Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kalimat itu membuat kedua mata Shaka terasa panas. Cepat-cepat ia menundukkan wajahnya. Ia tidak ingin siapa pun melihat matanya mulai memerah. Kajian terus berlanjut selama beberapa waktu dan membuat ustadz Ilyas menjelaskan tentang pentingnya menjaga hati. Tentang bagaimana iman harus dirawat, tentang bagaimana taqwa membuat manusia lebih berhati-hati dalam hidup. Dan selama itu berlangsung, hampir semua orang di dalam mushola mendengarkan dengan khusyuk. Bahkan Shaka yang awalnya merasa asing berada di tempat itu kini justru tenggelam dalam setiap kata yang disampaikan oleh ustadz Ilyas.
Waktu terus berjalan, Cahaya matahari pagi mulai perlahan masuk dari sela jendela mushola dan akhirnya setelah cukup lama, Ustadz Ilyas menutup kajiannya.
“Semoga Allah menjaga iman kita dan semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.”
“Aamiin,” jawab para jamaah pelan dan membuat Ustadz Ilyas tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah mendengarkan.” Ia tampak hendak menutup kajian sepenuhnya.
Namun tiba-tiba dari area jamaah perempuan terdengar suara seorang santriwati.
“Ustadz…” Semua orang sontak menoleh, membuat Santriwati itu terlihat malu-malu.
“Boleh minta satu hal?”
Beberapa santri langsung mulai tersenyum kecil seolah sudah tahu apa yang akan diminta. Ustadz Ilyas sendiri tampak sedikit bingung namun tetap tersenyum sopan.
“Apa itu?”
Santriwati itu terdengar semakin malu.
“Boleh tidak sebelum ustadz mengakhiri kajian pagi ini, ustadz melantunkan shalawat yang biasa ustadz baca itu?”
Beberapa santri lain langsung tersenyum setuju bahkan terdengar beberapa suara kecil mendukung permintaan itu. Karena memang semua orang di pesantren tahu kalau Ustadz Ilyas memiliki suara yang sangat indah saat membaca doa ataupun melantunkan shalawat. Dan suasana mushola mendadak dipenuhi rasa antusias saat menunggu jawaban dari lelaki muda itu. Sementara itu Ustadz Ilyas yang berdiri di depan mushola tampak sedikit salah tingkah.
Lelaki muda itu menghela napas kecil sambil tersenyum tipis. Tangannya memegang mikrofon sederhana di hadapannya lalu ia menggeleng pelan.
“Kalian ini ada-ada saja.”
Beberapa santri langsung terkekeh pelan mendengar jawabannya. Ustadz Ilyas kembali berkata dengan nada ringan,
“Nanti kalau saya mulai bershalawat, bisa-bisa kalian malah pada ngantuk dengar suara saya.”
Kalimat itu langsung membuat suasana mushola pecah oleh tawa kecil. Bahkan beberapa santri laki-laki di saf depan tertawa sambil menundukkan kepala. Suasana yang tadinya begitu khusyuk mendadak terasa lebih cair dan hangat. Shaka yang duduk di saf depan pun tanpa sadar sedikit mengangkat wajahnya. Ia memperhatikan bagaimana lelaki bernama Ilyas itu berbicara dengan santai di depan banyak orang. Tidak kaku ataupun mencoba terlihat hebat, Padahal jelas semua orang di ruangan itu menghormatinya.
Dari balik tirai pembatas jamaah perempuan, Hanindya yang sedari tadi duduk di samping Ummi Hafizah juga tidak bisa menahan tawa kecilnya. Senyum itu muncul begitu saja di bibirnya. Ia menundukkan wajahnya sedikit sambil tertawa lirih. Entah kenapa melihat Ustadz Ilyas yang biasanya tenang dan kalem mencoba menghindar dengan alasan seperti itu terasa lucu baginya. Ummi Hafizah yang duduk di samping putrinya melirik sekilas lalu tersenyum kecil.
“Ilyas mah dari dulu memang begitu,” bisiknya pelan.
Hanindya hanya tersenyum malu sambil kembali melirik ke arah depan mushola. Sementara itu santriwati yang tadi meminta shalawat rupanya belum menyerah.
“Tapi ustadz...” suaranya terdengar malu-malu namun penuh harap. “Kami suka kalau ustadz baca shalawat itu.”
“Iya ustadz...” sahut santri lain.
“Baca sebentar aja ustadz.”
“Please ustadz...” celetuk salah satu santri laki-laki dari depan yang langsung membuat teman-temannya menahan tawa. Ustadz Ilyas mengusap tengkuknya pelan.
“Aduh... kalian ini.” Ia tampak benar-benar malu. Sorot matanya bahkan sempat melirik ke arah Ustadz Haidar yang duduk tidak jauh darinya seolah berharap mendapat bantuan agar terbebas dari permintaan itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ustadz Haidar yang sejak tadi memperhatikan dengan tenang malah tersenyum kecil. Lelaki paruh baya itu lalu berkata dengan santai,
“Kalau mereka minta, bacakan saja Ilyas.”
Suasana langsung makin ramai.
“Nahhh... Abi aja minta ustadz!”
“Iya ustadz!”
“Tolong lantunkan sholawat nabi itu untuk kami, ustadz!”
Ustadz Ilyas langsung terdiam selama beberapa detik. Kini ia benar-benar tidak punya alasan untuk menolak, apalagi yang meminta sekarang bukan hanya para santri, tapi juga Ustadz Haidar sendiri. Lelaki muda itu akhirnya menghela napas kecil lalu tersenyum pasrah.
“Baiklah, ustadz akan melantunkannya untuk kalian semua.” ucapnya pelan.
Suasana mushola mendadak tenang kembali. Beberapa santri bahkan langsung duduk lebih rapi. Entah kenapa hanya karena mendengar Ustadz Ilyas akan melantunkan shalawat, suasana berubah menjadi begitu hening dan penuh antusias. Shaka memperhatikan semua itu dalam diam. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa semua orang tampak begitu menunggu. Namun entah kenapa dirinya ikut diam dan menunggu. Di depan sana, Ustadz Ilyas perlahan memejamkan matanya sebentar. Tangannya memegang mikrofon dengan tenang lalu dengan suara lembut dan penuh penghayatan, ia mulai melantunkan shalawat itu.
“مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا
عَلَى حَبِيبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
عَلَى حَبِيبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ”
Suara itu memenuhi seluruh mushola dengan merdu, dan entah kenapa terasa begitu menenangkan. Shaka langsung terdiam sementara kedua matanya perlahan terangkat menatap ke depan. Ia tidak pernah mendengar shalawat dilantunkan seperti itu sebelumnya. Tidak seperti nyanyian dunia malam yang sering memenuhi telinganya selama ini. Suara Ustadz Ilyas terdengar menenangkan. Setiap lafaz yang keluar dari bibir lelaki itu terdengar penuh penghayatan seolah benar-benar lahir dari hati yang mencintai Rasulullah. Suasana mushola mendadak menjadi sangat tenang, bahkan tidak terdengar suara bisikan sedikit pun.
Beberapa santri ikut memejamkan mata. Ada yang ikut bershalawat lirih, ada yang hanya diam mendengarkan dengan wajah teduh. Dan dari balik tirai pembatas, Hanindya duduk membisu. Kedua matanya menatap ke arah depan mushola, ke arah lelaki yang sedang melantunkan shalawat dengan suara merdu itu. Dadanya terasa berdebar debar, bukan pertama kali ia mendengar suara Ustadz Ilyas melantunkan shalawat. Namun entah kenapa setiap kali mendengarnya, perasaannya selalu sama.
Bergetar dan semakin lama semakin kencang.
Sementara itu tanpa disadari banyak orang, di sela lantunan shalawat itu, pandangan mata Ustadz Ilyas beberapa kali bergerak pelan ke arah tirai pembatas jamaah perempuan. Sangat singkat namun cukup jelas, dan entah kenapa tatapan itu terasa penuh arti. Shaka yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan perlahan mulai menyadarinya. Matanya menyipit sedikit lalu tanpa sadar pandangannya ikut bergerak ke arah sisi jamaah perempuan. Meski terhalang tirai pembatas, ia masih bisa melihat samar sosok Hanindya duduk di sana dan bahkan dari jarak sejauh itu, Shaka bisa melihat senyum kecil di wajah perempuan itu.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.