NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibukota Benua Selatan

Perjalanan dari Lembah Seribu Bintang ke Ibukota Benua Selatan memakan waktu lima hari.

Lima hari melintasi padang rumput yang semakin hijau, melewati desa-desa kecil yang penduduknya keluar hanya untuk menatap rombongan mereka—tepatnya, menatap satu orang. Lima hari di mana kuda-kuda spiritual berlari tanpa lelah, dan para penjaga batu dari lembah mengikuti di belakang dengan langkah-langkah berat yang menggetarkan tanah.

"Bisakah kau suruh mereka berhenti mengikuti kita?" tanya Zhang Yuan pada hari ketiga, menoleh ke belakang dengan gugup. "Mereka membuatku tidak bisa tidur."

"Mereka tidak mengganggu," jawab Xiao Chen.

"Mereka menggetarkan tanah setiap kali melangkah!"

"Itu cara mereka berjalan."

Zhang Yuan menghela napas panjang dan memutuskan untuk tidak melanjutkan argumen. Tiga penjaga batu setinggi sepuluh meter itu sekarang menjadi pengawal tetap rombongan, berjalan di belakang dengan mata keemasan yang bersinar konstan. Penduduk desa yang mereka lewati biasanya langsung bersembunyi—sampai mereka melihat Xiao Chen. Lalu mereka malah keluar lagi, kali ini untuk menatap pemuda berambut putih itu dengan mulut ternganga.

Ibukota Benua Selatan—dikenal sebagai Kota Zamrud—muncul di cakrawala pada senja hari kelima.

Dari kejauhan, kota itu sudah menakjubkan. Dibangun di atas tujuh bukit hijau, dikelilingi tembok batu putih yang dipoles hingga berkilau, dan di atasnya menjulang menara-menara ramping dengan atap zamrud yang memantulkan sinar matahari senja. Formasi pelindung kota—sebuah Formasi Fana tingkat Puncak yang berlapis tiga—bersinar dengan cahaya hijau lembut di atas seluruh kota.

"Kota Zamrud," kata Xu Mei, suaranya mengandung sedikit kekaguman meski dia sudah puluhan kali ke sini. "Pusat perdagangan, alkimia, dan kebudayaan seluruh Benua Selatan. Populasinya lebih dari dua juta jiwa."

"Dua juta?" Zhang Yuan hampir tersedak. "Itu... itu seratus kali lipat Kota Kayangan Awan."

"Lebih."

Saat mereka mendekati gerbang kota—sebuah lengkungan raksasa yang diukir dengan relief sejarah Benua Selatan—para penjaga gerbang langsung menegang. Tiga penjaga batu raksasa yang berjalan di belakang rombongan jelas bukan pemandangan biasa.

"Hentikan!" seru seorang penjaga berseragam hijau, pedangnya terhunus. "Siapa kalian? Dan apa... apa itu?"

Xu Mei turun dari kudanya dengan gerakan elegan, memperlihatkan lencana Paviliun Harta Surgawi di kerah jubahnya. "Xu Mei, utusan Paviliun Harta Surgawi Cabang Kota Seribu Angin. Kami dalam perjalanan resmi."

Penjaga itu memeriksa lencana dengan mata menyipit. "Itu menjelaskan dirimu. Tapi tidak menjelaskan..." Dia menunjuk ke penjaga batu dengan tangan gemetar.

"Mereka adalah artefak kuno yang kami temukan di reruntuhan," kata Xiao Chen, turun dari kudanya dengan gerakan mengalir. "Mereka tidak akan menyerang."

Begitu Xiao Chen berdiri di depan penjaga itu, pria tersebut langsung lupa cara berbicara. Bukan karena penjaga batu—tapi karena pemuda di depannya. Rambut putih keperakan. Mata ungu keemasan. Wajah yang sempurna tanpa cela.

"Kau... kau..." Penjaga itu menelan ludah.

"Aku Xiao Chen. tamu."

Di belakang penjaga itu, seorang penjaga perempuan—seorang wanita muda berambut cokelat kemerahan dengan bintik-bintik di pipinya—menjatuhkan tombaknya. Bunyi logam menghantam batu membuat semua orang menoleh. Wajahnya merah padam saat dia buru-buru memungut tombaknya, tapi matanya tetap terpaku pada Xiao Chen.

"Maaf... maafkan aku..." bisiknya.

Wei Ling dan Lin Yao bertukar pandang. Setiap kota sama.

Gerbang kota akhirnya terbuka setelah verifikasi lencana Xu Mei. Para penjaga batu diperintahkan menunggu di luar—keputusan yang disambut lega oleh Zhang Yuan.

Begitu memasuki kota, rombongan disambut oleh lautan suara dan warna.

Jalan utama Kota Zamrud—disebut Jalan Zamrud—membentang lebar, dilapisi batu putih yang sama dengan tembok kota. Di kedua sisinya, toko-toko menjual segala sesuatu: pil dalam botol kristal (Pil Pemecah Inti Fana tingkat Tinggi, Pil Pemurnian Jiwa Fana tingkat Puncak, bahkan beberapa Pil Fana tingkat Raja di etalase toko besar), artefak berkilau di bawah lampu formasi, gulungan teknik melayang di dalam etalase kaca, dan pakaian sutra dalam warna-warna yang tidak bisa ditemukan di kota kecil.

Tapi lebih dari barang-barang itu, reaksi penduduk kota yang paling mencolok.

Begitu Xiao Chen melangkah ke Jalan Zamrud, efeknya langsung terasa seperti gelombang.

Seorang perempuan bangsawan berjubah sutra ungu—mungkin seorang putri klan—sedang memilih perhiasan di etalase toko. Dia mendongak karena insting, mungkin karena perubahan suara di sekitarnya, dan melihat Xiao Chen. Tangannya yang memegang kalung berlian spiritual langsung berhenti. Kalung itu terlepas dari jarinya dan jatuh kembali ke kotaknya dengan bunyi kecil.

"Apa..." bisiknya.

Di toko di seberang jalan, dua saudari—kembar, berambut hitam panjang, mungkin tujuh belas tahun—sedang menjual gulungan teknik. Keduanya langsung berhenti bicara. Yang satu mencengkeram lengan yang lain.

"Kak... lihat rambutnya..."

"Aku lihat... matanya..."

"Dia menoleh ke sini—"

Kedua saudari itu langsung menunduk, wajah mereka merah padam. Tapi begitu Xiao Chen melewati toko mereka, mereka kembali mendongak dan saling menatap dengan ekspresi yang identik: Siapa dia?

"Kau harus berhenti membuat gadis-gadis pingsan," kata Wei Ling pelan.

"Aku tidak melakukan apa pun."

"Itu masalahnya. Kau hanya ada, dan mereka sudah seperti itu."

Seorang gadis kecil—putri seorang pedagang, dilihat dari pakaiannya yang mahal—berlari ke arah Xiao Chen dan berhenti tepat di depannya. Dia menatapnya dengan mata berbinar, mulutnya terbuka. "Kakak... kakak dewa?"

Ibunya buru-buru menariknya. "Maafkan anakku, Tuan! Dia tidak bermaksud—" Dia berhenti, melihat Xiao Chen, dan kalimatnya menghilang.

Xiao Chen hanya tersenyum dan berjongkok di depan gadis kecil itu. "Aku bukan dewa. Hanya pengembara."

"Tapi kakak cantik..."

Xiao Chen terkekeh. "Terima kasih. Kau juga cantik."

Gadis kecil itu tersipu dan bersembunyi di balik rok ibunya. Ibunya sendiri masih terpaku, wajahnya merah seperti tomat.

"Ayo lanjutkan," kata Xiao Chen, berdiri. "Xu Mei, di mana Paviliun Harta Surgawi?"

Paviliun Harta Surgawi pusat di Kota Zamrud adalah bangunan termegah di kota—menyaingi istana gubernur. Sepuluh lantai menjulang dengan atap emas, dikelilingi oleh formasi pelindung tingkat Raja yang langka. Di dalamnya, lantai dasar saja sudah seluas seluruh pasar Kota Kayangan Awan.

Begitu mereka masuk, seorang wanita berjubah merah marun—lebih mewah dari milik Xu Mei—berjalan mendekat. Rambutnya hitam legam diikat sanggul rumit dengan tusuk berlian spiritual. Wajahnya cantik dan tegas, dengan mata cokelat yang tajam. Dadanya penuh, pinggangnya ramping, dan gerakannya penuh wibawa. Kultivasinya: Tahap Jiwa Baru Lahir tingkat 6.

"Xu Mei," katanya, suaranya dingin. "Kau terlambat dua hari."

"Maaf, Direktur Liu. Ada... komplikasi dalam perjalanan."

"Aku bisa melihatnya." Direktur Liu—Liu Ruyan—menatap penjaga batu yang menunggu di luar dengan alis terangkat. "Dan siapa tamumu?"

Sebelum Xu Mei bisa menjawab, mata Liu Ruyan beralih ke Xiao Chen. Dan ekspresi dinginnya—retak.

Hanya sekejap. Hanya satu kedipan. Tapi Xu Mei melihatnya. Pipi Liu Ruyan sedikit memerah sebelum dia memulihkan ekspresi profesionalnya.

"Ini Xiao Chen," kata Xu Mei. "Dia yang dicari oleh Tetua Luo."

Liu Ruyan menatap Xiao Chen lama. "Jadi kau pemuda berambut putih itu. Aku sudah mendengar laporannya." Dia berbalik, jubahnya berkibar. "Ikut aku ke ruang rapat. Sendirian dulu. Aku ingin bicara."

Wei Ling dan Lin Yao menegang, tapi Xiao Chen mengangguk pada mereka. "Tunggu di sini."

Ruang rapat pribadi Liu Ruyan berada di lantai sepuluh—sebuah ruangan bundar dengan jendela kaca besar yang menghadap ke seluruh Kota Zamrud. Dari sini, pemandangan malam kota dengan lampu-lampu zamrudnya sungguh menakjubkan.

Begitu pintu tertutup, Liu Ruyan berbalik dan menatap Xiao Chen. "Aku akan langsung ke intinya. Tetua Luo mengirimiku pesan tentangmu. Dia bilang kau adalah 'anomali'. Dia bilang kau bisa menciptakan artefak dengan kehendak."

"Benar."

"Tunjukkan."

Xiao Chen menatapnya. Tanpa berkata apa-apa, dia mengangkat tangannya, dan sebuah pedang muncul di telapaknya—Artefak Fana tingkat Raja, lebih tinggi dari apa pun yang dijual di lantai bawah. Bilahnya berkilau dengan cahaya biru, gagangnya diukir dengan formasi yang belum pernah dilihat Liu Ruyan.

Liu Ruyan menatap pedang itu. Lalu menatap Xiao Chen. Lalu menatap pedang itu lagi. "Itu... tingkat Raja."

"Ya."

"Kau membuatnya dalam satu detik."

"Ya."

Dia menarik napas panjang. "Aku sudah hidup lebih dari tiga ribu tahun, Xiao Chen. Aku sudah melihat banyak Grandmaster Artefak bekerja. Mereka butuh bahan langka, persiapan bertahun-tahun, dan risiko kegagalan besar untuk menciptakan Artefak Fana tingkat Raja. Dan kau... kau hanya..."

"Ada."

Liu Ruyan berjalan ke jendela, menatap kota di bawah. "Apa yang kau inginkan?"

"Apa maksudmu?"

"Semua orang menginginkan sesuatu. Tetua Luo ingin memecahkan misteri kuno. Xu Mei... entah apa yang diinginkan Xu Mei." Dia menoleh, menatap Xiao Chen. "Apa yang kau inginkan? Kekuasaan? Harta? Wanita?"

"Jawaban."

"Jawaban untuk apa?"

"Siapa aku. Dari mana asalku. Kenapa aku di sini."

Liu Ruyan menatapnya lama. Lalu dia tersenyum—senyum tipis yang berbeda dari ekspresi profesionalnya. "Kau berbeda dari pria lain yang pernah kutemui."

"Aku sering dengar itu."

"Aku yakin."

Dia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Xiao Chen. Jarak mereka kurang dari satu meter. "Aku akan membantumu, Xiao Chen. Paviliun Harta Surgawi memiliki arsip kuno yang mungkin berguna untukmu. Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Kau akan membuatkan artefak untukku. Tingkat Raja, seperti pedang ini." Dia menyentuh pedang di tangan Xiao Chen, jarinya menyusuri bilahnya. "Aku sudah lama menginginkan sesuatu seperti ini."

"Itu saja?"

"Itu saja... untuk sekarang."

Cara dia mengatakan "untuk sekarang" membuat Xiao Chen tersenyum. "Baik. Aku setuju."

Liu Ruyan mengangguk. "Kalau begitu, mulai besok, kau dan rombonganmu bisa mengakses arsip kuno kami. Malam ini..." Dia berhenti di depan pintu, menoleh sedikit. "...nikmati kota. Jangan membuat terlalu banyak kekacauan."

"Aku tidak bisa janji."

Liu Ruyan terkekeh—suara yang mengejutkan dari seorang wanita yang tadinya begitu dingin. "Aku suka caramu bicara, Xiao Chen."

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!