Seorang mafia kelas kakap, Maxwell Powell nyaris terbunuh karena penghianatan kolega sekaligus sahabatnya. Namun taqdir mempertemukannya dengan seorang muslimah bercadar penuh kharisma, Ayesha, yang tak sengaja menolongnya. Mereka kemudian dipersatukan oleh Allah dalam sebuah ikatan pernikahan gantung karena Ayesha tak ingin gegabah menerima lamaran Maxwell terhadapnya. Kehidupan seorang muallaf dengan latar belakang kehidupan gelap seorang mafia mengharuskan sang gadis muslimah yang nyaris sempurna ini harus menguji dulu seberapa mungkin mereka kelak bisa membangun rumah tangga Islami yang seutuhnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurliah Ummu Tasqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Minum Obat
Ayesha segera mengambil ponselnya dan menelpon dr Anne yang saat ini sebenarnya masih ada di teras berbincang-bincang dengan yang lainnya.
"Hallo dr Anne. Suamiku mendadak demam tinggi. Aku sudah mengompresnya namun belum sempat memberi obat dia sudah tertidur dan menggigil. Bagaimana cara memberikan dia obat? Dan aku tidak bisa menyelimutinya karena itu tidak baik bukan?"
"Berapa suhu badannya?"
"Sepertinya 40 derajat. Panas sekali"
Ayesha nampak sangat cemas dan gugup.
"Apakah engkau tidak perlu kemari dan menyuntiknya?"
"Dia sepertinya hanya butuh istirahat dan pelukan hangat istrinya saja...dan soal obat, ambillah yang dalam bentuk sirup. Engkau bisa memberikannya lewat mulutmu Ayesha sayang...."
"Hallo...."
Ayesha terhenyak mendengarkan tips dari dr Anne, ia sama sekali tak menyangka demikian. Apakah sahabatnya itu hendak mengerjainya?"
Gadis cantik itu akan menelpon kembali dr Anne, tapi terdengar kembali igauan Maxwell yang terdengar lebih kepada rintihan kesakitan.
Aku tak punya waktu lagi. Pikir Ayesha. Ia segera mengambil botol syrup untuk demam dan mengulum sesendok di mulutnya. Lalu dengan risih dan malu ia masukkan obat cair itu ke mulut suaminya lewat mulutnya. Diulanginya hingga dua sendok. Lalu yang ketiga kali diambilny air putih hangat dan diberikan ke suaminya lewat cara yang sama.
Oh ya Allah, apakah ini diriku? My hubby, ternyata kali ini aku yang lebih dulu melakukannya. Ayesha mendesah pelan. Hatinya sedikit lega ketika melihat Maxwell lebih tenang. Perlahan Ayesha naik ke atas ranjang setelah memastikan pintu kamar terkunci dan lampu utama dimatikan. Pelan ditariknya tubuh suaminya ke tengah dan dengan risih dan penuh rasa malu, ia peluk erat suaminya untuk memberikan kehangatan. Tak lama mungkin karena kelelahan juga akhirnya ia tertidur bersama suaminya yang kini perlahan sudah tidak merintih lagi. Keduanya tidur dengan tenang tanpa menyadari ada sedikit rasa yang sudah mulai tumbuh dalam hati Ayesha. Rasa peduli dan sayang pada suaminya ynag sudah lebih dahulu jatuh cinta dan mengagumi istrinya.
Sementara di sudut lainnya, seorang wanita cantik nampak tersenyum membayangkan apa yang terjadi di sebuah kamar pengantin.
Ayesha, aku tahu bahwa kalian masih nikah gantung, tapi itu bisa dipercepat untuk segera menjadi pernikahan yang seutuhnya bukan? Entahlah, aku yakin lelaki dengan masa lalu yang kelam itu akan bisa menjadi imam yang baik kelak bersamamu. Tentu saja, dengan cintamu itu akan lebih cepat membuat pria itu seutuhnya menjadi lelaki yang baik. Gumam dr. Anne dalam hati.
Keesokan paginya, sebelum azan subuh berkumandang, Maxwell terbangun lebih dulu. Entahlah biasanya Ayesha akan cepat terbangun untuk menjalankan ibadah sunnah di sepertiga malam terakhir namun kali ini didahului oleh Maxwell suaminya.
Pria itu nampak bingung. Ia belum sadar sepenuhnya sedang berada dimana dan bersama siapa. Ketika hendak beranjak bangun, barulah ia sadar bahwa ada tubuh lain yang tangannya sedang memeluk erat tubuhnya seakan tidak hendak melepaskannya. Maxwell lantas tersenyum. Ia pun teringat kejadian kemarin malam. Ia demam tinggi dan merasa sangat kedinginan dan selanjutnya ia tak ingat apapun. Mungkin ia tertidur dan istrinya memeluknya untuk mengahangatkan tubuhnya. Oh istriku yang cantik, tetaplah seperti ini. Aku ingin berlama-lama merasakan pelukanmu dengan sadar, tidak seperti kemarin malam, aku sangat rugi tidak merasakan hangat pelukmu karena tidak sadar. Pria tampan itu sedikit mengangkat wajah istrinya yang masih setia dengan jilbab putihnya. Ia terus menikmati wajah cantik di depannya sambil terus tersenyum bahagia.
"Aku tidak akan pernah melepasmu. Aku ingin terus bersamamu. Engkaulah jodohku. Semoga Tuhan mentaqdirkan kita menjadi pasangan hidup yang seutuhnya. Ah, sampai kapan engkau akan menutupi kecantikan tubuhmu ini dariku suamimu? Tapi aku akan terus bersabar sayang. Aku tidak akan melanggar janjimu. Sampai suatu saat dengan senang hati engkau sndiri yang menyerahkan dirimu seutuhnya pada suamimu yang tampan ini", lirih Maxwell sambil terus membelai kepala istrinya.
Ayesha sebenarnya sudah terbangun ketika Maxwell perlahan mengangkat wajahnya ke arahnya. Tapi ia malu untuk bangun. Ia tidak punya keberanian saat ini berhadapan dengan suaminya. Ia teringat bahwa semalaman sudah memeluk pria itu dan pastinya saat ini Maxwell sudah memandangnya dengan penuh rasa aneh, karena gadis di depannya sudah bertindak agresif. Apalagi jika pria itu menyadari bahwa semalam ada mulut lain yang sudah dengan lancang memaksa masuk ke dalam mulutnya. Ah, Ayesha tak sanggup membayangkannya. Jika sampai Maxwell tahu....Blush. Tanpa ia sadari pipinya yang merah telah tertangkap oleh pandangan Maxwell yang kemudian mengernyitkan dahi.
"Hei, aku tau engkau sudah bangun honey...ayolah, jangan berpura-pura. Engkau tidak perlu malu. Bukankah aku suamimu?"
Ayesha spontan membuka matanya dan langsung bangkit untuk duduk, namun dicegah oleh Maxwell.
"Tetaplah begini dulu. Beberapa menit lagi, please!"
"Aku ingin ke kamar mandi hubby..."
"Sebentar saja..."
Ayesha pun terdiam. Dia pun menikmati pelukan hangat suaminya. Dia bisa merasakan ada kasih sayang di sana. Dan tunggu, suhu tubuh Maxwell sudah tidak sepanas semalam. Ia pun merasa lega. Teryata benar yang dikatakan dr Anne. Dia tidak mengerjaiku. Pikirnya.
"Sudah ya hubby...aku tidak ingin kehilangan waktu untuk sholat tahajjud. Sebentar lagi subuh. Bukankah masih ada waktu-waktu berikutnya untuk memeluk istrimu ini?"
"Baiklah...pergilah... Terima kasih sudah memberikan yang kumau"
"Memberi apa", Ayesha mengernyit heran.
"Bonus pelukan"
"Aku bahkan memeluk hubby sepanjang malam hingga badanku terasa pegal semua"
"Aku akan memijitmu untuk mengurangi rasa pegalnya. Bagaimana?"
"Ah tidak. Aku tidak biasa dipijit, nanti dengan berolah raga Insyaa Allah akan segera pulih. Hubby rest aja karena hubby belum pulih."
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih honey. Terima kasih juga atas pertolongau sebelum memelukku semalam"
"Apa?"
"Aku tidak salah bukan? Siapa yang memberikan aku obat jika bukan dirimu?"
"Jadi hubby tau?"
"Tentu saja. Walau mungkin tidak sadar, tapi akua yakin pasti my wife yang sudah memberikanku obat"
"Jadi hubby juga tahu..."
"Tahu...?"
"Oh No..."
Ayesha sontak bangkit dan bergegas ke kamar mandi sambil meraih handuk dan baju gantinya dengan cepat. Segera ditutupnya kamar mandi dan menguncinya. Hatinya sudah bergemuruh merasakan malu tiada tara. Ah, semoga dia tak tahu apa yang ku lakukan dengan obat itu. Ah dr Anne. Aku tahu kau pasti mengerjaiku. Mengapa aku begitu polos jika menyangkut Maxwell? Hatinya mendesah. Sambil mandi ia terus terbayang perbuatannya semalam.
Sementara itu Maxwell yang masih menyandarkan punggungnya di ranjang masih tersenyum sendiri dan tanpa sadar menyentuh bibirnya. Ia masih bisa merasakan sisa rasa manis syrup di tenggorokannya. Aku tak tahu apa yang kau lakukan Ayesha ku sayang. Tadi aku benar-benar hanya ingin berterima kasih padamu. Tapi melihatmu salah tingkah dengan sikap menahan rasa malu tadi, aku yakin bahwa obat itu engkau berikan tidak dengan cara biasa bukan? Maxwell kembali tersenyum bahkan tertawa membayangkan wajah blush istrinya tadi.
/Pray//Pray//Pray/