NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Dua Tahun yang Mengubah Segalanya

Dua tahun telah berlalu.

Waktu tidak berjalan lembut di Istana Averion. Ia tidak pernah peduli pada anak kecil yang sakit, atau seorang ibu yang berdoa setiap malam tanpa jawaban.

Waktu hanya maju.

Mengikis.

Mengubah.

Dan bagi Sakura, dua tahun itu bukan sekadar pertumbuhan usia, melainkan proses bertahan hidup yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Tidak ada hari tanpa rasa sakit.

Tidak ada malam tanpa ketakutan.

Namun justru di dalam penderitaan yang terus berulang itulah… sesuatu mulai tumbuh di dalam dirinya.

Sesuatu yang bahkan Mireya tidak sepenuhnya mengerti.

Pagi itu, kabut tipis menyelimuti taman belakang istana Averion.

Udara dingin menusuk kulit, tetapi Sakura berdiri sendirian di tengah taman itu tanpa mengenakan mantel tebal.

Tubuhnya masih tampak kecil untuk usianya, namun tidak lagi rapuh seperti dulu.

Ada ketegangan halus di setiap gerakannya seperti tubuh yang selalu waspada, bahkan ketika dunia tampak tenang.

Di tangannya, sebuah cangkir kecil berisi cairan ungu gelap.

Racun.

Ia menatap cairan itu tanpa ekspresi.

Dulu, hanya melihatnya saja sudah membuatnya gemetar, menangis, bahkan pingsan sebelum meminumnya.

Sekarang?

Tidak lagi.

“Putri… jangan…”

Suara pelan terdengar dari belakang.

Seorang pelayan tua berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya penuh kekhawatiran, tangan gemetar kecil.

“Itu terlalu kuat untuk tubuh Anda…”

Sakura tidak langsung menjawab.

Ia hanya memiringkan cangkir itu sedikit, memperhatikan bagaimana cairan itu bergerak seperti makhluk hidup.

“Terlalu kuat?” ulangnya pelan.

Ada sesuatu dalam suaranya yang tidak lagi seperti anak-anak.

Lalu, tanpa ragu—

Ia meminumnya.

Pelayan itu menahan napas.

Detik pertama.

Tidak ada reaksi.

Detik kedua.

Alis Sakura sedikit berkerut.

Detik ketiga.

Ia menutup mata.

Rasa panas menjalar dari tenggorokan, turun ke dada, lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Seperti api kecil yang mencoba membakar dari dalam.

Namun… hanya itu.

Tidak ada jeritan.

Tidak ada pingsan.

Tidak ada tanda kematian yang dulu selalu menghampiri.

Sakura membuka matanya kembali.

Matanya sedikit redup… lalu tajam.

“Masih kurang.”

Suara itu dingin.

Pelayan itu mundur satu langkah.

“Putri… tubuh Anda—”

“Tubuhku?” Sakura memotong.

Ia menoleh perlahan.

Tatapannya kini bukan hanya kuat.

Tapi… asing.

Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang sudah berhenti menjadi manusia biasa sepenuhnya.

“Tubuhku sudah terbiasa mati berkali-kali.”

Hening.

Angin pagi bertiup melewati taman, membuat daun-daun bergetar pelan.

Dua tahun.

Selama dua tahun ini, racun yang sama terus mengalir ke dalam tubuhnya.

Awalnya, ia hanya bertahan.

Setiap dosis adalah ancaman hidup dan mati.

Setiap malam adalah pertarungan antara kesadaran dan kehampaan.

Namun kemudian, sesuatu berubah.

Ia mulai memahami pola rasa sakitnya.

Mulai mengenali bagaimana tubuhnya bereaksi.

Dan sekarang… ia tidak lagi sekadar bertahan.

Ia mulai beradaptasi.

Sakura berjalan ke bangku batu di bawah pohon besar di taman itu.

Ia duduk perlahan, menatap tangannya sendiri.

Kulitnya masih pucat, tetapi urat-urat halus tampak lebih jelas dari dulu.

Ada sensasi aneh di dalam tubuhnya.

Seperti sesuatu yang hidup di balik darahnya.

Seperti racun itu tidak lagi menyerangnya…

melainkan menetap.

Bersembunyi.

Dan… berubah.

“Kalau aku terus takut…” gumamnya pelan,

“aku akan mati tanpa pernah melakukan apa-apa.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Aku tidak mau mati seperti itu.”

Namun hari itu berbeda.

Sesuatu yang biasanya hanya sakit…

menjadi lebih dalam.

Lebih… responsif.

Saat racun masuk ke tubuhnya, Sakura merasakan sesuatu yang baru.

Bukan hanya panas.

Tapi getaran.

Seperti sesuatu di dalam dirinya menjawab racun itu.

Matanya sedikit melebar.

“Apa… ini?”

Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang bukan sekadar penderitaan.

Ada aliran kecil yang bergerak di dalam tubuhnya.

Halus.

Tersembunyi.

Seperti benih yang akhirnya retak.

Malam hari, saat seluruh istana terlelap, Sakura duduk di lantai kamarnya.

Lilin kecil menyala di sudut ruangan.

Di depannya, beberapa botol kecil berisi sisa racun yang ia kumpulkan diam-diam.

Ia tidak lagi takut menyentuhnya.

Bahkan… ia mulai memahami perbedaannya.

Ia membuka satu botol.

Mencium aromanya dengan hati-hati.

“Yang ini… membuat tubuhku lemah selama dua jam…” bisiknya.

Botol lain.

“Yang ini… memperlambat detak jantung…”

Botol ketiga.

“…yang ini berbeda.”

Ia berhenti.

Matanya sedikit menyempit.

“Ada sesuatu di dalamnya…”

Ia tidak tahu kenapa, tapi tubuhnya bereaksi lebih cepat terhadap racun ini.

Seolah mengenalinya.

Seolah… memanggilnya.

Sakura menutup matanya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak hanya merasakan sakit.

Ia melihatnya.

Di dalam pikirannya, seperti bayangan gelap yang mengalir di dalam tubuhnya.

Racun itu tidak hanya merusak.

Ia bergerak.

Ia mencari sesuatu.

Dan ketika menyentuh sesuatu di dalam dirinya…

Sesuatu itu membalas.

Sakura membuka mata dengan cepat.

Tangannya bergetar sedikit.

“Aku… bisa merasakannya?”

Di sisi lain istana, jauh dari kamar kecil itu, Ratu Evelyne berdiri di balkon tinggi.

Angin malam menerpa rambutnya yang panjang.

Isamu berdiri di belakangnya.

“Laporan terbaru,” kata Isamu pelan.

“Racun yang diberikan tidak lagi menunjukkan efek signifikan.”

Sunyi.

Ratu tidak langsung bereaksi.

Namun jari-jarinya berhenti bergerak.

“Tidak lagi berpengaruh?” ulangnya akhirnya.

Isamu mengangguk.

“Tubuhnya beradaptasi lebih cepat dari prediksi kita.”

Hening panjang.

Lalu senyum tipis muncul di wajah Ratu Evelyne.

Bukan senyum hangat.

Tapi senyum seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang menarik… sekaligus berbahaya.

“Begitu ya…”

Ia menatap langit malam.

“Anak itu bukan hanya bertahan.”

“Dia berkembang.”

Matanya sedikit menyempit.

“Kalau racun ringan tidak cukup…”

Ia menoleh sedikit.

“Naikkan dosisnya.”

Isamu tidak langsung menjawab.

“Tapi Yang Mulia… jika terlalu cepat, tubuhnya bisa"

“Tidak akan mati.”

Suara Ratu memotong dingin.

“Belum.”

Keesokan harinya.

Makanan Sakura kembali datang.

Piringnya sama.

Aromanya sama.

Namun kali ini…

Sakura tidak langsung makan.

Ia menatapnya lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Semakin jelas sekarang…”

Ia duduk dengan tenang.

Mengambil suapan pertama.

Tidak ada rasa takut.

Tidak ada penolakan.

Yang ada hanya… kesadaran penuh.

Dan di dalam tubuhnya

racun itu mulai bereaksi lebih cepat dari sebelumnya.

Namun kali ini…

Sakura tidak jatuh.

Ia justru menutup mata.

Dan merasakan sesuatu yang baru.

Aliran energi kecil.

Yang tidak pernah ada sebelumnya.

Hari demi hari berlalu.

Dan sesuatu mulai terlihat jelas.

Bukan hanya ketahanan tubuhnya yang meningkat.

Tapi juga… sesuatu yang lain.

Saat racun masuk, Sakura mulai bisa “merasakan arah alirannya”.

Seperti melihat jalur di dalam tubuhnya sendiri.

Seperti memahami bagaimana sesuatu bekerja di dalam darahnya.

Ia mulai bisa menahan efek tertentu.

Bahkan memperlambatnya.

Dan di suatu malam, untuk pertama kalinya

rambutnya bergerak tanpa angin.

Sakura membuka mata.

Tangannya di udara.

Getaran kecil muncul di sekitar jari-jarinya.

“…ini bukan hanya racun lagi,” bisiknya.

“Aku… mulai bisa mengendalikannya?”

Di kamar itu, lilin tiba-tiba padam sendiri.

Bukan karena angin.

Tapi karena sesuatu di dalam ruangan itu berubah.

Sesuatu yang tidak lagi bisa disebut hanya sebagai “ketahanan”.

Sesuatu yang mulai hidup.

Sakura berdiri perlahan.

Matanya gelap… tapi stabil.

“Aku tidak lagi hanya bertahan…”

Ia mengepalkan tangan.

“Aku mulai memahami ini.”

Dan di dalam tubuhnya ,racun yang selama ini menjadi siksaan…

perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Bukan musuh.

Bukan obat.

Tapi… kekuatan.

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!