Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Pengadilan Negeri
...Satu minggu kemudian......
"Zarlin... ayo sarapan, sayang" panggil Amelia
"Iya ibu, aku turun."
Saat sarapan bersama kedua orang tuanya, Zarlin memasang wajah selembut mungkin untuk melancarkan aksinya.
"Ayah, sekitar tiga hari aku izin tidak masuk ke kantor, ya" ujar Zarlin sambil mengoles selai ke rotinya.
Pak Bramasta mendongak dengan heran.
"Lho, kenapa Sayang? Ada urusan penting?"
"Aku... ingin menemui Theo, Ayah. Ada beberapa barangku yang tertinggal di rumah lama, sekalian aku ingin berbicara baik-baik dengannya," bohong Zarlin dengan senyuman manis yang tampak meyakinkan.
Dia sengaja berbohong agar ayahnya tidak curiga dan tidak ikut campur ke pengadilan.
Bramasta menghela napas, lalu mengangguk.
"Baiklah kalau itu maumu. Hati-hati di jalan, Sayang."
Zarlin tersenyum dalam hati. Setelah berpamitan, dia langsung meluncur ke Pengadilan Negeri bersama pengacara mahalnya, Samuel Vaska.
Zarlin sengaja tidak memberi tahu Tristan tentang hal ini karena dia ingin menyelesaikan masalah status hukumnya sendiri tanpa melibatkan perasaan pria itu dulu.
Sementara itu, Tristan sedang duduk di ruang kerja megahnya. Dia sama sekali tidak tahu kalau wanita yang dikaguminya sedang berjuang di Pengadilan Negri.
Fokus Tristan hari ini hanya satu, menghancurkan kestabilan finansial Falcon Corp lewat revisi kontrak pelabuhan yang sudah dia siapkan sejak semalam.
...****************...
Di kantor Falcon, situasi di ruang kerja Theo mendingin seketika. Siska, sekretarisnya, berdiri di depan meja dengan tangan bergetar, menyerahkan sebuah amplop putih dengan logo resmi berstempel hukum negara.
"T-Tuan Theo... ini ada surat panggilan resmi dari Pengadilan Negeri," ucap Siska dengan suara lirih.
Theo yang sedang memeriksa berkas proyek langsung mendongak.
"Pengadilan Negeri? Surat apa?"
Dengan kasar, Theo mengambil amplop tersebut dan merobeknya. Begitu matanya membaca baris demi baris dokumen di dalamnya, rahang Theo seketika mengeras hingga urat-urat lehernya menonjol tegang.
"Saya permisi Tuan." ujar Siska lalu pergi.
"SURAT PANGGILAN SIDANG PERDANA - GUGATAN PERCERAIAN"
Penggugat: Zarlin Rahesa
Tergugat: Theo Falcon
"Sialan! Berani-beraninya wanita itu menggugat cerai aku duluan?!" bentak Theo, membanting surat itu ke atas meja hingga vas bunga kecil di dekatnya bergetar.
Dia mengira Zarlin akan berlutut memohon maaf setelah diusir. Namun kenyataannya, wanita itu justru menantangnya di Pengadilan Negri.
Bianca yang sejak tadi duduk di sofa ruangan langsung bergerak dan mendekat. Dia membaca surat itu, dan sebuah senyuman sinis dibibir liciknya.
"Ya ampun, Theo... Zarlin benar-benar tidak tahu diri," hasut Bianca sambil mengelus pundak Theo.
"Sudahlah, Theo. Datang saja ke sidang mediasi besok. Tunjukkan padanya kalau kamu tidak butuh wanita seperti dia lagi!"
Theo mengepalkan tangan kuat-kuat. "Kamu benar, Bianca. Aku akan datang ke sidang mediasi besok pagi. Aku akan memastikan dia tahu diri bahwa dia tidak akan mendapatkan satu persen pun harta dariku!"
...****************...
Keesokan harinya, di dalam ruang mediasi Pengadilan Negeri terasa sangat mencekam. Hakim Mediator duduk di tengah, sementara Theo dan Zarlin duduk berhadapan. Bianca terpaksa menggigit jari menunggu di luar koridor karena ini adalah agenda tertutup.
Theo yang datang mengenakan setelan jas mahalnya langsung menegakkan punggung, melirik Zarlin yang tampil teramat anggun dengan blazer putih pilihan ayahnya dan tatapan mata yang sedingin es.
"Baik, Tuan Theo dan Ibu Zarlin," ujar Hakim Mediator itu.
"Sesuai hukum yang berlaku di Pengadilan Negeri, di sidang perdana ini kewajiban saya adalah mengupayakan mediasi atau perdamaian. Apakah tidak ada niat untuk rujuk kembali?"
Theo melirik Zarlin dengan tatapan angkuh yang dipaksakan demi menutupi rasa syoknya melihat penampilan Zarlin yang berkelas.
"Pak Hakim, saya sebenarnya suami yang pemaaf. Kalau istri saya ini mau mencabut gugatannya sekarang dan meminta maaf secara terbuka karena sudah membangkang, saya mungkin akan mempertimbangkan untuk menerimanya kembali ke rumah."
Mendengar kepedean Theo yang luar biasa, Zarlin tidak marah. Dia justru mengembuskan napas pendek dan terkekeh lirih, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Theo meremang.
Zarlin menatap lurus ke mata Hakim Mediator dengan binar mata yang teramat tegas tanpa keraguan sedikit pun.
"Pak Hakim yang terhormat," ujar Zarlin, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan penekanan mutlak. "Kehadiran saya di sini hari ini bukan untuk bernegosiasi, apalagi untuk berdamai dengan pria yang telah memperlakukan saya lebih rendah daripada seorang pembantu selama tiga tahun ini. Keputusan saya sudah bulat. Saya menolak mediasi ini, dan saya mutlak ingin bercerai dari Theo Falcon."
Theo tersentak, "Zarlin! Kau jangan keras kepala ya! Kau pikir kau bisa hidup layak tanpa uangku?!"
Zarlin bahkan tidak sudi melirik Theo. Dia tetap menatap hakim.
"Silakan lanjutkan proses hukumnya ke agenda persidangan berikutnya, Pak Hakim. Saya tidak sudi membuang waktu satu detik pun dengan pria yang harus mengemis dana talangan dua puluh miliar rupiah semalam hanya untuk menyelamatkan perusahaannya yang hampir mati."
Wajah Theo seketika menegang. Bagaimana bisa Zarlin tahu tentang dana darurat 20 miliar perusahaannya semalam?! Sebelum Theo sempat membalas, Hakim Mediator langsung mengetukkan palunya pelan.
"Baik, karena pihak Penggugat bersikeras menolak damai, maka mediasi hari ini dinyatakan gagal!"
Theo keluar dari gedung pengadilan dengan ego yang terluka parah. Dia langsung pulang ke kantor Falcon Corp bersama Bianca yang terus memanas-manasi sepanjang jalan.
...****************...
Namun, penderitaan Theo hari itu belum berakhir. Begitu dia masuk ke dalam ruang kerjanya, Siska kembali berlari masuk dengan wajah tak tenang membawa sebuah dokumen map hitam.
"T-Tuan Theo... ada dokumen mendesak dari Avalanka Group yang dikirim langsung oleh pihak manajemen mereka," ujar Siska terbata-bata.
Theo merebut map tersebut dengan gusar dan langsung membacanya. Detik itu juga, matanya membelalak tajam. Di dalam draf kontrak tersebut, pihak Avalanka Group secara sepihak memotong persentase pembagian keuntungan untuk Falcon Corp sebesar 15% dari kesepakatan awal!
"Avalanka Group licik!" ujar Theo, membanting dokumen itu ke atas meja kerjanya hingga berantakan.
"Mereka memanfaatkan gosip miring kemarin untuk memeras keuntungan Falcon Corp!"
Tepat saat itu, telepon kabel di meja kerja Theo berdering nyaring. Siska dengan gemetar mengangkatnya sejenak sebelum mengalihkannya ke Theo.
"Tuan, ini panggilan langsung dari Sekretaris Utama Direksi Avalanka Group."
Theo langsung menyambar gagang telepon itu dengan emosi.
"Halo! Apa maksudnya revisi kontrak sepihak ini?!"
"Selamat siang, Tuan Falcon," sahut suara formal dan dingin dari telepon.
"Saya hanya menyampaikan pesan mutlak dari jajaran direksi tertinggi kami. Batas waktu penandatanganan draf revisi tersebut adalah jam dua siang ini. Jika Anda menolak, maka seluruh logistik di pelabuhan akan kami hentikan secara mutlak detik ini juga, dan Falcon Corp dinyatakan putus kontrak karena dianggap tidak stabil."
"Kalian jangan keterlaluan ya!" bentak Theo dengan kuat.
"Pilihan ada di tangan Anda, Tuan Falcon. Menandatanganinya dan kehilangan lima belas persen keuntungan, atau menolaknya dan melihat perusahaan Anda hancur total hari ini," jawab suara itu dengan datar, lalu langsung memutus sambungan telepon secara sepihak.
Theo jatuh terduduk di kursi kebesarannya, mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi yang luar biasa.
Di bawah tatapan panik Bianca yang ketakutan karena dana gelapnya terancam diaudit, Theo dengan tangan yang gemetar terpaksa meraih pena dan menandatanganinya.
"Bagaimana di Pengadilan Negri tadi, Theo? Apa kata hakim?" tanya Bianca tanpa bersalah
"Zarlin menolak damai, dia berisi keras untuk cerai." ujar Theo dengan suara tak senang
"Zarlin tak tahu diri itu!" Bianca ikut menanasi
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!
dah nikmati aja karmamu 🤪