Ghani hidup dalam dunia bayangan, tempat rahasia bernilai jutaan dolar dan kepercayaan bisa membunuhmu kapan saja.
Saat memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Tora-Tora, ia hanya ingin beristirahat dari hidupnya yang gelap.
Namun semuanya berubah setelah ia bertemu Ghea, gadis bermata hazel yang keras kepala, penuh rahasia, dan perlahan membuatnya ingin berhenti berlari.
Di antara pantai, kebohongan, dan masa lalu yang belum selesai, keduanya terjebak dalam hubungan yang semakin dalam.
Tapi bagi Ghani, mencintai seseorang adalah cara tercepat untuk kehilangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Aiza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Hacienda
POV Ghani
Jarum jam menunjukkan pukul 02.00, terasa begitu sunyi, kesunyian yang membuat detak jam dinding terdengar seperti dentingan piano yang mengiringi langkah seorang manusia dalam mengukir jalan hidupnya. Aku berdiri di ambang pintu kamar, tas taktis hitamku sudah menggantung di bahu. Berat tas itu tidak sebanding dengan beban yang menekan dadaku.
Aku hanya mampu menatap Ghea yang terbungkus selimut putih. Cahaya temaram lampu jalan dari balik tirai tipis menyinari wajahnya yang tenang. Ghea tampak begitu rapuh, seolah dia tak berdaya melawan dinginnya malam dan kerasnya dunia. Kerapuhan dan kelembutannya, membuat hati dan pikiranku tak pernah bisa jauh dari tempat ini.
Aku berlutut di samping tempat tidurnya. Kuhirup aroma vanila dari kepala Ghea, aroma yang selama beberapa hari terakhir ini membuatku candu untuk terus mencari dimanapun dia berada, satu-satunya hal yang bisa membuat hati kerasku merasa tak berdaya. Aku ingin mencium keningnya, namun kuurungkan. Aku takut sentuhanku akan membangunkan Ghea, dan akupun tahu jika aku tidak akan punya kekuatan untuk melangkah pergi jika melihat mata wanita itu menatapku dengan kelembutan.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku meletakkan secarik kertas di atas meja nakas, tepat di samping segelas air putih yang kusiapkan untuknya.
"Ghea, ada masalah logistik mendadak di kantor pusat. Aku harus terbang ke luar kota pagi ini. Mungkin sinyal akan sulit di sana. Jangan menungguku pulang. Aku mencintaimu. Selalu."
Setiap kata dalam catatan itu terasa seperti duri di tenggorokanku. "Luar kota" berarti melintasi samudra menuju sarang kartel. "Masalah logistik" berarti nyawa yang terancam. Aku berdiri, menghela nafas panjang, memunggungi wanita yang kucintai, dan akupun melangkah keluar. Aku menutup pintu rumah Ghea dengan sangat pelan, seolah suara kunci yang berputar adalah suara yang akan memutus hubungan kami berdua.
Aku melintasi antar pulau menuju Jakarta ke Base Camp Garda Biru dengan pesawat oeing 737 dari Manawe ke Jakarta dengan transit di Bali. Matahari Diatas kepala saat aku sampai di Base camp.
"Hati-hati, Sam, Marko maupun Dimitri bukan orang yang mudah. Pastikan dirimu selamat " Bagiku kata-kata Mike bukan sebagai peringatan melainkan sebagai kata perpisahan bahwa aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi.
Aku hanya mengangguk dan meninggalkan basecamp itu, yang sudah menemaniku selama tiga tahun. Langkahku kali ini terasa berat, entah karena insting burukku mengenai Mike atau karena Ghea yang telah mengikat hatiku sedang terbaring lemah di Tora-Tora.
Sepanjang perjalanan taksi dari base camp Garda Biru menuju Bandara Soekarno-Hatta, aku hanya menatap lampu-lampu jalan yang kabur karena hujan rintik. Aku mematikan ponselku, sebagai tindakan simbolis yang menandai akhir sosok "Ghani", dan lahirnya kembali "Samuel" sang mortir Marko.
Penerbangan 30 jam menuju Mexico City adalah penyiksaan untukku. Di setiap transit, di Narita, kemudian Los Angeles, aku berdiri di depan jendela kaca besar, menatap ke arah barat, ke arah Indonesia. Aku merasa seperti nelayan yang kehilangan arah untuk pulang.
Apakah kemarin terakhir kalinya aku mencium aroma rambutnya? Apakah aku akan berakhir di sebuah kuburan tanpa nama di Jalisco sebelum sempat menjelaskan semuanya pada Ghea? Pertanyaan itu muncul berulang kali seiring pesawat ini meninggalkan Indonesia.
Menatap langit-langit pesawat, pikiranku melakukan perjalanan waktu kembali ke masa lalu, dimana saat aku masih kecil, mungkin kelas 6 SD. Aku pemberani, selalu pemberani. Hingga suatu saat aku terjatuh dari sepeda yang menyebabkan lututku berdarah, aku tak bisa bangun, semua teman mengejekku. Aku malu rasanya, ingin kumenangis. Tiba-tiba seorang gadis kecil bermata hazel datang membelaku. Dia berteriak memarahi teman-temanku yang mengejekku. Dia Shinta, tetangga baruku yang baru pindah sebulan. Dia sering bermain dengan kami, terutama Ghina. Tiba-tiba setahun kemudian Shinta tanpa pamit pergi beserta ayah ibunya. Aku sudah mencarinya bertahun-tahun tapi hasilnya nihil. Hingga kemudian pada hari itu untuk pertama kalinya aku melihat Ghea. Mata hazel Ghea mengingatkanku pada Shinta tapi dengan karakter yang berbeda. Shinta pemberani, Ghea lemah lembut tapi memiliki kemauan keras. Lalu jika Shinta muncul tiba-tiba aku akan pilih mana? Entah kenapa pikiran dan batinku berkata, 'itu Ghea'. Pada Ghea aku merasakan sesuatu yang tidak kurasakan pada Sinta. Ghea lembut dan penuh kasih, sangat sesuai dengan karakter seorang ibu yang dengan sayangnya merawat keluarga.
10 tahun berselang, ayah dan ibuku tewas mendadak dalam sebuah kecelakaan mobil saat melakukan perjalanan dinas. Suatu hal yang membuatku bertahan adalah bahwa ternyata negara hadir untuk rakyatnya. Saat itu nenek diberitahu oleh seorang polisi bahwa menurut hasil penyelidikan mereka kecelakaan orangtuaku bukanlah kecelakaan organik dan direkayasa. Sejak saat itulah aku bertekad untuk menjadi agen intelijen, aku ingin mengungkap segala kejahatan yang tak pernah bisa disentuh oleh manusa. Dan pada akhirnya aku ada disini, di Meksiko.
Pesawatku mendarat di Terminal 2 Bandara Internasional Benito Juárez, menggunakan identitas sebagai konsultan agrikultur dari Asia Tenggara. Aku tidak mau menunggu jemputan Marko demi keselamatan. Aku telah mengatur logistikku sendiri sejak tiba di Jakarta dari Tora-Tora.
Di area parkir prabayar, aku menuju sebuah SUV sewaan yang telah disiapkan oleh kontak lokalku, sebuah kendaraan tanpa GPS yang telah dimodifikasi dengan pelapis antipeluru ringan.
Tentu saja aku tidak akan membiarkan Marko memegang kendali atas pergerakanku di sini. Di tanah ini, jika kau masuk ke mobil yang dikirimkan orang lain, kau sebenarnya sudah masuk ke dalam peti matimu sendiri. Aku memeriksa kompartemen di bawah kursi, sepucuk HK VP9 dan tiga magasin penuh tersedia di sana. Sudah cukup untuk membuatku hidup sampai aku bisa keluar dari Jalisco.
Aku memacu mobilku melintasi jalan tol menuju Guadalajara, lalu berbelok ke arah pedalaman di mana perkebunan agave biru membentang sejauh mata memandang. Di setiap beberapa kilometer, akupun merasakan tatapan tajam dari para Halcones (informan kartel) yang berjaga di tepi jalan.
Aku sengaja membiarkan diriku "terdeteksi" saat mendekati gerbang utama Hacienda San Judas. Aku ingin Marko tahu bahwa aku datang dengan sumber dayaku sendiri.
Bangunan itu berdiri megah di atas bukit, dikelilingi tembok batu tinggi yang puncaknya dipasangi kawat berduri dialiri listrik.
Begitu masuk, Tubuhku bisa merasakan aroma ketakutan. Di halaman yang luas, puluhan pria bersenjata mondar-mandir. Ada bau daging panggang bercampur dengan aroma mesiu dan kotoran kuda. Aku tahu ini adalah pusat komando perang.
Akupun turun dari mobil. Sepatu kerasku menginjak kerikil dengan bunyi yang tajam. Dua penjaga segera mendekat, melakukan penggeledahan tubuh yang sangat kasar (strip search mental). Mereka meraba hingga ke lipatan jaketku.
"Saku kanan," perintah salah satu penjaga berkulit gelap seperti bukan penduduk asli Meksiko, dalam bahasa Spanyol yang kasar.
Akupun mengeluarkan gelang batu hitam pemberian Ghea.
Mataku berkilat, dingin dan mengancam. "Ini hanya batu murah. Sentuh ini, dan kau akan belajar bagaimana rasanya napasmu berhenti sampai di sini."
Penjaga itu tertegun melihat keberanian di mataku, dia tidak percaya bahwa seorang pria Asia yang terlihat lemah, bisa marah seperti itu.
"Katakan pada Marko, pria dari Jakarta sudah tiba di sini! Dan aku tidak mau membuang waktuku.”
Terus berkarya ya Thor, sy trus ngikutin/Pray/
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/