Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA, MARTABAK, DAN UJIAN KESABARAN
Suara tawa meledak di ruang tamu kecil itu. Mentari duduk di lantai bersama Bondan, Fahma, dan Hafizah, mengelilingi dua kotak martabak manis yang aromanya memenuhi ruangan. Mentari masih mengenakan mukena yang sedikit berantakan karena terburu-buru keluar kamar tadi, sementara pipinya masih menampakkan rona merah yang tak bisa disembunyikan.
"Tari, lo kok mukanya merah banget? Kena uap martabak atau habis 'olahraga' batin sama Gus Zikri?" goda Bondan sambil menyenggol bahu Mentari dengan tatapan nakal.
"Apaan sih, Bon! Ini karena tadi di kamar panas banget, kipas anginnya mati!" elak Mentari sambil menyambar potongan martabak cokelat kacang.
Fahma yang sedang asyik mengunyah martabak keju tiba-tiba menatap Mentari dengan polos. "Eh... tapi tadi aku denger suara Gus Zikri ketawa pelan. Kok tumben ya? Biasanya kan beliau kalau di rumah suaranya kayak di masjid, serius terus."
Hafizah tersenyum penuh arti. Ia melihat ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat, lalu beralih pada Mentari. "Alhamdulillah, Tari. Sepertinya doa-doa kita semua didengar. Tapi ingat, tantangan setelah ini bukan lagi soal melehkan hati Gus Zikri, tapi bagaimana kalian menjaga rumah tangga ini dari pandangan orang luar."
Ketenangan malam itu terusik saat ponsel Mentari yang tergeletak di atas karpet bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk dari nomor yang sangat ia kenali: Reno.
Mentari terdiam. Suasana ceria mendadak senyap. Bondan dan Hafizah saling pandang.
"Jangan diangkat, Tari," bisik Hafizah.
"Tapi kalau nggak diangkat, dia bakal terus-terusan neror gue lewat media sosial, Fiz," jawab Mentari bimbang.
Baru saja Mentari hendak mematikan ponselnya, pintu kamar terbuka. Gus Zikri keluar dengan tenang, sudah mengenakan sarung dan baju koko bersih. Ia melihat layar ponsel Mentari yang masih menyala menampilkan wajah Reno yang tampak sedang berada di sebuah kelab malam.
"Angkatlah, Mentari," ucap Zikri lembut. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping istrinya. "Biar dia tahu bahwa duniamu sudah berubah."
Dengan tangan gemetar, Mentari menekan tombol hijau. Wajah Reno muncul di layar, terlihat mabuk dan sangat marah.
"Woah! Liat nih! Ratunya Jakarta sekarang pakai mukena? Hahaha! Tari, lo beneran betah di kandang kambing itu? Balik sini! Cowok sarungan itu nggak bakal bisa kasih lo kemewahan yang lo mau!" teriak Reno dari seberang sana.
Zikri mengambil ponsel itu dari tangan Mentari dengan gerakan tenang. Ia menatap layar dengan tatapan yang sangat teduh namun penuh otoritas.
"Saudara Reno," suara Zikri mengalun tenang namun tegas. "Kesenangan yang kamu tawarkan adalah fana, sementara ketenangan yang Mentari cari adalah abadi. Dia bukan lagi milik masa lalu yang kamu banggakan. Dia adalah istri saya, dan saya akan menjadi benteng pertama yang kamu hadapi jika kamu mencoba mengusiknya lagi."
Zikri kemudian mematikan sambungan telepon dan memblokir nomor itu di depan mata Mentari.
Bondan hampir saja bertepuk tangan jika tidak diingatkan oleh Hafizah. "Gila... Gus Zikri kalau lagi protektif makin ganteng ya," bisik Bondan pelan.
Zikri menoleh ke arah teman-teman istrinya. "Maaf jika saya mengganggu waktu kumpul kalian. Silakan dilanjutkan martabaknya."
Fahma menyodorkan sepotong martabak ke arah Zikri. "Gus, mau martabak keju? Ini enak, bisa bikin hati nggak emosi lagi."
Zikri tersenyum tipis senyuman yang kini terasa sangat hangat bagi semua orang di ruangan itu. "Terima kasih, Fahma. Tapi sepertinya saya lebih butuh kopi untuk menemani murojaah malam ini."
Mentari langsung berdiri. "Biar aku yang bikin, Gus! Kali ini nggak akan ada kebakaran, janji!"
Bondan tertawa. "Awas lo, Tari! Jangan sampai kopinya rasa sambal ayam penyet yang kemarin!"
Mentari berlari ke dapur dengan perasaan ringan. Di sela-sela menyeduh kopi, ia menyadari satu hal: Gus Zikri tidak pernah mencoba mengubahnya secara paksa. Pria itu justru melindunginya dengan cara yang paling terhormat, memberikan ruang baginya untuk tumbuh tanpa pernah melepaskan genggaman tangannya.
Setelah Bondan, Fahma, dan Hafizah pulang, rumah itu kembali sunyi. Zikri duduk di meja kayu kecilnya, sementara Mentari duduk di lantai di sampingnya, menyandarkan kepala di lutut suaminya sambil memperhatikan Zikri membaca kitab.
"Gus... kamu nggak malu punya istri kayak aku?" tanya Mentari pelan.
Zikri meletakkan kitabnya, jemarinya membelai rambut Mentari yang terurai. "Malu adalah jika saya memiliki istri yang tidak mau belajar dari kesalahannya. Kamu sudah belajar banyak, Mentari. Bahkan lebih banyak dari yang saya harapkan."
Zikri mencium puncak kepala Mentari. "Tidur lah. Besok pagi kita harus bangun lebih awal. Abah meminta kita untuk mulai membantu mengajar di madrasah diniyah."
"Aku ngajar apa, Gus? Cara dandan yang bener?" canda Mentari.
"Kamu ngajar mereka tentang satu hal: Bahwa hidayah itu milik siapa saja, dan tidak ada kata terlambat untuk pulang."
Mentari memejamkan matanya, merasakan kedamaian yang belum pernah ia temukan di kemewahan Jakarta. Di rumah kecil ini, di bawah bimbingan seorang pria "kulkas" yang ternyata memiliki hati sedalam samudera, Mentari akhirnya benar-benar menemukan dirinya yang baru.
Perjalanan mereka masih panjang, fitnah mungkin akan datang lagi, namun malam itu Mentari tahu satu hal pasti: Ia sudah berada di rumah yang tepat.