NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN LAMA

Beberapa hari setelah ciuman kedua yang mendebarkan di perpustakaan pribadi Adi, dunia seolah kembali berputar pada porosnya. Dari luar, semuanya tampak berjalan seperti biasa. Ana tetap datang ke kampus dengan langkah tegap, duduk di barisan tengah yang sama, beradu argumen dengan teman-teman yang sama, dan menjalani rutinitas akademik yang seolah tak pernah berakhir.

Bimbingan skripsinya pun terus melaju. Lembar demi lembar bab empat dan lima telah dipenuhi dengan coretan tinta merah yang perlahan berkurang. Sebenarnya, Ana berada di ambang garis finis. Skripsinya sudah hampir sempurna. Jika revisi terakhir ini disetujui, ia hanya tinggal selangkah lagi menuju pendaftaran sidang akhir.

Harusnya ini menjadi kabar paling membahagiakan dalam empat tahun masa kuliahnya. Harusnya Ana merasa lega, seolah salah satu beban hidupnya diangkat. Namun, entah mengapa, beberapa hari terakhir justru terasa aneh. Ada semacam rasa hampa yang menyusup di sela-sela keberhasilannya.

Bukan karena data penelitiannya yang bermasalah. Melainkan karena cara ia memikirkan seseorang. Dan bagi Ana yang memiliki harga diri setinggi langit, mengakui bahwa pikirannya telah disandera oleh sosok Adi Pratama adalah hal yang sangat menyebalkan.

*

Siang itu, koridor fakultas terasa lebih lengang dari biasanya. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi, menciptakan pola garis-garis cahaya di atas lantai tegel yang dingin. Ana berjalan menuju ruang dosen dengan tangan mendekap laptop dan beberapa lembar catatan revisi di dadanya. Ia berniat menemui Adi sebentar, hanya untuk mengonfirmasi beberapa poin kesimpulan yang sempat diberi catatan "perlu penajaman" oleh pria itu.

Langkahnya santai. Ia bahkan sempat bersenandung kecil, sebuah melodi tak beraturan yang hanya keluar saat suasana hatinya sedang stabil. Namun, begitu membuka ruang dosen, seolah detak jantung Ana mendadak berhenti berirama.

DI ujung pintu itu, ia melihat sebuah pemandangan yang seketika merampas oksigen di sekitarnya. Napasnya mendadak sesak.

Adi sedang duduk di kursinya yang berada di ujung ruangan yang cukup besar dan panjang ini, jauh dari posisi Ana berdiri sehingga ia tidak menyadari kehadirannya, di depannya, duduk seseorang yang sosoknya sudah sangat akrab di memori Ana: Bu Myra.

Myra tidak duduk tegak seperti mahasiswa yang sedang bimbingan. Ia duduk cukup dekat dengan Adi, tubuhnya sedikit mencondong ke depan hingga hampir melewati batas meja kerja. Jari-jemarinya menunjuk sesuatu di layar laptop yang terbuka di hadapan Adi. Mereka tampak sedang berdiskusi, namun atmosfer di antara mereka jauh dari kata kaku. Tidak ada aura "killer" yang biasanya Adi pancarkan. Tidak ada ketegangan yang biasanya Ana rasakan saat berhadapan dengan pria itu.

Ekspresi mereka begitu santai. Sesekali Myra tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat ringan dan familiar. Dan yang paling mengganggu—paling menusuk ego Ana—adalah Adi ikut tertawa. Senyumnya terlihat lepas, matanya yang biasanya tajam dan menghakimi kini tampak melunak, memancarkan binar rileks yang jarang sekali Ana saksikan di ruang kelas.

Ana berdiri terpaku di luar ruangan, beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Perutnya tiba-tiba terasa tidak nyaman, sebuah sensasi perih yang aneh, seolah ia baru saja menelan kopi pahit dalam keadaan perut kosong. Atau mungkin, ini adalah rasa pahit yang muncul karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia perhatikan, namun matanya menolak untuk berpaling.

Di dalam ruangan, Myra mengatakan sesuatu lagi. Kali ini, ia bahkan sempat menepuk ringan lengan Adi sambil tertawa lebar. Gerakan itu begitu natural, menunjukkan sebuah kedekatan yang sudah terjalin bertahun-tahun. Ana langsung mengalihkan pandangan ke arah dinding koridor yang kosong.

“Ya ampun,” bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau. “Ngapain juga aku berdiri di sini kayak orang bodoh.”

Namun, kakinya seolah tertancap di lantai. Pemandangan itu memicu kotak pandora dalam ingatannya. Dulu, jauh sebelum ciuman di perpustakaan atau sentuhan rahasia di bawah meja kelas, Ana pernah sangat tidak menyukai Adi. Baginya, Adi adalah jelmaan nyata keegoisan dan arogansi. Pria itu terlalu percaya diri dengan gelarnya, terlalu dingin terhadap mahasiswa, dan terlalu sulit untuk dijangkau.

Tapi ada satu alasan lain yang selama ini Ana kubur dalam-dalam, sebuah alasan yang jarang ia akui bahkan di depan cermin sekalipun. Adi terlihat terlalu dekat dengan Bu Myra. Dulu, setiap kali melihat mereka berbicara atau berjalan beriringan menuju parkiran, Ana selalu merasa ada sesuatu yang salah. Hubungan mereka terlihat terlalu nyaman. Dan sialnya, Ana harus mengakui dalam hati kecilnya yang paling jujur, bahwa mereka terlihat sangat... serasi.

Gosip-gosip receh yang dulu sempait ramai di kalangan mahasiswa kembali terngiang di telinganya. “Kayaknya Pak Adi sama Bu Myra ada sesuatu deh, cocok banget kan?” Dulu, Ana akan memutar bola matanya dengan malas setiap kali mendengar selentingan itu. Ia akan mendengus dan berkata bahwa itu urusan mereka. Namun sekarang, setelah semua debaran, sentuhan, dan ciuman yang ia bagi bersama Adi, pemandangan itu terasa ribuan kali lebih mengusik.

Ana melirik lagi ke dalam, seperti seorang masokis yang menikmati rasa sakitnya sendiri. Myra masih di sana, bercerita dengan antusias, tangannya bergerak-gerak kecil saat berbicara, menunjukkan betapa nyamannya ia berada di ruang pribadi Adi. Sementara Adi menatap layar laptop sambil sesekali mengangguk, lalu Myra mengatakan sesuatu lagi yang membuat pria itu tertawa—kali ini lebih keras.

Ana menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang penuh dengan rasa frustrasi. “Ya ampun, kenapa sih dia kalau sama aku mukanya selalu serius?” rutuknya dalam hati. “Tertawanya pelit banget. Kayak harus bayar pajak kalau mau senyum.”

Ia menyadari sebuah kontras yang menyakitkan. Betapa santainya Adi ketika bersama Myra. Tanpa beban, tanpa teka-teki, tanpa ketegangan seksual yang menyesakkan. Perasaan itu membuat Ana kesal, namun yang lebih menyebalkan adalah kenyataan bahwa ia tidak bisa menyangkal rasa iri yang merayap di dadanya.

Ana membenci perasaan ini. Ia benci merasa seperti seorang gadis remaja yang cemburu karena melihat idolanya dekat dengan orang lain. Namun, ia juga sadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus membohongi diri sendiri. Jika ia merasa sesakit ini melihat Adi tertawa dengan wanita lain, artinya hubungannya dengan sang dosen telah melampaui batas profesionalitas yang selama ini ia agungkan.

Hubungan mereka telah bermutasi menjadi sesuatu yang liar dan tak terdefinisi. Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum siap untuk ia beri nama, karena memberi nama berarti memberikan tanggung jawab. Dan bagi Ana, jatuh cinta pada "The Aesthetic Hunter" yang bisa tersenyum lepas pada siapa saja adalah sebuah risiko yang terlalu besar untuk ia ambil.

Akhirnya, dengan sisa-sisa harga diri yang tersisa, Ana berbalik. Ia membuka pintu dan keluar. Ia tidak mau masuk ke ruangan itu dengan wajah juteknya dan merusak suasana. Ia lebih memilih berjalan menjauh, kembali ke koridor yang sepi, sambil membawa tumpukan revisi yang tiba-tiba terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

Di dalam dadanya, ada sebuah tanya yang tak terjawab: Apakah tawa Adi untuknya suatu saat nanti bisa selepas itu? Ataukah ia hanya akan selalu menjadi "target" permainan mental sang dosen, sementara Myra adalah pelabuhan tempatnya bisa menjadi diri sendiri?

Ana mempercepat langkahnya, tidak menyadari bahwa di dalam ruangan, Adi sempat melirik ke arah pintu, seolah ia baru saja merasakan kehadiran seseorang yang ia kenali. Namun, Ana sudah hilang di ujung belokan koridor, meninggalkan aroma kesal dan rindu yang samar-samar di udara.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!