Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Pertama
"Ayo kita menikah!"
Dio yang sedang menyantap bakso di tempat langganannya menjatuhkan sendok di genggamannya ke mangkok. Mendongakkan wajahnya dan menatap lurus wanita yang ada dihadapannya.
Dio Anggara, 28 tahun, baru saja membantu seorang wanita yang tersesat dijalan lalu mengajaknya makan siang di warung bakso. Ia begitu terkejut sekaligus syok tiba-tiba dilamar.
"Aku serius. Kamu mau 'kan menikah denganku!"
Dio yang mendengarnya lantas tertawa lebar sembari menepuk meja sehingga menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Aku tidak main-main, Dio."
"Jangan banyak bicara, sekarang kamu makan. Aku tahu kamu itu lapar makanya bicaranya sedikit ngawur!" Dio berkata diiringi senyuman sembari melanjutkan menikmati makanannya.
"Hanya kamu yang dapat menolong aku!"
"Makanlah dulu, nanti kita bicarakan lagi!" ucap Dio sembari menyeruput kuah bakso.
Selesai makan, keduanya berjalan kaki menuju taman yang berada tepat di depan warung bakso.
"Sekarang kamu bicaralah!" kata Dio.
"Aku mau kita menikah secepatnya!" pinta Larasati, 25 tahun.
Dio yang berdiri dihadapannya Laras kembali tertawa lebar, menurutnya ini sebuah lelucon. Baru pertama kali bertemu dan itupun masih dalam hitungan jam. Baginya tak masuk akal dan logika.
"Aku akan membayar berapapun yang kamu mau!" kata Laras.
Mendengar bayaran, Dio berpikir keras. Dirinya memang sangat membutuhkan banyak uang, ia harus membayar utang keluarganya. Apalagi jatuh tempo 2 bulan lagi, jika mereka tidak mampu maka rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya terpaksa dijual.
"Aku tidak mau!" tolak Dio.
"Kamu tidak mau menolongku?" Laras menatap Dio dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kekasihmu lari dan meninggalkanmu dalam keadaan hamil?" tanya Dio.
Laras menggelengkan kepalanya pelan.
Dio menarik napas dan perlahan membuangnya.
"Sekarang aku antar kamu pulang!" Dio membalikkan badannya.
"Aku tidak mau pulang sebelum kamu menerima tawaran dariku!" kata Laras masih posisi duduk.
Dio mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya lalu meremas telapak tangannya secara perlahan. Ia bingung membujuk wanita dihadapannya agar tak memaksanya menikah.
"Kamu marah?" Laras menatap polos.
Dio dengan cepat menurunkan tangannya dan berkata, "Tidak!"
"Tolong aku, Dio!" mohon Laras memegang tangan pria dihadapannya.
Dio mendelikkan matanya ketika Laras berani memegang tangannya tanpa seizinnya. "Kamu mau coba menggoda aku?"
Laras pun melepaskan genggamannya.
"Aku tahu kamu pasti dalam keadaan depresi makanya bicara begitu!" Dio mencoba menebak.
"Aku tidak depresi!" Laras menegaskan ucapannya.
"Apa yakin kamu hamil lalu mencari orang lain buat bertanggung jawab?" Dio menebak lagi.
"Aku tidak hamil atau depresi. Aku hanya ingin kamu membantuku," kata Laras menjelaskan.
"Maaf, aku tidak bisa membantumu. Cari saja orang lain!" Dio menolak tawarannya dan memilih melangkah pergi. Ia balik ke warung bakso mengambil sepeda motornya.
Laras berdiri dan mengejar langkah kaki Dio. "Tolong, cari 'kan aku pria lain!"
"Cari saja sendiri!!" Dio mengambil helm dan memakainya
"Lima puluh juta!" ucap Laras berharap Dio menerima tawarannya.
Dio tak menggubris, naik ke motor dan menyalakan mesinnya.
"Tujuh puluh lima juta!" Laras menyebut nominal angka uang yang akan diberikannya.
"Maaf, aku tidak jual!" Dio kemudian berlalu dengan motornya meninggalkan Laras yang menatap punggungnya.
Baru beberapa meter, Dio kembali menghampiri Laras yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu mau menerimanya?" Laras tampak sumringah.
"Tidak!!" tolak Dio tegas.
"Lalu kenapa kamu balik lagi?" Laras mengendurkan senyumannya.
"Mau mengantarkan kamu pulang!" ketus Dio.
"Aku tidak mau pulang!" Laras menolak.
"Aku tidak tanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu!" kata Dio.
"Iya. Jangan pedulikan aku, pergi sana!" usir Laras, ia pun menjauhi Dio dengan melangkahkan kakinya.
"Baiklah, kalau begitu!" Dio kembali menyalakan mesin motornya dan melaju.
Meskipun Dio marah kepada Laras yang baru dikenalnya, tetapi dia menjalankan laju kendaraannya dalam keadaan pelan. Ia tak tega meninggalkan wanita itu sendirian. Diam-diam ia memperhatikan Laras dari kejauhan dengan melihat kaca spion.
Laras yang tak tentu arah, berjalan dengan keadaan bingung dan gelisah. Ia menolak kembali pulang ke rumah sebelum menemukan calon suaminya. Jika dia tidak berhasil membawa pulang, maka dirinya harus siap menikah dengan pria pilihan orang tuanya.
"Aarrgh....di mana aku harus mencarinya??" pekik Laras di tengah jalan dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas.
Laras lantas terduduk di pinggir trotoar sembari memperhatikan orang-orang melintas, siapa tahu dirinya menemukan pria muda dan bersedia diajak menikah.
Ditengah kegundahannya, sebuah mobil berhenti di depannya. Dua orang pria turun dan menarik tubuhnya secara paksa.
"Lepaskan aku, tolong!!!" teriak Laras.
Dio yang benar-benar tak meninggalkan Laras mendengar suara teriakan wanita bergegas menghampirinya dengan motornya.
"Dio, tolong!!" Laras terus berteriak ketika tubuhnya sudah diujung pintu mobil yang terbuka.
"Hei, lepaskan dia!!" Dio berkata lantang.
"Nona, ayo pulang!" ucap salah satu pria.
"Aku tidak mau pulang!!!" tolak Laras dengan suara lantang.
Dio yang khawatir lantas melayangkan pukulan di wajah salah satu pria berbaju hitam.
Laras pun terlepas dari pegangan kedua pria itu karena seorangnya lagi membantu rekannya yang jatuh dipukul Dio.
"Ayo lari!!" Dio memegang tangan Laras dan berlari menjauh dari pria itu.
Hingga jarak 500 meter, Dio menghentikan aksi berlarinya. Laras pun juga turut berhenti.
"Motorku!!" Dio baru sadar motornya ia tinggalkan begitu saja.
"Biarkan saja, nanti aku ganti!" Laras yang sekarang memegang tangan Dio dan mengajaknya berlari.
Setelah cukup aman dan para pria bermobil tidak mengejar lagi, mereka berhenti dengan napas ngos-ngosan.
"Memangnya siapa mereka?" tanya Dio yang penasaran.
"Mereka anak buah orang tuaku," jawab Laras mengatur napasnya.
"Kamu orang kaya?" tebak Dio tak menyangka wanita dihadapannya bukan orang biasa.
"Orang tuaku yang lebih kaya, makanya aku tidak bisa menolak permintaannya!"
"Sama saja!" kesal Dio.
"Apa kamu mau menolongku?" Laras menatap pria dihadapannya.
"Aku mau menolong kamu tapi tidak dengan menikahimu," kata Dio.
"Kamu harus menikah denganku jika ingin menolong aku!" ujar Laras.
"Apa tidak ada pilihan lain?" Dio tak mau terikat dalam hubungan rumah tangga apalagi dia dan Laras belum genap 24 jam bertemu. Tak mungkin semudah itu dirinya menerima Laras sebagai istrinya. Bisa saja Laras ingin memanfaatkannya untuk menutupi kebusukan wanita itu.
"Tidak ada."
"Mengapa kamu memaksa aku menikahimu?" tanya Dio yang penasaran.
"Aku dipaksa menikah dan aku tidak mau," jawab Laras sejujurnya.
"Kenapa kamu tidak mau menikah dengannya?" tanya Dio lagi.
"Aku tidak mau dijadikan istri ketiganya," jawab Laras lagi.
"Memangnya kenapa? Bukankah setiap wanita menikah cuma ingin mendapatkan harta prianya?" Dio seakan mendukung rencana kedua orang tuanya Laras.
"Aku tidak butuh hartanya. Kamu pun bisa aku beli!" Laras menatap kesal.