Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.Kedamaian Yang Terusik
Pagi di Akademi Kuoh menyapa dengan simfoni yang damai; suara gesekan daun pohon ek yang rimbun, kicau burung yang hinggap di pagar besi, dan keriuhan rendah para siswa yang mulai memenuhi gerbang sekolah. Namun, di balik selapis tipis realitas yang tenang itu, Ren bisa merasakan sebuah getaran yang berbeda. Getaran itu tajam, dingin, dan memiliki frekuensi yang sangat teratur—ciri khas dari energi suci yang telah ditempa melalui ribuan doa dan fanatisme yang kaku.
Ren berjalan di koridor sekolah dengan langkah yang santai, tangan kanannya menggenggam jemari Bibi Dong. Sang Permaisuri hari ini tampak sedikit lebih santai; ia membiarkan sebagian rambut hitamnya dikepit dengan jepit perak berbentuk mawar yang berkilau terkena cahaya matahari pagi. Namun, tatapannya tetap setajam elang, membedah setiap sudut ruangan yang mereka lalui.
"Kau merasakannya, Ren?" bisik Bibi Dong, suaranya hampir tenggelam oleh tawa para siswi di depan mereka. "Ada bau dupa dan logam yang baru saja memasuki wilayah ini. Sangat berbeda dengan bau Iblis-iblis kecil itu."
Ren membetulkan letak kacamata hitamnya, membiarkan Six Eyes memetakan koordinat energi yang baru saja melewati gerbang utama. "Utusan Gereja, Dong'er. Sepertinya kabar tentang hilangnya beberapa fragmen suci dan kekacauan semalam telah sampai ke telinga para tetua di Vatikan. Mereka mengirimkan pembersih untuk merapikan apa yang mereka anggap sebagai kotoran."
Bibi Dong mendengus kecil, sebuah senyuman meremehkan tersungging di bibirnya. "Pembersih? Mereka hanyalah anak-anak yang bermain dengan lilin di tengah badai. Jika mereka berani mengusik ketenanganku hanya karena alasan 'suci' itu, aku akan memastikan mereka mengerti apa artinya neraka yang sebenarnya."
[SISTEM: Deteksi dua entitas baru di radius 800 meter. Identifikasi energi: Pedang Suci (Holy Sword) - Excalibur Fragmen.]
[SISTEM: Status target—Waspada. Mereka sedang menuju area Akademi Kuoh untuk melakukan pertemuan diplomatik darurat dengan faksi Gremory.]
[REN: Biarkan mereka bertemu. Aku ingin melihat bagaimana Rias Gremory berkeringat saat harus menghadapi dua pihak sekaligus. Kita akan tetap menjadi pengamat... untuk saat ini.]
Mereka sampai di depan pintu kelas 2-B. Saat pintu tergeser terbuka, suasana di dalam kelas terasa sangat kontras. Issei Hyodo tampak duduk dengan wajah yang luar biasa tegang. Ia terus-menerus melirik ke arah jendela, tangannya yang terbalut perban tipis (akibat sisa luka semalam) tampak gemetar. Begitu ia melihat Ren dan Bibi Dong masuk, Issei secara refleks berdiri, seolah-olah menyambut kehadiran seorang raja.
"S-selamat pagi, Saiba-kun, Bibi Dong-san," sapa Issei dengan suara yang sedikit pecah.
Ren hanya mengangguk tipis, sementara Bibi Dong melirik Issei dengan pandangan yang membuat pemuda itu kembali terduduk kaku. "Kau berisik sekali pagi ini, Naga Kecil," ucap Bibi Dong datar sambil duduk di kursinya dengan keanggunan yang tidak bercela.
Issei menelan ludah, ia ingin bicara tentang mimpinya semalam—tentang sosok naga merah yang terus berbisik tentang bahaya yang mendekat—tapi ia tidak berani mengganggu ketenangan pasangan di depannya.
Jam pelajaran pertama dimulai, namun pikiran Ren sudah berada jauh di luar dinding kelas. Ia bisa merasakan dua sosok berpakaian jubah putih dengan tudung yang menutupi wajah mereka berdiri di depan gerbang sekolah. Salah satunya membawa sebuah tas panjang yang memancarkan aura suci yang sangat murni—Xenovia Quarta dan Irina Shidou.
"Mereka sudah di depan pintu, Ren," pesan batin Bibi Dong merambat masuk ke dalam kesadaran Ren, penuh dengan nada bosan. "Haruskah aku membuat mereka kehilangan arah sedikit? Ruang di sekitar gerbang sepertinya cukup mudah untuk diputarbalikkan."
Ren tersenyum tipis di balik kacamata hitamnya, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang tenang. "Jangan dulu, sayang. Biarkan mereka masuk. Aku ingin melihat wajah Rias saat ia menyadari bahwa bidak Pawn barunya adalah target utama dari pengawasan gereja. Ini akan menjadi hiburan yang lebih baik daripada pelajaran matematika di depan kita."
Bibi Dong menghela napas, menyandarkan dagunya pada satu tangan sambil menatap papan tulis dengan tatapan yang seolah-olah bisa membakar kayu tersebut. "Kau dan hiburan anehmu itu... tapi baiklah, aku akan menunggu saat di mana mereka mulai berlutut."
Di luar sana, lonceng gereja di pinggiran kota Kuoh berdentang pelan, suaranya terbawa angin sore yang mulai mendingin. Bagi sebagian besar orang, itu hanyalah tanda waktu. Namun bagi Ren dan Bibi Dong, itu adalah gong pembuka bagi babak baru yang melibatkan pedang, doa, dan darah yang akan tumpah di atas tanah para iblis.