Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tangisan Axel masih menggema di dalam rumah itu. Tidak ada yang benar-benar tenang. Bahkan semua orang langsung mendengar saat mendengar suara histeris itu.
Arya masih berdiri di tempatnya. Wajahnya tegang. Sementara Luna terus saja mendesak, seolah tangisan anaknya itu benar ada hubungannya dengan kamar yang terlalu sempit itu.
"Mas…" lirih Luna lagi.
Kali ini, Arya mengangkat wajahnya perlahan. Ada sesuatu yang berubah dari sorot matanya. Sebuah keputusan yang harus segera ia ambil dan tanpa banyak bicara, ia melangkah keluar dari kamar itu.
Langkahnya cepat dan tegas menuju satu tempat, yaitu. Kamar utama.
Tok… tok… tok…
Ketukan itu terdengar jelas, tapi sayang penghuni di dalamnya tidak memberikan jawaban.
Arya mengembuskan napas, lalu tanpa menunggu lagi, ia membuka pintu itu perlahan.
Ceklek.
Pintu terbuka, dan di sana Adinda berdiri sendiri, seolah sudah menunggu. Tatapannya lurus. Tenang. Tapi justru itu yang membuat suasana terasa jauh lebih mencekam.
"Kamu dengar semuanya, ya?" tanya Arya akhirnya.
Adinda tersenyum tipis. "Lumayan jelas."
Arya menelan ludah. Namun tetap melangkah masuk. "Din… aku mau bicara baik-baik."
"Sejak kapan kamu tahu caranya bicara baik-baik?" sahut Adinda tanpa jeda.
Arya terdiam sesaat, langkahnya terlihat ragu namun situasi yang membuatnya harus tetap melanjutkan.
"Axel gak nyaman di kamar itu. Dia terus nangis. Aku gak tega lihat dia seperti itu," ucapnya, mencoba terdengar rasional.
Adinda hanya diam. Tidak menyela, tanpa ada yang tahu ataupun mengerti dengan perasaannya, di sini ia dituntut layaknya korban yang harus tetap mengerti dalam situasi apapun.
"Jadi…" lanjut Arya ragu, "aku pikir… untuk sementara, kamu bisa pindah dulu ke kamar lain."
Hening seketika tidak ada jawaban, bahkan beberapa detik terasa sangat panjang, Adinda hanya terdiam sambil menatap nanar ruangan kamar itu, rasanya tidak mungkin Arya akan memintanya pindah demi kepentingannya sendiri.
Hingga sampai akhirnya, senyum tipis terukir dari bibir Adinda, tidak bersuara. Tapi cukup untuk membuat bulu kuduk meremang.
"Pindah?" ulangnya.
Ia melangkah mendekat, satu demi satu langkah yang terasa berat, seolah setiap pijakan kakinya membawa sisa-sisa luka yang belum sempat sembuh.
Tatapannya kini lurus menembus mata Arya, tajam namun tenang, menyimpan ribuan hal yang tak lagi ingin ia sembunyikan.
“Kamu menyuruhku keluar dari kamar ini?” tanyanya pelan, nyaris berbisik, tetapi justru itulah yang membuat suasana terasa menekan.
Arya sempat mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. “Din, ini cuma sementara—”
“Jawab aku, Mas.”
Nada itu tidak tinggi, tidak pula meledak. tapi terdengar tegas, memaksa, seolah tidak memberi ruang untuk berkelit.
Arya menghela napas kasar sebelum akhirnya menyerah pada desakan itu. “Iya.”
Satu kata yang sederhana, tetapi dampaknya seolah meruntuhkan sesuatu yang selama ini masih Adinda pertahankan mati-matian. Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar, digantikan kilat luka yang tak sempat ia sembunyikan. Matanya mulai berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang jatuh. Ia menahannya, seperti biasa, seperti selama ini.
“Kamu terlalu egois, Mas,” ucapnya pelan.
Kalimat itu tidak keras, tetapi menghantam tepat di dada Arya.
Pria itu menatapnya, mencoba bertahan dengan sisa-sisa pembelaan yang ia punya.
“Kamu memaksaku menerima pengkhianatanmu… pernikahanmu diam-diam…” lanjut Adinda, suaranya mulai bergetar meski ia berusaha tetap tegak. “Tapi sekarang kamu juga menyuruhku keluar dari kamar pribadiku?”
Ia mundur satu langkah, tangannya mengepal, menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar amarah.
“Kamar ini, Mas… kamar yang kita bangun bersama,” lanjutnya lirih, matanya menyapu setiap sudut ruangan, seolah menghidupkan kembali kenangan yang pernah terasa hangat.
“Di dalam rumah ini ada jerih payah kita berdua… ada harapan…” Ia tersenyum pahit. “Yang sekarang mungkin sudah hancur sia-sia.”
Arya terdiam. Untuk sesaat, ia benar-benar kehilangan kata-kata. Namun seperti biasa, egonya datang menyelamatkan—atau justru menghancurkan.
“Din, ini cuma soal kamar! Jangan dibesar-besarkan seperti ini!” tegasnya, mencoba mengembalikan kendali.
Adinda menatapnya lama, lalu menggeleng pelan. “Bukan soal kamar, Mas. Ini soal… tempat terakhir yang masih aku punya.”
Kerutan muncul di dahi Arya. “Apa maksud kamu?”
Adinda tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana. “Semua sudah kamu ambil.” Ia mengangkat jarinya perlahan, menghitung satu per satu. “Kepercayaanku. Cintaku. Lalu sekarang… rumah ini juga sudah kamu bagi.”
Tatapannya kembali tajam, menusuk tanpa ampun. “Dan sekarang kamu mau ambil satu-satunya ruang yang masih aku pertahankan?”
Hening menggantung. Arya mulai merasa goyah, meski tidak ingin mengakuinya akan tetapi sebelum ia sempat menjawab, suara dari luar memecah suasana.
“Arya! Gimana? Anak itu masih nangis terus!”
Langkah kaki mendekat, tergesa. Tak lama kemudian, Sintia dan Airin muncul di ambang pintu, diikuti Luna yang menggendong Axel yang masih menangis tanpa henti. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya tetap tertuju ke kamar itu—ke tempat yang ingin ia miliki.
“Sudah bilang belum?” tanya Sintia tanpa basa-basi.
Arya menoleh sekilas, lalu kembali menatap Adinda. “Din, tolonglah. Ini demi anak.”
“Anak?” ulang Adinda pelan. Tatapannya beralih ke Luna, lalu ke bayi di pelukannya. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya, samar dan cepat, tetapi segera ia tepis sebelum tumbuh lebih jauh. “Sejak kapan kamu peduli dengan orang lain, Mas?” ucapnya dingin.
Sintia langsung mendengus. “Dinda! Jangan keterlaluan! Ini cuma kamar!”
Adinda menoleh perlahan. Tatapannya berubah, lebih tajam dari sebelumnya. “Kalau cuma kamar… kenapa tidak Ibu saja yang pindah?”
Ucapan itu membuat Airin membelalak, sementara Sintia terdiam sesaat sebelum wajahnya memerah karena marah.
“Kamu berani sekali bicara seperti itu sama orang tua!” bentaknya.
Adinda tersenyum tipis. “Dari tadi… siapa yang tidak menghargai siapa, Bu?”
Luna menggigit bibirnya. Situasi ini jelas di luar kendalinya. Tangisan Axel semakin keras, memecah ketegangan yang semakin menyesakkan.
“Mas…” bisiknya pelan, penuh tekanan.
Arya memejamkan mata sejenak, seolah mencoba mengumpulkan sisa kesabaran. Ketika ia membukanya kembali, ia menatap Adinda dengan sorot yang lebih keras.
“Din… aku mohon,” ucapnya, kali ini lebih rendah.
Namun Adinda tetap berdiri tegak, tidak goyah sedikit pun.
“Kalau kamu tetap ingin kamar ini… berarti kamu benar-benar egois.” Kalimat itu akhirnya keluar, tajam dan tanpa saring.
Untuk pertama kalinya, mata Adinda benar-benar berkaca. Luka itu jelas terlihat sekarang, tidak lagi tersembunyi. Namun alih-alih runtuh, ia justru tersenyum—senyum pahit yang penuh penerimaan.
“Iya, Mas,” ia mengangguk pelan. “Aku memang egois.”
Semuanya terdiam.
“Tapi setidaknya…” lanjutnya dengan suara bergetar, “aku tidak seegois kamu… yang mengambil segalanya dariku.”
Tidak ada yang mampu membalas. Bahkan Arya pun terdiam, seperti kehilangan pijakan.
Tangisan bayi masih terdengar, tetapi kini terasa jauh. Yang lebih nyata justru retakan besar yang terbentuk di antara keduanya dan tanpa mereka sadari hal sederhana yang dianggap sepele justru menyakiti hati seseorang yang sedang berjuang untuk bertahan.
Adinda melangkah mundur, perlahan namun pasti, seolah setiap langkah adalah keputusan yang tidak akan ia tarik kembali. Ia masuk ke dalam kamar, satu-satunya ruang yang masih ia pertahankan.
Lalu pintu itu tertutup begitu saja. Sebuah bunyi kecil yang sederhana, tetapi terasa seperti garis batas yang tegas dan kaki ini ia menegaskan tidak akan ada yang boleh menyentuh ruang pribadinya itu.
Bersambung...
Maaf ya agak telat