Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinar Pagi di Parkiran dan Sisi Kasual sang Gadis
Keesokan harinya, riuh rendah euforia Hari Kartini kemarin perlahan surut, digantikan oleh rutinitas harian sekolah yang kembali normal. Langit pagi kota terasa bersih setelah sisa-sisa mendung semalam menguap, menyisakan semburat cahaya keemasan yang hangat menembus celah-celah pohon puring di area parkir SMA.
Di sudut parkiran roda dua yang mulai ramai oleh kedatangan murid, Sagara Immanuel Arya nama lengkap dari pemuda jangkung berwajah sedingin es itu sudah bersandar santai di atas motor sport putih bersih miliknya. Pagi ini, tidak ada lagi jubah luaran jangkep (bisht) ala pangeran Timur Tengah yang ia kenakan. Sagara kembali menjadi remaja kasual dengan seragam putih-abu-abu yang pas di tubuh tegapnya, lengkap dengan tas ransel hitam yang tersampir di satu bahu. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah gerbang masuk, menunggu seseorang.
Tak berselang lama, siluet yang ditunggu akhirnya muncul. Rebecca melangkah masuk menembus koridor parkiran setelah turun dari mobil jemputan keluarganya.
Penampilan Rebecca pagi ini benar-benar kembali ke setelan kehidupan sehari-harinya yang biasa namun tetap memikat mutlak. Tidak ada lagi gaun kasual putih semok, kebaya beludru merah marun pekat yang memeluk kencang tubuh jam pasirnya, atau jubah gamis hitam misterius. Ia mengenakan seragam kemeja putih sekolah yang rapi, dipadukan dengan rok abu-abu span yang memperlihatkan lekuk pinggul dan pantat semoknya secara natural tanpa sengaja.
Dan seperti biasanya, Rebecca tidak memakai cadar hari ini. Cadarnya kemarin adalah untuk perannya saat kartinian. Kain sutra lembut sewangi surga kemarin murni ia gunakan hanya sebagai bagian dari properti atraksi menunggang kuda di lapangan luas. Wajah mungil porselennya kini terekspos sepenuhnya di bawah siraman matahari pagi. Kulit putih bersihnya tampak bersinar alami tanpa riasan tebal, dan belahan bibir ombrenya yang merona merah cerah alami memberikan kesan kontemporer yang sangat segar dan dewasa.
Untuk menyiasati hawa hangat pagi, Rebecca memilih untuk mengucir rambut asli hitam pekatnya yang panjang bergelombang ke belakang (ponytail), menyisakan poni depan model tipis (see-through bangs) yang membingkai dahinya dengan manis. Gaya rambut ini memperlihatkan garis lehernya yang jenjang dan putih, menciptakan perpaduan visual yang sangat unik tampak sangat manis, luar biasa imut karena wajah boneka hidupnya, namun di saat yang sama memancarkan aura dewasa yang matang dari sorot mata hijau lembutnya yang langka.
"Luar biasa," celetuk Sagara Immanuel Arya begitu Rebecca berdiri di depannya, wajah tampannya yang kaku mendadak berubah kocak saat ia menggeleng-gelengkan kepala. "Kemarin jadi bidadari berkuda bercadar sutra, hari ini kembali jadi siswi introver yang siap mengacaukan konsentrasi anak-anak kelas dua belas dengan kuncir rambut maut itu."
Rebecca menatap Sagara dengan pandangan tenangnya yang khas, meski belahan bibir merah alaminya sedikit bergerak menahan tawa. "Berhenti mengada-ada, Sagara Immanuel. Ayo masuk ke kelas, aku tidak mau terlambat mengumpulkan laporan laboratorium biologi jam pertama."
"Siap, Tuan Putri. Tapi omong-omong..." Sagara menegakkan tubuh jangkungnya, berjalan beriringan dengan Rebecca membelah koridor sekolah yang mulai dipadati bisik-bisik kagum para murid yang melihat mereka. Sagara mendekatkan kepalanya, berbisik sangat pelan, "Cadarmu yang kemarin terbang ke wajah dosen sakral itu... apa sudah kau ambil kembali dari tangannya?"
Pertanyaan blak-blakan dari Sagara seketika membuat langkah kaki anggun Rebecca sempat tertahan selama satu fraksi detik, memicu kembali ingatan tentang kehangatan ruang transit dan wibawa mutlak milik Gus Adrian yang kini diam-diam masih menyimpan kain sutranya di dalam laci meja pesantren.
...----------------...
Rebecca tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan Sagara. Ia hanya mengedikkan bahu kecilnya sekilas, lalu kembali melangkah dengan anggun membelah koridor sekolah. Sorot mata hijau lembutnya tetap tenang dan lurus menatap ke depan, seolah-olah insiden cadar terbang dan kehadiran Gus Adrian di ruang transit kemarin sore hanyalah angin lalu yang tidak penting.
"Hilang, ya, hilang saja, Sagara. Lagi pula itu cuma selembar kain properti," jawab Rebecca santai, suaranya terdengar jernih dan acuh tak acuh dari balik kuncir rambut *ponytail*-nya yang bergoyang ritmis mengikuti langkah kaki.
Sagara yang berjalan di sampingnya hanya menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Wajah tampannya kembali terkunci dalam mode sedingin es saat berpapasan dengan murid-murid lain, namun di dalam kepalanya, otak kocak pemuda bernama lengkap Sagara Immanuel Arya itu justru sedang berputar mengurai kode misteri.
Sebagai teman dekat yang sangat mengenal tabiat Rebecca, Sagara tahu betul kalau gadis porselen itu adalah tipe orang yang sangat protektif terhadap barang-barang pribadinya, terutama yang bersentuhan langsung dengan aroma dan produk laboratorium rahasianya. Fakta bahwa Rebecca merelakan cadar sewangi surga itu "hilang" begitu saja tanpa niat mencarinya ke ruang panitia atau ruang guru, terasa sangat mencurigakan di mata Sagara.
Tidak mungkin seorang Kyla Rebecca Lynette M., se-bodo amat ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi di ruang transit kemarin setelah aku tinggal,’ batin Sagara penasaran.
Oleh karena itu, tanpa sepengetahuan Rebecca, diam-diam Sagara menyusun rencana kecilnya sendiri. Begitu bel istirahat pertama berbunyi dua jam kemudian, saat Rebecca sedang asyik membaca buku botani di pojok perpustakaan yang sepi, Sagara mulai bergerak.
Dengan gaya kasualnya yang jangkung dan tegap, ia menyusuri koridor menuju ke ruang sekretariat panitia Kartinian dan ruang piket guru. Dengan dalih mencari barang peraga kuda yang mungkin tertinggal, Sagara menginterogasi beberapa adik kelas dan guru pamong dengan wajah lempengnya yang super dingin.
"Permisi, Bu. Apa ada yang mengamankan kain cadar sutra hitam milik kelas kami setelah acara di lapangan kemarin?" tanya Sagara formal kepada Bu Ambar, salah satu juri yang duduk di sebelah kepala sekolah kemarin.
Bu Ambar mendongak dari tumpukan kertasnya, lalu tersenyum sembari menggeleng. "Oh, kain yang terbang ke panggung juri itu, ya? Waduh, Sagara, kemarin Ibu lihat kain itu sudah langsung diamankan oleh Doktor Adrian setelah acara selesai. Beliau sendiri yang melipat dan menyimpannya ke dalam saku beskapnya. Mungkin karena kain itu wangi sekali, jadi dikira barang penting yang harus diserahkan langsung ke pemiliknya. Memangnya Rebecca belum menerimanya kembali?"
Mendengar jawaban jujur dari Bu Ambar, mata elang Sagara seketika berbinar nakal. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa yang hampir meledak. Informasi berharga ini bagaikan sepotong puzzle besar yang langsung jatuh dengan pas di kepalanya.
Gus Adrian sang dosen killer, doktor lulusan Oxford, sekaligus anak Kyai besar yang super alim dan kaku ternyata membawa pulang cadar sutra seorang siswi SMA.
Sagara membalikkan tubuhnya dan melangkah kembali ke kelas dengan senyuman misterius yang sangat usil. Ia sudah tidak sabar untuk mengonfrontasi Rebecca, atau bahkan sengaja menggoda Naufal tentang fakta bahwa adiknya yang semok dan imut ini diam-diam telah mengusik ketenangan iman seorang Gus pesantren melalui selembar kain sutra hitam.