NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 008

Ziva (Zura) hendak melangkah melewati Reygan, namun cowok itu justru mencengkeram lengan hoodie Ziva (Zura), menahannya agar tetap di tempat. Kerumunan murid di koridor mulai berbisik riuh, mengeluarkan ponsel mereka untuk mengabadikan momen langka ini.

"Gue belum selesai, Ziva. Lo nggak bisa seenaknya berubah jadi asing cuma buat bikin gue ngerasa bersalah," suara Reygan meninggi, egonya jelas sedang tercabik-cabik.

Ziva (Zura) menatap tangan Reygan di lengannya, lalu menatap wajah cowok itu dengan ekspresi datar yang mematikan. "Lepas! Tangan gue lagi nggak pengen disentuh beban hidup."

"Rey, udah malu dilihat orang," Liana mencoba menengahi dengan suara bergetar. Ia merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian, apalagi di tengah ketegangan antara mantan "pemujanya" dan sang "Ratu Bully".

Tepat saat suasana semakin keruh, langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Kerumunan murid di belakang mereka tiba-tiba terbelah bagaikan Laut Merah. Aksa datang, masih mengenakan jaket kulit hitamnya, diikuti oleh Kenan, Vino, Daren, dan Bram yang berjalan dengan aura intimidasi yang kental.

Aksa berhenti tepat di belakang Reygan. Ia tidak bersuara, hanya berdiri tegak dengan tatapan yang bisa membekukan air mendidih.

"Ada masalah?" Tanya Daren, memecah keheningan. Sebagai sepupu Reygan, Daren merasa perlu memastikan situasi tidak berakhir dengan baku hantam di tengah koridor.

Reygan menoleh, mendapati mata tajam Aksa yang tertuju langsung padanya—atau lebih tepatnya, ke arah tangannya yang masih memegang lengan Ziva. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, Aksa maju satu langkah.

"Lepas," perintah Aksa. Singkat, padat, dan tidak terbantahkan.

Reygan mendengus sinis, meski nyalinya sedikit ciut. Ini urusan gue sama Ziva, Aks. Nggak ada hubungannya sama Black Eagle

Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Reygan selama tiga detik, lalu perlahan mengulurkan tangan dan menepis tangan Reygan dari lengan Ziva (Zura) dengan sekali sentak namun tegas.

"Dia bilang lepas. Artinya lepas," suara Aksa terdengar rendah namun bergema di sepanjang koridor.

Ziva (Zura) yang berada di tengah-tengah mereka hanya menguap lebar, benar-benar tidak terpengaruh oleh atmosfer "adu jantan" di sekitarnya. "Oke, makasih bantuannya, Tiang Listrik. Gue cabut dulu ya, telinga gue udah mulai panas dengerin debat kusir."

Ziva (Zura) melenggang pergi tanpa beban, diikuti oleh Manda dan Tika yang masih melongo tak percaya. Manda sempat melirik Aksa dengan tatapan memuja sebelum akhirnya lari menyusul Ziva.

Aksa tidak mengejar Ziva. Ia hanya berdiri di sana, menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh menuju kelas. Ia kemudian melirik Reygan sekilas tatapan yang seolah meremehkan sebelum akhirnya berbalik arah.

"Vino, cabut. Kantin," ucap Aksa dingin.

"Lah, nggak jadi masuk kelas, Aks?" Tanya Bram bingung.

"Males," sahut Aksa singkat.

Di lantai atas, Papa Ziva (Baskara)—yang secara kebetulan sedang berkunjung ke sekolah untuk urusan donasi yayasan bersama kepala sekolah—melihat kejadian itu dari jendela ruang kepala sekolah. Ia terdiam melihat perubahan sikap anaknya yang tidak meledak-ledak seperti biasanya, namun justru terlihat lebih berwibawa meski dalam diam.

"Anak saya sepertinya benar-benar sudah dewasa," gumam Papa Ziva (Baskara) pelan.

Pagi itu, koridor SMA Pelita Bangsa menjadi saksi bisu bahwa Zivanna bukan lagi gadis yang bisa diatur oleh perasaan siapa pun. Sementara itu, di dalam kelas, Ziva sudah berhasil duduk di kursinya, memasang tudung hoodie-nya, dan bersiap untuk satu misi paling suci dalam hidupnya hari ini: Hibernasi sampai jam istirahat kedua.

"Martabak dapet, drama lewat. Sekarang waktunya tidur," bisik Ziva (Zura) sebelum akhirnya benar-benar tenggelam dalam dunia mimpinya yang tenang.

Suasana kelas XI-IPA 1 biasanya riuh sebelum guru masuk, tapi pagi ini level kebisingannya naik dua kali lipat. Fokus utama semua orang tentu saja pada gundukan kain abu-abu di pojok belakang: Ziva yang sedang meringkuk di dalam hoodie-nya, seolah-olah dunia luar hanyalah gangguan sinyal bagi frekuensi tidurnya.

​"Ziv, lo beneran tidur? Gila ya, seantero sekolah lagi bahas lo sama Aksa, lo malah asyik ke alam mimpi," bisik Tika sambil menusuk-nusuk lengan Ziva dengan pulpen.

Ziva hanya bergumam tidak jelas dari balik kain, "Jangan ganggu... gue lagi rapat sama malaikat tidur..."

Manda yang duduk di depannya hanya bisa menghela napas. "Biarlah, Tik. Mungkin ini efek samping dia nggak pake makeup tebal. Energinya kepake buat numbuhin sel-sel otak yang baru."

Sementara itu, di kantin yang jaraknya cukup jauh dari kelas Ziva, suasana di meja Black Eagle terasa lebih berat dari biasanya. Aksa duduk dengan kaki menyilang, menatap botol air mineral di depannya tanpa minat.

​"Aks, serius gue tanya. Kenapa lo belain Ziva tadi?" Kenan membuka percakapan, tangannya sibuk mengaduk kopi. "Bukan gaya lo banget ikut campur urusan cewek, apalagi urusan Ziva sama Reygan."

​Aksa hanya melirik Kenan sekilas. "Gue cuma nggak suka ada orang yang maksa orang lain."

"Tapi itu Ziva, Aks! Ratu drama!" Bram menimpali dengan antusias. "Eh, tapi emang dia beda sih sekarang. Tadi pas dia ngatain Reygan 'beban hidup', gue pengen tepuk tangan tapi takut dikira dukung penindasan."

​Daren, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Reygan kena mental. Dia sekarang di kelas, diem aja kayak patung. Kayaknya dia beneran kaget Ziva bisa sesantai itu nolak dia."

​Aksa terdiam. Ia teringat tatapan Ziva tadi. Tidak ada benci, tidak ada cinta, hanya ada rasa bosan yang luar biasa. Menarik, batinnya. Bagi Aksa, orang yang tidak menginginkan apa pun adalah orang yang paling sulit dikendalikan, dan entah kenapa, ia ingin tahu lebih banyak tentang "Ziva yang malas" ini.

​Di sisi lain sekolah, Reygan sedang berdiri di balkon lantai dua, menatap lapangan basket yang kosong. Di sampingnya, Liana berdiri dengan canggung, memegang dua kotak susu cokelat.

"Rey, diminum dulu," tawar Liana pelan.

Reygan menerima susu itu tanpa melihat Liana. "Gue nggak ngerti, Li. Apa gue seburuk itu sampai dia ngomong gitu ke gue? Selama ini dia yang ngejar gue sampai gue risih. Sekarang? Dia seolah nganggep gue sampah jalanan."

​Liana menunduk. "Mungkin... Kak Ziva capek, Rey. Capek dikecewakan, atau mungkin dia baru sadar kalau ada hal yang lebih penting daripada sekadar ngejar seseorang."

​Reygan meremas kotak susu di tangannya. Bukan rasa bersalah yang ia rasakan, melainkan rasa kehilangan kendali. Selama ini, Ziva adalah pengikut setianya, dan sekarang, pengikut itu telah pergi, bahkan tanpa berpamitan.

​Bel pelajaran kedua berbunyi. Bu Lastri, guru Biologi yang terkenal perfeksionis, masuk ke kelas XI-IPA 1. Ia langsung disambut oleh pemandangan Ziva yang masih "berhibernasi".

"Zivanna Clarissa!" Bu Lastri memukul meja Ziva dengan buku tebal.

​Ziva tersentak, tudung hoodie-nya melorot, menampilkan wajah bantal yang sangat polos dan mata yang mengerjap bingung. "Eh... iya, Bu? Sudah buka puasa?"

Seluruh kelas tertawa ledak. Bu Lastri melotot. "Buka puasa apa? Ini masih jam sepuluh pagi! Berdiri di depan sekarang!"

Ziva menguap lebar, tidak merasa malu sedikit pun. Ia bangkit berdiri dengan gerakan sangat lambat, saking lambatnya Bu Lastri sampai harus mengelus dada sabar. "Aduh Bu, saya lagi masa pertumbuhan, kalau berdiri terus nanti nutrisinya lari ke kaki semua, nggak ke otak."

"Zivanna!"

​"Iya, iya, Bu. Saya maju," ucap Ziva pasrah.

Saat berjalan ke depan, matanya tak sengaja menoleh ke arah jendela koridor. Di sana, Aksa dan gengnya sedang berjalan lewat. Pandangan mereka bertemu.

Ziva memberikan tatapan "liat nih gara-gara tiang listrik gue jadi dihukum" ke arah Aksa.

Aksa yang melihat itu sempat berhenti sejenak. Ia melihat Ziva yang berdiri di depan kelas dengan rambut sedikit berantakan tapi malah terlihat lebih "manusia" daripada siapa pun di gedung ini. Aksa tidak tersenyum, tapi ia melakukan sesuatu yang membuat seisi kelas yang melihat ke jendela langsung heboh: Aksa mengangkat tangannya, memberikan gestur "semangat" yang sangat kaku—hanya sekadar kepalan tangan kecil—lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

​Ziva mendengus, kembali menatap papan tulis. "Emang tiang listrik satu itu hobby banget nambahin beban hidup orang," gumamnya pelan, meski ada sedikit hangat yang aneh di dadanya.

​Hari itu, Ziva menyadari bahwa hidup sebagai orang malas ternyata tidak semudah bayangannya. Terutama ketika ada "Aksa" yang terus-menerus merusak radar ketenangannya

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!