Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya~
📢FYI, cerita ini alurnya santuyy yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Plot Twist Biologis
Beberapa saat sebelumnya...
Tamara baru kembali ke kamar, setelah memberi arahan kepada Yuli dan Yanto.
Ia duduk setengah rebahan di sofa dekat jendela besar, sekadar santai menunggu Yuli membawakan salad pesanannya.
Ponsel masih tergenggam di tangan, ibu jari bergerak naik turun monoton tanpa tujuan. Namun di sela itu, perasaannya justru masih... aneh.
Pandangannya terlepas dari layar ponsel. Senyum kecil langsung terbit di wajahnya.
Masih mengingat jelas, tadi sebelum Arvin masuk ke mobil, sempat membisikkan kalimat singkat di telinganya.
Hari ini istirahat yang cukup ya...
Kalimat itu diucapkan dengan nada ringan. Tidak berlebihan.
Hanya sebentuk perhatian kecil. Namun, senyum tipis Arvin setelahnya, membuat otak Tamara jadi gaduh.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia duduk di kamar itu dengan satu pikiran absurd.
Kayaknya... yang tadi malam bisa dilanjut.
Tamara meletakkan ponsel di sampingnya, sudut matanya melirik ke arah tempat tidur.
Ada sisa-sisa hangat dari kejadian semalam, yang masih menempel kuat di kepalanya.
Cara Arvin menatapnya, bukan lagi sekadar tatapan sopan. Cara tangan Arvin menyentuh, yang membuat denyut jantungnya tak beraturan.
Tamara menggeliat kecil di sofa, lalu duduk tegak.
Ia menggigit jari. "Gila ya... baru di tahap itu aja, dia udah bikin aku lupa diri."
Tangannya menangkup wajah, seolah menutupi pipinya yang mulai terasa panas, bahkan dari dirinya sendiri.
Tamara senyum-senyum, lebih terlihat seperti orang yang kegilaan sendiri. Ekspresi yang sama sekali tidak mencerminkan citranya di kantor.
Sampai akhirnya...
Ada sesuatu yang aneh, tapi bukan lagi pada hatinya. Ini lebih nyata.
Ada rasa lembab yang terasa sedikit mengganggu di bagian bawahnya, membuatnya langsung menegakkan punggung.
Ia terdiam lama. " ... hah?"
Tangannya refleks menyentuh bagian perut bawahnya, yang entah kenapa tiba-tiba terasa tidak nyaman.
Kok perasaan aku nggak enak ya?
Kepalanya menggeleng pelan, seolah meyakinkan satu hal.
"Ini cuma perasaanku aja," gumamnya.
Beberapa saat tercenung. Tamara segera berdiri, setengah berlari menuju kamar mandi.
Ia duduk di closet, menurunkan celana dalam, dan—
Fix.
Datang bulan.
Matanya terbelalak dengan mulut sedikit terbuka, melihat bercak warna merah itu.
"SERIOUSLY??!"
Ia mengerang kesal. "... dari sekian banyak waktu di dunia ini! Why?"
Tamara menghela napas kasar. "Kenapa harus sekarang?!" pekiknya, geram.
Tidak ada drama perut kram atau pun nyeri. Yang ada, justru hatinya yang sedang dilanda drama besar.
Di otaknya masih berputar ulang, bagaimana Arvin semalam nyaris kehilangan kendali.
Cara napasnya yang terdengar berat. Caranya menatap. Caranya saat bilang, 'Lain kali, aku nggak akan berhenti. Kecuali kamu yang minta.'
Tamara mendesah frustasi, nyaris berteriak.
Beberapa menit berlalu.
Tamara sudah keluar dari kamar mandi, dress polosnya sudah berganti model dan warna.
Ia berdiri di tengah kamar. Ponsel kembali di tangan, dengan mata menumbuk layar yang menampilkan kalender siklus bulanannya.
"Tuh kan! Harusnya datengnya 3 atau 4 hari lagi," geramnya.
Tangannya dengan enteng melempar benda itu, melambung ke atas kasur.
Kakinya bergerak mondar mandir, sementara jemarinya memijat pelipis yang terasa hangat dan berdenyut.
Antara kecewa, malu, dan nyaris ingin mentertawakan dirinya sendiri.
Tamara bukan tipe perempuan yang gampang mau bermesraan, dan pas akhirnya lagi pengen...
Tubuhnya malah ngelawak.
"Ini nggak masuk akal!" Dalam kepalanya, campuran emosi menggelegak.
Baru saja ia mulai dekat dengan Arvin, baru mulai berniat jadi istri seutuhnya, tapi tubuhnya malah punya agenda sendiri.
Tamara mengacak-acak rambut. "AARRGGH—"
Di saat bersamaan, suara melengking menyahut dari arah pintu.
"ASTAGHFIRULLAH!!"
Tamara yang ikut kaget langsung menoleh, Yuli sudah berdiri mematung dengan mata membesar.
"Ibu kenapa?" tanya perempuan itu panik, melihat wajah nyonya besarnya tampak frustasi dramatis.
Tamara menarik napas panjang. "Saya nggak papa," jawabnya, datar.
"Ini Bu, saladnya—"
"Taruh aja di meja!" potong Tamara cepat.
Yuli menelan ludah, lantas berjalan masuk.
Langkahnya pelan menuju meja kecil di sudut ruangan, kemudian meletakkan mangkuk itu dengan penuh kehati-hatian.
Perempuan itu berdiri sopan. "Ibu perlu sesuatu lagi?" tawarnya.
"Nggak ada!" jawab Tamara.
Yuli langsung mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan dengan langkah sayup tapi buru-buru.
Begitu pintu tertutup, Yuli berhenti sejenak, sekadar mengambil napas.
Bahunya bergidik ringan, sorot matanya waspada.
"Gawat... Nyonya besar balik ke setelan pabrik."
...
Sepanjang pagi sampai siang, Tamara dilanda gusar.
Ia tahu Arvin menyuruhnya istirahat yang cukup, tapi karena 'kejutan pagi' yang super plot twist tadi, membuat pikirannya sudah kemana-mana.
Tamara menggigit jari, di kepalanya berputar bermacam-macam skenario aneh.
Gimana kalau Arvin pulang nanti, dia berharap sesuatu?
Gimana kalau tiba-tiba kehilangan momentum gini, dia bakal jaga jarak kayak kemaren-kemaren lagi?
Terus... gimana kalau semalam itu cuma momen sesaat doang?
Tamara menjatuhkan diri ke sofa, pandangannya menatap langit-langit kamar.
Tangannya menyentuh perut bawahnya, yang mulai terasa kram.
Harusnya ia senang hari ini bisa istirahat, tapi pada kenyataannya, diam di rumah justru membuat pikirannya semakin ribut.
Ia sendirian di kamar, dengan luka di dahi, ditambah hormon yang kacau. Juga... status baru sebagai istri normal.
Dan perasaan baru yang aneh: ia merindukan suaminya, padahal baru tadi pagi ditinggal berangkat kerja.
...
Sore harinya.
Langit mulai berwarna jingga, ketika mobil Arvin baru berhenti di garasi.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah seperti hari-hari biasanya, kemeja masih terlihat rapi, wajah tenang meski garis matanya sedikit lelah.
Pandangannya langsung tertuju pada Tamara, yang baru berjalan dari arah tangga—dress rumahan sudah berganti piyama santai, rambut diikat sederhana, tapi senyum di wajahnya... tertahan.
Dahi Arvin berkerut halus, langsung membaca: ada yang nggak beres.
Ia menambah langkah menghampiri sang istri.
"Kamu baik-baik aja?" sapanya lebih dulu.
Tamara mengerjap, wajahnya kaku untuk dua detik pertama, sebelum akhirnya mencoba senyum lagi.
"Baik," katanya, walau hati kecilnya tahu, Arvin akan dengan mudah membacanya.
Arvin hanya tersenyum kecil, lalu menyentuh ringan pinggangnya sambil sedikit mendekat.
"Aku mau langsung ke kamar," bisiknya.
Tamara menoleh dengan mata agak melebar. Pikirannya makin kacau, tapi langkahnya mengikut saja saat Arvin mengajaknya menuju kamar.
Setibanya di lantai atas, sebelum benar-benar tiba di dekat pintu kamar.
Tamara menghentikan langkah, lalu berdiri menghadap Arvin.
"Mas... " katanya, terdengar ragu.
Ia sempat terdiam sebentar, tangannya mengusap ringan tengkuknya sendiri.
"Aku... datang bulan," ujarnya pelan.
Arvin tak langsung memberi respons, seolah perlu mencerna kalimat itu satu detik lebih lama.
"Ohh."
Hanya satu kata itu, yang akhirnya keluar dari mulutnya.
Tanpa nada kecewa, atau pun marah, tapi memahami.
Hening sejenak.
Hingga Arvin melangkah mendekat, tatapannya lebih lembut.
"Perut kamu sakit?" tanyanya.
Tamara mengangguk. "Dikit... "
Detik selanjutnya, wajahnya langsung cemberut. " ...tapi aku kecewa."
Ia berjalan menuju sofa, lalu duduk di sana.
Sementara Arvin meletakkan tas kerja di atas meja, menyusul ikut duduk di sampingnya.
"Kecewa kenapa?" tanya Arvin dengan alis sedikit berkerut.
"Karena aku mau nyambung yang semalem, tapi malah... " kata Tamara spontan, nyaris seperti keceplosan.
Entah karena bawaan hormon, atau suara jujur dari hatinya.
Arvin membeku sejenak, lalu ekspresinya berubah. Bukan canggung, tapi lebih hangat.
Ia mendekat, bahunya menyentuh ringan bahu Tamara. "Kalau cuma itu... kita nggak kehilangan apa-apa, kok."
Tamara menatap tak sepakat. "Bohong... kita kehilangan momentum, tau!"
Arvin tertawa kecil, tawa yang jarang muncul. "Momentum itu bukan flash sale, Tamara. Kita masih ada waktu lain."
"Kamu nggak kecewa?"
Arvin menggeleng pelan. "Kamu itu cuma datang bulan, dan itu bukan akhir dari segalanya."
Wajahnya sedikit menunduk, menatap sang istri lebih dekat dan sedikit lebih lama.
"Tapi aku senang kalau kamu jujur kayak gini," ungkapnya.
Tamara menutup wajahnya yang mulai panas. "Aku malu, tau... "
Jatuh sudah harga dirinya yang selama ini mati-matian menjaga gengsi, dan anehnya ia tidak keberatan kalau itu di depan Arvin.
Laki-laki itu lagi-lagi tertawa kecil, lalu tangannya terangkat membelai puncak kepala Tamara.
"Simpan aja dulu niat kamu itu... "
Ia mencium kening Tamara, singkat. " ...nanti kita pakai pas waktunya cocok," bisiknya.
Tamara membeku. Namun, sebelum ia sempat bereaksi lebih lanjut, tangan Arvin turun menyentuh pinggangnya.
Tanpa aba-aba, Arvin mencium pipinya. Sekali, tapi cukup lama.
"Aku mau mandi dulu," kata Arvin setelah melepaskannya.
Tamara mengiyakan. "Nanti tas kamu, biar aku aja yang taruh di ruang kerja," ucapnya.
Arvin yang sudah berdiri, hanya memberi anggukan. Namun, sebelum benar-benar menjauh, tangannya kembali mengusap puncak kepala Tamara.
"Di laci meja kerjaku, ada cokelat hitam. Bagus buat mood booster," ujarnya memberitahu.
Tamara mendongak, lalu mengangguk antusias.
Rasa kecewanya sudah berkurang, digantikan dengan perasaan yang membuat dadanya lebih hangat.
Di tengah itu, ternyata ia menyadari satu hal lain. Bukan hanya tubuh suaminya yang ia inginkan, tapi ia ingin... kedekatan.
...dan itu justru lebih bahaya bagi hatinya, daripada sekadar gairah sesaat.
Tak lama.
Tamara melangkah masuk ke ruang kerja Arvin, yang bahkan tak pernah tersentuh olehnya sejak menikah.
Ruangan itu mengingatkannya pada ruang kerja milik papanya—aroma buku-buku lama, dingin, tenang, seolah tak tersentuh oleh kebisingan manapun.
Pandangannya menyapu sekilas ke beberapa arah: sofa elegan, meja kokoh, serta susunan rak-rak buku besar hampir di setiap sudut.
Langkahnya berhenti pada meja kerja Arvin, meletakkan tas dengan rapi di sisi meja.
Tamara duduk sebentar di kursi empuk itu. "Katanya ada di laci... " gumamnya.
Tangannya mulai terulur, membuka laci-laci meja.
Saat laci pertama yang dibuka, tidak ada cokelat, tapi matanya tertarik pada sesuatu di dalamnya.
Hanya beberapa dokumen, dan selebaran berisi informasi singkat tentang sebuah nama kampus.
Ia tidak ingin tahu lebih sebenarnya, tapi rasa penasarannya yang terdorong rasa iseng, membuatnya mengambil benda itu.
Sekadar melihat-lihat.
Begitu membaca isinya, matanya terbelalak.
"WHAT??!!"
BERSAMBUNG...