NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Sabar itu ada batasnya

 "Aku dimana? Hanum terbangun dari tidurnya. Menatap sekeliling yang tampak kabur, kepalanya pun terasa pusing. Dia melihat Devan yang tengah tertidur di sofa. Sementara waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Hanum menatap pria itu dengan penuh haru, lagi dan lagi dia merepotkan pria itu. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja dia alami. Yang dia tahu, dia terseret ombak dan tenggelam. Bagaimana mungkin pria ini tahu akan kejadian ini?

Hanum mencabut infusnya dan turun dari ranjang. Dengan berjalan perlahan, dia memutuskan untuk pergi salat tahajud saja.

"Kamu mau kemana?" Devan mengentikan langkahnya. Dengan cepat dia menghampiri Hanum. "Kalau perlu sesuatu bilang saja, biar aku panggilkan suster," sambungnya lagi.

"Aku mau ke musola dulu, Van. Udah, aku gapapa kok. Kamu kelihatannya capek, mending istirahat aja dulu," kata Hanum tersenyum tipis.

"Aku ikut juga, mari," kata Devan membantu Hanum berjalan. Entah dia lupa, tanpa disadari Devan memegang tangan Hanum. Dengan cepat Hanum menepis tangannya. Keduanya saling bertatapan, "A-aku bisa sendiri kok, Van," ucap Hanum.

Seketika itu, Devan menyesali perbuatannya tadi. Dia kelupaan, mengingat Hanum bukan lah milik nya. Dalam hati dia mencerca dirinya sendiri. Sepanjang tahajud, Hanum memanjatkan doa, berkeluh kesah akan kehidupannya. Barangkali manusia memang banyak permintaannya, tetapi hanya kepada Nya lah kita kembali berserah.

"Kamu istirahat aja. Masih ada waktu sejam lagi menuju subuh," kata Devan saat dia selesai keluar dari musola.

"Aku mau tadarus aja, Van," Hanum kembali berjalan menuju ranjangnya. Lalu duduk mengambil mushaf yang sudah diambilkan oleh Devan.

"Van, maaf ya aku udah ngerepotin kamu melulu. Aku jadi gak enak sama kamu," kata Hanum.

"Sudah, tidak apa-apa.." Devan keluar dari ruangan sambil mengangkat telepon dari bundanya. Sementara Hanum memulai tadarus nya.

"Gimana kondisi Hanum, Nak?" tanya Bunda dari balik ponselnya.

"Alhamdulillah sudah mendingan, Bun. Nanti pagi aku mau antarkan dia ke rumah," jawab Devan lagi.

"Lah? Suaminya kemana? Masak kamu yang antarin istri orang?" Devan sudah menduga kalau bundanya pasti terkejut mengetahui hal ini. Ia pun menjelaskan tentang keadaan Hanum saat ini hingga Bunda mengangguk paham.

"Ya sudah, kalau begitu bawa saja Hanum ke rumah. Bunda kasihan jadinya. Inget ya, kamu jangan apa-apain istri orang, jangan sampai jatuh cinta dulu," Bunda nya berkata dengan nada serius.

"Iya, Bun..," Devan tak bisa berkutik dengan ucapan Bunda nya. Itu memang benar, tapi apalah daya dia juga masih menyimpan rasa pada Hanum.

"Asal..., kalau Hanum sudah resmi berpisah dan dia mau membuka hatinya buat kamu, tak apalah. Kamu boleh mendekati dia," Kali ini Devan tersentak.

"Ya sudah, jangan lama-lama ya. Bunda tunggu di rumah."

"Hanum, habis subuh ini kita ke rumahku dulu ya. Bunda mau ketemu kamu," Hanum turun dari ranjangnya dibantu dengan suster. Dia tidak bisa menolaknya sebab dia juga tak mau pulang ke rumah. Bekerja ke kantornya pun dia merasa belum fit. Jadi, dia mengiyakannya.

Sebelum mereka keluar dari rumah sakit, Devan mengurus administrasi terlebih dahulu. Sudah kedua kalinya Hanum membebani pria ini.

"Aku ganti ya, aku gak mau ngerepotin kamu lagi," Hanum merogoh tas nya, mengeluarkan ponselnya untuk mengecek e-wallet nya.

"Gak papa, aku cuma bantu kamu kok," kata Devan sebelum akhirnya Hanum tersentak kaget. Tiba-tiba saldo rekening nya raib, tertulis angka nol di layar ponselnya itu.

"B-bagaimana mungkin?? Kok bisa gaka ada??" Devan yang melihat Hanum panik pun menatap ponselnya.

"Ada apa?" tanya nya.

"Ini loh, Van. Kok tiba-tiba saldo rekening aku hilang begitu saja? Siapa yang habisin coba?" Terlihat mata wanita itu berkaca-kaca setelah melihat riwayat transaksi. Tega nian suami nya mengambil semua isi rekeningnya. Tercantum nama penerima nya ialah suaminya sendiri, Bramasta Dirgantara Pratama.

"Kapan dia transfer ke rekeningnya? Kenapa gak kasih tahu aku dulu?" Hanum seakan tak percaya akan hal itu. Sebegitunya Bramasta ingin menjatuhkan dirinya. Sementara itu, Devan berusahalah untuk menenangkan Hanum.

"Hanum, sudah. Kamu tidak perlu khawatir untuk ganti biaya itu, aku memang berniat untuk membantumu..," Devan membuka pintu mobil nya untuk Hanum.

"Tapi kenapa coba? Kenapa dia membenci aku seperti itu? Itu milik ku sendiri loh, Van. Hasil usaha ku selama Mas Bram gak pernah kasih aku sedikitpun uang untuk menafkahi aku. Kenapa??" Hanum terisak dalam kesedihannya. Devan hanya diam saja, membiarkan Hanum untuk melepaskan emosi nya.

"Aku gak bakalan diem aja..," gumam Hanum kemudian. "Aku.., sampai kapan pun dia harus menanggung apa yang aku rasakan." Entah energi apa yang merasuki wanita itu, yang jelas kali ini Hanum mengelap air mata nya dengan tisu yang ada di tasnya.

"Hanum, kamu tahu? Terkadang kesabaran itu juga ada batasnya," Devan menatap Hanum sekilas, lalu kembali fokus menyetir mobil. "Itu adalah hak kamu untuk menuntut apa yang seharusnya kamu dapatkan. Jadi, aku minta kamu jangan larut dalam kesedihan mu. Itu saja," Devan melanjutkan ucapannya.

"Aku mengerti, Van. Terimakasih ya.., dari dulu kamu selalu terlibat dalam masalahku. Aku selalu jadi beban haha," Hanum mengingat dirinya dulu.

Devan tersenyum saja. Lagi pula, semua nya telah terjadi dan tak kan bisa dia lupakan.

"Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Devan sebelum mobil itu berhenti di depan rumahnya.

"Aku akan mengurus perceraianku dulu, Van. Setelah itu, fokus ke usaha yang aku punya saat ini..," jawab Hanum, ia menatap pekarangan rumah Devan yang cukup luas.

Ada rasa puas di dalam hati Devan. Seharusnya dia merasa prihatin terhadap situasi itu, tetapi di sisi lain dia bersyukur dengan perceraian tersebut.

"Assalamualaikum," Devan mengucap salam.

"Waalaikumussalam, eh anak bunda udah pulang. Mana Hanum?" Bunda dengan cepat menoleh kepada Hanum yang berada di belakang Devan.

"Gimana kondisi kamu, Hanum? Aduh, maaf ya Tante gak sempat jenguk kamu kemarin..," Bunda segera membawa Hanum untuk duduk di ruang tamu.

"Gapapa kok, Tante. Alhamdulillah kondisi aku udah mendingan..," Hanum merasa canggung pada wanita itu.

"Tante sudah tahu apa yang menimpa kamu, Hanum. Jadi, sekarang.. sekalian Tante minta kamu untuk tinggal di rumah ini. Kamu mau ya?" pinta Bunda pada Hanum. Seketika itu juga Hanum tersedak, dia meletakkan teh hangat yang baru saja disajikan oleh Bi Inah.

"Maaf Tante, kenapa tiba-tiba.., tak perlu repot-repot, Tan..," ucap Hanum memelas. Dia kaget karena dia baru datang ke rumah ini, langsung ditawari untuk tinggal.

"Tante tahu ini mendadak. Tapi Tante juga kesepian di rumah ini, gak ada yang nemenin. Melihat kondisi kamu yang sekarang, alangkah baiknya kamu tinggal bersama kami di sini. Sekalian kamu refreshing sama Tante dan jadi tempat untuk kamu mencurahkan keluh kesahnya. Kesempatan bagus juga buat kamu dan Devan taaruf, mana tau -"

"Bun.., kami udah saling kenal kok," Devan menatap Bunda dengan isyarat agar menghentikan ucapannya tadi.

"Ah iya, kalau begitu kamu istirahat habis ini. Nanti kita lanjut lagi ceritanya. Devan, antarin Hanum ke kamarnya ya, Bunda mau pergi tausiyah dulu sama teman-teman," Bunda memang sudah bersiap dan memakai gamis.

"Mau diantar, Bun?" tawar Devan pada bundanya.

"Udah gapapa, Bunda sama temen-temen bunda pada naik angkot kok. Kapan lagi kan bisa nimbrung," ucap Bunda sambil terkekeh. Lalu dia menarik putranya itu, "Udah kamu antarin aja Hanum dulu. Dia butuh istirahat cepat," katanya.

Devan pun mencium tangan bundanya, lalu kembali untuk mengantar Hanum ke kamarnya.

"Van.., aku beneran gapapa kok. Aku jadi ngerepotin kalian..," Kali ini Hanum merasa bersalah.

"Bunda aku mau karena dia tahu kamu sedang kesusahan. Aku juga pada dasarnya mau kamu tinggal di sini.. Sudahlah, kamu istirahat dulu," ucap Devan. Setelah sampai di kamar yang dituju, Hanum masuk dan membiarkan Devan mengecek kamarnya hingga pamit untuk kembali ke kantornya.

Hanum menatap sekeliling kamar itu. Kamar ini sepertinya pernah dihuni oleh perempuan, pikir Hanum. Desain kamarnya persis seperti apa yang anak perempuan lakukan. Boneka-boneka mini yang dipajang di dalam lemari, dinding kamar yang berwarna pink, karakter Hello Kitty, jelas betul kalau kamar ini milik perempuan.

Dia merebahkan dirinya di atas kasur. Meskipun diri nya dibolehkan tinggal bukan berarti dia mau begitu saja. Dia tidak mau merepotkan orang lain.

Hanum menatap langit-langit kamar. Sekilas dia teringat dengan ucapan Devan.

"Sabar itu juga ada batasnya, Hanum.."

Itu benar. Untuk pertama kalinya, Hanum memegang erat kata-kata itu.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!