Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Bersama
"Saya terima nikahnya Aurellia Valensi dengan mahar tersebut dibayar tunai."
Suara Rayga begitu lantang dan lancar mengucapkan sumpah suci untuk menikahi wanita yang ada di sampingnya.
Mungkin saja karena dia tidak mencintai Aurellia dan menganggap pernikahan itu tidak ada artinya menjadi salah satu alasan Rayga tidak merasa gugup saat mengucapkan kalimat sakral itu.
"Sah!" salhut para saksi menyambut Sumpah Suci yang telah selesai diucapkan oleh Rayga.
Yang ada di sana menyaksikan pernikahan itu hanya Xander, beberapa orang anak buah Rayga dan seorang penghulu, bahkan mahar itu hanya sebatas formalitas yang telah direkayasa oleh Xander atas perintah Rayga.
Lagipula mahar itu bukan kewajiban yang harus dipenuhi untuk mensahkan pernikahan, pikir Rayga.
Pernikahan yang berlangsung seperti main-main itu kini telah mengikat Rayga dan Aurellia dalam ikatan suci.
"Tuhan, bangunkan aku. Tolong sadarkan aku kalau kejadian ini hanya mimpi semata," ujar Aurellia dalam hatinya, dia merasa sulit untuk meyakinkan hatinya dan merasa bermimpi berada di hadapan penghulu dan dinikahi oleh pria asing di sampingnya.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami dan istri. Semoga rumah tangga kalian diridhoi dan selalu diberkati," ucap Penghulu memberi wejangan dan
doa untuk pengantin.
"Aamiin," sahut orang-orang yang menyaksikan pernikahan itu, kecuali Rayga yang tidak meresponnya.
Dia nampak begitu acuh.
"Ya, sudah. Pernikahannya sudah selesai. Kamu antar penghulunya pulang," suruh Rayga pada Xander membuat wajah Penghulu memerah.
Selama dia jadi Penghulu yang membantu menikahkan orang, baru kali ini bertemu dengan mempelai pria yang begitu arogant.
Mengusirnya tanpa ada bada-basi menawarkan minum atau makanan terlebilh dahulu.
Sikap buruk Rayga sebenarnya sudah bisa terbaca oleh Penghulu tersebut dari awal, tapi dia coba untuk menepisnya.
Bahkan saat pernikahannya yang sakral saja dia hanya memakai pakaian rumah, begitu juga dengan wanitanya yang tidak ada persiapan sama sekali, itu sudah menunjukkan bagaimana aslinya seorang Rayga.
Tidak mau berurusan panjang, karena Penghulu itu juga tahu dengan siapa dia akan berurusan, dia lebih memilih undur diri seperti yang diinginkan Rayga.
"Saya pamit, Tuan Rayga dan Nona Aurellia," ucapnya berpamitan tidak disahut oleh Rayga, sedangkan Aurellia menunjukkan sikap ramah dan rasa terima kasihnya.
"Terima kasih, Pak," ucap Aurellia yang diangguki oleh Penghulu.
Semua orang yang tadi dipilih menjadi saksi oleh Xander telah meninggalkan ruang tamu yang dijadikan tempat berlangsungnya acara ijab kabul pernikahan Rayga.
Mereka kembali balik bekerja pada tugas masing-masing, sedangkan Xander pergi mengantarkan Penghulu ke kantor tempatnya bekerja.
Kini yang masih duduk di ruang tamu hanya Aurellia dan Rayga yang saling diam untuk beberapa menit telah berlalu.
"Tuan ..." panggil Aurellia pada Rayga yang duduk bersila di dekatnya.
"Hemm," sahut Rayga tanpa menoleh pada Aurellia.
"Apakah aku boleh pulang sebentar ke rumah ibuku?" tanya Aurellia, dia berniat menjemput baju ganti ke rumah orang tua angkatnya.
"Mau mencoba kabur?" tanya Rayga penuh penekanan.
"Bu-bukan. Mana berani aku kabur, percayalah aku bukan lah orang yang ingkar pada janji dan komitmen," jawab Aurellia.
Rayga menoleh ke arah Aurellia, pandangan mereka bersirobok.
Sekilas ada desiran hangat yang mengejutkan hati Aurellia, sehingga dia cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku ingin menjemput baju ganti ke rumah ibuku. Di sini aku tidak ada baju ganti untuk nanti aku mandi atau ngapain," lanjut Aurellia menjelaskan tujuannya.
"Kamu kira saya ini orang melarat yang tidak bisa membelikan baju ganti untukmu? !" Bentak Rayga dengan suara keras, padahal Aurellia ada di sampingnya.
"Kok dia jadi marah? Kalau memang bukan pria melarat, nikahan saja tidak bisa membelikan baju yang lebih layak. Seharusnya dia paham dari kemarin aku bilang kalau aku tidak punya baju ganti di sini, Giliran aku izin mau pulang untuk menjemput baju malah teriak-teriak seperti ini." Aurellia ngedumel di dalam hatinya karena kesal dibentak oleh Rayga, tetapi tetap dia tidak berani mengungkapkannya secara langsung.
"Kamu belum tahu siapa saya? Sehingga kamu biarkan saja otak kotormu itu berpikir kalau saya ini orang tak mampu ... Jangankan baju ganti, dirimu saja bisa kubeli dengan mudah!"
Deg!
Hunusan kalimat yang diucapkan Rayga menancap sempurna di hati Aurellia.
Kalimat itu begitu jelas menyatakan kalau Aurellia seorang perempuan rendahan yang dibeli oleh Rayga.
"Iya, aku tahu, Tuan. Selain kaya-raya, Anda juga telah berjasa pada saya. Terima kasih," jawab Aurellia dengan suara mulai tersendat di tenggorokannya.
"Permisi, Tuan. Saya ke kamar dulu," pamit Aurellia hendak bangkit dari duduknya, tetapi ditahan oleh Rayga.
"Apa saya mengizinkanmu pergi dari sini?" sentaknya membuat Aurellia urung untuk nerdiri dari duduknya.
"Maaf, Tuan." Aurellia menunduk berlinang air mata.
"Apapun yang akan kamu lakukan, harus ada izin dari saya dulu. Saya sudah membeli kamu dari rumah bordil, kamu tahu itu, 'kan? Seharusnya kamu paham kalau saat ini kamu berada di bawah kendali saya."
Lagi dan lagi Rayga menekankan kalau Aurellia adalah wanita yang dibelinya, entah ini sudah keberapa kalinya Rayga menekankan itu.
Padahal tidak dia jelaskan juga Aurellia sangat paham, karena saat di rumah bordil Aurellia yang berdoa untuk dibantu oleh Rayga membebaskannya, dan itu jadi kenyataan.
Aurellia dibeli dengan harga fantastis saat pelelangan.
Namun, uang sebanyak itu tidak ada seperak pun yang diterima Aurellia.
Sudah jelas itu akan jadi milik ibu angkatnya dan pemilik rumah bordil yang tak lain adalah teman ibu angkatnya sendiri.
"Iya, Tuan. Saya paham," jawab Aurellia tanpa membantah sedikit pun.
"Bagus," sahut Rayga.
Kembali diam, di antara mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Yang jelas, rasa saling cinta tentu tidak ada di hati Rayga maupun Aurellia.
Aurellia memainkan layar ponselnya, mencari nomor telepon seseorang, melakukan panggilan pada nomor itu.
Hanya berselang beberapa detik, panggilannya langsung tersambung.
"Ke sini, Bi. Saya di ruang tamu," ujar Rayga saat ponselnya berada di dekat telinga.
Tak terdengar oleh Aurellia sahutan atau pembicaraan lawan bicara Rayga, karena panggilan itu tidak di-loudspeaker oleh Rayga.
Hanya saja, karena Rayga memanggil lawan bicaranya dengan panggilan "bi" yang muncul dalam pikiran Aurellia adalah sosok pelayan paruh baya yang tadi dipeluknya.
Apapun perintah Rayga, sepertinya memang sangat dihormati oleh semua bawahannya.
Termasuk pelayan yang sudah berumur dan sangat jauh di atas Rayga umurnya.
Dia tergopoh-gopoh mendekati Rayga yang duduk di dekat Aurellia.
"Permisi, ada apa, Tuan?" tanyanya dengan nafas ngos-ngosan.
"Pilih ukuran pakaian untuk Aurellia, termasuk pakaian dalamnya," ujar Rayga memberi tahu tugas untuk Bi Nery yang dia panggil menghadap padanya.
"Baik, Tuan."
Bi Nery yang paham betul kalau Rayga tidak menyukai orang yang banyak tanya, dia lebih memilih untuk mengiyakan saja tugas yang diberikan padanya.
Walau dia belum tahu memilih ukuran baju untuk Aurellia dilakukan di mana dan pakaiannya yang seperti apa.
"Bibi akan diantar supir, untuk bayaran nanti saya yang transfer pada pihak tokonya. Bibi ke sana hanya untuk memilih ukuran yang pas saja." Rayga yang melihat kegusaran Bi Nery langsung paham kalau wanita paruh baya itu perlu penjelasan lebih.
Bi Nery mengangguk patuh.
Dia pergi diantar supir seperti yang dikatakan Rayga sebelumnya.