Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : KEPUTUSAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Pagi itu, suasana di kantor pusat Varell Corporation terasa jauh lebih tegang dari biasanya.
Beberapa karyawan terlihat sibuk membawa dokumen dari satu ruangan ke ruangan lain. Telepon di meja para staf terus berdering, sementara beberapa direktur perusahaan mulai mengadakan rapat kecil untuk membicarakan perubahan yang terjadi sejak pagi.
Di lantai paling atas, Adrian Varell berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Di tangannya terdapat sebuah laporan yang sejak tadi dia baca berulang kali.
Dia masih sulit mempercayai isi laporan tersebut.
Valdren International secara resmi mulai menarik sebagian besar investasinya dari beberapa proyek yang bekerja sama dengan Varell Corporation. Bukan hanya itu, beberapa kerja sama baru yang sebelumnya sudah masuk tahap pembahasan juga dihentikan.
Adrian menghela napas panjang sebelum akhirnya menoleh kepada direktur yang berdiri di belakangnya.
“Ini benar-benar keputusan dari Valdren International?” tanya Adrian dengan nada serius.
“Benar, Tuan Adrian,” jawab direktur tersebut sambil mengangguk. “Pihak Valdren International sudah mengirimkan pemberitahuan resmi. Mereka akan menarik investasi dari beberapa proyek dan menghentikan pembahasan kerja sama baru.”
Adrian berjalan menuju meja kerjanya lalu meletakkan laporan itu.“Apakah mereka memberikan alasan?”
“Tidak ada alasan khusus yang diberikan, Tuan. Mereka hanya mengatakan keputusan tersebut berkaitan dengan perubahan strategi investasi perusahaan.”
Adrian terdiam dia tahu alasan sebenarnya mungkin tidak sesederhana itu. Pikirannya langsung tertuju kepada Hero.
Beberapa hari lalu, dia melihat sendiri bagaimana Hero berdiri di depan Laura ketika Laura terluka. Tatapan Hero saat itu masih teringat jelas di kepalanya.
Hero bukan pria yang mudah menunjukkan emosi. Namun ketika Laura berada dalam bahaya, semuanya berubah.
Adrian mengusap dagunya sambil berpikir.
“Mungkin ini memang karena Laura,” gumam Adrian pelan.
Direktur yang berada di depannya tidak berani bertanya lebih jauh. Adrian kemudian mengambil laporan lain yang diberikan sekretarisnya.
“Seberapa besar pengaruh penarikan investasi ini terhadap perusahaan?” tanya Adrian sambil membuka halaman terakhir.
“Belum bisa kami pastikan sepenuhnya, Tuan. Namun beberapa mitra mulai meminta penjelasan karena mereka melihat Valdren International sebagai salah satu investor penting dalam beberapa proyek kita.”
Adrian mengangguk perlahan.“Hubungi bagian keuangan. Aku ingin laporan lengkap mengenai proyek mana saja yang terdampak dan berapa besar kemungkinan kerugiannya.”
“Baik, Tuan Adrian.”
Direktur tersebut segera meninggalkan ruangan.
Adrian kembali duduk di kursinya. Baru beberapa menit dia mencoba memeriksa laporan berikutnya, pintu ruangannya kembali diketuk.
“Masuk,” kata Adrian.
Sekretarisnya datang membawa beberapa dokumen tambahan. Wajah wanita itu terlihat cukup tegang ketika menyerahkan dokumen tersebut kepada Adrian.
“Tuan, ada masalah lain yang baru saja masuk.”
Adrian menerima dokumen itu dan langsung membukanya.“Apa lagi?”
“Beberapa mitra bisnis meminta peninjauan ulang terhadap kerja sama mereka dengan Varell Corporation. Mereka belum memutuskan untuk keluar, tetapi mereka meminta kepastian mengenai kondisi perusahaan setelah Valdren International menarik sebagian investasinya.”
Adrian membaca dokumen tersebut dengan saksama. dia kemudian menutupnya perlahan.
“Jangan berikan pernyataan apa pun kepada pihak luar sebelum aku memberikan izin,” kata Adrian tegas. “Aku tidak ingin masalah ini berkembang menjadi rumor.”
“Baik, Tuan.”Sekretaris itu mengangguk dan keluar.
Setelah pintu kembali tertutup, Adrian bersandar di kursinya. satu hal yang membuat pikirannya semakin berat adalah keputusan Varell Corporation sendiri.
Beberapa waktu lalu, pihak perusahaan memang mempertimbangkan untuk mengalihkan kerja sama teknologi mereka kepada perusahaan lain karena mereka menilai perusahaan tersebut memiliki teknologi yang lebih sesuai dengan kebutuhan proyek berikutnya.
Perusahaan itu adalah Exco.
Awalnya Adrian menganggap keputusan tersebut hanya masalah bisnis biasa.
Namun sekarang dia mulai menyadari bahwa Valdren International tidak melihatnya sesederhana itu.
Sementara itu, di kantor pusat Valdren International, keadaan justru jauh lebih tenang.
Hero duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa laporan yang diberikan Valen. Wajahnya terlihat serius, sementara Valen berdiri di depan meja dengan sebuah tablet di tangannya.
“Semua proses penarikan investasi sudah mulai berjalan, Tuan,” kata Valen. “Tim hukum juga sudah memeriksa seluruh perjanjian agar keputusan ini tidak melanggar kontrak yang masih berlaku.”
Hero mengangguk.
“Bagaimana reaksi Varell Corporation?” tanya Hero tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.
“Mereka mulai panik, tetapi belum memberikan pernyataan resmi. Beberapa mitra mereka juga mulai meminta penjelasan.”
Hero meletakkan dokumen yang sedang dibacanya.“Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.”
Valen mengangguk, lalu melanjutkan laporannya.“Untuk kerja sama teknologi, pihak Varell Corporation memang sedang mempertimbangkan Exco sebagai pengganti partner mereka.”
Hero menatap Valen.“Jadi mereka memilih Exco?”
“Benar, Tuan. Mereka menganggap Exco memiliki teknologi yang lebih menguntungkan untuk proyek mereka berikutnya.”
Hero menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Tidak masalah kalau mereka ingin memilih perusahaan lain,” jawab Hero tenang. “Setiap perusahaan memiliki hak untuk menentukan partner bisnisnya sendiri.”
Valen memperhatikan Hero dengan serius.“Namun setelah itu, mereka tetap mengharapkan Valdren International melanjutkan kerja sama seperti biasa,” kata Valen.
Hero tersenyum tipis.“Kalau mereka ingin bermain seperti itu, mereka harus memahami konsekuensinya.”
Valen mengangguk.“Apakah Tuan ingin kita menghentikan seluruh kerja sama dengan Varell Corporation?”
Hero terdiam sejenak sebelum menjawab.“Hentikan seluruh kerja sama baru untuk sementara. Untuk kontrak yang masih berjalan, selesaikan sesuai perjanjian. Aku tidak ingin perusahaan kita mengambil tindakan yang melanggar hukum hanya karena masalah seperti ini.”
“Baik, Tuan,” jawab Valen.
Hero kemudian mengambil sebuah dokumen lain.“Dan pastikan semua aset serta investasi kita yang bisa ditarik sudah diproses dengan benar. Jangan sampai ada kesalahan administrasi.”
“Saya akan mengawasinya langsung,” jawab Valen.
Hero mengangguk. namun sebelum Valen pergi, Hero kembali memanggilnya.
“Valen.”
Valen menghentikan langkahnya lalu menoleh.
“Ya, Tuan?”
Hero menatapnya dengan wajah serius. Dan mengatakan.“Jangan lakukan apa pun kepada Adrian secara pribadi.”
Valen sedikit terkejut mendengar perintah itu.
“Masalah ini hanya menyangkut hubungan bisnis antara dua perusahaan,” lanjut Hero. “Aku tidak ingin Laura ikut terseret lebih jauh hanya karena masalah antara Varell Corporation dan Valdren International.”
“Saya mengerti, Tuan,” jawab Valen. “Semuanya akan tetap berada dalam jalur bisnis.”
“Bagus.”
Valen mengangguk lalu meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup, Hero akhirnya mengambil ponselnya. tatapan dingin yang sejak tadi memenuhi wajahnya perlahan berubah ketika dia melihat sebuah pesan dari Laura.
Laura: Hero, jangan lupa makan siang.
Senyum kecil muncul di wajah Hero.
Dia langsung mengetik balasan.
Hero: Kalau kamu ikut makan bersamaku, aku pasti tidak akan lupa.
Beberapa saat kemudian, Laura membalas.
Laura: Aku masih di kampus, Hero. Bagaimana bisa ikut makan bersamamu?
Hero membaca pesan itu sambil tersenyum.
Hero: Kalau begitu aku yang datang menjemputmu.
Laura yang sedang duduk di salah satu bangku kampus langsung menghela napas ketika membaca balasan tersebut. Dia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya mengetik.
Laura: Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri nanti.
Tidak lama kemudian balasan Hero muncul.
Hero: Aku ingin menjemputmu.
Laura sedikit heran melihat pesan itu.dia sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan perhatian Hero, tetapi sikap pria itu tetap sering membuatnya bingung.
Laura akhirnya mengetik kembali.
Laura: Kamu sedang bekerja, kan? Jangan tinggalkan pekerjaan hanya karena ingin menjemputku.
Hero membaca pesan itu lalu tersenyum kecil.
Hero: Pekerjaanku bisa diatur. Kamu lebih penting.
Laura langsung mengernyitkan dahi. dia tidak tahu harus membalas apa. Setelah beberapa detik, Laura akhirnya mengirim pesan singkat.
Laura: Terserah kamu saja.
Hero tersenyum semakin lebar.
Dia kemudian berdiri dari kursinya dan mengambil jas yang tergantung di samping meja.
Ketika Hero keluar dari ruangannya, Valen yang masih berada di luar langsung menoleh.
“Tuan mau pergi?” tanya Valen.
“Aku mau menjemput Laura,” jawab Hero sambil mengenakan jasnya.
Valen menghela napas kecil. “Bukankah tadi Tuan sedang membicarakan masalah Varell Corporation?”
“Masalah itu bisa menunggu beberapa saat,” jawab Hero tenang. “Laura tidak.”
Valen hanya bisa tersenyum tipis. Dia sudah semakin terbiasa melihat perubahan Hero setiap kali berhubungan dengan Laura.
“Baiklah, Tuan. Saya siapkan mobil.”
Sementara itu, di kampus, Laura masih menatap layar ponselnya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Dia belum mencintai Hero. Perasaan itu masih terlalu jauh untuk dia akui. Namun Laura mulai menyadari satu hal. Kehadiran Hero yang dulu terasa asing perlahan menjadi sesuatu yang dia tunggu.
Dan tanpa Laura sadari, hubungan mereka bukan lagi sekadar antara seorang pria yang ingin melindunginya dan seorang wanita yang sedang menerima perlindungan.
Sementara itu, di Varell Corporation, Adrian masih berhadapan dengan laporan yang semakin bertambah.
Dia belum tahu bagaimana masalah ini akan berakhir. Namun satu hal mulai jelas baginya.
Valdren International tidak sedang memberikan ancaman kosong.
Dan kali ini, Adrian harus menghadapi konsekuensi dari keputusan bisnis perusahaannya sendiri.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯