Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Rani pulang dengan membawa kekecewaan dan dendam yang menusuk ke dalam hatinya, dadanya naik turun tangannya mencengkram kuat, lalu melempar tasnya ke segala arah.
Brakk...
"Sial kau Cokro!" geramnya dengan sengit. "Kau menolak ku seolah kau tidak pernah berlutut di kakiku mengemis cinta!" cetus Rani.
Kali ini wanita itu benar-benar berteriak sekuat tenaganya, tangannya perlahan meremas seprei kasur yang mulai berantakan.
"Baiklah jika dengan cara baik-baik kamu tidak mau, maka akan ada jalan berikutnya," ucapnya seolah sudah menyiapkan trik untuk memenangkan hak itu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Langit sore mulai berubah jingga ketika mobil Cokro memasuki halaman rumahnya. Biasanya, setiap kali melewati gerbang itu, ada rasa lega yang otomatis muncul. Rumah adalah tempat ia melepaskan jas, wibawa, dan segala ketegangan dunia kerja.
Tapi hari itu berbeda.
Mesin mobil dimatikannya, namun ia tidak langsung turun. Tangannya masih menggenggam kemudi, rahangnya mengeras, tatapannya kosong menembus kaca depan. Suara Rani tadi siang masih terngiang di kepalanya.
“Aku cuma mau hakku.”
Cokro mengembuskan napas panjang, berat. Ia bukan marah semata. Ia lelah. Lelah karena masa lalu yang sudah ia kubur rapi, kini seperti dipaksa digali kembali di depan umum. Di kantornya. Di hadapan karyawannya.
Harga dirinya tersentuh.
Beberapa detik kemudian ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Angin sore menyentuh wajahnya, sedikit mendinginkan kepalanya yang panas. Dari dalam rumah terdengar suara tawa anak-anak.
Langkahnya terhenti.
Mahesa dan Mahendra berlari keluar dari pintu, mungkin baru saja bermain di ruang tengah. Begitu melihat ayahnya, wajah mereka langsung berbinar.
“Papa pulang!” seru Mahendra lebih dulu.
Cokro yang tadinya tegang, refleks melunak. Ia berjongkok, membuka kedua tangannya. Dua tubuh kecil itu langsung memeluknya bersamaan. Pelukan itu hangat. Nyata. Tidak rumit.
Dan justru di situlah dadanya terasa semakin sesak.
Ia memejamkan mata sejenak, merasakan aroma rambut anak-anaknya. Inilah alasan ia berdiri sekuat ini. Inilah yang ia jaga mati-matian.
“Papa capek?” tanya Mahesa polos.
Cokro tersenyum tipis. “Sedikit.”
Ia mengacak rambut mereka pelan, lalu menggandeng keduanya masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, istrinya sudah berdiri menyambut, senyumnya lembut namun matanya tajam memperhatikan raut wajah suaminya.
“Kamu terlambat,” ucapnya pelan.
“Sedikit urusan kantor,” jawab Cokro singkat.
Ia tidak ingin langsung bercerita di depan anak-anak. Namun istrinya cukup mengenalnya. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot mata pria itu, lebih keras, tapi juga lebih lelah.
Setelah anak-anak kembali bermain, Cokro membuka jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi. Ia duduk, menyandarkan tubuh ke sofa. Tangannya mengusap wajah perlahan.
“Aku ketemu Rani,” ucapnya akhirnya, rendah.
Suasana langsung berubah.
Melati terdiam beberapa detik, bukan karena terkejut, tapi karena ia tahu cepat atau lambat hal itu akan terjadi.
“Di mana?” tanyanya tenang.
“Di kantor.”
Jawaban itu membuat alis istrinya sedikit terangkat. “Dia berani ke sana?”
Cokro tersenyum tipis tanpa humor. “Dia nggak akan berhenti.”
Kalimat itu tidak terdengar sebagai keluhan, melainkan pernyataan fakta. Ia tahu mantan istrinya cukup keras kepala untuk terus mencari celah.
Istrinya duduk di sampingnya. “Kamu takut?”
Cokro menoleh. Lama. Lalu menggeleng pelan.
“Bukan takut,” katanya jujur. “Aku cuma nggak mau anak-anak jadi korban ambisi orang dewasa.”
Suasana hening beberapa saat. Dari ruang sebelah terdengar tawa kecil Mahendra. Kontras dengan ketegangan yang menggantung di ruang tamu.
Cokro menyandarkan punggungnya lebih dalam. Matanya kini tidak lagi menyala oleh amarah, melainkan oleh tekad.
Rani boleh mencoba masuk lewat sekolah. Boleh mendatangi kantor. Bahkan boleh membawa jalur hukum.
Tapi satu hal yang pasti. Ia tidak akan membiarkan rumah ini retak. Dan kali ini, ia tidak akan lagi menjadi pria yang runtuh karena perempuan yang sama.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di rumahnya sana, saat ini Rani mulai menghubungi pengacaranya untuk mengurus, semuanya, Rani bukan orang yang polos, meskipun tahu dalam kasus ini ia salah dan justru itu disinilah letak kepiawaiannya.
Senyum licik muncul dari sudut bibirnya jika orang lain akan menutup aibnya itu rapat-rapat, tapi tidak dengan Rani justru ia akan menggunakan itu sebagai senjata.
Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan, tapi aku hanya seorang ibu yang menginginkan kehadiran anak-anakku.
Mungkin kata-kata itu yang nantinya akan ia gunakan sebagai penarik perhatian orang luar, agar bersimpatik dengannya.
"Siap-siap kamu menghadapi aku Cokro," gumam Rani dengan tatapan penuh intrik.
Ia tersenyum sebentar lalu meneguk air dalam gelas, sekedar penyejuk dahaga yang selama ini kering.
Gelas diletakkan kembali diatas meja kecil dan tidak lama kemudian handphone-nya bergetar, dan layang yang muncul adalah pengacara yang barusan ia hubungi.
"Siap, saya akan membantu anda sampai prosesnya selesai, Bu Rani,” suara di seberang terdengar tenang dan profesional. “Tapi saya harus tahu detailnya. Status hak asuh saat ini sepenuhnya dipegang oleh mantan suami?”
Rani menyandarkan punggungnya ke sofa. Tatapannya lurus ke depan, kosong namun penuh perhitungan.
“Secara hukum, iya,” jawabnya pelan. “Waktu itu saya menandatangani kesepakatan karena kondisi saya tidak stabil. Tapi sekarang situasinya berbeda.”
Ia tidak sepenuhnya berbohong. Hanya… memilih bagian cerita mana yang ingin ditampilkan.
“Kalau begitu kita bisa ajukan permohonan hak kunjung resmi terlebih dulu,” lanjut sang pengacara. “Kalau Ibu ingin lebih dari itu, kita perlu membangun opini bahwa Ibu memang punya niat baik dan stabilitas yang cukup.”
Opini.
Kata itu memang yang dinanti-nanti oleh Rani, dan alangkah beruntungnya dia bisa menemukan lawyer yang seperti itu.
"Baiklah, siapkan semua yang aku butuhkan, secepatnya."
"Itu pasti, Bu. Asal sesuai kesepakatan awal," sahut suara diseberang sana.
"Jangan takut, aku tidak ingkar janji."
Telepon ditutup, Rani meneguk kembali air dalam gelas itu, matanya menatap wajahnya yang ada di dalam pantulan kaca, ada senyum samar uang tersirat, seolah ini merupakan awal untuk masuk ke dalam dunia Cokro.
"Kau tidak akan pernah ku lepas begitu saja, apalagi dengan posisimu yang seperti ini," tandas Rani.
Bersambung .....