Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
"Iya, nek. Ada apa ya?" tanya Natalie dengan pelan.
Ia senantiasa menunduk, tak berani menatap wajah nenek.
"Mana sarapan pagi ini? Saya dan cucu saya sudah lapar dan kami belum masak!" sentaknya.
"T-tapi kan ada bibi yang masak di rumah ini," cicitnya.
"Enak sekali ya kamu suruh orang lain masak. Saya nggak mau tau, mulai sekarang kamu yang masak dan bersihin rumah ini!" telaknya.
"Iya, nek."
"Dan lagi, jangan pernah sekalipun kamu panggil saya nenek. Nggak Sudi saya di panggil nenek oleh kamu, paham!"
Setelah kepergian nenek, Natalie hanya bisa diam. Tangannya memilin ujung bajunya, mencoba menguatkan dirinya.
"Tenang Natalie, hanya sementara kok," tenangnya pada diri sendiri.
Di luar, Fabian mendengar semuanya. Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang sudah neneknya katakan. Bukankah Natalie juga cucunya, kenapa memperlakukannya kayak babu? Fabian tak langsung pergi, ia masih setia menunggu Natalie keluar.
Fabian kembali ke posisi awalnya saat melihat Natalie yang hendak keluar rumah. Ia duduk di atas motornya dengan senyum lebar, seolah tak terjadi apa-apa.
"Ian, Lo duluan aja. Gue masih ada urusan yang harus gue kerjakan," bohongnya.
"Gue tunggu. Lagian bentar lagi juga tuh cecunguk satu bakalan sampek sini. Yakali gue bawa motor sambil angkat tuh motor gede? Yang ada gue nyungsep duluan," canda Fabian sedikit mengibur Natalie.
Dan caranya berhasil. Terlihat sedikit senyuman yang keluar dari ranum bibir Natalie.
"Lo ada-ada aja. Kalau gitu gue masuk dulu, ya. Nggak lama kok, tapi kalau Lo ngerasa lama duluan aja," ucap Natalie sebelum akhirnya masuk ke dalam.
"Kamu ini dari mana aja sih. Di suruh masak, malah keluyuran," ucap Nisa yang sedang duduk santai di ruang tv.
Natalie tak membalas ucapan Nisa, dari pada debat panjang lebih baik masak di dapur. Natalie membuka isi kulkas, melihat bahan apa saja yang akan di masaknya.
"Jangan masak seafood, cucu saya alergi," ujar nenek yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
Lantas Natalie mengambil sayur dan daging ayam. Ia akan memasak ayam crispy dengan sambal ijo, terus sayurnya akan ia masak biasa.
Aroma wangi masakan Natalie menyebar ke seluruh penjuru rumah. Memancing perut yang berbunyi karena lapar. Di meja makan, nenek dan Nisa sudah duduk dengan tenang—menunggu makanan datang. Sudah seperti seorang majikan yang menunggu pembantunya menyiapkan makanan.
Lihat saja duduknya. Dengan satu kaki di atas kursi, kedua tangannya bersendekap dada. Bahkan tatapannya yang sombong dan angkuh tak luput dari ekor mata Natalie. Ia tak bisa berbuat banyak, hanya bisa diam dan menurut.
Natalie menyiapkan makanan di atas meja satu per satu. Mengambilkan air serta nasi yang mereka inginkan. Setelah selesai dengan pekerjaannya, ia ikut duduk di kursi. Namun bokongnya belum tersentuh kursi sedikitpun interupsi nenek membuatnya berhenti.
"Kamu ngapain duduk di situ. Jangan harap ya kamu bisa makan sama saya. Sana pergi, jijik saya lihat muka kamu," usir nenek dengan kejam.
Karena tak ingin berdebat, Natalie pun beranjak dari duduknya.
"Sana beresin rumah. Nggak lihat kamu rumah berantakan! Setelah itu cuci semua pakaian di rumah ini, cuci piring, terus antar cucu saya sekolah. Paham!"
"Paham, nyonya," jawabnya.
Natalie langsung mengerjakan apa yang di suruh neneknya. Sedangkan Nisa tersenyum penuh kemenangan di meja makan. Ia merasa puas melihat Natalie menderita.
"Wah, nenek memang yang terbaik," puji Nisa.
"Ya iyalah, siapa dulu gitu," sahut nenek.
......................
"Ian, tega ya Lo ninggalin gue sendirian. Kamu sangat kejam pada pangeran yang tampan ini," ucap Nathan dramatis.
"Lagian siapa suruh bawa motor sendiri nggak mau, ya gitu jadinya," ujar Fabian santai.
Plak!
Nathan menggeplak bahu Fabian sedikit keras, tak membuat Fabian merasa kapok.
"Wait, wait, tunggu. Princess mana? Kok Lo sendirian," tanya Nathan menyudahi dramanya.
Fabian menceritakan semua yang di dengarnya barusan. Tanpa ia lebih-lebihkan atau kurangi.
"Wah, benar-benar ya tuh nenek lampir. Udah tua juga, bukannya tobat malah bertingkah," kesal Nathan.
"Lo aja kesel, gimana gue yang dengerin secara langsung," sahut Fabian.
"Kita nggak bisa terus-terusan biarin Nata di gituin sama tuh dua nenek lampir. Kita harus buat sesuatu biar mereka kapok sekalian, kalau bisa nggak usah balik ke sini lagi," kata Nathan.
"Tapi gimana? Lo tau sendiri kan tuh dua orang masih ada hubungan keluarga sama Nata. Nanti bukannya Nata yang bebas, yang ada kita yang di jauhin dari dia. Lo mau kita kehilangan Nata kayak beberapa hari lalu?" jelas Fabian.
"Mending sekarang kita pantau aja dulu. Kalau di rasa sikapnya udah berlebihan, baru kita balas," lanjutnya.
......................
"Hahh, capek juga ya ternyata bersih-bersih dan rumah segede ini. Salut gue sama bi Siti yang sanggup bersihin nih rumah tiap hari. Kalau gue jadi beliau, encok pasti dah pinggang gue," ucapnya penuh kekaguman terhadap bi Siti.
Saat ini Natalie sedang mencuci baju miliknya, Nisa, dan nenek. Semua tugas sudah ia laksanakan, termasuk mencuci piring. Tinggal jemur pakaian, anter Nisa sekolah, baru dirinya bisa berangkat kerja.
"Natalie, buruan! Aku bisa terlambat nanti," pekik Nisa.
"Sabar napa, gue masih jemur baju juga. Tinggal satu lagi noh belum gue jemur," acuh Natalie.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, ia hendak mengambil kunci motor. Tapi tak lama kemudian ia menepuk jidatnya pelan saat mengingat motornya ada di rumah tantenya. Jadilah terpaksa menggunakan mobil tantenya yang masih terparkir di depan. Dan anehnya, supir Tante Dewi nggak ada di dalam mobil. Entah pulang duluan atau apa. Tapi kalau pulang duluan naik apa, naik taksi?
"Buruan Natalie!"
"Astaga, sabar napa. Gue masih cari kunci mobilnya," ucap Natalie.
Saat akan masuk ke dalam mobil, Natalie melihat kedua sahabatnya yang duduk anteng di tempatnya tertidur semalam. Bahkan kini keduanya memetik beberapa jenis bunga yang di tanamnya.
"WOY, KALIAN NGAPAIN DI SITU?"
Kedua orang itu berlari menghampirinya dengan bunga yang mereka pegang.
"Princess, jangan teriak-teriak dong. Masih pagi juga udah teriak, nanti kalah saing sama ayam," asbun Nathan.
Natalie menjitak pelan kening Nathan.
"Enak aja Lo samain gue sama ayam. Lo tuh, kayak monyet kehilangan induknya. Pasti Lo tantrum kan tadi di jalan pas mau ke sini," sindir Natalie sedikit sarkas.
"Jahat sekali princess kayak gitu sama pangeran."
"Mulai, mulai. Udah ya gue nggak mau berdebat di pagi hari yang cerah ini. Mending kalian balik gih, mandi terus sekolah. Nggak liat apa sekarang jam berapa," kata Natalie.
"Ihh, gue—"
"Kita pulang dulu ya Nata, bye," potong Fabian, menggeret tangan Nathan dengan paksa.
Bahkan Natalie masih bisa lihat Fabian yang menaruh paksa Nathan di atas jok motornya. Memasang helm dengan tidak elitnya, yang membuat Nathan tercekik.
Sebelum Nisa mengomel, Natalie buru-buru masuk ke dalam mobil. Kali ini ia yang menyetir. Biasanya yang menyetir mobil Nathan ataupun Fabian, dirinya tidak pernah sama sekali di izinkan untuk nyetir sendiri.
"Nanti jemput aku pakai mobil. Awas aja kalah pakai motor butut kamu itu, aku suruh nenek bakar motor kesayangannya kamu," ancamnya.
"Ya, ya, ya, terserah Lo dah," batinnya.
"Denger nggak apa yang aku bilang!" sentaknya.
"Gue nggak budek," sahut Natalie.
.
.
.