Semua orang terkejut saat bos besar mereka muncul dengan menggandeng seorang wanita muda. Karyawan pria terpesona karena lekuk tubuh dan aset besar yang terpampang itu, sementara karyawan wanita merasa cemburu pada sosok yang berjalan bersama atasan mereka.
"Turunkan pandangan kalian!" desis Vino dengan nada dingin. Banyak yang berbisik-bisik tentang Sea menyebutnya sebagai perayu ulung. Mendengar itu, David merasa darahnya mendidih. Ia berhenti, berputar, dan menatap tajam mereka yang berani menggunjing istrinya.
"Berani-beraninya kalian menyebut istriku penggoda!Kalian ingin mencari masalah, ya?"
Semua orang kaget saat tahu bahwa wanita yang mereka bicarakan ternyata adalah istri dari atasan mereka.
"A-ampun, Tuan. Kami tidak tahu kalau Nyonya adalah istri Anda!" kata salah satu dari mereka dengan nada takut.
David mendengus kesal. Wajahnya menjadi lebih lembut saat merasakan usapan halus di tangannya.
"Jangan emosi, sayang. Nanti mereka bisa ketakutan," bisik Sea den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
26
"Kasihan sekali gadis ini, wajahnya sampai pucat begitu. David, sekarang katanya sudah tak sayang dengan Sea, tapi lihat sekarang, tubuh Sea penuh dengan bekas memar. Sabar ya, Nak. Mama yakin, cepat atau lambat David akan sadar dengan perbuatannya. Kamu harus bisa mengendalikan suamimu." Gumam Citra.
Sesaat kemudian, Mbok Welas datang membawa nampan untuk membereskan gelas dan piring majikannya. Kini Citra duduk di sofa ruang kamar Sea sambil menonton televisi.
Tak lama kemudian Sea bangun dari tidurnya. Dia mencoba bangun karena merasa tubuhnya sudah sedikit enakan. Sea terkejut saat melihat mertuanya sudah berada di depan televisi.
"Mama sudah lama di sini?"
"Lumayan, Mama tadi datang waktu kamu tidur. Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?" Tanya Citra.
"Mendingan, Ma. Kepalaku sudah tidak terlalu pusing."
"Mama tahu dari siapa kalau aku sakit?"
"Apapun yang terjadi di rumah ini pasti Mama tahu. Oh iya, apakah David berbuat kasar padamu Nak?"
"Tidak Ma, aku hanya terlalu lelah saja kemarin beres-beres rumah." Kilah Sea.
"Jangan menyembunyikan apapun dari mama ya! Apalagi kalau sampai David menyakitimu. Dia memang terlihat tenang, tapi saat dia merasa terusik pasti dia akan menyerang balik." Citra menarik nafas berat sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Sea, kamu jangan pernah merasa sungkan ya sama Mama! Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan mengenai David, kamu katakan saja pada Mama."
"Iya Ma, aku pasti akan bercerita semuanya pada Mama." Sahut Sea.
"Bagaimana bisa aku mengadukan sifat putranya kalau Mamanya terlalu baik denganku. Meskipun dulu aku belum terlalu lama mengenalnya, namun aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Aku harus kuat, aku harus bisa mencari cara agar David benar-benar menghilangkan rasa bencinya padaku." Batin Sea.
"Sea, kita duduk di sofa saja yuk!"
Dan benar saja, kedua wanita itu duduk di sofa setelah Sea minta izin untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Hingga tak terasa jam makan siang pun sudah tiba. Mereka memutuskan untuk turun ke lantai satu dan mencari tempat yang teduh dan sejuk untuk mereka makan siang sambil ngobrol.
Saat keduanya sedang ngobrol sambil asyik menikmati makan siang mereka, terlihat David sudah datang dan langsung bergabung dengan istri dan Mamanya.
"Mama kapan datang?"
"Tadi pagi, mungkin kamu belum lama juga meninggalkan rumah ini bekerja."
"Mama lagi makan apa itu?"
"Pecel, kalau kamu mau minta saja sama Mbok Welas biar di antar ke sini."
"Kenapa Mbak Welas Ma? Bukankah itu tugas istri untuk menyiapkan makanan untuk suaminya?"
"Sebentar Kak biar aku ambilkan." Ucap Sea.
"Tidak usah Sea, biar David sendiri yang mengambil. Kamu kan lagi sakit, sudah tahu kamu lagi sakit masih saja suamimu menyuruhmu melayaninya. Apa selama ini kamu pernah melihat Papa menyuruh Mama melayaninya saat Mama sedang sakit? Belum pernah kan? Papa memang tegas tapi dia begitu menghargai perempuan. Mama tidak ingin mendengar ada kata kekerasan dalam rumah tangga anak Mama. Meskipun kamu tiba-tiba membenci istrimu, setidaknya kamu jangan menyakiti lahir dan batinnya." Cerocos Citra.
David langsung diam setelah mendengarkan apa yang dikatakan Mamanya. Karena ia merasa ada benarnya juga, selama ini ia memang belum pernah melihat Papanya sekalipun bersikap kasar pada Mamanya. Padahal yang dia tahu, Papanya akan bertindak kasar jika dalam bisnisnya ada yang curang.
"Iya David, ambil sendiri!" Ucap Hardi seraya melangkah menuju dapur.
David terus terngiang dengan apa yang dikatakan Mamanya. Walaupun hatinya memang tidak menyalahkan seratus persen pada Sea, tetapi egonya terus saja merongrong agar ia memberikan pelajaran pada gadis itu.
"Ingat ya Sea, kalau sampai David melakukan hal kasar sama kamu, kamu tidak usah takut untuk bilang sama Mama ya!" Pesan Citra setelah kepergian Hardi ke dapur.
"Iya Ma, sepertinya Kak David sangat nurut dengan Mama." ucap Sea pelan karena takut jika suaminya mendengar perkataannya.
"Sebenarnya David itu anak yang penurut. Tapi entah dapat pengaruh dari siapa, dia menjadi sering seperti itu."
*****
Keesokan harinya keadaan Sea sudah membaik, Citra juga sudah pamit untuk kembali pulang pagi ini. Dan rencananya pagi ini Sea akan kembali memulai pekerjaannya sebagai asisten pribadi David sesuai dengan kesepakatan mereka. Sea bersikap masa bodoh dengan semua cibiran teman kerjanya. Ia sengaja seolah-olah menjadi tuli dengan semua ucapan yang mereka katakan. Ia akan berusaha ndablek dengan apa yang sudah terjadi.
"Sea, bereskan barang-barangku sekarang. Dua jam lagi aku terbang ke Jepang. Arda yang akan mengawasimu selama aku pergi." David bicara tanpa menatap Sea, fokus pada layar komputernya.
"Baik, Pak," jawab Sea, berusaha menyembunyikan getar dalam suaranya. "Saya permisi."
Belum sempat Sea berbalik, David sudah menekan tombol di remote. Pintu terkunci rapat, tirai jendela otomatis menutup, membuat ruangan menjadi gelap dan sunyi. Sea menelan ludah, jantungnya berdegup kencang.
David menarik Sea mendekat, mencengkeram lengannya kuat-kuat. "Aku pergi seminggu. Kau harus memberiku 'bekal' yang cukup. Kau tahu apa yang kumau." Bisiknya kasar di telinga Sea, tangannya mulai membuka paksa kancing blus Sea.
"Kak, ini kantor... Jangan disini," mohon Sea, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak ada waktu," desis David, matanya berkilat penuh nafsu. "Aku butuh kau sekarang!"
David mencium Sea dengan kasar, melumat bibirnya seolah ia adalah mangsa yang sudah lama diincarnya. Tangannya meremas tubuh Sea tanpa ampun, seolah ingin menghancurkan setiap inci kulitnya. Tanpa menunggu lebih lama, David merobek pakaian Sea, meninggalkan kain-kain compang-camping di lantai. Ia tidak peduli, yang ia inginkan hanyalah memuaskan nafsunya.
Setelah selesai dengan brutal, David menarik Sea dengan kasar. "Cepat, ikut aku!" serunya, menyeret Sea menuju kamar pribadinya.
"Kak, tunggu! Kemejaku robek," keluh Sea, berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang.
David mendengus. "Pakai saja kemejaku. Tapi setelah itu, buang! Aku tidak sudi memakai bekasmu."
Sea menatap David dengan nanar. "Kau ini aneh, Kak. Tidak mau memakai bekas pakaianku, tapi tidak jijik menyentuh tubuhku."
David menyeringai. "Itulah bedanya dirimu dengan pakaian. Tubuhmu bisa kupakai sesuka hatiku, tapi pakaianmu... menjijikkan!"
"Astaghfirullah kak. Sebenarnya apa salahku hingga membuatmu begitu membenciku? Apa rasa cintamu padaku dulu sudah tak bersisa sedikitpun? Ternyata tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu. Aku harus segera mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Cepat atau lambat, kau akan menyesal telah memperlakukanku seperti ini, David." Sea membatin dengan geram. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan membalas semua perlakuan David.
David keluar dari kamar mandi dengan wajah masam. Ia menghampiri pintu yang diketuk tanpa henti. "Siapa sih yang kurang ajar?!" bentaknya sambil membuka pintu.
"Ma-maaf, Pak," karyawan wanita tergagap ketakutan.
"tadi ada yang datang mencari Bapak, tapi karena Bapak lama sekali, beliau pergi."
"Memangnya penting sekali sampai harus mengganggu?!" David membentak karyawan, membuat gadis itu semakin pucat.
Arda muncul di ambang pintu, memasang wajah penasaran. "Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?"
"Lihatlah kelakuan sekretarismu ini! Tidak punya sopan santun!" David menunjuk si wanita dengan kasar, lalu berbalik masuk ke dalam kamar.
karna cerita anda sama dengan orang lain yg judulnya istri kecil sang pewaris cuma yg beda cm nama tokohnya...klu gak percaya cb cek dia udah ada bab 2 hargailah karya orang tor ...
jangan asal ketik kasihan orang yg udah mikir2 eh gak tau udah d jiplak