NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Pelarian

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Collins hingga Miranda keluar dari kamar itu. Wanita yang sok kuasa. Kenapa sang ayah memelihara singa ini di dalam rumah mereka? Kenapa sang ibu tidak membawanya pergi saja saat itu, sehingga ia tak sebingung ini hidup di dalam keluarganya sendiri? Seketika kedua matanya berembun karena tak tahan hingga dengan lemas menjatuhkan bokkongnya ke ranjang.

***

Setelah perdebatan sengit dengan bodyguard-nya, Collins akhirnya bisa bernapas lega mendatangi sebuah bar. Ia kini memandangi segelas bir di hadapan. Ketika pikirannya buntu ia selalu mendatangi bar, tapi ia tak lagi bisa minum-minum seperti dulu.

Collins bukan penggemar minum minuman keras, tapi ia pernah mencobanya. Kedua kalinya, saat ia stres sang ayah menikah lagi. Saat itulah semuanya berakhir. Kecelakaan itu menyebabkan ia takut minum minuman beralkohol.

Kali ini pun sama. Ia hanya bisa memandangi tanpa sanggup meminumnya. Bayangan kecelakaan itu kembali datang. Padahal Collins tengah stres, tapi trauma kecelakaan itu lebih kuat sehingga ia tak mampu meminumnya. Sebenarnya, bila diingat-ingat, ia bahkan tak tahu apa yang terjadi waktu itu. Yang ia tahu, ia terbangun di rumah sakit dengan kepala dibalut perban.

Collins bangkit. Keberadaannya di sana tidak memberinya sedikit pun kelegaan. Pikirannya masih kacau.

Ketika Collins pergi ke toilet, ia melihat ada pintu belakang yang dilewati pegawai bar. Sebuah ide muncul. Setelah keluar dari toilet, ia bergegas keluar lewat pintu belakang. "Ahh ...! Hei!!"

Dua orang pria berjas hitam menangkap Collins. Mereka menahan tubuhnya hingga tak mampu kabur.

"Hei, lepaskan aku!!"

Mereka tak peduli. Seorang pria yang merupakan pemimpin mereka datang dengan mengancingi satu kancing jasnya dan merapikan pakaian. "Tuan muda Collins. Jangan bikin masalah jadi tambah rumit. Ayolah! Aku sudah memberimu kebebasan untuk pergi ke bar, jadi sebaiknya sekarang Tuan muda pulang."

Collins menatap pria yang menyebalkan itu. Kenapa ayahnya bisa menyewa bodyguard menyebalkan seperti mereka ini? "Aku hanya ingin jalan sebentar di sekitar sini, kenapa penjagaan seketat ini!?" protesnya. Ia bukan anak kecil lagi tapi kenapa ia dijaga seperti anak nakal?

Pria berbadan kekar itu mendatangi Collins yang masih berusaha melepaskan diri. Ia menghela napas pelan dengan pandangan dingin dan acuh. "Berhenti bermain-main, ok? Kenapa Tuan senang sekali kabur, hah? Hh ... Itu tidak menyelesaikan masalah, Tuan. Yang ada, Tuan besar akan menggantikan kami dengan bodyguard yang lebih ekstrim lagi. Apa itu yang Tuan mau? Sudahlah, bekerja samalah dengan kami! Tuan pulang bersama kami, sekarang." Suaranya tenang tapi tegas. Terdengar sudah terbiasa menghadapi klien-klien yang sulit.

Collins terdiam karena argumen pria itu tak terbantahkan. Karena tak ada perlawanan, ia dilepas. Collins masih sempat menghempas tangan bodyguard karena kesal sebelum merapikan jas.

Pria itu mempersilakan Collins berjalan di depan. Collins dengan enggan melangkahkan kaki sambil merengut karena enggan pergi bersama mereka.

Di dalam mobil, Collins membuka jendela. Ia berusaha menghirup udara dalam-dalam hingga masuk ke otaknya. Memang tidak banyak membantu tapi setidaknya ia menyadari dirinya masih hidup dan harus terus berjuang. Berjuang mencari kebebasan.

****

Collins keluar ruang kerja. Hari ini sedikit melelahkan hingga ia meregangkan kedua tangan. Leher terasa pegal karena terus-terusan menunduk. Collins menyentuh leher dan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. "Eh ...." Ia bergerak ke arah toilet.

Sang sekretaris membiarkan saja pria itu ke sana karena itu tidak mengusiknya. Keberadaan bodyguard Collins yang berada di mana-mana di ruangan itu yang sungguh mengganggu pemandangan. Karyawan pun jadi tak bebas mengobrol dengan leluasa di sana.

Collins sempat melihat seorang pegawai kebersihan membuka ruang penyimpanan sebelum ia masuk bilik toilet. Ketika ia keluar, tak ada orang di sana.

Pelan-pelan Collins mendatangi ruang penyimpanan sambil melihat kanan kiri. Tadi ia melihat ada pakaian tergantung di pintu sebuah kamar kecil. Ternyata masih ada di sana. Ia mencoba memakainya. 'Ah, pas!' Hanya celananya saja yang sedikit menggantung karena tubuh Collins yang tinggi.

'Rasanya aku bisa menyamar dengan pakaian seperti ini.' Ide ini tiba-tiba muncul saat ia berada di toilet. Collins mengancingi kemejanya. Tubuhnya yang kurus, pas dengan kemeja murahan itu. Jas mahalnya ia gantung menggantikan pakaian tadi. Pria bermata sedikit sipit itu juga melihat topi untuk menyembunyikan rambutnya yang gondrong. Collins memasukkan sebagian rambutnya ke dalam topi sebelum memakainya di kepala. Ia kemudian bercermin di tempat cuci tangan di samping ruangan itu.

'Tidak bisa dikenali, 'kan?' Baru saja ia bercermin, seseorang masuk ke dalam toilet. Collins segera menundukkan kepala. Cepat-cepat ia menutup pintu ruang penyimpanan. Ternyata ia selamat karena pria itu langsung masuk bilik toilet. Collins buru-buru keluar dengan tetap menunduk.

Setelah keluar ia sendiri bingung harus ke mana. 'Apa wajahku benar-benar tak dikenali?'' Ia tadi tak sempat bercermin dengan benar. Kembali ia menunduk ketika berhadapan dengan orang ramai di kantor itu. 'Ya, Allah, mudah-mudahan gak ada yang tau.'

Collins bergerak pelan ke arah lift. Di sana ia berdiri di depan pintu lift. Kepalanya mulai terangkat.

"Hei, kamu!"

Collins kembali menundukkan kepala. 'Apa dia mengenaliku? Gawat!'

"Kalo petugas atau pegawai rendahan, di lift barang ya!"

'Pegawai rendahan ....' Collins mengepalkan tangannya erat-erat karena geram. Namun kemudian menghela napas pelan. Seharusnya ia senang penyamarannya berhasil. Ia baru sadar banyak orang sombong yang dipekerjakan ayahnya di sana.

"Eh, iya maaf." Ia bergeser ke lift barang. Baru saja ia menekan tombol, pintu lift terbuka. Ia segera masuk dan menutup pintu. Kali ini ia bisa bercermin pada pintu besi lift. Di situ terlihat walau tak jelas, bahwa wajahnya memang tak mudah dikenali. Walau kulitnya tidak seputih sang ayah tapi topi lusuh itu mampu mengelabui banyak orang. Termasuk dirinya. 'He he, apa aku terlihat miskin?' Collins tersenyum sendiri sambil merapikan topinya.

Setelah turun di basemen, Collins segera keluar. Ia berusaha melewati pos pembayaran parkir sambil kembali menunduk. Sedikit mendebarkan tapi ternyata petugas di sana tak memperhatikan. Collins bisa melewati tempat itu dengan mulus. Ia hampir saja hendak melonjak-lonjak kegirangan ketika ia menemukan bus lewat di luar. Segera ia menyetopnya. Collins begitu bangga bisa naik bus. 'Syukurlah, bus di sini bisa berhenti di mana saja.'

Collins turun di stasiun kereta api terdekat. Ia kemudian menyewa loker untuk menyimpan barang-barangnya. Ponsel dimatikan dan dompet ... 'Ah, aku lupa ambil uang, ck!'

Dengan uang tersisa di tangan, ia membeli tiket terjauh yang termurah, setelah itu menunggu kereta datang. Siang itu udara tidak begitu panas. Collins mendapat kereta yang tidak terlalu ramai sehingga ia bisa duduk dengan nyaman. Sambil menyelami apa yang terjadi pada dirinya, ia menikmati pemandangan lewat jendela kaca kereta yang besar.

Sebenarnya tidak menyenangkan pergi ketika kamu sendiri tak tahu mau ke mana. Collins hanya ingin menghindar sebentar dari masalahnya, sebelum ia memutuskan ingin melakukan apa. Kini ia tak punya tempat untuk bersandar. Dulu saat di Inggris, ia ingin sekali pulang ke Jakarta tapi setelah sampai, ia juga tak menginginkan kehidupannya di sini. Lalu ia harus ke mana? Sepanjang perjalanan Collins hanya diliputi kebingungan.

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!