Haura dan duduk di sana, menatap sahabatnya dengan pandangan prihatin sekaligus geli. "Ya lagian... kamu kerja mulu dari pagi ketemu subuh. Cari pacar dong makanya, biar Om Anggara nggak pusing nyariin kamu jodoh terus!"
"Nggak minat, Emilia. Ribet," sahut Haura ketus, langsung membuka laptopnya kembali untuk memeriksa manifes pengiriman barang dari London. "Laki-laki zaman sekarang itu maunya dihormati, tapi kelakuannya menuntut. Lebih bagus aku ngurusin pelanggan jastip yang jelas-jelas ngasilin duit daripada ngurusin ego laki-laki."
"Nggak semua laki-laki begitu, Ra. Siapa tahu si Trian yang ini beda," ujar Emilia mencoba mencairkan suasana.
"Sama aja. Paling ujung-ujungnya nanya kenapa umur tiga puluh delapan belum nikah, atau kenapa perempuan sesukses aku masih sibuk di gudang. Pertanyaan basi," potong Haura tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Tak jauh dari meja utama, jam dinding besar di ruko sudah menunjukkan pukul dua belas siang tepat. Bunyi alarm dari ponsel Arlo menandakan bahwa waktu istirahat makan siang telah tiba.
"Gila, pinggang gue mau patah," keluh Arlo langsung menjatuhkan dirinya di sofa panjang ruko, mengabaikan debu-debu tipis yang mungkin menempel. "Tante Haura bener-bener kayak mandor kerja paksa zaman Belanda."
"Heh, bersyukur lo dikasih makan siang gratis," sahut Kevin yang ikut duduk di lantai ruko, bersandar pada tumpukan kardus kosong. "Tapi asli, barang-barang di sini harganya bikin merinding. Gue megang satu tas aja gemeteran takut lecet."
Berbeda dengan kedua temannya, Marco justru tidak langsung duduk. Ia berjalan pelan ke arah dispenser, mengambil segelas air dingin sambil matanya tetap tertuju pada Haura yang masih sibuk mengetik dengan kecepatan penuh. Rambut wanita itu sedikit berantakan, dan blazer navy-nya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku.
"Woi, Co, nggak makan lo? Malah ngeliatin Tante gue mulu," bisik Arlo menyenggol kaki Marco dengan sepatunya.
"Gue heran aja," jawab Marco pelan, suaranya berat dan tenang. "Itu tante-tante nggak punya tombol off ya di hidupnya? Orang lain istirahat, dia malah makin gila ngetik."
Marco melangkah mendekati meja Haura dengan segelas air di tangannya. Ia meletakkan gelas itu sedikit menghentak di dekat laptop Haura, membuat wanita itu tersentak dan mendongak dengan tatapan judes andalannya.
"Apa lagi, Marco? Tugas kamu belum selesai semua, kan?" tanya Haura tajam.
"Ini jam makan siang, Tante Sayang," ujar Marco dengan nada tengilnya yang khas, bersandar pada pinggiran meja Haura tanpa permisi. "Semuanya istirahat. Bahkan robot aja butuh di-cas biar nggak korslet. Lo nggak laper apa? Dari tadi pagi cuma makan roti sepotong."
Haura melipat tangannya di depan dada, menatap Marco dengan pandangan mengintimidasi. "Bukan urusan kamu. Dan panggil saya Tante Haura atau Ibu, jangan panggil 'lo' di tempat kerja saya. Tidak sopan."
Marco justru terkekeh, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat hingga Haura bisa mencium aroma sisa parfum maskulin yang bercampur dengan keringat tipis pemuda itu. "Di luar ruko gue panggil Tante, di dalem ruko juga dipanggil Tante. Basi ah. Lagian, denger-denger nanti malam mau kencan lagi ya? Trian siapa tuh? Anak temen bokap?"
Haura membelalak, matanya melirik tajam ke arah Arlo yang langsung pura-pura tidur di sofa. "Arlo! Kamu bocorin omongan saya ke teman kamu?!"
"Bukan Arlo yang bocorin, Tante. Suara Tante pas teleponan tadi itu kedengeran sampai ujung ruangan. Cemprengnya khas banget," sahut Marco santai, sama sekali tidak takut dengan kilatan amarah di mata Haura. "Gue cuma mau ngingetin aja, jangan sampai kencan malam ini gagal lagi kayak semalem gara-gara ban kempes. Atau... lo mau gue bocorin ban mobil lo lagi biar lo punya alasan buat bolos kencan?"
"Marco Permana!" bentak Haura, wajahnya memerah sempurna karena menahan geram. "Kamu bener-bener kurang ajar, ya! Kerjakan bagian kamu atau saya potong gaji kamu hari ini juga!"
"Potong aja, gue nggak peduli," balas Marco sambil menegakkan tubuhnya, memberikan senyuman miring yang paling menyebalkan sekaligus menawan. "Tapi inget, Tan, secangkir air yang gue taruh di meja lo itu diminum. Jangan sampai pingsan sebelum ketemu si Trian-Trian itu. Nanti kasihan cowoknya, nungguin perawan tua yang kelamaan pingsan di gudang."
Tanpa menunggu makian Haura selanjutnya, Marco berbalik dan berjalan santai menuju sofa untuk bergabung dengan Arlo dan Kevin, meninggalkan Haura yang napasnya sudah memburu karena emosi.
"Sialan itu bocah," umpat Haura lirih, tangannya mengepal erat. Namun, tanpa sadar, matanya melirik ke arah gelas air yang diberikan Marco. Dengan sisa rasa kesal, ia meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas, berusaha mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah karena urusan luar dan dalam yang terus mendesaknya hari ini.
semangattt