Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG MASA LALU
Aroma kertas baru dan tinta printer yang masih hangat menjadi saksi bisu berakhirnya perjuangan panjang Ana. Hari ini, gedung perpustakaan pusat universitas terasa lebih megah dari biasanya. Dengan tangan sedikit gemetar, Ana menyerahkan jilidan skripsi hard-cover berwarna biru tua dengan tinta emas yang mencolok. Di lembar pengesahan, tanda tangan Adi berada di posisi paling bawah—tegas, tajam, dan dominan—menutup rangkaian birokrasi akademiknya.
"Selesai juga," gumam Ana saat melangkah keluar dari perpustakaan. Statusnya kini bukan lagi mahasiswa tingkat akhir yang pesakitan, melainkan seorang calon sarjana. Di tangannya Ana memegang map berisi jadwal yudisium dan Wisuda.
Namun, kebebasan itu nyatanya semu. Ia tidak benar-benar pergi dari orbit Adi. Kontrak sebagai asisten penelitian untuk proyek besar Adi telah ia tandatangani dua minggu lalu. Kini, ia bukan lagi 'anak bimbingan', melainkan 'rekan kerja'.
Transisi ini ternyata lebih rumit dari yang ia bayangkan.
*
Malam Peringatan Universitas
Gedung serba guna universitas disulap menjadi ruang pesta yang elegan untuk memperingati ulang tahun kampus yang ke-50. Ana berdiri di samping Adi, merasa sedikit canggung dengan gaun batik modern yang pas di tubuhnya. Adi sendiri tampak luar biasa berwibawa dengan kemeja batik sutra berwarna gelap yang menonjolkan bahu tegapnya.
"Jangan tegang. Kamu di sini sebagai staf peneliti saya, bukan mahasiswa bimbingan lagi," bisik Adi, seolah bisa membaca kegelisahan Ana. Tangannya sempat hinggap sebentar di pinggang Ana—sebuah sentuhan singkat yang membuat aliran listrik merayap di kulitnya—sebelum kembali bersikap formal saat mereka mendekati kerumunan dosen.
Di sana, Ibu Myra—Ketua Jurusan yang tajam namun baik hati—sedang berbincang dengan beberapa kolega.
"Nah, ini dia pasangan emas penelitian kita!" seru Bu Myra saat melihat mereka. "Selamat ya, Ana, skripsinya sudah masuk depo perpustakaan. Sekarang siap-siap dikerjai Pak Adi lebih berat di proyek hibah Dikti."
Ana tersenyum sopan. "Mohon bimbingannya, Bu."
Di tengah percakapan itu, seorang wanita berjalan mendekat. Langkahnya anggun, mengenakan kebaya kutubaru brokat putih yang sangat kontras dengan kulitnya yang seputih porselen. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah ovalnya yang sempurna.
"Adi? Apa kabar?" suara wanita itu lembut.
"Hai... Eva," jawab Adi singkat. Wajahnya tetap datar, namun Ana menangkap ada perubahan pada mimik wajah Adi, rahangnya menegang.
"Ana, perkenalkan, ini Ibu Eva Mariana dari Fakultas MIPA. Beliau ahli Biostatistik," Bu Myra memperkenalkan.
Ana terpukau. Ia mengulurkan tangan dengan rasa kagum yang tulus. "Ana, Bu. Senang bertemu Ibu."
Eva tersenyum manis, sangat manis hingga Ana merasa kecil. "Oh, jadi ini asisten penelitian andalan Adi yang sering dibicarakan di rapat fakultas? Senang bertemu denganmu, Ana."
Ana menjawab dengan senyuman, dan obrolan basa-basi berlanjut hingga akhirnya Eva berpamitan untuk menyapa dekan, Bu Myra menyenggol lengan Adi dengan akrab, sebuah gestur yang jarang ditunjukkan di depan umum.
"Gimana, Di? Masih sering komunikasi sama 'Mbak Mantan'?" kelakar Bu Myra dengan nada menggoda yang cukup keras untuk didengar Ana. "Kamu nggak yesel kan putus sama dia? Liat tuh, dia makin cantik dan prestasinya di MIPA makin melejit. Dosen idola baru itu."
Adi hanya mendengus pelan sambil menyesap minumannya, dengan canggung ia melirik Ana, dan tatapan mereka bertemu, "Kami profesional, Bu Myra. Masa lalu nggak ada hubungannya dengan koordinasi antar fakultas."
"Halah, yakin nih udah profesional? masa segampang itu kamu move on dari wanita sekeren Eva? Setahun itu waktu yang singkat buat hubungan yang dibangun bertahun-tahun di Australia, lho," timpal bu Myra lagi sambil tertawa.
Dada Ana mendadak bergemuruh. Kata 'mantan' dan 'setahun lalu' berdenging di telinganya seperti alarm bahaya. Selama ini, ia merasa telah mengenal Adi melalui kedekatan mereka yang intens, namun ternyata ada ruang besar di masa lalu Adi yang sama sekali tidak ia ketahui. Seorang wanita sekelas Eva Mariana—cantik, cerdas, mapan, dan sepadan—pernah menjadi bagian dari hidup Adi.
Sepanjang sisa acara, Ana merasa seperti orang asing. Ia melihat Adi dan Eva sesekali berpapasan dan bertukar kata singkat yang tampak sangat natural, seolah mereka memiliki bahasa rahasia yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang pernah berbagi hidup di negeri orang.
Malam semakin larut, Acara pun ditutup dengan sangat meriah.
*
Kebenaran di Dalam Mobil
Perjalanan pulang menuju kosan Ana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Adi menyetir dengan tenang, sementara Ana membuang muka ke arah jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan Jakarta yang mulai mengabur karena pikirannya sendiri.
"Kamu diam aja sejak dari gedung pertemuan," ujar Adi memecah kesunyian.
Ana menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian tanpa harus terdengar seperti wanita yang sedang cemburu buta. "Bu Eva... kayaknya keren banget ya, Pak?. Kayaknya terkenal juga, ku lihat-lihat semua dosen kagum sama beliau."
"Dia memang kompeten di bidangnya," jawab Adi datar. Adi tau, jika Ana sudah menggunakan bahasa dan panggilan formal seperti ini, artinya situasi sedang tidak baik-baik saja.
"Bukan itu maksud saya," Ana menoleh, menatap Adi sekilas, "Bu Myra bilang... dia mantan Bapak? Yang di Australia?"
Mobil melambat saat lampu merah. Adi menghela napas, jemarinya mengetuk kemudi, lalu menoleh dan menatap Ana, "Iya. Namanya Eva. Kita memang sempet "bersama" waktu sama-sama ngambil gelar doktoral di Australia. Tapi kita sudah benar-benar berakhir sekitar setahun yang lalu, sebelum saya fokus jadi pembimbing skripsimu."
Setahun yang lalu. Angka itu menghantam Ana. Itu berarti tak lama sebelum ia dan Adi mulai dekat secara personal.
"Kenapa putus?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Ana.
"Visi yang berbeda," jawab Adi singkat, khas dirinya yang tidak suka mengumbar detail emosional. "Dia ingin menetap di sana, saya ingin kembali ke sini. Hubungan tidak bisa berjalan hanya dengan kenangan."
Adi memarkirkan mobilnya di depan gerbang kosan Ana. Ia mematikan mesin, membuat suasana di dalam kabin menjadi sangat intim sekaligus mencekam.
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan Ana?" Adi menatap Ana dengan tatapan tajamnya yang biasa, namun kali ini ada semacam antisipasi di sana.
Di ujung lidah Ana, pertanyaan itu sudah meronta-ronta ingin keluar: Lalu, kita ini apa, Mas? Apakah aku hanya pelarian dari rasa kesepianmu setelah putus dari Eva? Apakah hubungan kita hanya sekadar eksperimen antara dosen dan mahasiswa yang sekarang pake acara lanjut jadi asistennya? Kenapa setelah semua yang kita lakukan, tidak ada kata 'pacar' atau ikatan yang mengunci kita?
Ana menatap mata Adi. Ia melihat kejujuran di sana, namun juga melihat tembok tinggi harga diri yang sama kuatnya dengan miliknya sendiri. Gengsi Ana berteriak lebih keras. Ia tidak mau menjadi wanita yang mengemis kepastian. Ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan pria yang sangat ia kagumi ini.
"Enggak ada, Pak. Cuma penasaran saja," jawab Ana dengan senyum yang dipaksakan, sebuah kebohongan yang rapi. "Terima kasih sudah mengantar. Saya masuk dulu."
Saat Ana hendak membuka pintu mobil, tangan Adi menahan lengannya. Cengkeramannya tidak keras, namun posesif.
"Ana," suara Adi merendah.
Adi mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia mencium kening Ana dengan lembut, sebuah kecupan yang lama dan penuh tekanan, seolah sedang menyalurkan sesuatu yang tidak bisa ia katakan dengan kata-kata.
"Istirahat. Besok kita mulai olah data penelitian baru," bisik Adi di depan bibir Ana.
Ana hanya mengangguk kaku, lalu keluar dari mobil dengan hati yang masih tertinggal di dalam sana. Sambil berjalan menuju kamarnya, Ana menyadari bahwa gelar sarjana mungkin bisa ia raih dengan logika, namun memahami posisi dirinya di hati Adi adalah teka-teki yang mungkin tidak akan pernah ada kunci jawabannya selama mereka berdua masih sama-sama gengsi.
Dia tahu, perang batin ini baru saja dimulai. Masa lalu Adi bukan sekadar cerita, tapi bayang-bayang nyata yang kini memiliki wajah: Eva Mariana. Dan Ana, dengan segala egonya, bersumpah tidak akan membiarkan dirinya kalah, meski ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia perjuangkan.
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍