NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 panggilan kawah vulkanik dan tirai keputusasaan

Tiga puluh hari.

Bagi praktisi tingkat tinggi di Alam Fana, waktu sebulan hanyalah kedipan mata yang dihabiskan untuk memejamkan mata dalam meditasi singkat. Bagi Lin Chen, tiga puluh hari adalah hitung mundur menuju pertaruhan nyawa yang tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Tantangan Duel Hidup dan Mati melawan Zhao Tian di Puncak Pedang Terkutuk telah mengguncang sekte. Mayoritas murid bertaruh pada kematian Lin Chen. Kesenjangan antara Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat dan Tingkat Tujuh adalah jurang di mana kekuatan fisik semata tidak lagi cukup untuk menutupi perbedaan volume energi murni.

Di malam setelah insiden alun-alun, Lin Chen tidak kembali ke gubuknya. Ia menyadari bahwa sisa waktu ini harus dimanfaatkan untuk mengeksekusi Pilihan 3 yang ditawarkan Sistem: 'Mandi Urat Nadi Naga' di Kawah Vulkanik.

Tempat itu bukanlah area latihan resmi. Kawah Vulkanik terletak di punggung Gunung Api Tidur yang berada di wilayah terlarang belakang sekte. Area tersebut dipenuhi lava mendidih yang memancarkan panas ekstrem bercampur gas beracun. Hanya tetua ahli tempa yang berani mendekatinya untuk mengekstrak esensi api murni. Bagi murid pelataran luar, melangkah ke sana sama dengan memanggang diri sendiri hidup-hidup.

Berbekal jubah pelindung api tingkat rendah hasil rampasan dan puluhan pil pemulih energi yang ia curi dari mayat Mo Jue, Lin Chen menembus batas wilayah sekte di bawah selimut kegelapan.

Perjalanan menuju puncak gunung memakan waktu tiga jam pendakian tanpa henti. Udara semakin tipis dan suhu terus meningkat drastis. Saat ia tiba di bibir Kawah Vulkanik, pemandangan neraka menyambutnya. Lautan magma merah pijar bergejolak lambat puluhan meter di bawahnya, meletupkan gelembung-gelembung gas panas yang membakar kulit bahkan dari jarak jauh. Udara di sekitar kawah terdistorsi oleh panas, menciptakan gelombang fatamorgana yang membingungkan pandangan.

"Ini tempatnya," gumam Lin Chen. Ia mengusap keringat yang langsung menguap sebelum sempat menetes dari dagunya.

Ia mencari sebuah langkan batu obsidian sempit yang menjorok tepat di atas permukaan lava—posisi yang paling mematikan namun paling kaya akan energi elemen api murni. Melompat turun ke langkan tersebut, Lin Chen segera duduk bersila.

Panas radiasi dari lava di bawahnya langsung melelehkan ujung sepatunya dan membuat jubah pelindung apinya berasap. Jika ia tidak segera mengaktifkan metode pernapasan, ia akan hangus dalam hitungan menit.

**[Situasi Pelatihan Ekstrem: Kawah Vulkanik Terdeteksi.]**

**[Peringatan: Panas lava akan menghancurkan organ dalam Anda jika Qi perlindungan bocor sedetik saja.]**

**[Memulai Proses 'Mandi Urat Nadi Naga'.]**

**[Syarat mutlak: Anda harus menyerap uap magma murni melalui pori-pori, memadukannya dengan esensi darah Anda sendiri untuk melebur dinding meridian yang menghalangi terobosan Tingkat Lima. Dilarang meninggalkan titik ini selama 25 hari ke depan.]**

Lin Chen mengatupkan rahangnya erat-erat. Tidak ada waktu untuk keraguan. Ia mengaktifkan *Napas Karang Esensi*. Kali ini, ia tidak menarik energi dari udara bebas, melainkan sengaja menghirup gas panas beracun yang mengepul dari lava di bawahnya.

Tarikan napas pertama terasa seperti menelan serbuk kaca pijar. Tenggorokannya melepuh seketika. Sensasi terbakar menjalar cepat dari paru-paru menuju ke seluruh jaringan meridian utamanya. Kulit perunggu keabu-abuan miliknya—'Akar Tanah Besi'—menegang keras, berusaha menahan suhu ekstrem dari luar dan dalam.

"Hanya... panas biasa," desis Lin Chen mensugesti dirinya sendiri, memaksakan akal sehatnya untuk mengabaikan rasa sakit yang merobek kewarasan.

Waktu kehilangan maknanya di atas langkan obsidian tersebut. Hari berganti malam tanpa bisa dibedakan akibat terangnya cahaya lava. Lin Chen menelan pil pemulih energi setiap kali Qi di Dantiannya hampir habis terkuras untuk menambal organ dalamnya yang terus-menerus meleleh dan beregenerasi.

Siklus perusakan dan pemulihan ini ratusan kali lebih menyiksa daripada saat ia menyerap energi di Lembah Akar Kering. Ia secara harfiah sedang merebus daging, tulang, dan darahnya sendiri dalam esensi api bumi. Dinding kemacetan menuju Tahap Kondensasi Qi Tingkat Lima, yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan meditasi damai untuk dihancurkan, mulai retak di bawah tekanan magma yang brutal.

Pada hari kelima belas, pakaian Lin Chen telah hangus sepenuhnya, menyisakan tubuh telanjangnya yang berlapiskan kerak darah kering hitam bercampur abu vulkanik. Ia terlihat seperti patung iblis yang terlahir dari inti bumi.

Pada hari kedua puluh, letupan besar terjadi di dalam Dantiannya. Pusaran energinya memadat dan mengembang dua kali lipat, mengubah warnanya dari merah pudar menjadi merah keemasan yang tajam.

**Tahap Kondensasi Qi Tingkat Lima.**

Namun, Lin Chen tidak menghentikan meditasinya. Tingkat lima tidak cukup untuk membunuh Zhao Tian. Ia terus memutar sirkulasi, memaksa esensi lava untuk terus memperlebar meridiannya yang kini telah berubah sifat; bukan lagi saluran energi biasa, melainkan kanal magma yang siap meletus.

Di sisi lain, kehidupan di pelataran luar sekte berjalan dengan ketegangan yang terus memuncak.

Lima hari menjelang hari duel.

Di paviliun mewahnya, Zhao Tian sedang mengayunkan pedang merah darahnya. Ia berlatih teknik pembunuhan kelas tinggi, membelah boneka latihan yang terbuat dari kayu Ulin Besi menjadi debu hanya dengan hembusan angin tebasannya. Ia berada dalam kondisi puncak di Tingkat Tujuh.

Seorang pengikutnya berlari tergesa-gesa memasuki halaman paviliun, langsung bersujud di depan sang majikan.

"Melapor, Tuan Muda!" seru pengikut itu dengan napas tersengal. "Mata-mata kita telah mengawasi seluruh asrama pelataran luar, kantin, bahkan Balai Tugas selama dua puluh lima hari terakhir. Lin Chen tidak pernah terlihat. Gubuknya kosong. Ia tidak membeli perbekalan atau meminjam buku bela diri apa pun."

Zhao Tian menghentikan tebasannya. Ia mendengus meremehkan, menyeka pedangnya dengan selembar kain sutra.

"Dia bersembunyi. Tentu saja. Menyembunyikan kepalanya di dalam lubang kotoran seperti tikus pengecut," tawa Zhao Tian dingin. "Mungkin dia sudah melarikan diri dari sekte. Jika dia tidak muncul pada hari duel, Balai Penegak Hukum akan mendeklarasikannya sebagai buronan pengkhianat. Nasibnya akan lebih buruk daripada mati di tanganku."

"Apakah kita perlu mengirim tim pelacak ke area pegunungan, Tuan Muda?" tanya pengikut itu hati-hati.

"Tidak perlu membuang energi. Biarkan dia membusuk dalam ketakutannya," tolak Zhao Tian arogan. "Aku hanya perlu berdiri di Puncak Pedang Terkutuk lusa dan menerima kemenanganku secara otomatis. Fraksi Pedang Darah akan kembali berkuasa tanpa tanding."

Berita hilangnya Lin Chen dengan cepat menyebar. Taruhan di pasar gelap sekte ditutup paksa. Sebagian besar orang percaya bahwa sang Iblis Pelataran Luar akhirnya menyadari batas kemampuannya dan memilih lari menyelamatkan diri daripada menghadapi pembantaian pasti di atas altar. Bahkan Li Xue dari Fraksi Bunga Teratai merasa sedikit kecewa, mengira sosok yang menyelamatkannya ternyata tidak memiliki nyali untuk menyelesaikan apa yang dimulainya.

Satu hari sebelum hari duel.

Di atas langkan obsidian Kawah Vulkanik, kerak hitam tebal yang membungkus tubuh Lin Chen mulai retak perlahan.

*Krak... krak...*

Serpihan abu vulkanik berjatuhan ke dalam lava. Mata Lin Chen terbuka. Sorot matanya kini mengandung percikan api kecil yang sangat nyata. Ia menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya begitu panas hingga membakar oksigen di sekitarnya, menciptakan suara desisan tajam.

Ia berdiri. Sensasi kekuatannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Tubuh fisiknya telah menyerap intisari api bumi. Dantiannya stabil sempurna di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Lima Puncak, nyaris menyentuh gerbang tingkat enam. Ia telah memaksakan kultivasi yang seharusnya memakan waktu dua tahun menjadi dua puluh lima hari penyiksaan neraka.

Lin Chen menatap ke arah kedua kakinya. Balok Baja Hitam Rawa seberat seratus kilogram masih terikat dengan kokoh. Ini adalah hari ketiga puluh sejak ia memasang belenggu tersebut. Syarat dari Sistem untuk tidak melepasnya selama proses penyempurnaan tulang telah terpenuhi.

Pemuda itu membungkuk. Tangannya yang telah bermutasi menjadi sekeras logam mencengkeram pengait sabuk Baja Hitam di kaki kanannya.

*Clank!*

Sabuk baja itu patah layaknya kerupuk di bawah cengkeramannya. Balok beban seberat lima puluh kilogram itu terlepas, jatuh meluncur dari langkan obsidian ke dalam lautan magma di bawahnya. Lin Chen melakukan hal yang sama pada kaki kirinya.

Saat beban seratus kilogram itu lenyap dari tubuhnya, sebuah sensasi aneh melanda Lin Chen.

Dunia di sekitarnya terasa melambat secara ekstrem. Gravitasi seakan kehilangan pegangan atas tubuhnya. Otot paha dan betisnya yang selama ini dipaksa berjuang melawan beban baja setiap detiknya, kini terbebas. Kelebihan energi kinetik yang menumpuk di kakinya terasa seolah ia bisa melompati gunung jika ia mau.

"Rasanya seperti tidak menjejak tanah," gumam Lin Chen pelan. Ia mengangkat kaki kanannya, sekadar mencoba melangkah satu langkah biasa ke depan.

*WUSSS!*

Tubuhnya berpindah sejauh sepuluh meter dalam hitungan milidetik, tanpa menggunakan energi Qi sedikit pun, nyaris menabrak dinding kawah di sisi lain.

Mata Lin Chen melebar menyadari kecepatan absolut fisiknya saat ini. Jika ia memadukan kelajuan murni ini dengan ledakan sirkulasi *Langkah Bayangan Berat*, ia akan bergerak melampaui batas persepsi visual kultivator di bawah Tahap Inti Emas. Ia kini adalah hantu yang berwujud.

Ia mengambil satu setel pakaian sekte baru dari kantong penyimpanannya, mengenakannya dengan tenang, dan mulai berjalan menuruni gunung api tersebut. Persiapan selesai. Malam ini adalah malam terakhir sang tiran tidur nyenyak. Besok siang, matahari akan menjadi saksi bagaimana seorang semut merobek leher naga di atas altar.

Hari Duel Hidup dan Mati.

Cuaca di Sekte Pedang Awan mendung. Angin berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang, seolah langit turut menantikan pertumpahan darah yang akan terjadi.

Puncak Pedang Terkutuk terletak di bagian tertinggi dari kompleks pelataran luar. Altar batu raksasa berbentuk persegi itu dikelilingi oleh pilar-pilar batu kuno yang tertanam puluhan bilah pedang berkarat—sisa-sisa duel mematikan dari masa lalu. Di sekeliling altar, tribun alam berupa lereng bukit telah dipenuhi oleh lautan manusia. Nyaris seluruh murid luar, dan bahkan beberapa tetua tingkat menengah, hadir untuk menyaksikan tontonan ini.

Tepat saat matahari mencapai puncaknya di balik awan mendung, Zhao Tian tiba di lokasi. Ia menaiki tangga altar dengan langkah yang sengaja diperlambat. Jubah merah marunnya berkibar tertiup angin. Di pinggangnya, tersarung sebuah pedang berwarna perak mengkilap—Pedang Pembelah Angin, artefak tingkat fana kelas atas yang dipinjamkan oleh keluarganya khusus untuk hari ini.

Zhao Tian berdiri di tengah altar, memejamkan mata dengan tangan bersedekap, menikmati tatapan ribuan orang yang mengarah padanya. Ia memancarkan aura Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tujuh secara penuh. Penindasan dari kekuatan aslinya itu membuat murid-murid di tribun bagian depan kesulitan bernapas.

Dua perempat jam berlalu. Lawannya belum juga muncul.

Suara kasak-kusuk mulai terdengar di tribun penonton.

"Tentu saja dia tidak datang. Dia sudah lari. Hanya orang gila yang mau bunuh diri melawan tingkat tujuh," bisik salah seorang murid.

"Sayang sekali, aku bertaruh dua batu roh untuk kematian Lin Chen yang brutal. Sekarang uangku tertahan karena duel ini mungkin dibatalkan."

Tetua Penegak Hukum yang bertindak sebagai wasit berdiri di pinggir altar. Ia mengangkat jam pasir besar di tangannya.

"Waktu tenggang hampir habis," seru Tetua itu lantang. "Jika Lin Chen tidak melangkah ke atas altar sebelum pasir ini habis, ia akan dinyatakan kalah secara *default*, dilucuti status muridnya, dan diburu sebagai pengkhianat pengecut!"

Zhao Tian membuka matanya, menyeringai kecewa. "Sayang sekali. Aku berniat memotong lidahnya di sini. Sepertinya aku harus meminta anjing pelacak keluargaku untuk menangkapnya di luar sana."

Pasir di dalam jam terus mengalir turun. Ribuan orang bersiap bubar, menganggap pertunjukan ini telah berakhir sebelum dimulai.

Tepat ketika butiran pasir terakhir hendak jatuh, sebuah suara langkah kaki yang sangat pelan terdengar menaiki anak tangga altar. Langkah itu tidak tergesa-gesa, bahkan terdengar terlalu santai.

Seluruh kepala menoleh secara serempak.

Lin Chen berjalan menaiki anak tangga terakhir. Pakaiannya bersih, rambutnya terikat rapi. Tidak ada beban di kakinya. Ekspresi wajahnya sedingin balok es abadi. Hawa keberadaannya begitu tenang sehingga ia terlihat seperti sedang berjalan-jalan di taman belakang, bukan melangkah menuju kematian.

Sorakan kaget pecah di tribun penonton. Iblis itu datang. Ia tidak melarikan diri.

Lin Chen melangkah ke atas altar batu dan berjalan hingga berjarak belasan meter di depan Zhao Tian. Ia tidak memancarkan aura apa pun. Dantiannya terkunci rapat, menyembunyikan fakta bahwa ia telah menerobos ke tingkat lima puncak.

"Kau benar-benar berani datang untuk mengantarkan nyawamu, Sampah," desis Zhao Tian, matanya menyala penuh kebencian sekaligus kepuasan. "Kupikir kau sudah bersembunyi di bawah rok ibumu."

"Aku datang untuk memastikan anjing yang menggonggong di alun-alun bulan lalu tidak kehilangan suaranya sebelum aku memotong lehernya," balas Lin Chen dengan nada yang sangat datar, membuat Zhao Tian menggeram tertahan.

Tetua Penegak Hukum mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Duel Hidup dan Mati! Sekali formasi tertutup, tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup kecuali satu pemenang! Aturan adalah tanpa aturan!" teriak Tetua itu, menekan tangannya ke bawah. "Mulai!"

Bersamaan dengan perintah itu, pilar-pilar batu di sekeliling altar memancarkan cahaya keemasan yang membentuk kubah energi transparan. Altar terkunci. Tidak ada jalan mundur.

Zhao Tian tidak membuang waktu untuk berbicara lagi. Ia mencabut Pedang Pembelah Angin. Qi tingkat tujuh meledak dari tubuhnya bagai badai. Kecepatannya memecahkan udara saat ia menerjang lurus ke arah Lin Chen.

"Mati!" raung Zhao Tian. Ia tidak menahan kekuatannya. Jurus pertamanya langsung mengincar leher, bermaksud memenggal kepala Lin Chen di detik pertama pertarungan untuk memamerkan kesenjangan absolut di antara mereka.

Pedang perak itu berkelebat sangat cepat, membentuk lengkungan cahaya maut.

Lin Chen berdiri diam, matanya mengikuti pergerakan bilah pedang. Di mata murid biasa, kecepatan Zhao Tian tidak terlihat. Di mata Lin Chen yang telah terbiasa menahan siksaan kecepatan *Langkah Bayangan Berat* saat menggunakan beban, serangan itu terasa lambat. Sangat lambat.

Tepat saat mata pedang berjarak satu sentimeter dari kulit lehernya, Lin Chen memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.

*Wush!*

Tebasan Zhao Tian meleset tipis, hanya memotong udara kosong.

Mata aristokrat itu membelalak kaget. Ia segera memutar pergelangan tangannya untuk memberikan tebasan balik secara horizontal, mengincar pinggang.

Lin Chen mengambil setengah langkah ke belakang, membungkuk sedikit, dan membiarkan bilah pedang lewat tepat di atas kepalanya. Pergerakannya sangat halus, efisien, dan tanpa usaha ekstra.

Dua serangan kekuatan penuh dari praktisi tingkat tujuh berhasil dihindari dengan mudah oleh murid yang dikira berada di tingkat tiga. Tribun penonton mendadak hening.

"Berhenti menghindar seperti tikus!" teriak Zhao Tian frustrasi. Ia mundur selangkah, melepaskan seni bela diri tingkat fana kelas menengahnya: *Badai Tiga Belas Tebasan Angin*.

Puluhan bilah energi setajam pedang asli ditembakkan dari ujung senjatanya, membentuk jaring tebasan mematikan yang menyapu seluruh area di sekitar Lin Chen. Serangan area ini tidak mungkin dihindari.

Zhao Tian tersenyum buas. Ia menantikan darah muncrat dari tubuh lawannya.

Senyumannya membeku.

Lin Chen tidak menghindar. Ia justru mengambil kuda-kuda kokoh. Mengaktifkan tingkat lima puncaknya untuk pertama kali di depan publik, aura panas menyengat dari lava vulkanik meledak dari tubuh pemuda itu.

Ia memutar *Batu Tumbuk* tanpa menggunakan *Langkah Bayangan Berat*. Kedua tangannya yang telah difusikan dengan sarung tangan baja bergerak menyongsong jaring tebasan energi itu.

Bukan menangkis. Ia meninju hancur bilah-bilah energi itu satu per satu di udara.

*Trang! Trang! BOOM!*

Suara benturan logam bergema ke seluruh pegunungan. Tinju Lin Chen menghancurkan setiap tebasan angin Zhao Tian menjadi percikan cahaya tak berbahaya. Kecepatan pukulannya menandingi kecepatan kilat. Ia berdiri di tengah badai serangan tanpa mundur sedikit pun, menelannya layaknya batu karang yang menolak runtuh oleh ombak lautan.

"T-Tingkat Lima Puncak?!" seru salah seorang tetua di tribun, berdiri dari tempat duduknya dengan ekspresi terguncang. "Bulan lalu dia masih berada di tingkat tiga! Bagaimana mungkin dia menerobos dua tingkat dengan fondasi sepadat itu dalam sebulan?!"

Zhao Tian pun merasakan jantungnya mencelus. Ia menghentikan serangannya dengan napas memburu. Ia menatap Lin Chen seperti melihat hantu. Perbedaan tingkat empat dan tingkat tujuh adalah jurang. Perbedaan tingkat lima puncak dan tingkat tujuh adalah pertarungan yang bisa dibalikkan jika lawannya adalah monster berbakat pertempuran jarak dekat.

"Kau... menyembunyikan kekuatanmu?!" desis Zhao Tian, keringat dingin mulai meluncur di pelipisnya.

Lin Chen menurunkan kedua tangannya. Tinjunya berasap putih. Ia menatap Zhao Tian dengan ekspresi bosan.

"Pemanasanmu sudah selesai, Tuan Muda?" suara Lin Chen memotong udara dingin di atas altar. "Sekarang, giliranku."

Lin Chen menundukkan sedikit tubuhnya, menekuk lututnya.

Momen inilah yang telah ia latih hingga menghancurkan meridiannya berkali-kali. Namun kali ini, tidak ada lagi belenggu seratus kilogram yang menahan daya dorongnya.

Ia mengalirkan seluruh Qi tingkat lima puncaknya ke titik Yongquan di telapak kakinya. *Langkah Bayangan Berat* diaktifkan dengan kekuatan penuh tanpa batasan fisik.

*BZZZTTT! BOOOM!*

Ledakan sonik meletus dari bawah telapak kaki Lin Chen. Lantai batu altar pualam solid yang dilindungi formasi pelindung hancur berkeping-keping, menciptakan kawah sedalam satu meter.

Tubuh Lin Chen benar-benar menghilang. Ia bergerak melampaui kecepatan suara, merobek udara di sekitarnya hingga menciptakan riak visual.

Zhao Tian tidak bisa melihat musuhnya. Ia hanya mendengar suara gemuruh angin mendekat dari depan. Mengandalkan insting bertahannya secara membabi buta, sang aristokrat mengangkat pedangnya untuk menangkis.

Itu terlalu lambat.

Lin Chen telah tiba tepat di hadapan Zhao Tian, berada dalam jangkauan setengah sentimeter. *Tinju Pemecah Batu* yang dialiri esensi api bumi menyala merah pijar seperti inti matahari di buku jari baja Lin Chen. Pukulan ini menyatukan kecepatan absolut dari *Langkah Bayangan Berat* dan daya hancur ekstrem dari modifikasi tubuh vulkaniknya.

"Hancurlah," bisik Lin Chen di telinga Zhao Tian.

Tinju kanan itu meluncur maju.

Zhao Tian tidak bisa bernapas. Ia hanya melihat kilatan cahaya merah mendekati dadanya sebelum kesadarannya digulung oleh rasa sakit yang mematahkan kewarasan.

*KRAAAK! BAAAM!*

Suara patahan yang mengerikan menggema seakan membelah Puncak Pedang Terkutuk.

Tinju Lin Chen menghantam tepat di tengah dada Zhao Tian. Pelindung Qi tingkat tujuh sang aristokrat pecah seketika bagai kaca tipis. Tulang dadanya remuk berkeping-keping. Gelombang energi mematikan menembus tubuh Zhao Tian, meledakkan punggungnya, menembakkan pusaran angin yang menghancurkan salah satu pilar batu di belakangnya.

Mata Zhao Tian mendelik putih. Pedang Pembelah Angin terlepas dari tangannya. Mulutnya memuntahkan air mancur darah segar.

Daya dorong absolut dari pukulan Lin Chen melempar tubuh Zhao Tian ke udara. Sang penguasa bayangan pelataran luar itu melayang mundur puluhan meter layaknya boneka jerami yang disambar petir, lalu menabrak keras dinding formasi energi yang mengunci altar. Tubuh itu merosot jatuh ke atas lantai batu. Tidak ada gerakan. Tidak ada napas.

Kematian instan dengan satu pukulan.

Keheningan yang teramat sangat menyelimuti ribuan orang di sekeliling arena. Udara terasa membeku. Mulut para murid ternganga tanpa suara, mata mereka menatap horor pada mayat tak bernyawa dari praktisi tingkat tujuh yang dibantai dalam waktu kurang dari satu menit. Mitos telah hancur. Pemuda yang berdiri di tengah arena itu bukan lagi seekor semut, ia adalah inkarnasi dari badai kematian.

Layar merah sistem yang berapi-api berdenting pelan di lautan spiritual Lin Chen, sebuah melodi kemenangannya.

**[Peristiwa Takdir Utama Terselesaikan.]**

**[Anda telah membantai Zhao Tian. Gelar 'Penguasa Pelataran Luar' diraih.]**

**[Menyiapkan distribusi Hadiah Rahasia. Fragmen Peta Dunia Tengah dikirimkan ke lautan spiritual Anda.]**

Lin Chen menghembuskan napas panjang. Asap kelabu tipis keluar dari sela bibirnya. Ia menurunkan tinju kanannya yang masih memancarkan panas. Tidak ada senyum kepuasan yang meledak-ledak. Ia menatap mayat di ujung altar itu dengan sorot mata yang menembus jauh ke depan, ke arah langit yang lebih tinggi. Pertarungan di Pelataran Luar ini hanyalah langkah pertama yang berdarah, pijakan kasar menuju panggung yang sesungguhnya di Dunia Tengah para Immortal. Sesuai janjinya, Iblis ini telah mendaki keluar dari jurang, dan Tiga Alam bersiap menahan napas menyambut kedatangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!