Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wraithgate
Calypsa menghabiskan seluruh hari esoknya untuk mempersiapkan diri.
Bukan mempersiapkan penampilan, bukan mempersiapkan pakaian yang tepat untuk bertemu ketua mafia terbesar di Aethelgard. Tapi mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih penting dari itu, jalur pelarian.
Ia membuka peta digital Aethelgard di salah satu monitor, memperbesar area sekitar alamat yang Voss kirimkan semalam. Distrik Wraithgate, bagian barat kota yang dikenal sebagai kawasan pergudangan tua yang sebagian besar bangunannya sudah tidak beroperasi secara resmi. Di permukaan, areanya tampak seperti kawasan industri yang sedang sekarat. Tapi siapapun yang cukup lama tinggal di Aethelgard tahu bahwa Wraithgate adalah salah satu wilayah yang paling sedikit kamera pengawas publiknya dan paling jarang dijamah patroli keamanan kota.
Bukan kebetulan.
Calypsa mencatat empat titik akses keluar dari radius satu kilometer alamat tersebut. Dua menuju jalan besar, satu menuju kanal lama yang mengalir ke bawah jembatan Eston, satu lagi menuju jalur kereta tua yang sudah tidak aktif sejak dua belas tahun lalu. Ia menyimpan semua rute itu di ingatannya, tidak menuliskannya di mana pun karena kertas bisa ditemukan dan perangkat digital bisa diretas.
Kemudian ia memeriksa instruksi protokol keamanan dari Voss sekali lagi sebelum menghapusnya permanen.
Tidak membawa ponsel pribadi. Tidak menggunakan kendaraan dengan pelat nomor terdaftar atas namanya. Tiba pukul delapan malam, tidak lebih awal, tidak lebih lambat. Ketuk pintu samping gudang dengan pola tiga ketukan, jeda, dua ketukan. Sebutkan nama kode, Meridian. Calypsa tidak tahu sejak kapan ia punya nama kode resmi di dalam operasional geng Cyrus. Tapi rupanya Voss sudah menetapkannya tanpa bertanya pendapatnya terlebih dahulu.
Sore hari, ia mandi, menyeduh kopi yang benar-benar ia nikmati dengan duduk di dekat jendela dapur, dan membiarkan matanya menelusuri langit Aethelgard yang berubah warna dari abu-abu muda menjadi oranye redup lalu ungu tua seiring matahari tenggelam di balik deretan gedung tua di cakrawala barat. Sebuah kebiasaan kecil yang ia lakukan setiap kali merasa sedang berdiri di ambang sesuatu yang besar.
Kakaknya yang mengajarinya kebiasaan itu.
"Kalau kamu nervous, lihat langitnya." kata Apo dua kali, mungkin tiga kali, di masa-masa ketika Calypsa masih sering datang ke tempatnya. "Langit tidak peduli kamu nervous atau tidak. Itu yang bikin tenang."
Calypsa menyesap kopinya pelan.
Langit Aethelgard malam ini memang tidak peduli.
Tepat pukul tujuh lewat empat puluh menit, Calypsa mengunci pintu kontrakannya, mengenakan jaket abu-abu gelap yang tidak mencolok, dan berjalan keluar gang menuju halte bus terdekat. Sesuai instruksi, tidak ada kendaraan pribadi. Ia naik bus umum dua kali berganti rute sebelum turun di tepi distrik Wraithgate dan berjalan kaki sisanya.
Udara di Wraithgate berbeda dari bagian kota lainnya. Lebih berat, seperti campuran bau logam tua, air tanah yang menggenang di celah-celah aspal yang retak, dan sesuatu yang tidak bisa Calypsa identifikasi tapi membuat nalurinya terus waspada. Lampu jalan di sini jarang dan beberapa di antaranya sudah lama tidak berfungsi, menyisakan genangan cahaya oranye redup yang tidak cukup untuk menerangi sisi-sisi gelap di antara gedung-gedung tua itu.
Calypsa berjalan dengan langkah yang teratur dan tidak terburu-buru. Terlalu cepat menunjukkan kepanikan. Terlalu lambat menunjukkan keraguan. Ia sudah belajar sejak lama bahwa cara berjalan bisa membaca seseorang lebih cepat daripada ekspresi wajah.
Ia menemukan gudang yang dimaksud setelah melewati belokan ketiga. Bangunan dua lantai dengan dinding bata yang sebagian sudah menghitam karena waktu dan cuaca, tanpa papan nama, tanpa tanda apapun yang menunjukkan ada kehidupan di dalamnya. Tapi Calypsa memperhatikan dua hal yang orang biasa mungkin lewatkan, kamera kecil yang sangat rapi tersembunyi di sudut atas pintu utama, dan cahaya yang sangat redup namun konsisten merembes dari bawah pintu samping.
Ia berjalan menuju pintu samping.
Tiga ketukan. Jeda. Dua ketukan.
Keheningan selama beberapa detik, kemudian suara gesekan mekanisme kunci yang berat dari dalam. Pintu terbuka, dan seorang pria berpostur besar dengan wajah datar menatapnya tanpa ekspresi.
"Meridian." ujar Calypsa.
Pria itu tidak menjawab, hanya membuka pintu lebih lebar dan menyingkir untuk memberi jalan. Calypsa masuk.
Bagian dalam gudang itu jauh berbeda dari eksteriornya yang tampak mati. Lantai pertama memang masih berupa ruang penyimpanan dengan rak-rak logam tinggi dan peti-peti kayu yang tertumpuk rapi, tapi di tengah ruangan terdapat tangga yang menuju ke lantai atas, dan dari atas sanalah cahaya sesungguhnya berasal.
Calypsa mengikuti pria besar itu naik ke lantai dua.
Ruangan yang terbuka di hadapannya ketika ia menapaki anak tangga terakhir sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi apapun yang ia bangun dalam pikirannya selama perjalanan ke sini. Tidak ada ruangan gelap dengan pria-pria bersenjata berdiri di sekeliling meja bundar seperti di film-film yang pernah ia tonton. Sebaliknya, ruangan itu terang, bersih, dan penuh dengan layar monitor, server rack yang berjejer di sisi dinding, dan beberapa orang yang duduk di depan workstation masing-masing dengan konsentrasi penuh.
Seperti ruang kendali yang sangat terorganisir.
Calypsa berdiri di ambang ruangan itu selama dua detik, cukup lama untuk mencatat semua yang ada di hadapannya sebelum melangkah masuk.
"Kamu tepat waktu."
Suara itu datang dari sisi kanan ruangan. Calypsa memalingkan pandangannya.
Cyrus berdiri di depan sebuah layar besar yang menampilkan peta digital Aethelgard dengan titik-titik berwarna yang tersebar di berbagai penjuru kota. Malam ini ia mengenakan kemeja abu-abu dengan dua kancing paling atas dibiarkan terbuka, berbeda dari kemeja hitam formal kemarin malam. Namun auranya tidak berubah sedikit pun, tenang, terkendali, dan memenuhi ruangan dengan kehadiran yang tidak perlu diumumkan.
"Saya mengikuti instruksi." jawab Calypsa.
Cyrus mengangguk singkat ke arah kursi kosong di sisi meja panjang di tengah ruangan. "Duduk."
Calypsa duduk. Ia meletakkan tangannya di atas meja dengan santai, sebuah keputusan kecil yang ia ambil secara sadar, karena tangan yang tersembunyi di bawah meja menandakan gugup, dan ia tidak mau Cyrus membaca kegugupan itu.
Cyrus berjalan dari depan layar besar menuju kursi di ujung meja yang berlawanan dengan posisi Calypsa. Ia duduk, menyilangkan satu tangannya di meja, dan menatap Calypsa dengan tatapan yang sama seperti dua malam lalu, tatapan yang mencatat dan menimbang sekaligus.
"Pekerjaan kamu semalam melampaui ekspektasi kami." ujar Cyrus tanpa basa-basi.
"Voss sudah menyampaikan hal itu."
"Voss menyampaikan penilaian teknis." Cyrus menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku menyampaikan penilaian yang berbeda. Kamu tidak hanya menemukan wajahnya, tapi kamu juga menjalankan kroscek database dan menemukan koneksinya dengan kelompok asing itu dalam waktu kurang dari tiga jam. Itu bukan sekadar kemampuan editing."
Calypsa tidak menjawab karena tidak ada yang perlu ia jawab dari pernyataan yang memang akurat itu.
"Kamu sudah lama mengumpulkan database sendiri." lanjut Cyrus. Bukan pertanyaan.
"Dua tahun." jawab Calypsa.
"Sejak saudara laki-lakimu meninggal."
Kalimat itu keluar dari mulut Cyrus dengan nada yang tidak berubah, tidak lebih lembut dan tidak lebih keras dari kalimat-kalimat sebelumnya. Tapi efeknya di dada Calypsa seperti seseorang yang menekan luka lama dengan tepat pada intinya. Ia menahan reaksi apapun dari wajahnya.
"Ya." ujarnya singkat.
Cyrus tidak melanjutkan ke topik itu segera. Ia berdiri, berjalan ke arah server rack di sisi dinding, dan mengambil sebuah tablet dari rak kecil di sampingnya. Ia kembali ke meja, meletakkan tablet itu di hadapan Calypsa, dan mendorongnya perlahan agar bisa dijangkau. Di layar tablet itu terdapat sebuah foto.
Calypsa meraih tablet itu dan mengamatinya. Fotonya diambil dari jarak jauh dengan lensa tele, menangkap dua orang yang sedang berjalan keluar dari sebuah bangunan di malam hari. Salah satunya adalah pria tua yang tidak ia kenal. Yang satunya lagi adalah pria yang Calypsa kenal dari tangkapan layar rekaman CCTV yang ia perbesar dengan susah payah dua tahun lalu, saat ia masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada malam penyerangan itu.
Tangannya sedikit kaku di atas tablet.
"Kamu mengenalinya." ujar Cyrus, mengamati reaksinya.
"Pria tua di sebelah kirinya." Calypsa meletakkan tablet itu kembali ke meja dengan gerakan yang ia usahakan tetap terlihat tenang. "Saya tidak tahu namanya. Tapi saya pernah melihat wajahnya di rekaman penyerangan dua tahun lalu. Ia ada di lokasi malam itu."
Keheningan mengisi ruangan selama beberapa detik. Di latar belakang, suara kipas server dan ketikan keyboard dari beberapa operator yang bekerja di workstation masing-masing mengisi celah sunyi itu dengan ritme yang terasa sangat jauh dari percakapan yang sedang berlangsung di meja ini.
"Namanya Dragan." ujar Cyrus akhirnya. "Koordinator lapangan dari kelompok mafia asing yang malam itu menyerang wilayah kami. Dia yang merancang waktu dan titik penyerangan." ia berhenti sejenak. "Termasuk lokasi di mana saudara laki-lakimu berada."
Calypsa menatap Cyrus.
Perasaan yang sudah lama ia simpan di tempat paling rapat di dadanya, rasa kehilangan yang ia ubah menjadi bahan bakar agar bisa bergerak, bergerak, dan terus bergerak selama dua tahun ini, sekarang mencoba naik ke permukaan dengan cara yang tidak ia izinkan.
Ia menekannya kembali ke tempatnya.
"Di mana dia sekarang?" suara Calypsa keluar rata.
"Itulah mengapa kamu di sini." jawab Cyrus. Ia mengambil tablet itu dari meja, menggesek beberapa kali, lalu meletakkannya kembali di hadapan Calypsa dengan tampilan yang berbeda. Sebuah dokumen digital yang penuh dengan nama, tanggal, dan koordinat lokasi. "Dragan tidak bekerja sendirian. Ia punya jaringan di dalam kota ini, termasuk di dalam sistem pemerintahan Aethelgard. Pejabat yang kamu identifikasi semalam adalah salah satu dari jaringan itu." Cyrus mengetuk bagian tertentu dari dokumen tersebut. "Kami butuh kamu menelusuri jaringan digitalnya. Siapa saja yang berkomunikasi dengannya, lewat jalur mana, dan di mana titik lemah sistem keamanan mereka."
Calypsa membaca sekilas dokumen yang ada di hadapannya.
"Ini bukan pekerjaan semalam." ujarnya.
"Kami tahu."
"Bisa memakan waktu berminggu-minggu."
"Kami tahu itu juga." ujar Cyrus. "Itulah mengapa mulai malam ini, kamu akan mengerjakan ini dari sini." ia mengangguk ke arah salah satu workstation kosong di pojok ruangan yang Calypsa perhatikan dari tadi tampak berbeda dari yang lain, layarnya lebih besar, perangkatnya lebih baru, dan posisinya sedikit terpisah dari workstation lainnya. "Workstation itu sudah dikonfigurasi sesuai spesifikasi yang kami ambil dari sistem laptopmu. Software yang sama, protokol yang sama."
Calypsa mengangkat matanya dari tablet. "Anda meretas laptop saya?"
"Kami melakukan asesmen aset." jawab Cyrus tanpa sedikit pun ekspresi bersalah.
Calypsa menahan sesuatu yang hampir menjadi desahan frustrasi. Ia menatap workstation di pojok itu, kemudian menatap kembali Cyrus. Pria ini tidak meminta, tidak pernah meminta. Ia menyajikan keputusan yang sudah matang dan mengharapkan orang lain untuk menyesuaikan diri dengannya.
"Saya masih bekerja dari jarak jauh." ujar Calypsa. "Itu syarat saya kemarin."
"Dan aku menyetujuinya." ujar Cyrus. "Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin. Tapi proyek ini berbeda. Data yang akan kamu akses tidak bisa keluar dari jaringan tertutup kami." ia menatap Calypsa langsung. "Bukan karena kami tidak percaya pada kemampuanmu, tapi karena kalau data itu bocor dan bisa ditelusuri kembali ke sumber aksesnya, maka seluruh operasi ini runtuh sebelum selesai."
Calypsa tidak bisa membantah logika itu karena logika itu benar.
Ia menatap dokumen di tablet sekali lagi. Nama Dragan tertera di bagian atas, dicetak tebal, dan di bawahnya terdapat daftar panjang alias dan jalur komunikasi yang belum teridentifikasi. Dua tahun Calypsa mencari-cari nama ini, mencari wajah ini, mencari benang yang bisa membawanya ke jawaban tentang malam yang merenggut satu-satunya keluarganya yang tersisa.
Dan sekarang benang itu ada di hadapannya, terbungkus dalam penawaran dari pria yang matanya selalu terlihat seperti sedang menghitung sesuatu.
"Jam kerja." ujar Calypsa akhirnya. "Saya tidak tinggal di sini. Saya datang dan pergi sesuai jadwal yang kita sepakati bersama. Dan saya butuh akses penuh ke workstation itu tanpa ada yang mengawasi layar saya dari belakang."
Cyrus menatapnya selama tiga detik penuh sebelum menjawab. "Disetujui. Semua poin."
"Dan satu hal lagi." Calypsa meletakkan tablet itu kembali ke meja, mendorongnya dengan satu jari ke arah Cyrus dengan gerakan yang jauh lebih tenang dari yang ia rasakan di dalamnya. "Dragan bukan hanya target operasional. Untuk saya, dia adalah sesuatu yang personal. Saya ingin tahu segalanya tentang malam dua tahun lalu, termasuk bagian yang mungkin tidak ada dalam dokumen ini."
Cyrus tidak langsung menjawab. Ia mengambil tablet itu, meletakkannya di sisi mejanya, dan menautkan jari-jarinya di atas permukaan meja. Di tangannya yang kiri, Calypsa bisa melihat ujung tato ular itu muncul di bawah lengan kemeja abu-abunya yang tergulung sedikit.
Tato yang sama.
"Aku tahu kamu mencari lebih dari sekadar nama." ujar Cyrus akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
"Aku juga ada di sana malam itu."
Calypsa tidak bergerak.
"Saudara laki-lakimu bukan sekadar anak buah dalam daftar." lanjut Cyrus, dan untuk pertama kali sejak Calypsa mengenalnya meski baru dua malam, ada sesuatu di balik ketenangan pria itu yang tidak seratus persen terkendali.
"Apo adalah salah satu yang paling pertama tahu bahwa malam itu akan ada penyerangan. Dia yang mengirimkan sinyal peringatan ke kami. Tanpa sinyal itu, korban malam itu akan jauh lebih banyak."
Calypsa menyadari bahwa napasnya berubah ritmenya tanpa ia sadari.
"Aku tidak berhasil mengeluarkannya." Cyrus mengucapkan kalimat itu dengan cara yang tidak terdengar seperti permintaan maaf, tapi terasa seperti sesuatu yang sudah lama ia simpan dan baru sekarang ia izinkan keluar.
"Itu bukan sesuatu yang bisa aku ubah. Tapi aku bisa membantumu menutup cerita ini."
Ruangan itu terasa sangat diam tiba-tiba, padahal suara-suara teknis di sekelilingnya sama sekali tidak berhenti.
Calypsa menatap pria di ujung meja itu, pria dengan tato ular yang selama dua tahun hanya ada sebagai fragmen di ingatannya, suara dingin di gang sempit, dan tangan yang mencoba menarik Apo keluar dari kepungan yang terlalu rapat.
"Kalau begitu," ujar Calypsa pelan, "kita mulai dari awal. Ceritakan semua yang kamu tahu tentang malam itu."
Dan untuk pertama kalinya sejak Calypsa menginjakkan kaki di tempat itu, Cyrus menarik napas panjang, dan mulai berbicara.