Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 — Kau Menemukanku
Pagi di Sydney datang dengan langit yang cerah.
Cahaya matahari jatuh lembut melalui jendela besar apartemen Maya, memantul di lantai kayu yang hangat dan membuat ruangan terasa lebih hidup. Bella duduk di meja makan kecil dengan secangkir teh jahe di tangannya. Aroma hangatnya sedikit membantu mengurangi rasa mual yang masih sering datang di pagi hari.
Sudah hampir satu minggu sejak ia meninggalkan Dominic.
Satu minggu yang terasa seperti sebulan.
Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kehidupan baru, namun hatinya belum sepenuhnya bisa mengikuti.
Kadang-kadang, di sela kesibukannya membantu Maya menyunting naskah di penerbit, pikirannya masih melayang pada rumah yang ia tinggalkan. Pada sofa ruang tengah yang dulu menjadi tempat favoritnya. Pada suara langkah Dominic yang biasa terdengar menjelang malam.
Bella memejamkan mata sejenak.
Ia benci kenyataan bahwa kenangan itu masih begitu jelas.
Namun saat tangannya tanpa sadar menyentuh perut, semua keraguan itu kembali mengeras menjadi tekad.
Ia datang ke kota ini untuk melindungi anaknya.
Dan dirinya.
“Udah siap?” suara Maya memecah lamunannya.
Bella menoleh.
Maya sudah berdiri di dekat pintu dengan tas di bahu dan kunci mobil di tangan.
Hari ini adalah jadwal kontrol pertamanya ke dokter kandungan di Sydney.
Bella mengangguk perlahan, lalu berdiri.
Meski rasa gugup terus menggelayut di dadanya, ada bagian lain dari dirinya yang merasa hangat.
Hari ini ia akan melihat perkembangan kecil kehidupan di dalam dirinya.
—
Di sisi lain, Dominic duduk di ruang kerjanya dengan laptop terbuka di depan.
Meja yang biasanya penuh dokumen bisnis kini dipenuhi hal lain.
Cetakan data penerbangan.
Nama kota.
Kontak travel.
Beberapa nama relasi.
Semua petunjuk yang mungkin bisa membawanya pada Bella.
Sudah hampir satu minggu ia mencoba mencari tahu ke mana istrinya pergi.
Dan baru pagi itu satu potongan informasi akhirnya ia dapatkan.
Sydney.
Tatapannya membeku pada layar.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Sydney.
Kota itu terasa sangat jauh.
Namun bukan itu yang membuat Dominic menegang.
Melainkan kenyataan bahwa Bella benar-benar merencanakan semua ini.
Ia tidak pergi dalam emosi sesaat.
Ia memikirkan semuanya.
Dan itu berarti… luka yang ia berikan jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Dominic menutup laptop perlahan.
Tatapannya kosong beberapa saat sebelum akhirnya ia meraih ponsel.
“Aku butuh tiket ke Sydney. Hari ini.”
Suara di seberang langsung mengiyakan.
Dominic memejamkan mata sejenak.
Kali ini ia tidak akan terlambat.
—
Di klinik, Bella duduk di ruang tunggu sambil menggenggam tas di pangkuannya.
Udara ruangan terasa dingin, bercampur aroma antiseptik yang khas.
Di sekelilingnya, beberapa pasangan duduk bersama.
Ada yang saling menggenggam tangan, ada yang tertawa pelan sambil membicarakan nama bayi.
Pemandangan itu membuat dada Bella sedikit sesak.
Ia datang sendirian.
Maya memang mengantar, namun karena ada panggilan mendadak dari kantor, sahabatnya harus pergi lebih dulu.
Bella tidak masalah.
Setidaknya begitu yang ia katakan.
Namun melihat pasangan-pasangan di sekelilingnya membuat hatinya terasa kosong.
Nama Bella dipanggil.
Ia bangkit perlahan lalu masuk ke ruang pemeriksaan.
Dokter wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu tersenyum ramah.
“Bagaimana kabarnya?”
Bella membalas senyum kecil.
“Masih sering mual.”
Dokter mengangguk sambil memeriksa catatan.
“Wajar untuk usia kehamilan awal.”
Setelah beberapa pemeriksaan dasar, dokter mempersilakan Bella berbaring.
Dan beberapa menit kemudian, suara lembut itu terdengar.
Detak kecil.
Cepat.
Teratur.
Mata Bella langsung membesar.
Ia memandang layar monitor.
Di sana, titik kecil itu terlihat.
Sangat kecil.
Namun nyata.
Air mata Bella langsung menggenang.
“Itu bayi Anda,” ujar dokter lembut.
Untuk beberapa detik Bella tidak bisa berkata apa-apa.
Dunia di sekelilingnya terasa menghilang.
Yang tersisa hanya suara detak kecil itu.
Bayi mereka.
Tangannya otomatis menyentuh sudut matanya.
Tanpa sadar ia menangis.
Bukan karena sedih.
Tapi karena untuk pertama kalinya, semua ini terasa benar-benar nyata.
Ia bukan hanya wanita yang terluka.
Ia adalah seorang ibu.
—
Sore itu, pesawat Dominic akhirnya mendarat di Sydney.
Begitu keluar dari bandara, udara dingin langsung menyambut wajahnya.
Kota itu terasa asing.
Namun di saat yang sama, ada satu perasaan yang terus mendorong langkahnya.
Bella ada di sini.
Ia belum tahu di mana.
Belum tahu bersama siapa.
Namun untuk pertama kalinya setelah satu minggu penuh penyesalan, Dominic merasa sedikit lebih dekat.
Ia berdiri di area kedatangan sambil menatap keramaian.
Matanya bergerak ke segala arah, seolah berharap Bella tiba-tiba muncul dari antara orang-orang.
Tentu saja tidak.
Namun ia tidak akan berhenti.
Tidak kali ini.
—
Malamnya, Bella kembali ke apartemen dengan map hasil kontrol di tangan.
Wajahnya masih sedikit basah oleh air mata yang tadi sulit berhenti.
Ia duduk di sofa, membuka kembali hasil USG kecil yang diberikan dokter.
Senyumnya perlahan muncul.
“Hi, little one,” bisiknya sambil menyentuh gambar itu.
Di saat yang sama, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Aku tahu kamu di Sydney.
Tubuh Bella langsung membeku.
Jantungnya berdegup sangat keras.
Tangannya gemetar saat membaca nama pengirim yang muncul setelahnya..
Untuk beberapa detik, Bella hanya duduk membeku di sofa, jari-jarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di pangkuannya, lembar hasil USG masih terbuka, gambar kecil hitam-putih yang beberapa menit lalu berhasil membuat matanya basah kini terasa seperti sesuatu yang harus segera ia lindungi.
Dominic tahu.
Atau setidaknya… pria itu tahu dirinya berada di kota ini.
Bella menelan ludah pelan. Tenggorokannya terasa kering.
Pikirannya langsung bergerak ke segala arah.
Bagaimana Dominic tahu?
Siapa yang memberitahunya?
Apakah dia sudah dekat?
Apakah dia sedang mencarinya saat ini?
Ponselnya kembali bergetar.
Sebuah panggilan masuk.
Nama Dominic memenuhi layar.
Bella menatapnya cukup lama, sampai getaran itu berhenti dengan sendirinya.
Lalu kembali bergetar lagi.
Tangannya mulai dingin.
Ia mematikan layar dan meletakkan ponsel di meja seolah benda itu bisa meledak kapan saja.
Namun suara pintu apartemen yang terbuka dari luar membuat tubuhnya menegang.
Maya masuk dengan langkah cepat, membawa beberapa kantong belanja di tangan. Namun begitu melihat wajah Bella yang pucat, ekspresinya langsung berubah.
“Ada apa?”
Bella mengangkat ponsel dengan tangan gemetar.
Maya mengambilnya dan membaca pesan yang masih terbuka di layar.
Wajahnya ikut menegang.
“Dia tahu kamu di sini?”
Bella mengangguk pelan.
“Aku nggak tahu gimana.”
Maya meletakkan kantong belanja di meja, lalu duduk di samping Bella.
“Tenang dulu.”
Bella tertawa kecil.
Tawa yang sama sekali tidak terdengar seperti tawa.
“Gimana aku bisa tenang, Maya?”
Air matanya mulai menggenang.
“Aku baru mulai merasa bisa bernapas di sini.”
Tangannya refleks bergerak ke perut.
“Aku nggak mau dia tahu tentang bayi ini sekarang.”
Maya memperhatikan gerakan itu, lalu menggenggam tangan Bella erat.
“Kalau dia datang, kamu nggak harus buka pintu.”
Bella menatap sahabatnya.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu Dominic bukan tipe pria yang akan berhenti begitu saja.
—
Di sisi lain kota, Dominic berdiri di lobby hotel tempat ia menginap sambil memegang ponsel.
Panggilannya tidak diangkat.
Pesannya hanya terbaca.
Namun setidaknya satu hal sudah pasti.
Bella melihat pesannya.
Itu berarti ia ada di dekat ponselnya.
Ada di kota ini.
Ada di tempat yang sama dengan dirinya.
Dominic memejamkan mata sejenak.
Perjalanan ke Sydney tidak mudah. Ia harus memanfaatkan koneksi bisnis dan beberapa relasi lama hanya untuk melacak jejak Bella dari data penerbangan hingga kemungkinan tempat tinggal.
Dan satu nama akhirnya muncul.
Maya Alistair.
Teman lama Bella.
Pemilik apartemen di pusat kota.
Tatapan Dominic mengeras.
Ia akhirnya punya arah.
—
Malam di apartemen Maya terasa jauh lebih panjang.
Bella hampir tidak bisa tidur.
Ia duduk di ranjang dengan lutut tertekuk, punggung bersandar pada headboard, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.
Jika Dominic datang…
Apa yang akan ia katakan?
Apa ia cukup kuat untuk tetap dingin?
Apa pria itu akan menyadari perubahan pada dirinya?
Bella menutup mata, mengingat suara detak jantung kecil yang ia dengar tadi siang.
Bayi ini.
Hanya ini yang membuatnya bertahan.
Ia tidak boleh goyah.
Tidak sekarang.
—
Pagi datang dengan udara yang lebih dingin dari biasanya.
Sydney diguyur gerimis tipis yang membuat jalanan di bawah balkon tampak basah dan berkilau.
Bella baru saja keluar dari kamar saat bel apartemen berbunyi.
Satu kali.
Lalu dua kali.
Tubuh Bella langsung membeku.
Maya yang sedang membuat sarapan di dapur ikut menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Jantung Bella berdegup begitu keras sampai rasanya seluruh ruangan bisa mendengarnya.
Bel itu berbunyi lagi.
Kali ini lebih lama.
Maya berjalan ke pintu dengan langkah hati-hati, lalu mengintip dari lubang kecil.
Wajahnya langsung berubah.
“Bella.”
Suara itu rendah.
“Dia di sini.”
Dunia Bella terasa berhenti.
Tangannya otomatis bergerak ke perut.
Napasnya tercekat.
Dominic benar-benar menemukannya.
—
Pintu akhirnya terbuka, namun hanya sedikit.
Maya berdiri di sana, tubuhnya menghalangi pandangan ke dalam.
Dominic berdiri di luar dengan mantel hitam yang sedikit basah oleh gerimis.
Tatapan pria itu terlihat lelah.
Namun matanya tetap tajam.
“Bella ada di sini.”
Itu bukan pertanyaan.
Maya menyilangkan tangan.
“Aku rasa kamu nggak punya hak buat datang pagi-pagi ke sini.”
Dominic menghela napas.
“Aku cuma mau bicara.”
“Dia nggak mau.”
Dominic terdiam sejenak, lalu menatap ke arah celah pintu.
“Bella.”
Suara itu memanggil.
Rendah.
Pelan.
Dan terlalu familiar.
Tubuh Bella langsung menegang.
Ia memejamkan mata.
Namun suara Dominic kembali terdengar.
“Please.”
Satu kata itu menghantam pertahanannya.
Maya menoleh ke belakang.
Tatapannya bertanya.
Bella menelan ludah, lalu mengangguk kecil.
“Biar aku yang hadapi.”
—
Saat Bella melangkah mendekat, Dominic langsung membeku.
Sudah hampir dua minggu sejak terakhir kali ia melihat wanita itu di bandara.
Dan kini Bella berdiri di hadapannya.
Tubuhnya tampak sedikit lebih kurus.
Wajahnya lebih pucat.
Namun justru ada ketenangan yang berbeda dalam sorot matanya.
Ketenangan yang membuat Dominic semakin takut.
“Bella…”
Suara pria itu terdengar hampir pecah.
Bella berdiri beberapa langkah dari pintu, menjaga jarak.
“Apa maumu, Dom?”
Dominic menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Aku datang buat jemput kamu pulang.”
Bella tertawa kecil.
Tawanya getir.
“Pulang?”
Tatapannya berubah dingin.
“Tempat yang kamu maksud itu sudah berhenti terasa seperti rumah buat aku.”
Kalimat itu membuat Dominic terdiam.
Namun pria itu tidak mundur.
“Aku salah.”
Bella memalingkan wajah sesaat.
Kalimat itu lagi.
Selalu itu.
“Aku tahu.”
“Aku putus semua hubungan sama Diana.”
Bella menatapnya lagi.
Tatapannya datar.
“Aku nggak minta.”
Dominic terdiam.
Bella melanjutkan, “Jangan jadikan aku alasan untuk jadi pria yang seharusnya.”
Suasana di antara mereka kembali hening.
Hanya suara rintik hujan dari luar balkon yang terdengar samar.
Dominic menatap Bella lama.
Dan untuk pertama kalinya, matanya menangkap sesuatu yang aneh.
Bella beberapa kali tanpa sadar menyentuh perutnya.
Gerakan kecil.
Nyaris tidak terlihat.
Namun cukup untuk membuat alis Dominic berkerut.
“Bella…”
Suara pria itu berubah.
Lebih hati-hati.
“Kamu sakit?”
Jantung Bella langsung berdegup lebih cepat.
Tangannya spontan turun dari perut.
“Bukan urusan kamu.”
Jawaban itu cepat.
Terlalu cepat.
Tatapan Dominic semakin tajam.
Ada sesuatu yang disembunyikan Bella.
Dan instingnya mengatakan itu sesuatu yang besar.
Namun sebelum pria itu sempat bertanya lebih jauh, Bella melangkah mendekat ke pintu.
“Aku nggak akan pulang.”
Nada suaranya tegas.
“Dan aku butuh kamu berhenti mencari aku.”
Tatapan Dominic mengeras.
“Aku nggak bisa.”
Bella menatapnya lurus.
“Kalau kamu benar-benar pernah mencintaiku…”
Suaranya sedikit bergetar.
“Biarkan aku tenang.”
Kalimat itu membuat Dominic terdiam.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat air mata di sudut mata Bella.
Dan rasa bersalah itu kembali menghantamnya.
Lebih keras dari sebelumnya.
END BAB 19 😭🔥
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹