Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Apa? Kawin lari?" Arga menyipitkan mata, tidak mungkin jika permintaan Nadine mengajaknya Kawin lari itu dari hatinya. "Kamu ini ada-ada saja Nadine," lanjut Arga sembari melangkah ke kursi kebesarannya.
"Bukankah kamu tadi bilang keluargamu tidak merestui kita? Terus apa yang akan kita lakukan jika bukan hanya menikah lari? Mas, tiga tahun sudah kita berhubungan, aku tidak ingin kamu gantung seperti ini terus," protes Nadine panjang lebar.
Nadine pun akhirnya pamit pulang memberi kesempatan Arga untuk berpikir bahwa permintaannya ini tidak main-main. "Pikirkan baik-baik Mas, aku tidak mau terus berhubungan yang tidak pernah ada kepastian." pungkasnya lalu membuka pintu.
Arga menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Ruang kerja yang biasanya nyaman dan sunyi kini terasa menyesakkan. Ia tahu betul alasan Nadine ingin melakukan hal nekat ini. Penolakan keras dari keluarganya, terutama sang Kakek dan Ayah, Ibunya sudah menjadi makanan sehari-hari ketika Nadine dulu sering dia ajak ke rumah.
Bagi mereka, hanya Kartini wanita terbaik. Arga geleng-geleng kepala, entah dari sisi mana orang tuanya menilai kebaikan wanita tukang ngorok, suka kentut, ileran, dan makan banyak itu hingga rela mengorbankan anaknya sendiri.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan?" Tanya Arga dalam hati.
Dia angkat foto cantik Nadine yang berada di atas meja kerja itu menatapnya lama. Cintanya pada Nadine begitu besar. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa senyum gadis itu, tanpa dukungan dan kasih sayang yang selalu Nadine berikan meski mereka sering bertengkar hal sepele tapi itu adalah bumbu. Nadine adalah cinta sejatinya. Jika Arga menolak permintaan ini, ia takut Nadine akan menyerah dan pergi meninggalkan dirinya.
Namun di sisi lain, Arga tetap Arga. Ia adalah anak yang selama ini berusaha menjadi kebanggaan keluarga, meski seringkali berbeda pandangan. Jika ia benar-benar membawa Nadine kabur, itu artinya siap dibuang kakek dan harus siap jadi gelandangan. Bukan itu saja, ia juga mengkhianati kepercayaan, dan memilih jalan yang penuh dosa menurut pandangan orang tuanya. Arga tidak ingin menjadi anak durhaka, dan menceraikan Kartini gadis yang ia nikahi tiga minggu yang lalu sebelum tiba waktu yang ia sepakati. Tetapi ia juga tidak ingin kehilangan cinta sejatinya.
Selama tiga jam, Arga merenung di ruangan itu merasa malas untuk kembali ke gedung dua. Ia bersandar sambil terus berpikir langkah apa yang harus ia ambil?
Ponsel di atas meja bergetar. Nama Nadine muncul di layar.
Jantung Arga berdegup kencang. Tangannya ragu-ragu saat hendak menekan tombol jawab. Ia bisa membayangkan wajah Nadine di seberang sana, mungkin sedang menunggu jawaban, atau mungkin sedang marah.
"Halo, Din..." jawab Arga serak.
"Mas..." suara Nadine terdengar manja nan jauh di sana mungkin gadis itu sedang merajuk. "Bagaimana, kamu sudah merenungkan permintaan aku? Aku nggak tahan lagi, Mas. Orang tuamu nggak akan pernah setuju. Kita buktikan sendiri kalau kita bisa bahagia tanpa restu mereka."
Arga menatap layar. "Din... dengarkan aku. Aku sayang kamu, lebih dari apapun. Tapi kawin lari itu jalan yang salah. Kita bakal hidup dalam rasa bersalah selamanya."
"Terus... apa solusinya, Mas?! Kecuali kamu berani memaksa kedua orang tuamu. Hanya itu jalan yang lain, atau kamu akan membiarkan aku menjadi perawan tua?" potong Nadine, suaranya meninggi.
"Tunggu dulu Nadine, sabar..." lirih Arga.
"Kamu mau nunggu sampai kapan? Sampai kamu dijodohkan sama wanita lain?! Aku nggak bisa terima, Mas! Aku cuma mau kamu cepat menikahi aku!"
Terjadi keheningan yang panjang di antara mereka. Arga menatap jendela ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Pikirannya kacau balau. Logikanya berkata untuk bertahan dan berjuang meyakinkan keluarga, tapi hatinya berteriak untuk mengejar cinta gadis itu.
"Hallo Mas, kamu masih di situ?" Suara Nadine di seberang telepon terdengar putus asa, membuat dada Arga semakin sesak. Jika saja masalahnya hanya soal restu orang tua, mungkin Arga sudah mempertimbangkan menikahi gadis itu sekarang juga.
Tapi tidak. Masalahnya jauh lebih rumit dari itu.
Arga menunduk dalam, memandangi cincin emas tipis yang sengaja ia sembunyikan di laci meja. Cincin itu bukan untuk Nadine. Tetapi bukti sah bahwa tiga minggu lalu ia telah mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan keluarganya.
"Hallo sayang aku masih di sini..." Arga berusaha untuk menjawab. "Tunggu ya, paling tidak selama 5 bulan lagi, aku butuh waktu untuk menjelaskan kepada keluarga."
"Selama itu?!" Tandas Nadine. "Sudah Aku katakan, kita tidak butuh restu orang tua! Karena kita yang akan menjalani!"
Arga mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa ia juga ingin itu semua. Tapi mulutnya terkunci rapat oleh janji dan tanggung jawab pernikahannya dengan Kartini.
Rahasia itu begitu berat. Pernikahan dengan Kartini, gadis yang dipilih langsung oleh Kakeknya karena alasan yang tidak Arga mengerti. Yang Arga tahu hanya karena menuruti kemauan orang tua dan Kakek yang sedang sakit keras.
Hidupnya kini dipenuhi kebohongan besar. Di depan keluarga, ia adalah suami dari Kartini yang urakkan dan berbadan gemuk itu. Tapi di luar sana, hatinya masih sepenuhnya milik Nadine.
"Arga jawab dong!!" desak Nadine mulai menangis. "Kamu sayang nggak sih sama aku? Kalau sayang, buktiin sekarang juga!"
"Din, maafin aku..." lirih Arga. "Aku... aku nggak bisa," jawab Arga terbata-bata. Ingin rasanya ia membuka semua rahasia pernikahannya, tapi tidak bisa membayangkan pasti akan kehilangan Nadine..
"Kenapa?!"
"Karena..." Arga menelan ludah, ia hampir saja mengakui segalanya, tapi ingat janjinya pada Kartini dan keluarganya demi kakek. "Karena aku tidak ingin hidup susah Din. Tolong mengertilah. Jika kita kawin lari aku tidak mau menjadi gelandangan," Arga beralasan yang masuk akal walau sebenarnya tabungan banyak cukup untuk digunakan membuka sendiri walau kecil.
"Beri aku waktu ya," Arga memohon.
Sepi di telepon, tidak ada lagi jawaban dari Nadine dan berakhir bunyi nada putus yang dilakukan sepihak oleh Nadine.
Tut!
Arga menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit ruangan yang terang tanpa lampu melainkan sinar matahari yang mulai bergeser menerobos melalui jendela.
Arga akhirnya beranjak keluar ruangan menyerahkan tugasnya kepada Sita sebelum akhirnya pulang.
"Kenapa lagi Bos?" Tanya Kartini ketika Arga harus kembali ke rumah besar itu, bertemu dengan istrinya yang bukan cintanya.
"Bertengkar sama Nadine lagi, Bos?" Ulang Kartini. Namun tidak ada jawaban dari Arga. Ia biarkan saja ketika tas kerjanya diambil alih oleh Kartini. .
Arga hanya diam seribu bahasa. Dia naik tangga tanpa ada kata mengolok-olok, menghardik dan memaki seperti biasanya justru terasa anek di telinga Kartini.
"Bos kenapa ya? Kok tumben?" Kartini menyusul ke kamar setelah meletakkan tas di ruang kerja. Begitu pintu terbuka Kartini menatap suaminya duduk di lantai, kepala bersandar di sofa, sungguh tidak biasanya.
"Kenapa Bos? Sakit?" Tanya Kartini lembut, lalu duduk di hadapan Arga. Entah mengapa ia lebih suka mendengar sikap Arga yang selalu mengolok-olok daripada diam seperti sekarang.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭