Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepekaan
Andi, Bayu, dan Dimas serta dua remaja lainya segera merendahkan tubuh.
Kaki mereka mencengkeram dasar sungai, menahan arus yang terus mencoba menggoyahkan keseimbangan.
“Jangan lawan airnya,” lanjut Bima.
Ikuti… tapi jangan hanyut.”
Beberapa detik berlalu.
Bayu mulai goyah.
Kakinya bergeser sedikit.
“Fokus!” suara Bima langsung memotong.
Bayu dan Randy menguatkan kembali posisinya.
Dimas menggertakkan gigi, mencoba bertahan.
Sementara Andi dan Wahyu mulai menemukan ritmenya.
Bima memperhatikan tanpa banyak bicara.
Matanya tajam menilai setiap gerakan kecil.
“Sekarang…” ucapnya pelan.
Ia mengambil sebuah batu kecil, lalu melemparkannya ke air di depan mereka.
“Rasakan.”
Cipratan air menyebar.
Arus kecil berubah arah.
“Dalam pertarungan… lawanmu tidak akan diam,” lanjut Bima.
“Kalau kalian tidak bisa membaca perubahan kecil… kalian akan kalah sebelum bergerak.”
Latihan berlanjut.
Waktu berjalan.
Matahari semakin turun,
cahaya berubah menjadi keemasan.
“Keluar dari air,” perintah Bima.
Mereka naik ke tepi sungai, napas terengah, tubuh basah.
Namun latihan belum selesai.
“Sekarang—tangkap.”
Bima menunjuk ke arah air.
Ikan-ikan kecil bergerak cepat di antara arus.
Andi mencoba lebih dulu gagal.
Bayu menyusul hampir berhasil, tapi lepas.
Dimas mencoba dengan terburu-buru air hanya memercik.
di lanjutkan dengan Randy, tapi masih gagal
Wahyu mulai melangkahkan maju dia bisa menangkap ikannya tapi dia tidak bisa menjaga keseimbangan lalu terjatuh.
Bima menggeleng pelan.
“Bukan tanganmu yang harus cepat…” katanya.
“Pikiranmu dulu yang harus tenang.”
Ia melangkah ke tepi air.
Diam.
Beberapa detik.
Lalu cek!
Tangannya bergerak cepat.
dengan keseimbangan dan tubuh yang kokoh.
Seekor ikan sudah berada dalam genggamannya.
Ia melempar ikan itu ke darat.
“Jangan kejar gerakannya,” ucapnya.
“Tunggu… sampai kamu tahu ke mana dia akan bergerak.”
Hening.
Kata-kata itu bukan sekadar latihan..
Andi Wahyu dan Randy menatap air dengan lebih tenang.
Bayu menarik napas panjang.
Dimas mulai mengatur ritmenya.
Dan perlahan Mereka mulai mengerti.
Di balik latihan itu Bima berdiri dengan tenang,
namun pikirannya tetap berjalan.
Setiap gerakan yang ia ajarkan…
bukan hanya untuk bertahan.
Tapi untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar.
Tatapannya sesaat mengarah ke hutan di kejauhan.
Gelap. Sunyi.
Namun ia tahu
Itu bukan sekadar hutan.
Itu… tempat di mana kebenaran sedang bersembunyi.
Dan saat waktunya tiba
mereka tidak hanya akan siap bertarung…
tapi juga siap mengakhiri semuanya.
Sore mulai meredup.
Cahaya matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan,
menyisakan bayangan panjang di permukaan air.
“Cukup untuk hari ini,” ucap Bima.
Mereka semua keluar dari air dengan napas berat.
tubuh lelah… tapi mata mulai berbeda.
Bukan lagi ragu.
Melainkan mulai mengerti.
“Besok kita lanjut ke tahap berikutnya,” lanjut
Bima.
“Latihan apa lagi?” tanya Randy sambil mengelap wajahnya.
Bima terdiam sejenak.
Tatapannya kembali ke arah hutan.
“Kepekaan.”
Andi mengernyit.
“Maksudnya?”
Bima menunduk, mengambil segenggam pasir basah, lalu menjatuhkannya perlahan.
“Kalau kalian tidak bisa merasakan keberadaan orang lain…” ucapnya pelan,
“kalian tidak akan tahu kapan bahaya datang.”
Suasana menjadi hening.
Wahyu menatap ke arah yang sama dengan Bima.
“Hutan itu…” gumamnya.
Bima tidak menjawab.
Namun diamnya… sudah cukup.
Malam pun tiba.
Di tengah gelapnya hutan,
pondok bambu itu masih berdiri sunyi.
Namun di dalamnya tidak ada yang benar-benar tenang.
“Berapa lama lagi kita harus di sini?” bisik salah satu preman dengan gelisah.
“Diam saja,” sahut yang lain.
“Semakin cepat kita bergerak, semakin cepat kita ditemukan.”
Suasana terasa sempit.
Udara pengap.
Dan ketakutan… mulai merayap perlahan.
Pintu bambu berderit pelan.
Pak Kades masuk dengan langkah tenang.
Semua langsung terdiam.
“Keadaan masih aman,” katanya singkat.
“Anak itu?” tanya salah satu dari mereka.
Pak Kades tersenyum tipis.
“Dia sibuk.”
Namun di balik senyum itu…
tersimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya pasti.
Ia melangkah mendekat.
“sepuluh hari dari sekarang kita mulai bergerak,” lanjutnya.
“Lewat jalur belakang. Tidak ada yang boleh terlihat.”
Salah satu dari mereka ragu.
“Kalau dia sudah tahu tempat ini,"
Pak Kades langsung menatap tajam.
“Kalau dia tahu… kalian tidak akan duduk setenang ini sekarang.”
Hening.
Namun kata-kata itu… tidak sepenuhnya menenangkan.
Di sisi Lain bima duduk sendiri di depan rumahnya.
Angin malam berhembus pelan.
Matanya menatap gelapnya arah hutan.
Tenang.
Terlalu tenang.
Tangannya mengepal pelan.
“akan ku tunggu beberapa hari lagi seperti yang kau harapkan paman…” gumamnya.
Seolah… ia merasakan sesuatu yang sama.
Bukan karena melihat.
Bukan karena mendengar.
Tapi karena… instingnya sangat tajam.