NovelToon NovelToon
Menikahi Adik Ipar Bos

Menikahi Adik Ipar Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu

~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.

Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.

BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan Di Malam Hari

"Akhirnya mereka turun juga. Essa, Alex, sini kita makan malam bersama," seru Ane yang sudah duduk di ruang makan bersama suami, menantu dan putrinya Sera.

Semua orang menatap ke arah Essa dan juga Alex, yang menuruni tangga. Sikap mereka cukup canggung entah apa yang sudah terjadi pada keduanya.

Alex, mendaratkan bokongnya di samping Darren sedangkan Essa ia mendaratkan bokongnya di samping sang ibu berhadapan dengan Alex.

"Ibu, kau memasak banyak sekali apa karena ada aku?" Alex menggoda mertuanya. Tentu saja Ane berbangga diri jika sedikit saja dipuji.

"Tentu, karena ada menantu-menantu Ibu dan juga cucu lucu Ibu," katanya yang mencubit gemas pipi Lio.

"Apa Ibu tidak mengharapkan anak-anak Ibu ada? Selalu saja menantu yang Ibu banggakan." Essa, merasa iri dan cemburu, ibunya mulai menyayangi Alex dibanding dengannya.

Sera hanya tersenyum. Tapi tidak dengan Ane, yang mendelik tajam. "Kamu cemburu pada suamimu sendiri? Dasar!"

Bibir Essa, langsung manyun. Tidak ingin terus berdebat dengan ibunya akhirnya Essa mengalah dengan mengambil gurame asam manis kesukaannya. Tetapi raut wajahnya kembali muram, senyumnya memudar netranya berputar mengikuti tangan sang ibu yang menarik piring ikan gurame darinya.

"Ibu, aku juga mau kenapa hanya Om Alex yang dikasih. Anak ibu itu aku bukan dia."

Meja makan tidak pernah damai jika ada Essa. Dari dulu Essa dan ibunya selalu berdebat.

"Siapa bilang, dia sekarang juga anak Ibu. Kamu makan ayam saja, yang ini spesial buat mantu Ibu."

"Ck, kapan aku spesialnya Ibu, aku juga suka gurame asam manis."

"Nanti, jika nilaimu bagus. Perbaiki dulu nilaimu, apa lagi mau ujian kamu pikir Ibu tidak tahu." Umpat Ane seraya melempari kertas kepdanya. Essa, terbelalak saat membaca lembaran kertas itu yang ternyata hasil ulangannya kemarin.

"Dari mana Ibu mendapatkan ini?"

Essa, lupa jika di dalam tasnya tersembunyi nilai buruk itu. Bodohnya Essa kenapa harus membawanya.

"Sudah Ibu, jangan memarahinya terus. Ibu tidak takut dimarahi Alex?" Nada bicara Sera terdengar mengejek, bicaranya pun tidak begitu serius yang disertai tawa.

"Jangan khawatir Ibu, nanti aku yang ajarkan dia."

"Nah, ini ... namanya mantu idaman." Puji Ane kepada Alex. "Dengar Essa, tinggal kamunya aja yang nurut," ujar Ane melirik kepada putri keduanya. Essa tidak begitu mempedulikan yang langsung melahap paha ayam goreng di depannya.

***

Makan malam usai, mereka semua kini kembali ke kamar. Sera dan Darren juga masuk ke kamar yang bersebelahan dengan Essa, karena kamar keduanya memang bersebelahan. Akan tetapi Lio, bocah kecil itu tidak ikut bersama ibunya melainkan tidur dengan neneknya di lantai bawah.

Sera, duduk di bibir ranjang setelah membersihkan make-upnya. Sebelum merebahkan tubuh ia membenarkan bantal terlebih dahulu, sedikit lebih tinggi, karena ketika hamil besar tidurnya mulai tidak nyaman dalam pose apapun. Sera menyandarkan punggungnya pada bantal yang sudah ditumpuk.

Sambil mengelus perut buncit, sesekali ia menghela nafas pelan.

Klik—suara pintu terbuka. Darren baru saja mandi malam, ia hanya mengenakan boxer hitam dan kaos oblong, rambutnya terus dipijat lembut menggunakan handuk.

"Sayang, kamu lelah?" tanyanya setelah duduk di samping Sera.

"Nggak Sayang, kehamilanku sudah masuk sembilan bulan tidurku pun sudah tidak nyaman. Begini salah begitu juga salah, bersandar seperti inilah yang paling nyaman," balasnya dengan senyum.

Darren menyimpan handuknya ke atas kursi. Duduknya diserongkan lalu menghadap Sera.

"Mau aku pijitin hmm ...." Belum juga Sera menjawab, tangan Darren sudah bergrlya di bawah betisnya. Sera hanya diam merasakan kenyamanan itu.

"Hmm ... Sayang, enak banget."

"Enak apa ini hmm ... jangan menggodaku sayang, nanti pedangku bangun."

Sera yang tengah terpejam pun tersentak yang langsung bangun. Matanya mendelik tajam ke arah Darren.

"Jangan minta jatah."

"Kamu gitu banget sih, sayang. Sudah sebulan Lo."

"Emang boleh, ya sayang. Kehamilanku, kan sudah sembilan bulan." Sera, mulai terenyuh yang merasa kasihan karena suaminya yang tidak pernah diberikan jatah. Bukan karena lelah atau apa, tapi karena Lio akhir-akhir ini selalu ingin tidur dengannya.

"Memangnya dokter melarang," ucap Darren penuh harap. Tubuhnya condong mendekat ke arah Sera. "Pelan-pelan sayang, hmm ... kata dokter itu juga bagus."

"Tapi ..."

"Tenang, aku memakainya," bisik Darren dengan senyum menggoda.

Pipi Sera bersemu merah, Darren tersenyum menatap wajah istrinya. Wajahnya pun mulai mendekat mendaratkan benda kenyal manis itu di atas b*b*r Sera.

Mata Sera perlahan terpejam merasakan sensasi yang begitu n*kmat. Hembusan nafas semakin naik turun ketika tangan Darren berjalan di bawah kakinya, memasuki lebih dalam dan lebih dalam hingga berhenti di area paling sensitif.

Er*Ngan dan d*Shan mulai terdengar merdu, Sera semakin terbuai apalagi ketika jari tangan itu bermain di bawah sana.

"Eung ... sayang."

"Sst ... jangan terlalu keras sayang, nanti terdengar oleh kamar sebelah." Bisik Darren dibarengi senyuman manis yang menggoda.

"Biarkan saja Sayang, biar Essa dan Alex dengar. Biar mereka terbuai dan ingin mencoba," goda Sera yang kini sudah melebarkan kedua pahanya.

Darren semakin ingin tertawa, awal yang terdengar takut Sera malah semakin ingin. Membuka p*ha dengan lebar memberikan ruang untuk Darren agar leluasa. Jari tangannya masih memompa cepat di bawah sana.

Er*Ng*n dan d*s*han semakin panas ketika satu tangan Darren maju lebih dalam ke atas dua gundukkan kembar. Tangan Sera semakin mempererat, meremas kain sprey, tubuhnya semakin tidak diam ketika dua gunung itu diremas dengan lembut sampai di bawah sana tangan Alex masih bermain.

"Euh ... Sa ...yang ...."

"Sudah basah sayang, keluarkanlah," bisik Darren meminta Sera untuk segera pelepasan.

"Eurgh ...." Akhirnya cairan kental putih pun tumpah membasahi area s*nsitifnya. Darren merasa sudah puas yang langsung menjatuhkan tubuh di samping Sera.

"Sayang, sekarang giliranmu."

Tangan Darren menarik lembut tubuh Sera supaya duduk di atasnya. Mengingat istrinya sedang hamil besar tidak memungkinkan Darren untuk mengambil kendali dan beras di atas. Jadi Sera lah yang memimpin.

Pertempuran panas sudah dimulai, suara merdu yang khas dan n*kmat tidak hanya memenuhi seisi ruangan tetapi juga membuat merinding sepasang pengantin baru yang baru tidur satu ranjang.

Ya, siapa lagi jika bukan Essa dan Alex. Keduanya hanya saling diam, membeku, terpaku, tanpa sepatah kata pun. Sepasang telinganya mendengar dengan jelas d*sah*n di kamar sebelah.

Jakun Alex mulai naik turun, pusakanya mulai menegang. Kepalanya terasa berdenyut yang langsung memejamkan mata.

Essa, hanya diam sambil terus menelan salivanya berulang-ulang. Kedua tangannya memegang ujung selimut dengan erat, menutupi tubuhnya.

"Akh!"

"Eungh ..."

"Sayang lebih cepat."

"Akh ... aku sudah tidak tahan."

Essa dan Alex semakin dibuat gelisah, dengan suara-suara itu. Keduanya hanya saling diam menunggu apa yang akan terjadi setelahnya. Alex tidak bisa menahan pusaka miliknya sudah berdenyut dan menegang.

"Essa, aku tidak bisa lagi menahannya."

"Maksud Om apa?"

"Essa, kamu benar-benar ingin menyiksaku."

"Apa maksudnya? Jangan salahkan aku, salahkan saja bos mu."

"Essa, aku benar-benar sudah tidak tahan."

"Jangan macam-macam Om." Essa menarik selimut dengan sangat tinggi.

Alex, mengatur nafasnya perlahan sambil memejamkan mata. Kepalanya sampai berdenyut karena h*sr*t yang tidak bisa tersalurkan.

"Essa ...."

"Tidak Om, aku tidak mau. Jangan lakukan itu."

"Pergilah."

"Apa?" Essa terkejut. Pikirnya Alex akan menerkamnya tapi malah menyuruhnya pergi.

"Pergilah Essa, sebelum aku ..."

"Akh, baiklah baik aku akan pergi."

Dengan panik dan penuh rasa takut, Essa tergesa-gesa bangun dari tidurnya, membuka selimut yang sudah menutupi sampai dada. Saking paniknya Essa berdiri, kakinya hendak berlari tetapi hal yang tidak terduga terjadi.

Saking panik langkahnya tidak hati hati sehingga terjatuh dan menimpa tubuh Alex. Sedetik tubuh keduanya menegang, mata Alex membola begitu pun dengan Essa.

Essa hanya bengong, dan terpaku ketika bibirnya baru saja mencium sesuatu yang sangat harus dihindari. Sesuatu yang keras, dan terasa seperti baso urat. Mata Essa membola matanya berputar melirik Alex, yang kini tengah menatap tajam ke arahnya.

"Essa!"

"Akhh!" teriak Essa setelah mencium pusaka milik Alex.

1
Khoirun Nisa
lanjutkan kakak ceritanya,
Inez Putri
sudah 3hari gak up, kok cm 1 up nya thour..
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.
Inez Putri
semangat thour
panjul man09
uh , cerita yg sama
panjul man09
jangan tumbuhkan rasa suka alex pada essa, tunggulah sampai essa tamat smu ,beri kesempatan essa kuliah dulu.
panjul man09
jangan terlalu banyak konflik seperti cerita di novel lain , alex harus lebih sabar menghadapi essa ,selalu mengalah , walaupun tidak saling cinta ,alex harus memperlihatkan keromatisannya pada essa
Dini_Ra
Jangan lupa komentar like dan Vote 💪🙏
Dini_Ra
Jangan lupa like dan Vote komentarnya🙏
Dini_Ra
Ayo dong like dan komentarnya 🙏
Dini_Ra
Tinggalkan jejak sedikitlah 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!