NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku menginginkan kamu

Amarah Jenny meledak begitu saja.

Di salah satu sudut hotel yang sepi, ia menampar meja dengan keras, wajahnya merah padam, napasnya memburu. Valeria berdiri di depannya dengan sikap santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja gagal menjalankan rencana mahal.

“Kau gagal!” bentak Jenny tanpa menahan suara. “Aku membayar mahal, Valeria! Tapi apa hasilnya? Luciano justru bersama Alana!”

Valeria menyilangkan tangan di dada, bibirnya terangkat sinis. “Rencananya tidak gagal. Aku menjalankan bagianku.”

“Kau bercanda?” Jenny tertawa pendek, penuh amarah. “Luciano seharusnya jatuh ke perangkapmu, bukan memeluk perempuan itu!”

Valeria mendekat setengah langkah, tatapannya tajam. “Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Minuman itu diminumnya. Reaksi terjadi. Kalau pada akhirnya Luciano memilih Alana, itu di luar kendaliku.”

Jenny menggertakkan gigi. “Kalau begitu kembalikan uangku.”

Valeria tertawa kecil dan dingin. “Tidak.”

“Apa?”

“Dalam pekerjaanku, tidak ada pengembalian dana,” jawab Valeria datar. “Kau menyewa jasaku, aku bekerja. Profesional, Jenny. Kegagalan bukan berarti gratis.”

Jenny hendak membalas, namun langkah kakinya terhenti. Ada perasaan tak enak yang tiba-tiba merayap, seolah udara di sekeliling mereka berubah berat.

***

Di kamar hotel lain, suasananya jauh lebih sunyi.

Luciano berdiri menghadap jendela, ponsel menempel di telinganya. Wajahnya kembali dingin, dingin yang membuat siapa pun yang mengenalnya tahu, ada batas yang baru saja dilanggar.

“Altair,” ucapnya rendah.

“Ya.”

“Cari Valeria. Dan Jenny.”

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.

“Aku ingin tahu siapa yang menyentuh minumanku. Siapa yang merasa berhak bermain-main dengan hidupku dan Alana.”

Altair terdiam sejenak. Ia mengenal suara itu.

Suara sebelum badai.

“Dan setelah itu?” tanya Altair, meski sudah bisa menebak.

Luciano menoleh sedikit, menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.

“Pastikan mereka tidak pernah mengulangi perbuatan seperti ini.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan tekanan halus,

“Buat mereka mengingat malam ini seumur hidup.”

Altair mengangguk, meski Luciano tak melihatnya. “Aku mengerti.”

Panggilan terputus.

Luciano berbalik. Alana sedang duduk di tepi ranjang, memperhatikannya dengan tatapan cemas.

Luciano langsung melembut. Ia mendekat, berlutut di hadapannya, menggenggam tangan Alana erat, protektif, posesif, namun penuh kepedulian.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu,” katanya pelan namun tegas.

“Tidak sekarang. Tidak pernah.”

Alana menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Jenny dan Valeria.

Namun satu hal ia yakini. Orang-orang yang berani menjebak Luciano telah memilih musuh yang salah.

Alana mengangguk pelan. Kepercayaannya pada Luciano bukan sekadar kata, itu keputusan yang ia rasakan sampai ke tulang rusuknya.

Tatapan Luciano tertahan di bibir pink Alana. Ada jeda singkat, seperti napas yang sengaja disimpan. Hasrat itu jelas terlihat dari rahang yang mengeras, dari mata yang menggelap namun ia menahan diri. Janjinya masih berdiri kokoh, meski tubuhnya berkhianat.

“Kau menginginkanku?” tanya Alana, suaranya lembut namun berani.

Luciano menelan ludah. “Tidak,” jawabnya cepat, terlalu cepat. “Tidak sekarang.”

Alana tahu saat Luciano berbohong. Senyum kecil menyentuh sudut bibirnya. Ia meraih tangan Luciano, menuntunnya duduk di sebelahnya. Jarak di antara mereka menyempit, hangat, penuh listrik yang tak kasat mata.

Alana mendekat. Hembusan napasnya menyentuh kulit Luciano, membuatnya membeku.

“Cium aku sekarang,” bisiknya, suara setipis niat yang nyaris berubah, “atau aku akan berubah pikiran.”

Luciano ragu—hanya sepersekian detik. Lalu pertahanannya runtuh.

Bibir mereka bertemu.

Awalnya lembut, ragu, seperti dua janji yang saling menyentuh. Namun kelembutan itu tak bertahan lama. Luciano menarik Alana lebih dekat, tangannya menahan pinggangnya dengan tekanan yang jujur. Ciuman itu memanas lebih dalam, lebih lapar seolah semua kata yang tak terucap tumpah dalam satu tarikan napas.

Alana membalas, sama beraninya. Bibirnya membuka, mengikuti ritme Luciano, membiarkan ciuman itu berbicara dengan bahasa yang tak perlu diterjemahkan. Ada desah tertahan, ada senyum samar di sela-sela pertemuan bibir campuran rindu dan keyakinan.

Saat mereka akhirnya berpisah, napas keduanya tak beraturan. Dahi Luciano menempel di dahi Alana. Matanya tertutup sejenak, seolah mencoba mengingat cara bernapas yang benar.

“Maaf,” gumamnya rendah, jujur.

Alana tersenyum, ibu jarinya menyusuri rahang Luciano dengan lembut.

“Jangan,” katanya pelan. “Aku yang memilih.”

Dan di antara napas yang masih panas itu, keduanya tahu, ciuman barusan bukan sekadar hasrat. Itu pengakuan.

Luciano memutus ciuman itu lebih dulu, bukan karena tak ingin, melainkan karena ia hampir kehilangan kendali.

Napasnya memburu, dadanya naik turun. Tangannya masih melingkar di pinggang Alana, seolah jika dilepas sedetik saja, ia akan jatuh ke jurang yang tak bisa ia tarik kembali.

Alana merasakan itu.

Bukan hanya dari pelukan Luciano yang mengeras, tapi dari getaran halus di tubuh pria itu, getaran seseorang yang sedang berperang dengan dirinya sendiri.

“Luciano…” suara Alana pelan, nyaris seperti bisikan yang menyentuh kulit.

Luciano menunduk, dahinya menyentuh dahi Alana.

“Malam ini… kamu jangan menantangku,” katanya lirih, serak. “Aku sedang tidak sekuat itu.”

Alana menelan ludah. Jantungnya berdetak terlalu keras.

Namun alih-alih menjauh, ia justru mengangkat tangannya, menyentuh rahang Luciano dengan lembut—sentuhan yang membuat napas Luciano tersendat.

“Aku bukan menantangmu,” ucap Alana pelan. “Aku memilihmu.”

Kalimat itu seperti api yang disiramkan ke bara.

Luciano memejamkan mata sesaat, lalu kembali mencium Alana, kali ini lebih dalam, lebih lambat, seolah ia mencicipi, bukan melahap. Ciuman yang membuat waktu terasa berhenti, yang membuat dunia di luar kamar itu lenyap.

Alana membalas dengan sama intensnya. Jarinya mencengkeram jas Luciano, bukan untuk menahan, tapi untuk memastikan pria itu nyata. Ada desahan pelan yang lolos dari bibirnya saat Luciano sedikit memperdalam ciuman, menekan tanpa tergesa, tanpa kasar namun penuh makna.

Saat mereka akhirnya berpisah, jarak di antara wajah mereka nyaris tak ada.

“Aku menginginkanmu,” Luciano akhirnya mengaku, suaranya rendah dan jujur. “Tapi aku ingin kamu tetap aman. Tetap memilihku dengan sadar.”

Alana tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena tersentuh.

“Aku di sini,” jawabnya. “Dan aku tidak pergi ke mana-mana.”

Luciano menarik Alana ke dalam pelukan erat, lebih erat dari sebelumnya. Tidak ada gerakan tergesa. Tidak ada paksaan. Hanya dua jiwa yang sama-sama terbakar, namun memilih untuk saling menjaga.

Dan di malam itu, hasrat tidak meledak, ia berdiam, hangat, berbahaya, dan semakin dalam.

"Luciano...” panggil Alana pelan, namun terdengar cukup lembut di telinga Luciano.

"Katakan."

"Apa kamu yakin, nggak mau lanjutin?" tanya Alana dengan suara tertahan, ragu, namun pasti.

"Apa kau tahu Alana? Aku sudah berusaha keras merendam hasrat ini. Dan kau justru memancingnya," jawab Luciano, jujur.

 Alana melepaskan pelukan Luciano, lalu berdiri. Ia membuka Zipper samping gaun miliknya, sehingga membuat jantung Luciano hampir melompat ke luar.

"Alana, jangan memancingku."

Alana tidak menjawab, ia masih membuka gaun yang melekat di tubuhnya. Lalu menjatuhkannya perlahan.

"Shiit, Alana. Kau benar-benar menguji kesabaran ku," umpat Luciano, ia memejamkan kedua matanya, namun sentuhan lembut Alana di rahangnya membuat Luciano tersadar.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Luciano. Malam ini, aku milikmu!"

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!