"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 30
Mila dapat bernapas lega sesampainya di rumah Nenek Sulastri karena Alan berhenti mengejarnya. Mau tak mau, Mila terpaksa mengobrol dengan neneknya Aldo itu.
Mila juga menunaikan ibadah salat Maghrib dikediamannya Nenek Sulastri bahkan makan malam bersama keluarganya Aldo.
"Mbak Mila enggak sekalian pulang ke kos-kosan, saya mau kebetulan keluar lewat jalan sana," kata Aldo.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Nenek Sulastri melihat penampilan cucunya sangat rapi dan wangi.
"Mau ke rumah calon istri, Nek!" jawab Aldo.
"Calon istri? Jangan bercanda, memang benar?" tanya Nek Sulastri lagi.
"Ya ampun, Bu. Cucu Ibu itu 'kan sebentar lagi mau menikah. Seminggu lalu kita 'kan datang melamar!" ibunya Aldo malah yang menjawab.
"Astaghfirullah, Nenek lupa!" Nek Sulastri menepuk jidatnya.
"Mas Aldo mau menikah?" tanya Mila menatap pria dihadapannya.
"Iya, Mbak. Doakan lancar sampai hari pernikahan," jawab Aldo.
"Memangnya kapan menikah?" tanya Mila lagi.
"Insya Allah, dua bulan lagi," jawab Aldo.
"Wah, selamat Mas Aldo. Dipermudah niatnya dan dilancarkan acaranya!" doa Mila yang senang akhirnya Aldo menikah.
"Aamiin, Mbak. Terima kasih, jangan lupa nanti datang!" kata Aldo.
"Insya Allah, aku datang!" Mila begitu semangat.
Sesampainya di kos-kosan, Mila kembali mengarahkan pandangannya ke arah kamarnya Hasbi. Biasanya pria itu berdiri dan melemparkan senyumnya.
"Ingat, Mila. Dia bukan jodohmu, ayo lupakan!" Mila menguatkan dirinya.
***
Di tempat kerjanya Mila bercerita mengenai Alan yang mengejarnya kepada kedua rekan kerjanya.
"Ya ampun, kenapa segitunya Mas Alan mengejarmu?" Wina juga ketakutan kalau dikejar-kejar begitu.
"Aku juga enggak menyangka dia seperti itu!" kata Mila.
"Apa mungkin Mas Alan itu mengalami depresi karena setiap perempuan yang lagi dekat dengannya selalu ditolak ibunya?" Ratih coba menerka.
"Kemungkinan besar begitu!" sahut Wina.
"Walaupun katanya ibunya bersedia menerima, aku belum sepenuhnya percaya. Mungkin aja itu akal-akalan biar Mas Alan enggak marah!" kata Mila.
"Walaupun Mas Alan itu cukup lumayan kaya, tapi sikap ibunya begitu. Memang lebih baik mundur, sih!" saran Wina.
"Bukankah kemarin itu Mbak Wina dan Mbak Ratih yang menyuruhku agar dekat dengan Mas Alan?" sindir Mila menatap keduanya secara bergantian dengan dua alis dinaikkannya.
"Kami pikir Mas Alan udah bicara dan membujuk ibunya," kata Wina merasa bersalah menjodohkan mereka.
"Tapi, ibunya ingkar janji!" cetus Mila.
*****
Dua minggu berlalu...
Mila memutuskan pindah kos-kosan dan mengganti kontak teleponnya karena Alan sudah sangat mengganggu ketenangannya.
Alan terus menelepon dan mengirimkan pesan yang membuat Mila ketakutan.
Hanya di kedai nasi Alan tak berani mendekat dan mengganggunya sebab ada Pak Bagas dan Bu Bagas. Diluar itu, Alan tak segan mengikutinya bahkan Mila berniat pindah tempat kerja.
Alan memang belum berhasil menemukan alamat tempat tinggal Mila yang baru. Tetapi, ia masih ada harapan dan kesempatan meluluhkan hatinya Mila.
Sore ini, Mila celingak-celinguk memastikan Alan tak memantaunya dari kejauhan. Setelah dirasa aman, ia menghentikan angkutan kota menuju tempat kos yang baru. Jika, Alan mengikutinya ia memilih naik angkot secara acak. Dia akan turun meskipun jalan itu bukan tujuannya. Mila juga terpaksa mengeluarkan uang lebih karena harus bergonta-ganti angkutan umum.
Sesampainya, Mila bergegas masuk ke kamarnya dan mengelus dadanya. Ia lega hari ini tak bertemu Alan.
Selesai mandi, Mila menghubungi temannya, "Aku butuh pekerjaan baru, aku udah enggak sanggup begini."
"Aku belum mendapatkan pekerjaan yang cocok untukmu. Ada pekerjaan tapi kau harus pulang jam sebelas malam."
"Aku enggak mau pulang jam segitu. Aku mau jam kerjanya dari pagi sampai sore," kata Mila.
"Sabarlah sedikit, kau pasti menemukan pekerjaan yang pas."
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔