NovelToon NovelToon
Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nameless Monarch

ig: @namemonarch

Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.

​"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."

​Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 — Labirin Keserakahan

Kegelapan di balik pintu batu makam kuno itu terasa jauh lebih pekat dan berat, seolah-olah udara di dalamnya telah membeku selama ribuan tahun tanpa pernah tersentuh oleh sirkulasi kehidupan. Bau lembap tanah yang bercampur dengan aroma tajam logam berkarat menyeruak keluar, menyambut kelompok kecil yang kini dipenuhi oleh ketegangan yang menyesakkan dan keserakahan yang mulai membara. Kapten Lei melangkah paling depan, obor di tangan kirinya menciptakan bayangan panjang yang menari-nari dengan liar di dinding lorong yang sempit dan dipenuhi relief kuno yang sudah memudar.

Ye Chen melangkah masuk di barisan paling belakang, matanya terus bergerak waspada di balik keremangan cahaya obor. Ia tidak lagi mengandalkan radar energinya secara buta setelah insiden panah kayu yang hampir merenggut nyawanya tadi. Insting analitisnya kini beroperasi dalam mode hibrida; ia menggabungkan penglihatan fisik untuk mendeteksi mekanisme jebakan kuno yang digerakkan oleh pegas mekanik, dan secara bersamaan mempertahankan Persepsi Spiritual untuk merasakan setiap fluktuasi Qi yang mungkin masih tersisa di dalam reruntuhan ini.

"Sistem, proyeksikan peta struktur bangunan ini secara real-time berdasarkan gema langkah kaki dan arah aliran udara di lorong ini," perintah Ye Chen dalam diam, wajahnya tetap sedatar papan.

[Menginisiasi pemetaan sonik dan aliran udara... Struktur teridentifikasi: Labirin Bawah Tanah Tiga Tingkat. Tuan Rumah saat ini berada di koridor masuk tingkat pertama. Terdapat distorsi spasial ringan sekitar lima puluh meter di depan, kemungkinan besar merupakan residu dari susunan formasi ilusi yang telah melemah termakan usia.]

"Ilusi?" batin Ye Chen menyipitkan mata. Ia segera mengalirkan sedikit energi Qi ke jaringan saraf optiknya untuk mengaktifkan Pupil Penembus Ilusi. Seketika, pandangannya berubah. Dinding-dinding batu yang tampak kokoh di matanya kini mulai memperlihatkan jalinan untaian energi tipis berwarna biru pudar yang saling terikat secara asimetris. Di ujung lorong, ia melihat aura kuning berdenyut dari balik celah ubin—sebuah mekanisme jebakan lain. Berbeda dengan panah kayu sebelumnya, jebakan kali ini memiliki sedikit residu Qi, menandakan bahwa mekanisme ini terhubung dengan sirkuit energi makam.

Di barisan depan, Ahli Alkimia Su berjalan dengan tubuh gemetar hebat, namun matanya yang rakus terus menatap ke depan tanpa berkedip. "K-Kapten Lei, menurut peta rahasia yang kupelajari, ruang penyimpanan utama seharusnya berada tepat setelah kita melewati aula pemujaan di depan sana. Kita harus sangat berhati-hati, tempat seperti ini biasanya memiliki penjaga otomatis," bisiknya dengan suara serak yang dipenuhi antisipasi.

"Diam dan teruslah berjalan, Tua Bangka! Kau sudah menyeret kami ke lubang kematian ini, jadi pastikan kakimu berguna untuk memicu jebakan terlebih dahulu!" geram Kapten Lei dengan nada kasar. Melalui Pupil Penembus Ilusi, Ye Chen melihat warna hijau di dalam dada Lei Heng semakin pekat dan meluap, menelan warna birunya yang dulu stabil. Karakter jujur dan kepemimpinan rasional sang kapten telah terkikis habis oleh bayangan kekayaan instan.

Tiba-tiba, lorong sempit itu berakhir dan terbuka menuju sebuah aula luas yang sangat megah. Langit-langitnya tinggi, dihiasi oleh pilar-pilar batu raksasa yang diukir menyerupai naga melilit. Di tengah aula, terdapat sebuah altar batu hitam yang ditinggikan, tempat tiga buah peti kayu hitam berdiri berjajar. Namun, pemandangan di sekeliling altar jauh lebih mengerikan; berserakan tulang-belulang manusia yang telah memutih dan hancur, sisa-sisa dari para penjarah makam yang gagal berabad-abad lalu.

"Harta karun! Lihat itu!" teriak salah satu tentara bayaran dengan suara melengking. Tanpa menunggu perintah atau melakukan pemeriksaan keamanan, ia melepaskan formasi dan berlari kencang menuju altar tersebut dengan tangan yang sudah menjulur rakus.

"Tunggu! Jangan gegabah, bodoh!" teriak Kapten Lei bermaksud memperingatkan, namun kakinya sendiri justru melangkah maju dengan kecepatan yang tak kalah agresif.

Ye Chen tetap berdiri diam di ambang pintu aula, matanya menyapu setiap inci lantai batu dengan fokus maksimal.

"Sistem, pindai seluruh area altar dalam radius sepuluh meter. Cari anomali berat, sensor tekanan, atau pemicu termal."

[Peringatan Kritis! Terdeteksi anomali pada sudut kemiringan ubin di sekitar altar. Beban minimal 50 jin akan mengaktifkan mekanisme pertahanan otomatis tingkat menengah. Tipe ancaman terdeteksi: Gas korosif dan pelepasan energi Qi yang terkompresi secara mendadak.]

"Berhenti di tempatmu!" Ye Chen berteriak dengan suara yang menggelegar, menggunakan getaran Qi untuk membuat suaranya menembus gema aula dan memukul gendang telinga rekan-rekannya.

Tentara bayaran itu tersentak dan berhenti secara mendadak hanya satu meter sebelum tangannya menyentuh peti pertama. Kakinya sudah sedikit menggantung di atas ubin batu yang posisinya tidak rata. Ia menoleh ke arah Ye Chen dengan wajah memerah karena marah, "Apa masalahmu, Bocah Perunggu?! Kau mau mencoba mengintimidasi kami agar bisa mengambil bagian lebih besar?!"

"Gunakan matamu dan lihat ubin tepat di bawah kakimu," ucap Ye Chen dingin sambil berjalan perlahan mendekat, namun tetap menjaga jarak aman di luar zona merah yang ditandai Sistem.

"Gunakan otakmu yang kecil itu sebelum menggunakan kakimu. Jika kau menginjak ubin miring itu, gas korosif di bawah altar ini akan meledak dan mengubahmu menjadi seperti mereka."

Kapten Lei mendekat dan memeriksa ubin yang ditunjuk Ye Chen dengan wajah tegang. Ia memucat saat melihat celah mikroskopis di antara ubin yang mengeluarkan aroma sulfur samar dan uap tipis yang hampir tidak terlihat. Ia menatap Ye Chen dengan pandangan baru—sebuah perpaduan antara rasa terima kasih yang terpaksa dan kecurigaan yang semakin mendalam. "Bagaimana mungkin kau bisa menyadari detail sekecil itu, Nak? Matamu lebih tajam dari seorang pelacak veteran."

"Aku hanya membiasakan diri memperhatikan informasi lapangan yang kalian abaikan karena terlalu bernafsu," jawab Ye Chen datar tanpa ekspresi sombong sedikit pun.

Ahli Alkimia Su kemudian maju dengan sangat hati-hati. Ia menggunakan sebuah tongkat perunggu panjang untuk menekan urutan ubin-ubin tertentu sesuai dengan pola geometri kuno yang tersimpan di memorinya. Setelah beberapa saat yang menegangkan, terdengar suara *klik* mekanis yang sangat berat dari dalam tanah, diikuti oleh suara desis udara yang menandakan mekanisme jebakan itu telah terkunci kembali ke posisi aman.

Mereka akhirnya berdiri tepat di depan tiga peti kayu hitam tersebut. Kapten Lei, yang sudah tidak sabar, langsung menghujamkan ujung pedang besarnya ke sela tutup peti pertama.

*Krak!*

Isi peti itu meledak dalam pendaran cahaya biru yang menyilaukan mata. Tumpukan Batu Spiritual Kualitas Rendah yang berkilauan memenuhi peti tersebut, jumlahnya setidaknya mencapai lima ratus butir. Suasana aula yang suram seketika berubah menjadi indah dan mistis akibat cahaya biru tersebut. Nafsu makan para tentara bayaran itu mencapai puncaknya; mereka mulai meraup batu-batu itu ke dalam kantong mereka dengan gerakan liar dan tawa yang menggila.

Peti kedua dibuka, berisi beberapa botol keramik yang tersegel rapat dengan lilin merah. Ahli Alkimia Su membukanya satu dan seketika aroma dingin yang menyegarkan memenuhi ruangan. "Pil Kondensasi Es! Ini adalah pil tingkat 4 yang mampu mempercepat kecepatan kultivasi di Alam Kondensasi Qi hingga tiga kali lipat tanpa merusak meridian! Ini adalah harta karun alkimia yang luar biasa!" teriak Su dengan tangan gemetar.

Namun, perhatian Ye Chen sama sekali tidak teralihkan oleh batu atau pil tersebut. Matanya sepenuhnya tertuju pada peti ketiga yang masih tertutup rapat di ujung altar. Melalui Pupil Penembus Ilusi, ia menangkap sebuah anomali visual yang mengerikan. Peti itu tidak memancarkan cahaya biru Batu Spiritual atau aroma harum herbal. Sebaliknya, peti itu memancarkan aura hitam pekat yang dingin, tajam, dan seolah-olah sedang menghisap cahaya di sekitarnya.

"Sistem, lakukan analisis mendalam terhadap isi peti ketiga tanpa perlu membukanya secara fisik," perintah Ye Chen, tangannya diam-diam meraba gagang Belati Malam Tanpa Suara di balik lengan bajunya.

[Analisis Komputasi Selesai. Objek teridentifikasi: Fragmen Pedang Patah yang dipenuhi dengan residu Keinginan Membunuh yang sangat kuat. Bahaya! Fragmen ini mengandung kutukan energi sisa dari pemilik aslinya yang mampu merusak jalur meridian secara permanen jika disentuh tanpa perlindungan Qi tingkat tinggi.]

Saat Kapten Lei yang sudah mabuk harta hendak mengulurkan tangannya ke arah peti ketiga, Ye Chen segera melangkah mundur satu langkah besar, mengunci setiap otot tubuhnya dalam posisi siap bertempur.

"Kapten, sebagai sesama rekan Tentara Bayaran, aku sarankan jangan pernah menyentuh peti terakhir itu jika kau masih ingin menggunakan tanganmu esok hari." ucap Ye Chen tegas. Namun, suaranya kembali tenggelam oleh tawa rakus Kapten Lei yang sudah tertutup oleh keserakahan absolut.

"Setelah semua kekayaan ini, kau menyuruhku berhenti di peti terakhir? Jangan konyol, Bocah! Keberuntungan ada di pihak orang yang berani!" Kapten Lei menyentakkan tutup peti ketiga dengan tenaga penuh.

*BOOM!*

Bukan ledakan fisik yang terjadi, melainkan gelombang kejut energi hitam pekat yang meledak keluar dari dalam peti, menghantam dada Kapten Lei hingga ia terpental mundur sejauh lima meter dan menabrak pilar batu hingga retak. Suhu di dalam aula luas itu turun drastis dalam sekejap, hingga napas mereka mengeluarkan uap dingin. Sesosok fragmen pedang yang tampak berkarat dan patah melayang di udara, memancarkan aura haus darah yang begitu nyata hingga membuat bulu kuduk berdiri.

"Argh! Tanganku! Meridianku... rasanya terbakar oleh es!" teriak Kapten Lei sambil memegangi lengannya yang mulai menghitam pekat seolah membusuk dalam hitungan detik.

Dua tentara bayaran lainnya bukannya menolong pemimpin mereka, malah saling pandang dengan tatapan yang sangat gelap. Mereka perlahan menarik pedang masing-masing, namun mata mereka tidak tertuju pada fragmen pedang, melainkan pada kantong besar berisi ratusan batu spiritual milik Kapten Lei yang tergeletak di lantai. Keserakahan yang telah Ye Chen kalkulasi sejak awal akhirnya mencapai titik didih paling mematikan.

Ye Chen menghela napas panjang, tatapannya kini memancarkan cahaya biru dingin yang mematikan. "Skenario terburuk telah aktif tepat sesuai probabilitas sistem. Waktunya melakukan pembersihan dan mengamankan seluruh aset."

Ia segera mengaktifkan teknik pergerakan Jejak Bayangan Hantu ke tingkat maksimal. Dalam pandangan mata fana yang ada di sana, sosok Ye Chen seolah memudar dan menghilang begitu saja, meninggalkan sisa-sisa bayangan biru samar yang perlahan menghilang di tengah aula yang mulai kacau balau tersebut. Babak pertempuran yang sesungguhnya di dalam makam kuno ini baru saja dimulai, dan kali ini, Ye Chen tidak akan lagi bermain sebagai pengawal biasa.

1
Adrian Ahmad
monoton kurang menarik
ada usul tidak jelas
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss author
Naevys
Wow, penulisan, dan pemilihan kata kata nya...
Nameless Monarch: Masih pemula bang, sama sekali gak ada wow nya:)
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
punya penulisan yang bagus, dan cerita yang mudah di ikuti. enak untuk di baca /CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: 😋hump
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
hmmmm masih tidak terbiasa dengan fantasi timur😅
Manusia Ikan 🫪
bagus nih, ruang simulasi mental
Manusia Ikan 🫪
sebagai mahasiswa arsitektur, aku pengen punya skill yang berhubungan dengan membangun ini😹
Manusia Ikan 🫪
hemmmm
Manusia Ikan 🫪
wah jarang jarang tuh ada sistem toko
Manusia Ikan 🫪
kenapa cerita fantasi timur, sangat mudah untuk mendapatkan kekuatan😅
Manusia Ikan 🫪: kwkawkoa masuk akal😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
bukan bumi kan!
Manusia Ikan 🫪
apakah ini urutan kekuatannya?
Manusia Ikan 🫪
😅mmmmm bro langsung tahu cara makenya?
Manusia Ikan 🫪: wkaowkaokwoa tapi lebih bagus kayak gini, dari pada gk tahu apa apa😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
yeeeeeey aku yang like pertama😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!