Kejadian pada masa lalu diramalkan akan kembali terjadi tidak lama lagi. Tuan kegelapan dari lautan terdalam merencanakan sesuatu. Enam sisi alam dunia mitologi sedang dalam bahaya besar. Dari seratus buku komik yang adalah gerbang penyebrangan antara dunia Mythopia dan dunia manusia tidak lagi banyak yang tersisa. Tapi dari sekian banyak kadidat, hanya satu yang paling berpeluang menyelamatkan Mythtopia dari ramalan akan kehancuran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Class Duel (Part 1)
Pertandingan duel antara lima alam baru saja akan dimulai. Di pagi itu akan ada beberapa tantangan yang harus dilakukan oleh para murid akademi. Guru-guru dari setiap kelas juga hadir membimbing dan mengawasi jalannya pertandingan duel.
Semua tantangan duel melibatkan ketangkasan. Asterion sangat berantusias.
-Pertama... Akan diadakan duel adu pedang.
-Kedua... Akan diadakan duel lari tercepat.
-Ketiga... Akan diadakan duel kemampuan sihir.
-Dan Keempat adalah yang terlahir... Akan diadakan duel yang harus merebut bendera yang sudah di tancapkan di tempat yang sangat tinggi. Mereka harus memanjat balok-balok pijakan yang terus bergerak berpindah. Dan dari semua itu mereka akan melakukannya per tim berisi tiga anggota.
Buk!
Melody tersungkur. Medeina sengaja menyenggolnya dari belakang ketika dia dan lainnya berjalan cepat melalui Melody.
Sehabis dia menyenggol Melody, Medeina terlihat tetap melanjutkan langkahnya seakan tidak ada yang terjadi. Dia pura-pura cuek. Yang lainnya yang berjalan bersama Medeina juga tidak ada inisiatif untuk menolongnya. Siera dan Heqet hanya sempat menatapnya sambil lalu.
Padahal mereka satu kelas Underground bersama Melody. Tapi itulah resiko menjadi murid baru.
"Butuh bantuan?!" Rebeca menawarkan bantuan. Membantu Melody berdiri. Dan mereka bersama melanjutkan ke tempat pertandingan duel akan dimulai. Di luar lapangan akademi mereka.
Sudah berkumpul dalam grub setiap kelas di sana... Mereka saling memandang yang lain dengan tatapan mengintimidasi. Dari setiap kelas saling melempar raut wajah yang macam-macam.
Vanessa menarik lebar mulutnya lalu memelet. Dan Medeina menggeram serigala. Balas mengintimidasi.
Terkecuali Melody dan Abigail. Walaupun mereka dari kelas berbeda, tapi mereka saling menyapa ketika sudah berkumpul di sana. Dan Abigail duluan menyapa_ melambai cepat kepada Melody.
Beberapa yang lain yang menyadari kode sapaan mereka hanya cuek menggeleng.
"Semuanya bersiap! Masing-masing ketua kelas memilih dua lainnya yang akan ikut berduel," Seru Asterion. Dan mereka mulai memilih.
Dari kelas Mermaid atau Merman, Delphine memilih Austin dan Slone. Dari kelas Peri, Asha memilih Embun dan Luna. Lalu dari kelas Penyihir, Exel memilih Samuel dan Genevieve. Dari kelas Bangsawan, Richard memilih Julian dan Eric. Dan dari kelas Underground, Misha memilih Hank dan Barry untuk menjadi satu timnya.
Dan duel pun dimulai. Peraturannya... Siapa saja yang jatuh sekali saja, mereka akan dianggap kalah. Begitu juga sampai ada orang dari tim terakhir yang masih bertahan.
Tim dari kelas Mermaid dan Peri yang akan saling bertarung lebih dulu.
Memicu jimat berupa liontin mereka, "By The Goddess Of The Sea, Let the power of ocean spirit reign inside our heart, once and for all !" Delphine, Slone, dan Austin berubah ke tampilan siap bertarung. Seragamnya berganti ke penampilan dengan ciri khas lautan. Tapi tetap dengan kedua kaki mereka. Dan masing-masing dari liontin mereka berubah menjadi senjata Trisula.
"In The Beauty Of Nature, as long as our wings are never to be broken, no destruction will rain down on our land !" Tim dari kelas Peri juga lalu berubah. Asha, Embun, dan Luna memicu tongkat bunga mereka untuk berubah. sedikit lapisan zirah melindungi tubuh mereka. Dan tongkat bunga mereka berubah menjadi tombak kristal.
Kedua tim siap!
Mereka berusaha menunjukan kemampuan yang selama itu sudah dipelajari di kelas masing-masing.
Dan Oya! Mereka juga tidak diizinkan menggunakan sihir mereka dalam duel adu pedang itu. Jadi mereka hanya boleh memanfaatkan teknik kelihaian mereka dalam menggunakan senjata, juga kelincahan gerakan.
Asha tidak memilih setidaknya satu pria di timnya itu karena kelas mereka memang tidak memilikinya. Satupun tidak ada! Semua murid di kelas Peri adalah wanita. Untuk sekarang belum ada satupun pria dari alam Peri yang berantusias menjadi bagian dari akademi. Mereka lebih memilih belajar bertarung secara privat dengan ayah atau Ibu mereka yang pernah berpengalaman menjadi seorang prajurit atau kesatria. Bahkan dari dunia Manusia pun sampai sekarang belum ada pria yang ditakdirkan masuk dalam kelas alam Peri.
Tapi walaupun mereka semua wanita, mereka cukup pandai dalam hal bertarung. Mengusai langit dan daratan. Sedangkan kaum Mermaid dan Merman menguasi Laut dan daratan. Mereka sama-sama mewakili satu wilayah. Jadi pertarungan mereka cuku sengit.
Sampai akhirnya yang masih bertahan berdiri dari kelas Peri hanyalah Asha seorang. Sedangkan dari Kelas Mermaid atau Merman masih tersisa dua yang masih berdiri. Delphine dan Slone.
Seorang yang pria yaitu Austin merasa kalau hari itu adalah hari yang sial baginya. Bagaimana tidak?! Ketiga anggota dari tim Peri semuanya ternyata sudah berencana mengincar Austin terlebih dahulu sejak awal. Dia dikeroyok_ Satu lawan tiga. Yang membuatnya lengah dan kalah kesigapan.
Ya walaupun tim Mermaid kehilangan Austin, akan tetapi Asha dari tim peri yang terakhir hanya bisa bertahan selama dua menit di tengah pertarungan. Dia sudah terlalu lelah.
Terjatuh terkapar... Dua trisula menodong ke arah wajahnya. "Aku pikir kami menang!" Delphine tersenyum.
"Jika ini duel kecepatan terbang, kita berdua tahu siapa yang akan menang," Ucap Asha, sambil dibantu berdiri oleh Delphine.
"Aku tidak bisa membantah itu," Jawab Delphine.
Antara Mermaid atau Merman dan Peri sudah selesai. Pemenangnya dari kelas Mermaid. Lalu selanjutnya dari tim jelas Penyihir yang akan melawan kelas Bangsawan.
Memunculkan masing-masing jimat berupa tongkat sihirnya, "Defending the innocent is our destiny! and in order to bring peace to the world, sacrifices will be necessary !" Exel, Samuel, dan Genevieve berubah dalam siap bertarung. Dan masing-masing dari tongkat sihir mereka tetap tongkat sihir. Karena itulah senjata utama mereka. Tapi mereka mungkin tidak menggunakan sihirnya... Sesuai peraturan yang para guru buat.
"When the sword is drawn, when the armor shines under the light of justice, no evil will be allowed to stand one step ahead !" Tiga murid dari kelas bangsawan pun berubah. Richard, Julian, dan Eric merubah jimat pun kehormatan kerajaan mereka menjadi pedang.
Kedua tim pun siap bertarung. Sesuai aba-aba dari Asterion... mereka melesat maju ke lawan mereka. Senjata mereka saling beradu.
"Kita bersaudara. Tapi jangan berharap aku akan mengalah kepadamu," Ucap Richard kepada Exel. Mereka saling beradu dan menahan dorongan pedang dan tongkat sihir.
"Aku memang mengharapkan itu!" Balasnya. Exel lalu menendang Richard menjauh.
"Auh!" Eric terjatuh di waktu dua menit pertarungan. Dia sampai terpental cukup jauh dan terkapar di dekat wilayah murid-murid lain yang sedang menonton. Kepalanya diujung kaki Melody.
Mengusap-ngusap kepalanya yang sakit, "Oh Hai!" Menatap Melody yang juga menatapnya yang berada di ujung kakinya. Eric tersenyum dan tertawa canggung kepada Melody.
"Sepertinya aku kalah," Ucapnya lagi. Dan Melody hanya menunduk menatapnya datar dengan senyum miring yang samar-samar.
Lebih dari lima menit berlalu... Duel akhirnya dimenangkan dari kelas Bangsawan. Bukan berarti kaum dari kelas penyihir payah atau tidak terlatih. Tapi itu karena salah satu dari mereka melakukan hal curang.
Samuel ketahuan menggunakan sihirnya untuk membuat tongkat sihirnya bergerak sendiri. Dan dia tinggal memegangnya_ mengikuti gerakan dari tongkat sihirnya. Dia juga sampai membuat teman timnya sendiri yaitu si Genevieve pingsan karena tanpa disengaja terkena serangan ayunan tongkatnya yang mulai semakin tidak terkendali.
Karena aksi curangnya... Tim dari kelas penyihir di diskualifikasi dari pertarungan. Dan duel dimenangkan pihak kelas Bangsawan.
Kelas-kelas lain menyerukan jelek kepada mereka. Dan Eric si ketua kelas mereka sendiri sampai menceramahinya. Padahal situasinya tadi, sebenarnya kelas penyihir sedang cukup unggul.
"Ini sudah keberapa kalinya, Sobat!" Berhentilah melakukan itu!" Exel kecewa. Dan Samuel hanya terdiam di hadapannya. Tapi setelah Exel berjalan pergi melaluinya... mulut Samuel samar bergerak meniru ocehannya.
"Demi ceker ayam rumahku, Samuel!! Jika kau ingin curang lakukanlah dengan benar!!" Sumpah serapah dari Baba Yaga. Menggerak palu kan tangannya tinggi-tinggi dari sisi para guru yang menyaksikan.
Mendengar sumpah serapah Baba Yaga tadi, beberapa murid wanita dari setiap kelas menertawainya. Bahkan Asterion pun juga ikut tertawa.
"Uuh! Apa yang terjadi?! Apa yang baru saja kulewatkan?! Genevieve baru bangun tersadar sambil memegang kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...