NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demam

BRAK..

Suqra pintu hotel dibuka dengan keras, kenapa bisa terbuka, apa mas Arsyad lupa menutupnya. Aku berbicara masih dengan setengah sadar siapa yang masuk ke kamar hotel.

“AAKK TANTE…MEREKA TIDUR PELUKAN..” Sungguh suara Sabrine sangat memekakkan telinga, kenapa wanita blonde itu sangat dramatis sekali. Siapa pula yang pelukan, perasaan aku tidur gini-gini aja deh.

Aku memejamkan mata lagi, rasanya masih ngantuk sekali karena mungkin aku tidur sangat larut malam.

“Tante… aku ga kuat liatnya, aku ikhlas tante..” lagi dan lagi, Wanita blonde itu merengek.

Sebentar, ini kenapa ada yang gerak-gerak diatas perutku, dan kenapa punggungku terasa sangat berat. Aku sedikit menyingkap selimut.

Damn.

Lengan kokohnya memeluku perutku erat, ada apa dengan pria bermata elang ini aku sungguh tidak mengerti dengannya, kasur hotel ini sangat besar sekali, kenapa pria ini malah mepet tidurnya kearahku.

Eh bentar, kenapa hembusan nafasnya tersa hangat. Aku memegang tangannya, eh kok panas apa dia sedang demam.

“Diam, biarkan Sabrine dan mama pergi dengan sendirinya, saya lupa mengunci pintu hotel.” Ucapnya pelan.

Aku mendengarnya dan mengangguk pelan. Membiarkan pria ini menjalankan aksinya dengan memeluk tubuhku erat dengan tujuan segera mengusir Sabrin dari kamar hotel ini. Aku merasakan dagunya yang menelpen dipuncak kepalaku.

Duh.. kenapa aku jadi degdegan seperti ini, dan hangat tubuhnya sangat terasa bersentuhan dengan kulitku. Aduh jantung, tolong jangan berdetak terlalu keras.

“Arsyad, bangun!” Tante Rose.

Heran sekali, mereka terlalu ikut campur sekali. Tapi aku salut dengan mas Arsyad, dia selalu menanggapinya dengan santai tidak berlebihan.

“Tante.. hati mungil Sabrine sakit sekali.” Ucap Sabrine dengan suara yang sengaja disedih-sedihkan.

“Gapapa sayang, banti tante kasih pelajar untuk mereka. Ayok kita pulang buat apa kita kesini, kalau ujung-ujungnya membuat kamu sakit hati, ayok sayang obati rasa sakit hatimu nanti kita belanja. Tante yang teraktir.”

“Yang benar tante?”

“Kapan si tante bohong sama kamu.”

Pintu hotel ditutup dengan sangata keras, sampai aku terperanjat mendengarnya.

Mereka sudah pergi, tapi kenapa mas Arsyad masih memeluku, harusnya dia segera melepas pelukan ini, karena Sabrine dan mama sudah tida ada.

“Kepala saya makin terasa pusing.” Ucapnya dengan suara serak.

Ada setitik khwatir dalm hatiku, dengan perlahan kenapa aku menjadi peduli dengan pria ini. sungguh ra kamu sudah meleset dari plan awal. Sadarlah ra, pria ini yang sudah merusak mentalmu. Aku merutuki diri ku dalam hati.

Aku malah mendongan, hidung mancungnya menjulang rapi, aku baru melihat dengan guratan wajah sempurna seperti ini di dunia nyata, selain dalam televisi.

Wajahnya terlihat merah, dengan bibir kering pucat. Mas Arsyad sakit.

“Kamu deman?” Terlihat anggukan kecil dikepalanya.

Refleks tanganku menyentuh dahinya, suhu tubuhnya panas. Aku melirik jam didindin, baru jama empat dini hari, aku bangkit dari tidur mengambil sehelai sapu tangan dari tas, membasuhnya dengan air lalu menempelkennya di dahi mas Arsyad.

“Dingin.” Ucapnya dengan suara serak. Tubuhnya sedikit menggigil.

“Biar panasnya turun mas. Sebentar aja.”

Kasihan juga lihatnya.

Aku mengambil satu bungkis roti dan segelas air yang sudah disediakan oleh pihak hotel.

“Mas sandaran dulu, makan roti habis tu minum obat. Pagi ini kita harus pulang kan.”

Aku sedikit ibu melihatnya. Wajahnya merah seperti kepiting rebus, dan bdannya sedikit menggigil.

“Nih mas,” aku menguapi sepetong roti, dia menerimanya dan mengunyah pelan. Cuman dua suap, tapi cukup buat ganjel.

Aku menyerahkan satu gelas air, kemudian mas Satya meneguknya.

“Mas, minum obatnya dulu.”

Setelah minum obat pria bermata elang itu kembali tertidur.

Sementara aku, segera menunaikan shalat dan membereksn semua barang-barang. Melipat jas milik mas Satya, kemejanya, celananya dan memasukannya kedalam koper.

***

“Mas yakin, mau nyerir sendiri.” Dengan tangan sedikit gemetar mas Arsyad memegang kendali setir.

Wajahnya sedikit pucat, suhu tubuhnya belum benar-benar turun.

“Mas, apa kita gak sekalian aja pergi kedokter?”

“Hem… berisik. Saya mau cepat sampai kerumah.”

Hening, hanya ada suara deru mobil yang melaju. Aku hanya menatap jalanan, sementara mas arsyad fokus dengan jalanan dan sesekali ia bersin-bersin seoertinya hejala flu.

Mobil terparkir dengan rapi dihalaman rumah. Mas Arsyad langsung keluar begitu saja, mungkin ingin segera merebahkan tubuhnya diatas kasur.

“Kenapa mas Ar non?”

“Mas Ar lagi demam mbak.”

“Hem… biasanya kalau lagi sakit gitu mas Ar suka manja si mbak.”

“Manja kesiapa mbak?”

“Ke mama nya, tapi kan sekarang sudah punya istri, ya pasti manja keistrinya lah.”

Manja ke istri mana ada, tidak ada yang seperti itu, aku hanya dikenalkan sebagai sepupu pada teman-temannya, bukan sebagai istri. Dan pria itu pun selalu memanggil nama wanita, apa itu kelasihnya mengapa mereka tidak bersatu aja.

“Non leen, mbak Asih buatkan bubur dulu kalau gitu.”

“Hem.. mbak.”

“Bikin nasi lembek aja. Nanti aku mau bikin sup, biar ada rarsanya. Soalnya mas Arsyad sepertinya sedang tidak nafsu makan.”

“Yaudah kalau gitu, mbak masak nasinya dulu.”

“Iya, makasih ya mbak.”

*

*

Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman.

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!