kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.
tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.
takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.
kaulah jawaban do'a dalam hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dalam ingatan
Dalam ingatan
3 TAWANANKU
“Ssst...” gumamku lembut sambil menyentuhkan satu jariku ke bibir Elina yang tertutup lakban hitam.
Elina menatapku dengan mata yang dipenuhi rasa ketakutan. Aku tersenyum tipis padanya, lalu aku mengalihkan pandanganku ke wajah papahnya dan juga Reza. Tatapanku tajam menghunjam mereka sebelum akhirnya aku membunuh mereka.
“ Saya senang. Akhirnya kita bisa berjumpa kembali. Kemarin dan tadi siang sepertinya akan menjadi terakhir kalinya kalian melihat matahari,” ucapku santai duduk sambil memegang senjata api di tangan kanan dan mengisap rokok di tangan kiri. Di hadapan mereka.
“Lihat saya Pak Tua. Saya yakin Anda masih ingat jelas wajah saya,” kataku, lalu mendekatkan wajahku ke wajah papahnya Elina.
“saya tidak akan pernah lupa dengan tamparan dan hinaan Anda terhadap saya waktu itu...” bisikku tepat di hadapannya. Lalu kubuka lakban yang membungkam mulut papahnya Elina. Ia langsung menundukkan kepala setelah bebas.
“Apa yang ingin kau sampaikan kepada istrimu sebelum kau mati di tanganku?” tanyaku dingin kepada orang tua Elina. Seketika, papahnya Elina menangis ketakutan saat ancamanku terdengar.
“Maafkan saya Satria. Maafkan saya, Saya mohon jangan bunuh saya, Jangan bunuh kami. Bebaskan lah kami, Saya mohon, maafkan saya...” rintih papahnya Elina. Aku hanya tersenyum tipis mendengar kata maaf yang terlambat itu.
Lalu aku beralih ke Reza. Berdiri tepat di hadapannya, kutatap matanya lekat-lekat sebelum mendekatkan wajahku.
“Selamat, loe berhasil ngancurin dan membunuh harapan gue sama Elina. Loe harus mati bersama harapan itu...” geramku. Tanpa ragu, kumatikan rokokku di kening Reza. Bara apinya berhamburan di wajahnya. Reza menjerit kesakitan, air matanya tumpah di hadapanku. Kubuka lakban yang menutupi mulutnya.
“Maafin gue Sat. Gue bener-bener minta maaf, Jangan bunuh gue Sat, Jangan bunuh kami, Gue mohon, Sat...” isak Reza ketakutan sambil menunduk.
“Maaf loe bilang? Nggak ada kata maaf buat loe, bangsat!” bentakku kesal. Kepalan tangan mendarat di wajah Reza berkali-kali. Ia terus merengek minta ampun saat kuhajar, sementara Elina dan papahnya hanya bisa diam menyaksikan sambil menangis.
Setelah puas menghajar reza, aku menatap Elina. Kuhampiri dia lagi. Air matanya berlinang deras menatapku, seakan tidak percaya dengan perubahan dalam diriku. Kubelai wajahnya dengan laras senjata apiku yang dingin. Kudekatkan wajahku, lalu kulepaskan lakban yang membungkam mulutnya dan ikatan di tangannya.
Kubangunkan Elina. Dia berdiri di hadapanku dengan isak yang tak henti, elina menatapku tanpa sepatah kata pun. Aku pun diam menatapnya, lalu kuhapus air matanya dengan tanganku, dengan hati yg terluka aku berkata kepadanya.
“Bertahun-tahun lamanya aku menjaga hati ini untuk kamu Lin. Setiap hari aku selalu merindukanmu, memikirkanmu. Setiap hari aku selalu meyakinkan diriku bahwa hanya engkaulah cinta terakhir dalam hidupku. Aku percaya kau juga menjaga hatimu untukku, saat kita bersama maupun saat jarak memisahkan kita. Tapi ternyata apa? Kau balas segala pengorbanan dan perjuangan cintaku dengan luka yang begitu hebat. Kau tega mengkhianatiku dengan alasan yg teramat kejam...” ucapku parau di hadapan wajahnya.
“ satria... Maafin aku Kang, aku minta maaf kang...” Elina terisak di hadapanku.
“ Satria yang kau kenal itu, dia sudah hilang bersama harapannya. Dan kau telah membunuh harapannya,” kataku, lalu melirik Reza di sampingku. “Dan dia harus mati bersama harapan itu.”
Kuacungkan moncong pistolku tepat di dekat wajah Reza. Reza dan papahnya Elina histeris meminta ampun, memohon agar kubebaskan mereka.
Saat jariku mulai menekan pelatuk, tiba-tiba Elina bersujud di kakiku. Tangisnya pecah sejadi-jadinya.
“Aku mohon jangan bunuh dia Kang, Aku mohon. Siapa yang akan menjadi ayah untuk anakku nanti? Biarkanlah kami hidup Kang. Maafin aku, Aku minta maaf. Aku mohon biarkanlah kami hidup dengan damai kang,” rintih Elina sambil menggenggam kakiku.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya. Namun, moncong pistolku tetap terarah ke kepala Reza. Lalu... kutekan pelatuknya.
)))) ,DOOR! ,((((
Suara tembakan memekakkan telinga. Aku menembak Reza, tapi sengaja kupelesetkan pelurunya. Peluru itu hanya menyerempet dan merobek daun telinga Reza hingga berlumuran darah. Ia menjerit, meronta kesakitan. Lalu aku melihat elina yg menangis bersujud di kaki ku.
“Jangan bersujud kepadaku, Aku bukan Tuhan. Aku hanyalah sampah yang hidup berantakan, yang berhasil kau hancurkan. Bangunlah,” ucapku. Kutarik tubuh Elina untuk berdiri, ia menatapku dengan air mata yg mengalir di pipinya.
“Ikhlaskanlah aku dengan dia Kang. Biarkanlah kami hidup dengan damai, Kita harus bisa menerima kenyataan ini Kang, Meskipun aku tau itu tidak mudah, dan ini menyakitkan. Seandainya saja kita tak terpisahkan oleh jarak, dan kamu tidak menghilang tanpa kabar, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Namun takdir berkata lain Kang. Maaf jika aku tidak bisa menepati janjiku. Kita memang sudah tidak bisa bersama lagi. Terimalah kenyataan ini dengan ikhlas hati Kang, Relakanlah aku dengan dia, Aku yakin kamu bisa. Tetaplah menjadi orang baik seperti Satria yang ku kenal. Biarlah semua ini hanya menjadi pembelajaran, meskipun kita tidak ditakdirkan... Maafin aku Kang...” Elina menangis tersedu di hadapanku dengan suara yang bergetar.
Aku hanya diam menatapnya. Sesekali kupejamkan mata saat mendengar ucapannya. Tanpa kusadari, air mataku jatuh. Segera kuhapus kasar.
Lalu kurogoh saku jazku dan kukeluarkan sebuah gelang. Gelang itu adalah gelang yang sama dengan yang Elina miliki. Gelang yang dulu sama-sama kami pakai saat masih bersama. Elina menatap gelang di tanganku itu.
“Aku yakin kau masih ingat gelang ini. Aku masih ingat jelas saat pertama kali kau memakaikannya ke lenganku. Gelang ini selalu kupakai ke mana pun aku pergi saat kita masih bersama. Kini, semua hanya tinggal kenangan,” ucapku sambil menatap gelang itu, lalu kembali menatap Elina.
“Janganlah kau ceritakan pada anakmu nanti, tentang kita, dan tentang hal ini. Sekarang, aku adalah aku, dan kau adalah kau, Tidak ada lagi kita,.” Ucapku, lalu Kuputuskan tali gelang itu tepat di hadapan Elina. Butiran gelangnya terlepas, berjatuhan, berhamburan ke lantai.
“Bebaskanlah mereka. Hiduplah engkau bersamanya dengan damai, dan berbahagialah kalian. Aku rela, Dan aku akan mencoba ikhlas... Sirnahlah engkau dalam hatiku bersama harapanku,” ucapku, air mata mengalir di pipiku. Kuhapus air mata Elina untuk terakhir kalinya, lalu aku tersenyum dan melangkah pergi meninggalkannya.
Aku berjalan pergi meninggalkan mereka. Sementara Elina bertekuk lutut, menangis menatap kepergianku yang menjauh meninggalkanya, ia terus mengucapkan kata maaf.
Kuhapus air mataku sambil melangkah dari tempat itu. Kubatalkan niatku untuk membunuh mereka. Elina benar. Aku harus bisa menerima kenyataan ini. Aku harus mencoba ikhlas dan merelakan orang yang paling aku sayangi dan cintai bersanding dengan lelaki lain.