NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan diam-diam

“Sayang, kamu di mana?”

Suara Liora terdengar begitu manja saat menghubungi Arga melalui ponselnya.

“Aku di kantor, sayang. Ada apa?” jawab Arga dari seberang sana.

“Kamu sibuk?” tanya Liora kembali, nada suaranya dibuat lembut.

“Setelah makan siang, aku ada meeting dengan klien,” jawab Arga.

“Kamu sudah makan siang?”

“Belum, belum waktunya, kan,” balas Arga santai.

“Aku akan ke kantor kamu… bawa makanan kesukaan kamu.”

“Kamu serius?”

“Iya, sayang.”

Panggilan pun terputus.

Liora tersenyum puas, lalu menoleh ke arah Bibi Surti yang berdiri tak jauh darinya.

“Bibi, sudah siap?” ucapnya.

“Sudah, Nona,” jawab Bibi Surti sambil menyerahkan tempat bekal yang terlihat estetik.

Liora menerimanya dengan senyum tipis, namun tanpa sepatah kata terima kasih. Ia langsung berbalik dan meninggalkan dapur dengan langkah ringan.

Di luar rumah, sebuah mobil sudah menunggu.

Liora masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan kediaman Mahendra. Kali ini, ia menyetir sendiri tanpa sopir, menuju kantor Arga.

Tak berselang lama, mobilnya berhenti di depan gedung megah Wijaya Group.

Liora turun dari mobil dengan gaya elegan, membawa paper bag di tangannya. Langkahnya angkuh saat memasuki gedung perusahaan. Pakaian yang dikenakannya terlihat minim dan sangat ketat, mempertegas lekuk tubuhnya.

Beberapa karyawan sempat melirik, namun tak ada yang berani berkomentar ataupun menyapa.

Liora terus melangkah tanpa peduli, lalu memasuki lift. Di dalam lift, ia menekan tombol angka enam.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Liora melangkah keluar, berjalan lurus menuju ruangan Arga dengan penuh percaya diri.

“Raka?”

Raka yang sedang fokus pada laptopnya langsung terkejut dan menoleh.

“Iya, Nona,” ucapnya sopan kepada kekasih atasannya.

“Arga ada di dalam?” tanya Liora dengan nada angkuh.

“Iya, Nona. Tuan Arga sudah menunggu Anda,” jawab Raka.

Tanpa membalas, Liora langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Arga.

Raka menatap punggung Liora dengan ekspresi sinis.

“Kok Tuan Arga bisa tertarik sama nenek lampir seperti itu, sih…” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala.

°°

“Sayang.”

Arga langsung menyambut Liora saat wanita itu masuk ke dalam ruangannya. Ia merentangkan tangan, membuat Liora tanpa ragu segera memeluknya.

“Kangen banget,” ucap Liora manja.

“Maaf ya, aku cukup sibuk sampai bikin kamu kangen.” balas Arga sambil tersenyum tipis. Ia perlahan melepaskan pelukan itu, lalu melirik paper bag di tangan Liora. “Kamu bawa apa, sayang?”

“Makanan kesukaanmu,” jawab Liora. Ia kemudian menggandeng Arga untuk duduk, lalu mulai menata makanan di atas meja dengan rapi.

Harum rempah dari hidangan itu langsung memenuhi ruangan.

“Ini kamu yang masak?” tanya Arga.

Liora mengangguk tanpa ragu. “Tentu. Spesial untuk kamu,” jawabnya sambil tersenyum, lalu mulai menyuapi Arga. “Bagaimana?”

“Wah… ini enak banget,” puji Arga jujur.

Liora tersenyum puas. Dengan telaten, ia terus menyuapi Arga hingga makanan itu hampir habis.

“Masakan kamu memang enak, sayang,” tambah Arga.

“Of course,” balas Liora ringan.

Perlahan, Liora mendekat, lalu tanpa ragu duduk di pangkuan Arga.

“Hm… sepertinya kamu menginginkan sesuatu,” tebak Arga sambil mengusap lembut rambut Liora.

“Kamu selalu paham,” jawab Liora pelan.

“Kamu mau apa, sayang?”

Liora langsung mendekat ke telinga Arga, membisikkan sesuatu dengan suara pelan. Arga menyimak, alisnya sedikit berkerut.

“Dia mulai berulah?” tanya Arga.

Liora mengangguk. “Iya, sayang. Aku mau kamu beri dia pelajaran.”

Arga mengangguk mantap. “Apa pun yang kamu mau, akan aku wujudkan.”

Cup! Liora mencium bibir Arga dengan lembut, ujung hidung mereka saling bersentuhan saat bibirnya menyentuh bibirnya yang hangat.

"Tapi hanya satu kecupan tidak cukup, sayang." ucap Arga sambil perlahan membuka kancing kemeja Liora yang ketat satu per satu, jari-jarinya menyentuh kulitnya yang lembut di bawah kain.

Liora tersenyum lembut, mata besarnya memancarkan pemahaman yang mendalam terhadap maksud Arga. Ia perlahan mendekatkan wajahnya lagi, tanpa sepatah kata ia mencium Arga dengan ganas, lengan kedua orangnya menyilang di leher pria itu, mengikat mereka lebih erat. Suara napas mereka menjadi lebih berat dan terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi.

Dan terjadilah hubungan panas di ruangan Arga, dimana kedua tubuhnya saling mengikat dalam pelukan yang erat, suasana ruangan yang penuh dengan kedekatan dan kehangatan menyelimuti mereka sepenuhnya.

Setelah beberapa jam, mereka akhirnya terdiam dalam kelelahan, Liora merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur empuk di dalam kamar pribadi Arga. Tenaganya terkuras habis, seolah-olah setiap tetes energinya telah terserap sepenuhnya setelah Arga memanjakannya dengan begitu intens. Kulitnya masih terasa hangat, dan napasnya perlahan mulai kembali teratur meski rasa lelah masih menyelimuti seluruh anggota tubuhnya.

"Sayang, bersihkan diri kamu dulu ya," ucap Arga sambil menunduk, mengecup lembut kening Liora dengan penuh kasih sayang. Jari tangannya pun sempat mengusap pelan pipi gadis itu.

"Bentar, aku capek sekali," balas Liora, suaranya terdengar lemah dan serak. Ia memejamkan mata erat-erat, menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya yang telanjang, mencari kenyamanan lebih.

"Ya sudah, aku duluan ke kamar mandi. Kamu tunggu di sini saja ya, nanti aku ada meeting sebentar lagi," kata Arga lagi, masih dengan nada lembut.

"Hmm..." Liora hanya membalas dengan anggukan kepala yang pelan, matanya bahkan tak sanggup terbuka sedikit pun.

Arga pun beranjak dari posisi duduknya di tepi kasur, lalu melangkah masuk ke dalam toilet yang terhubung langsung dengan kamarnya. Suara air yang mengalir terdengar samar-samar mengisi keheningan ruangan.

Tak selang lama, pintu kamar mandi terbuka kembali. Arga keluar dengan penampilan yang sudah rapi, wangi parfum mahal menyebar seketika. Matanya langsung menatap ke arah ranjang, dan di sana ia melihat Liora sudah tertidur pulas, wajahnya terlihat damai di bawah cahaya lampu yang diatur agar tidak terlalu terang. Dengan senyum tipis, Arga melangkah perlahan keluar dari kamar pribadinya agar tidak membangunkan gadis itu.

Di ruang tamu yang berdekatan, Raka duduk di atas sofa. Pria itu tampak sangat fokus menatap layar laptopnya, memeriksa kembali berbagai data dan dokumen penting, seolah tidak ingin ada kesalahan sedikit pun.

Melihat tuannya telah keluar dari kamar, Raka segera menutup laptopnya dan berdiri dengan sikap sopan dan tegak, siap menerima perintah.

"Tuan, sebentar lagi waktu yang kita tentukan untuk meeting akan tiba," lapor Raka dengan suara tegas.

"Hmm, kamu sudah urus semua berkas yang diperlukan?" tanya Arga sambil menyesuaikan kerah kemejanya.

"Iya, Tuan. Semuanya sudah siap dan tersusun rapi," jawab Raka dengan pasti.

Arga mengangguk puas, lalu ia berjalan perlahan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke pusat kota. Dari ketinggian ini, deretan gedung pencakar langit terpampang jelas di depan matanya. Pikirannya seolah melayang jauh ke suatu hal yang mengganggunya.

"Raka," panggil Arga tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan di luar sana.

"Iya, Tuan. Ada perintah lain?" sahut Raka sigap.

"Kamu masih ingat dengan Xavero?"

Raka terdiam sejenak, otaknya bekerja mengingat nama tersebut. Beberapa saat kemudian, ia pun mengangguk yakin. "Iya, Tuan. Dia adalah pekerja pabrik di cabang utara yang dulu Tuan suruh pecat," jawab Raka menjelaskan.

Arga mengangguk perlahan, lalu ia berbalik badan, sorot matanya berubah tajam dan dingin. "Berikan dia pelajaran yang pantas dia dapatkan. Dia sudah berani mengusik Liora, dan aku tidak akan membiarkan hal itu berlalu begitu saja."

"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan segera," jawab Raka tanpa ragu.

Di balik pintu kamar pribadi Arga yang sedikit terbuka, Liora sebenarnya tidak benar-benar tertidur. Telinganya menangkap jelas setiap kata yang terucap oleh Arga dan Raka. Senyum tipis yang penuh perhitungan terukir di bibirnya, hatinya merasa puas karena rencana yang ia susun perlahan mulai berjalan sesuai keinginan.

Dalam hatinya, ia berbisik penuh kemenangan: "Xavero, kamu tidak akan pernah bisa berada di atasku, dan kali ini kamu benar-benar habis."

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!