NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

POV Ghani

Jarum jam menunjukkan pukul 02.00, terasa begitu sunyi, jenis kesunyian yang membuat detak jam dinding terdengar seperti dentingan piano yang mengiringi langkah seorang manusia dalam mengukir jalan hidupnya. Aku berdiri di ambang pintu kamar, tas taktis hitamku sudah menggantung di satu bahu. Berat tas itu tidak sebanding dengan beban yang menekan dadaku.

Aku hanya mampu menatap Ghea yang meringkuk di bawah selimut putih. Cahaya lampu jalan dari balik tirai tipis menyinari wajahnya yang tenang. Ghea tampak begitu rapuh, seolah dia tak berdaya melawan dinginnya malam dan kerasnya dunia. Kerapuhan dan kelembutannya, membuat hati dan pikiranku tak pernah bisa jauh dari tempat ini.

Aku berlutut di samping tempat tidurnya. Kuhirup aroma vanila dari kepala Ghea, aroma yang selama beberapa hari terakhir ini membuatku candu untuk terus mencari dimanapun dia berada, satu-satunya hal yang bisa membuat hati kerasku merasa tak berdaya. Aku ingin mencium keningnya, namun kuurungkan. Aku takut sentuhanku akan membangunkan Ghea, dan akupun tahu jika aku tidak akan punya kekuatan untuk melangkah pergi jika melihat mata wanita itu menatapnya dengan penuh cinta dan tanya.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku meletakkan secarik kertas di atas meja nakas, tepat di samping segelas air putih yang kusiapkan untuknya.

"Ghea, ada masalah logistik mendadak di kantor pusat. Aku harus terbang ke luar kota pagi ini. Mungkin sinyal akan sulit di sana. Jangan menungguku pulang. Aku mencintaimu. Selalu."

Setiap kata dalam catatan itu terasa seperti duri di tenggorokanku. "Luar kota" berarti melintasi samudra menuju sarang kartel. "Masalah logistik" berarti nyawa yang terancam. Aku berdiri, menghela nafas panjang, memunggungi wanita yang kucintai, dan akupun melangkah keluar. Aku menutup pintu rumah Ghea dengan sangat pelan, seolah suara kunci yang berputar adalah suara yang akan memutus hubungan kami berdua.

Aku melintasi antar pulau menuju Jakarta ke Bas Camp Garda Biru dengan pesawat boeing 737 dari Manawe ke Jakarta dengan transit di Bali. Matahari Diatas kepala saat aku sampai di Base camp.

"Hati-hati, Sam, Marko maupun Dimitri bukan orang yang mudah. Pastikan dirimu selamat " Bagiku kata-kata Mike bukan sebagai peringatan melainkan sebagai kata perpisahan bahwa aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi.

Aku hanya mengangguk dan meninggalkan basecamp itu, yang sudah menemaniku selama tiga tahun. Langkahku kali ini terasa berat, entah karena insting burukku mengenai Mike atau karena Ghea yang telah mengikat hatiku sedang terbaring lemah di Tora-Tora.

Sepanjang perjalanan taksi dari base camp Garda Biru menuju Bandara Soekarno-Hatta, aku hanya menatap lampu-lampu jalan yang kabur karena hujan rintik. Aku mematikan ponselku, sebagai tindakan simbolis yang menandai berakhirnya sosok "Ghani", dan lahirnya kembali "Samuel" sang instrumen Marko.

Penerbangan 30 jam menuju Mexico City adalah penyiksaan psikologis bagiku. Di setiap transit, di Narita, kemudian Los Angeles, aku berdiri di depan jendela kaca besar, menatap ke arah barat, ke arah Indonesia. Aku merasa seperti astronot yang terlepas dari tali pengamannya, melayang menjauh dari planet yang memberiku oksigen.

Apakah kemarin terakhir kalinya aku mencium aroma rambutnya? Apakah aku akan berakhir di sebuah lubang tanpa nama di Jalisco sebelum sempat menjelaskan semuanya padanya? Pertanyaan itu menghantamku berulang kali seiring mesin Boeing 777 menderu di ketinggian 35.000 kaki.

Menatap langit-langit pesawat, pikiranku melakukan perjalanan waktu kembali ke masa lalu, dimana saat aku masih kecil, mungkin kelas 6 SD. Aku pemberani, selalu pemberani. Hingga suatu saat aku terjatuh dari sepeda yang menyebabkan lututku berdarah, aku tak bisa bangun, semua teman mengejekku. Aku malu rasanya, ingin kumenangis. Tiba-tiba seorang gadis kecil bermata hazel datang membelaku. Dia berteriak memarahi teman-temanku yang mengejekku. Dia Shinta, tetangga baruku yang baru pindah sebulan. Dia sering bermain dengan kami, terutama Ghina. Tiba-tiba setahun kemudian Shinta tanpa pamit pergi beserta ayah ibunya. Aku sudah mencarinya bertahun-tahun tapi hasilnya nihil. Hingga kemudian pada hari itu untuk pertama kalinya aku melihat Ghea. Mata hazel Ghea mengingatkanku pada Shinta tapi dengan karakter yang berbeda. Shinta pemberani, Ghea lemah lembut tapi memiliki kemauan keras. Lalu jika Shinta muncul tiba-tiba aku akan pilih mana? Entah kenapa pikiran dan batinku berkata, 'itu Ghea'. Pada Ghea aku merasakan sesuatu yang tidak kurasakan pada Sinta. Ghea lembut dan penuh kasih, sangat sesuai dengan karakter seorang ibu yang dengan sayangnya merawat keluarga.

10 tahun berselang, ayah dan ibuku tewas mendadak dalam sebuah kecelakaan mobil saat melakukan perjalanan dinas. Suatu hal yang membuatku bertahan adalah bahwa ternyata negara hadir untuk rakyatnya. Saat itu nenek diberitahu oleh seorang polisi bahwa menurut hasil penyelidikan mereka kecelakaan orangtuaku bukanlah kecelakaan organik dan direkayasa. Sejak saat itulah aku bertekad untuk menjadi agen intelijen, aku ingin mengungkap segala kejahatan yang tak pernah bisa disentuh oleh manusa. Dan pada akhirnya aku ada disini, di Meksiko.

Pesawatku mendarat di Terminal 2 Bandara Internasional Benito Juárez, menggunakan identitas sebagai konsultan agrikultur dari Asia Tenggara. Aku sengaja tidak menunggu jemputan Marko. Aku telah mengatur logistikku sendiri sejak tiba di Jakarta dari Tora-Tora.

Di area parkir prabayar, aku mengambil sebuah SUV sewaan yang telah disiapkan oleh kontak lokalku, sebuah kendaraan tanpa GPS aktif yang telah dimodifikasi dengan pelapis antipeluru ringan.

Tentu saja aku tidak akan membiarkan Marko memegang kendali atas mobilitasku di sini. Di tanah ini, jika kau masuk ke mobil yang dikirimkan orang lain, kau sebenarnya sudah masuk ke dalam peti matimu sendiri. Aku memeriksa kompartemen di bawah kursi, sepucuk HK VP9 dan tiga magasin penuh tersedia di sana. Modal ini cukup untuk membuatku tetap bernapas sampai aku keluar dari Jalisco.

Aku memacu SUV ini melintasi jalan tol menuju Guadalajara, lalu berbelok ke arah pedalaman di mana perkebunan agave biru membentang sejauh mata memandang. Di setiap beberapa kilometer, akupun merasakan tatapan tajam dari para Halcones (informan kartel) yang berjaga di tepi jalan.

Aku sengaja membiarkan diriku "terdeteksi" saat mendekati gerbang utama Hacienda San Judas. Aku ingin Marko tahu bahwa aku datang dengan syaratku sendiri.

Bangunan kolonial itu berdiri megah di atas bukit, dikelilingi tembok batu tinggi yang puncaknya dipasangi kawat berduri dialiri listrik.

Begitu masuk, Tubuhku langsung merasakan atmosfer yang mencekam. Di halaman luas, puluhan pria bersenjata mondar-mandir. Ada bau daging panggang bercampur dengan aroma mesiu dan kotoran kuda. Ini bukan sekadar rumah, ini adalah pusat komando perang.

Akupun turun dari mobil. Sepatu kerasku menginjak kerikil dengan bunyi yang tajam. Dua penjaga segera mendekat, melakukan penggeledahan tubuh yang sangat kasar (strip search mental). Mereka meraba hingga ke lipatan jaketku.

"Saku kanan," perintah salah satu penjaga berkulit gelap seperti bukan penduduk asli Meksiko, dalam bahasa Spanyol yang kasar.

Akupun mengeluarkan gelang batu hitam pemberian Ghea.

Mataku berkilat, dingin dan mengancam. "Ini hanya batu murah. Sentuh ini, dan kau akan belajar bagaimana rasanya bernapas tanpa tenggorokan."

Penjaga itu tertegun melihat keberanian di mataku, dia tidak percaya bahwa seorang pria Asia yang terlihat lemah, bisa menggertak seperti itu.

"Katakan pada Marko, lelaki dari Jakarta sudah tiba disini! Dan aku tidak datang untuk negosiasi.”

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!