Andrian adalah seorang mahasiswa yang menjalani pekerjaan freelance sebagai fotografer. Sejak kapan semuanya dimulai, tidak ada yang benar-benar tahu. Kini, ia menjual jasa foto jalan-jalan yang tengah populer di kalangan anak muda.
Ia memotret siapa saja yang ingin terlihat cantik di depan kamera. Mereka tersenyum, dan ia.. di balik lensa.. tersenyum lebih lama.
Setiap jepretan membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar. Bukan karena hasilnya ,melainkan karena sesuatu yang hanya ia pahami sendiri. Dua folder tersimpan di komputernya: satu untuk dunia, satu untuk dirinya.
[Jika kamu sudah membaca, tinggalkan Like & komentar kamu sebagai bentuk penghargaan untuk penulis.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Pertaruhan
Mereka tiba di tempat makan yang Adrian pilih—restoran steak cukup mahal. Naya terlihat gugup, ini jelas bukan tempat yang biasa ia datangi. Sesekali ia melirik Adrian yang makan dengan santai, sementara tangannya masuk ke saku celana, seakan sedang memastikan uangnya cukup.
“Kamu nggak makan?” suara Adrian memecah kegugupan.
Naya sedikit terkejut. “Iya… ini makan kok,” jawabnya gelagapan.
Adrian tersenyum samar. Ia tahu Naya cemas sejak melihat menu. Naya memang mudah dibaca, pikirnya.
“Cepat makan. Nggak usah khawatir, aku yang traktir.”
Naya diam, tapi tersenyum kikuk. Ia memotong steak itu perlahan dan mulai makan. Ini pertama kalinya ia menikmati makanan semahal itu.
Adrian memperhatikannya. “Enak, ya?”
Naya mengangguk cepat. “Eh… iya,” jawabnya malu sambil menunduk.
“Kamu sudah lama kerja di kafe?”
“Baru-baru ini…” jawabnya pelan.
“Oh, pantes aku baru lihat kamu,” kata Adrian, seolah sering ke sana—padahal itu kunjungan pertamanya.
“Kamu sering ke kafe itu?” tanya Naya
“Kadang-kadang… tapi sejak lihat kamu, rasanya ingin ke sana tiap hari.” katanya hangat.
Naya tersipu, pipinya memerah. Ia mengira Adrian hanya bersikap ramah—tanpa sadar siapa yang sebenarnya sedang memperhatikan.
Setelah makan, mereka berjalan bersama menuju kafe sambil mengobrol.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Adrian.
“Aku ngekos… aku perantau.”
“Oh, jadi kamu bukan dari sini.”
“Iya. Baru dua bulan. Aku memutuskan ke kota… soalnya di kampung susah cari kerja.”
Adrian hanya mengangguk. Ia memperhatikan bagaimana Naya mulai lebih banyak bicara dengannya. Membuat orang merasa nyaman berada di dekatnya memang keahliannya.
Saat mereka sampai di depan kafe, Adrian berhenti.
“Aku harus pulang,” ucapnya pendek.
Entah kenapa, Naya merasa kecewa. Padahal mereka baru mengobrol sebentar, tapi rasanya ada sesuatu yang membuatnya ingin tetap berbicara dengan Adrian.
“Oh… iya,” balas Naya pelan. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah akan bertemu Adrian lagi. Ia berpamitan dan berbalik menuju pintu kafe.
“Naya…” suara Adrian memanggil.
Naya langsung menoleh. “Apa?”
Adrian diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku boleh minta nomor HP kamu?”
Dari balik kasir, teman Naya mengamati semuanya lewat pintu kaca. Ia melihat Naya sedang mengobrol, tampak malu-malu saat mengetik nomor handphonenya ke Adrian. Sesekali, Adrian menatap Naya dengan tenang.
Tak lama, mereka berpamitan. Naya masuk kembali ke kafe, wajahnya memerah.
"Ciee… habis jalan bareng, terus tukeran nomor. Romannya bakal ada yang jadian nih," goda teman Naya sambil tersenyum nakal.
"Apaan sih…" Naya menggerutu, padahal senyumnya tak bisa ia sembunyikan.
"Siapa namanya…" goda temannya lagi.
Naya menepuk bahu temannya. "Udah ah… fokus kerja," ucapnya sambil tersenyum.
"Huuuh…" sahut temannya, masih penasaran.
Di dalam pikiran Naya, wajah Adrian terus terbayang. Bahkan wangi parfumnya seolah masih menempel di hidungnya. Naya sempat berpikir, apa maksudnya dia mendekatiku?—dan senyum itu kembali muncul tanpa bisa ia cegah.
Sementara itu, di mobil, Adrian fokus menyetir. Seakan pertemuan tadi dengan Naya tak meninggalkan bekas apa pun di hatinya. Baginya, setiap langkah rencananya berjalan mulus tanpa usaha keras. Sekilas ia melirik kaca spion depan, senyum kecil muncul di bibirnya.
Ponselnya bergetar di dasbor. Ia melirik nomor yang muncul—ibunya. Kali ini ia mengangkat telepon. Mendengar suara ibunya, Adrian diam beberapa saat, lalu menutup ponselnya tanpa berkata apa-apa.
Mobilnya sampai di parkiran kosan. Ia keluar dengan santai dan menaiki tangga yang sepi biasanya mahasiswa lain jam segini belum pulang. Di ujung tangga, langkahnya terhenti. Bu Rini, ibu kosnya, sudah berdiri bersama seorang wanita paruh baya yang tampak modis untuk usianya.
"Ibu," sapa Adrian singkat.
"Oalah, Mas Adrian ini loh… ibunya dari tadi nunggu, di telpon nggak diangkat," kata Bu Rini.
"Iya, kamu ini kebiasaan susah dihubungi," sambung ibunya.
Adrian tersenyum tipis, berjalan mendekat, dan menyalami ibunya. "Maaf, Bu. Aku tadi sibuk di kampus."
"Padahal ibu kangen… jauh-jauh dari luar kota mau ketemu anaknya, eh anaknya susah banget dihubungi," ibunya Adrian menepuk bahu Adrian.
Bu Rini, memperhatikan sambil tersenyum. "Mas Adrian ini memang sibuk, Bu. Saya tahu sendiri, suka pulang malam…"
Adrian tersenyum tipis. "Ayo, Bu, masuk dulu."
"Iya deh…"
"Kalau gitu saya pamit dulu ya, Bu," ucap ibunya Adrian menyalami Bu Rini, "Makasih loh, Bu Rini, sudah nemenin saya dari tadi," tambah ibunya.
"Oh, nggak apa-apa," sahut Bu Rini sambil tersenyum dan berlalu.
Adrian membuka pintu kosannya, dan ibunya ikut masuk. Begitu pintu tertutup, nada ibunya berubah menjadi marah.
"Adrian… ko kamu ngekos di tempat seperti ini sih? Sempit, nggak nyaman… Ibu kan sudah sewakan apartemen buat kamu, kenapa nggak kamu isi?"
Adrian meletakkan tasnya dengan tenang. "Aku lebih suka di sini, dekat dari kampus," jawabnya datar.
"Kamu tuh selalu seperti ini… selalu nggak sepaham dengan orang tua."
"Ibu ke sini cuma mau menasehati? Bukannya ibu banyak urusan… lebih baik ibu pulang, nanti ayah cariin ibu," ucap Adrian dengan nada datar, sedikit menahan emosi.
Ibunya menggeleng. "Adrian… sampai kapan sih kamu seperti ini? Padahal ayahmu itu baik loh sama kamu."
"Dia bukan ayahku," sahut Adrian dingin.
"Meski dia ayah sambungmu, tetap saja kamu harus menghormatinya," balas ibunya tegas.
"Iya… Ibu memang sangat mencintai pria itu," ucap Adrian datar.
"Jangan mulai, Adrian," potong ibunya tegas.
"Sayang sekali, Papah harus berakhir dengan kesialan," lanjut Adrian tanpa menatap ibunya.
"Adrian!"
Ia duduk di tepi ranjang, senyum tipis muncul di bibirnya. "Padahal Papah sudah berjuang untuk keluarga, tapi istrinya malah memilih pria lain… dan Papah memilih mengambil nyawanya sendiri. Ironis."
Ibunya menghela napas panjang, menahan amarah. "Sudahlah… ibu merasa seperti tidak disambut baik sama kamu…" Ia meletakkan sebuah kartu kredit di atas meja. "Ini untukmu… meski kamu seperti ini pada ibu, tapi ibu tidak mau kamu hidup sengsara."
Ibunya membuka pintu dan pergi, meninggalkan Adrian sendiri. Tatapannya kosong, menatap pintu yang perlahan tertutup. Memori masa kecilnya yang penuh kekecewaan dan ketidakbahagiaan muncul kembali.
Ia menatap botol mineral di tangannya, lalu melemparkannya ke pintu. Suaranya memecah keheningan kamar. Jantungnya berdebar, tapi wajahnya tetap tenang tersenyum di tengah kekacauan.
Memori masa kecilnya muncul kembali teriakan, pengabaian, dan rasa kehilangan yang menempel di setiap sudut hati, meninggalkan kesunyian panjang yang terus menyelimuti dirinya hingga kini.
Ini yang mereka pikir bisa diabaikan… tapi aku tidak akan melupakan, pikir Adrian. Amarahnya bukan sekadar luapan sesaat ia perlahan membentuk cara Adrian mengamati, mengendalikan, dan merencanakan segalanya.
Ardian/Rangga kembali ke kebiasaan lamanya dan sudah mulai dapat calon korban baru.
lanjutkan