papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perkehian youjin Dan elvaro
Keesokan paginya, suasana di area lapangan sekolah terlihat sangat ramai. Siswa-siswi berkeliaran, ada yang duduk di tribun, ada yang berjalan-jalan, dan ada yang sedang berlatih olahraga. Suasana yang biasanya riuh dan santai.
Di sudut lapangan, Elvaro berdiri dengan gaya super santai namun penuh kesombongan. Kedua tangannya dilipat di depan dada, dagunya diangkat tinggi, menatap Zavira dengan senyum miring yang sangat menyebalkan.
"Ayok, laksanakan," titah Elvaro dingin, matanya menyipit penuh kemenangan. "Jangan banyak bacot, lo yang salah, lo yang bayar."
Zavira mendengus kasar, kakinya menghentak lantai dengan kesal. Ia menatap sekeliling, jantungnya berdegup kencang bukan main. Banyak sekali mata yang memandang ke arah mereka. Gila, gue harus minta maaf di depan umum gini? Malu banget sumpah! batinnya menjerit.
Ia menatap Elvaro tajam, seolah ingin membakar cowok itu dengan tatapannya. Tapi Elvaro hanya mengangkat alisnya menantang, seolah berkata 'Berani nggak lo?'
Dengan napas panjang mengumpulkan nyali, Zavira akhirnya berjalan mendekati tribun tempat biasanya pembina upacara berbicara. Ia naik ke atas panggung kecil itu dan mengambil mikrofon yang tersedia.
Tangan Zavira gemetar sedikit saat mendekatkan mulutnya ke mic. Tut... tut... suara feedback terdengar, membuat semua orang di lapangan otomatis menoleh ke arahnya.
Zavira menelan ludah, lalu mulai berbicara dengan suara yang dikeraskan agar terdengar jelas.
"Gue... atas nama Zavira Liona Wesley, meminta maaf kepada seluruh siswa, dan khususnya kepada Elvaro..."
Zavira berhenti sejenak, matanya mencari sosok cowok itu di bawah. Elvaro masih berdiri dengan pose yang sama, wajahnya terlihat sangat puas dan menikmati momen ini.
'Dasar tiran!' umpat Zavira dalam hati.
"...Gue minta maaf karena selama ini sering jahil, sering bikin masalah, dan mungkin sering bikin kesel sama Elvaro," lanjut Zavira dengan suara yang terdengar terpaksa namun tetap lantang. "Gue akui selama ini kita sering berantem, sering adu mulut, dan mungkin bikin orang lain risih. Tapi mulai hari ini, gue janji bakal lebih sopan dan... tunduk sama aturan."
Selesai mengucapkan kalimat terakhir, Zavira sengaja menekan kata 'tunduk' dengan nada kesal, seolah itu adalah kata yang paling berat untuk diucapkan.
Di bawah sana, suara gumaman penasaran mulai terdengar dari teman-teman sekolah.
"Wah, serius tuh mereka?"
"Aneh banget, biasanya berantem mulu, sekarang Vira minta maaf gitu?"
"Elvaro emang beneran bosnya kali ya..."
Zavira segera menaruh mic dengan kasar, lalu turun dari tribun dengan wajah memerah padam karena malu dan kesal. Ia berjalan mendekati Elvaro yang kini sudah tidak bisa menyembunyikan tawanya.
"Gimana? Bagus kan? Sopan kan?" tanya Elvaro sambil terkekeh, menepuk-nepuk bahu Zavira dengan lembut tapi terasa sangat menyakitkan bagi ego Zavira.
"Sombong banget sih lo!" desis Zavira ketus, memukul tangan Elvaro agar menjauh. "Puas?! Hukuman gue selesai kan?!"
"Belum," jawab Elvaro santai sambil berbalik badan berjalan meninggalkan lapangan. "Itu cuma bagian dari permintaan maaf. Tugas lo jadi babu gue satu minggu masih jalan. Ayo, sekarang anterin gue ke kelas, ambilin tas gue!"
Zavira menggeram kesal, tapi akhirnya menurut dengan langkah berat. Hari yang panjang dan memalukan baru saja dimulai.
***
Di kejauhan, di balik pilar besar koridor, Youjin berdiri mematung. Matanya tak lepas menatap adegan di mana Zavira harus berdiri meminta maaf dengan wajah tertunduk malu di depan banyak orang, sementara Elvaro hanya berdiri santai dengan wajah penuh kemenangan. Hati Youjin terasa perih dan panas melihat itu. Ia tahu betul Zavira adalah gadis yang keras kepala dan punya gengsi tinggi, jadi melihatnya diperlakukan seperti itu jelas-jelas adalah sebuah hukuman yang sangat memalukan.
Sesaat setelah acara minta maaf selesai dan siswa mulai bubar, Youjin tidak langsung pergi. Dengan langkah lebar dan penuh emosi, ia mencari keberadaan Elvaro.
Hingga akhirnya, di sebuah lorong sekolah yang sepi dan minim cahaya, ia menemukan cowok itu yang sedang berjalan santai memasukkan tangan ke saku celana.
Tanpa basa-basi, Youjin menepuk bahu Elvaro dengan cukup keras. Elvaro menoleh dengan tatapan malas, namun saat melihat wajah Youjin yang merah padam menahan amarah, ia sedikit terkejut.
"Apa yang lo lakuin ke Vira?!" tanya Youjar langsung, suaranya berat dan menekan.
Elvaro hanya diam, menatap Youjin datar tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak menjawab, hanya menunggu lawan bicaranya meledak.
"Gue rasa itu keterlaluan, El!" seru Youjin lagi, jemarinya mengepal kuat. "Lo maksa dia minta maaf di depan umum .
Elvaro mendengus sinis, sudut bibirnya terangkat mengejek. "Kenapa? Lo protes?" tanyanya ketus.
"Lo nggak pantas lakuin itu ke dia! Dia cewek, El! Jangan seenak jidat lo aja!" bentak Youjin tidak terima.
"Kenapa? Lo gx Tau masalah nya , jadi diam aja " Elvaro melangkah maju selangkah, menatap tajam tepat ke manik mata Youjin. " lo suka ?"
Youjin terdiam. Pertanyaan itu membuatnya tercekat.
"HAH?! KOK DIAM?!" Elvaro mendorong bahu Youjin keras. "JAWAB GUE! SUKA YA ?!"
"IYA! GUE SUKA SAMA DIA!!" teriak Youjin meledak, tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Wajahnya memerah, napasnya memburu. "GUE SUKA ZAVIRA! PUAS LO?!"
Mendengar pengakuan itu, Elvaro tertawa kecil—tawa yang dingin dan penuh selera. Ia menggigit bibir bawahnya, aura kesombongannya memuncak, lalu ia membuang muka malas seolah apa yang dikatakan Youjin adalah hal yang sangat lucu.
"Oh... jadi dia wanita yang bikin persahabatan kita hancur selama ini ya?" ucap Elvaro pelan tapi tajam. "Gue kira apa, ternyata cuma gara-gara cewek."
"BUKAN SALAH DIA!" bentak Youjin membela. "Jangan seretin nama Vira dalam masalah kita!"
"Jadi..." Elvaro menatapnya lagi dengan tatapan mematikan. "Gue yang udah berkorban banyak selama ini ya salah? Gue yang nolong lo pas lo susah, gue yang bantu ekonomi keluarga lo biar lo bisa sekolah tenang, gue yang jadi tempat lo curhat segala hal... tapi balasan lo apa hah?!"
Suara Elvaro mulai meninggi, amarahnya mulai meledak.
"Gue nunggu lo berminggu-minggu buat minta maaf atau sekadar ngomong baik-baik! Gue kira lo bakal dateng dengan rasa bersalah! Gue kira persahabatan kita lebih penting dari apa pun! TAPI NYATANYA?! Lo datang cuma buat nuntut gue demi cewek yang baru lo kenal beberapa bulan?! LO MUNCUL DI SINI BUKAN KARENA KANGEN TEMEN, TAPI KARENA LO CEMAS SAMA WANITA ITU YA?!"
Youjin diam terpaku, kata-kata Elvaro begitu tajam menusuk tepat di ulu hati. Ia tidak bisa membantah karena itu memang benar.
"Ini nggak ada hubungannya sama Vira, El! Ini soal kesalahan lo yang kelewatan!" coba Youjin membela diri.
"BACOT LO ANJIR!!"
bumn!!
Elvaro mendorong dada Youjin dengan sangat keras hingga tubuh cowok itu terbentur dinding tembok lorong. Wajah Elvaro kini berubah sangat garang, matanya melotot penuh kebencian dan kekecewaan yang terpendam lama.
"SEMUA INI KARNA LO! KARNA LO DATENG DAN RUSAK SEMUANYA! LO BERANI-BERANINYA SAMA GUE CUMA KARENA PEREMPUAN ITU?! GUE TEGA NGAPAIN DIA ITU URUSAN GUE!!" teriak Elvaro di wajah Youjin.
"GUE KECEWA BANGET SAMA LO, JIN! GUE SANGAT KECEWA!"
Elvaro melepaskan dorongannya dengan kasar, lalu membersihkan tangannya seolah menyentuh Youjin saja membuatnya kotor.
"Urusi diri lo sendiri. Jangan harap gue bakal anggep lo temen lagi kalau lo cuma bisa mikirin cewek doang."
Elvaro berbalik badan pergi dengan langkah membara, meninggalkan Youjin yang berdiri terpaku di lorong sepi itu dengan dada yang sesak luar biasa.
***
gimana gaisy mau lanjut lagi gx .
tapi jangan lupa di vote ya.
Biar semangat nulisnya 🤭👋
di tunggu up berikutnya 🙏🏼
Wkwkwkwk 😁