Elora punya mimpi sederhana, ingin menjadi perawat dan menikah dengan pria impiannya. Bukan dari lelaki kaya, namun lelaki yang mencintainya sampai maut memisahkan. Namun impian Elora kandas saat pamannya tanpa pertimbangan apapun mengirim Elora ke Spanyol untuk menaklukan sang pewaris kekayaan keluarga Gomez sesuai dengan wasiat mamanya sebelum ia meninggal. Elora terkejut karena sesampai di Spanyol, ia harus bersaing dengan banyak perempuan yang juga punya misi yang sama, menaklukan sang pewaris. Apakah Elora bisa melaksanakan misi almarhumah mamanya? Akankah ada cinta sejati baginya di Spanyol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Es cream
Acara makan malam bersama keluarga Anna sudah selesai. Anna memutuskan untuk tinggal saja di kota untuk persiapan pernikahan yang akhirnya akan dilakukan di kota dan bukan di perkebunan.
"Kamu tak ingin tinggal di sini? Ada kamar yang disiapkan untuk kamu." kata Anna dengan wajah penuh permohonan saat Enrique pamit untuk pulang.
"Ada banyak hal yang harus aku selesaikan sebelum tanggal pernikahan kita, Anna."
Anna melingkarkan tangannya di lengan Enrique. "Kalau begitu jangan dulu pulang."
"Sekarang sudah jam 9 malam. Kamu kan tahu rawannya jalan ke perkebunan karena penembak itu masih berkeliaran."
"Kamu nggak akan menemui Elora kan?" Anna menatap Enrique dengan tajam. Enrique berusaha menahan emosinya. Ia mulai kesal dengan sikap Anna yang kita selalu ingin tahu kalau dia ada di mana. Pada hal ia memilih Anna dibandingkan Cecil karena Anna pendiam. Sedangkan Cecil sedikit cerewet.
"Kamu tahu kalau aku tak suka diatur kan? Jadi perbaiki sikapmu, Anna. Karena aku butuh istri yang penurut bukan yang mengekang. Aku kan sudah katakan padamu, kalau aku hanya membantu Elora. Jika mamaku tahu kalau Elora masih di sini, maka aku pastikan pernikahan kita akan batal." kata Enrique sebelum akhirnya pergi. Anna terlihat menarik napas panjang. Ia sudah tahu sikap dingin Enrique sejak awal. Seharusnya memang dia tak memaksakan diri untuk menjadi sok manja pada Enrique.
Tizza dan suaminya menaiki mobil yang lain bersama sopir dan 2 orang pengawal.
"Ma, aku tidak pulang ke perkebunan ya?" ujar Enrique saat mengucapkan selamat malam pada mamanya di mobil.
"Kanapa sayang? Bukankah tadi saat makan malam kamu bilang ingin pulang ke perkebunan?"
"Aku hanya ingin menenangkan diri, ma. Sebenarnya aku sedikit kesal dengan sikap Anna. Kalau Anna telepon dan menanyakan aku, tolong katakan kalau aku sedang sibuk." Enrique mencium pipi mamanya sebelum akhirnya menuju ke mobilnya.
Willy sudah menunggunya di balik kemudi. Keduanya pun pergi diiringi tatapan mata kecewa dari Anna. Wanita itu memegang perutnya yang terasa sakit. Ia memang merasa ada yang aneh dengan dirinya semenjak peristiwa penembakan itu.
***********
Enrique menurunkan Willy di apartemennya. "Nanti besok kita ketemu di kantor. Kalau Anna menelepon mu, katakan kalau kamu tak bersamaku."
"Mau menemui Elora?"
Enrique mengangguk. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Willy. Lelaki itu merasa khawatir karena tadi Anna menampar Elora. Ia hanya ingin melihat keadaan Elora sebelum menuju ke kantornya untuk tidur di sana.
Pukul 10 malam, Enrique tiba di apartemen. Ia segera memasukan password di pintu untuk membuka pintu. Ruangan tengah nampak gelap namun Enrique mendengar ada aktivitas di dapur. Ia segera ke sana dan melihat Elora yang nampak sedang memasak sesuatu namun sambil memegang perutnya.
"Ada apa, El?"
Elora menoleh dengan kaget. "Kamu selalu mengejutkan aku saat berada di dapur."
Entah mengapa Enrique ingin tertawa melihat ekspresi wajah Elora yang ketakutan. "Kamu mau makan?"
"Aku ingin buat sup. Perutku agak sakit."
"Perutmu sakit?" Enrique segera mendekat. "Duduklah. Nanti aku yang teruskan. Ini hanya tinggal menunggu makaroninya lembut saja kan?"
Elora mengangguk. Ia memang merasa agak lemah malam ini. Sebenarnya tadi dia ingin menelepon art yang biasa menemaninya namun ia merasa masih bisa mengatasinya.
Setelah Elora duduk di depan meja pantry, Enrique pun melanjutkan memasak sup.
5 tahun kuliah di luar negeri membuat memasak bukankah hal yang baru bagi Enrique.
Tak sampai 5 menit, sup itu sudah selesai. Enrique segera menuangkannya di atas sebuah mangkok dan menyajikannya di depan Elora.
"Kamu ingin ku buatkan teh?" tanya Enrique.
Elora menatap Enrique. "Kok aku ingin makan es cream rasa coklat dan vanila ya?"
"Malam-malam seperti ini? Tapi kan perutmu sedang sakit, El?"
"Ingin saja."
"Ya sudah, aku belikan. Di bawa ada sebuah minimarket yang buka 24 jam. Semoga ada es cream rasa vanila dan coklat. Tapi aku telepon dokter Pedro dulu ya?" Enrique menelepon Pedro. Ia bertanya Masalah Elora yang sakit perut.
"Pedro mengatakan kalau kamu jangan banyak berjalan dulu. Aku ke bawa belikan es cream." kata Enrique sebelum meninggalkan Elora.
Hati Elora bergetar. Entah mengapa perhatian Enrique menenangkan hatinya.
Selesai makan sup, Elora merasakan perutnya sedikit enak. Ia pun mencuci peralatan makannya lalu menunggu Enrique sambil duduk di atas sofa. Tak lama kemudian Enrique datang. Ia membawa beberapa macam merk es cream dengan rasa coklat dan vanila.
"Sup nya sudah habis?" tanya Enrique lalu duduk di samping Elora.
"Ya."
"Pilihlah mana yang mau kamu makan. Tapi jangan banyak-banyak ya? Kamu kan sedang sakit perut."
Elora hanya terkekeh. Ia membuka plastik yang berisi es cream. Gadis itu langsung membuka satu es cream cup yang rasa coklat.
"Enak.....!" kata Elora.
"Seenak itu?"
"Ya. Memangnya kamu biasa makan es cream rasa apa?"
"Aku nggak suka es cream. Aku tak suka sesuatu yang manis."
Elora terkejut mendengarnya. "Masa sih? Waktu kamu kecil?"
"Tidak juga."
"Anak kecil mana sih yang nggak suka es cream?"
"Aku memang tak suka manis."
"Ayo rasakan."
"Aku nggak mau!" tolak Enrique sambil mendorong tubuhnya ke belakang.
"Aku ingin kamu memakannya. Mungkin juga ini keinginan jabang bayi." ujar Elora sambil menahan senyum. Sebenarnya dia hanya ingin mengerjai Enrique. Ia merasa aneh kalau ada orang yang seumur hidupnya tidak pernah makan es cream.
"Benar?"
"Aku pada dasarnya tidak suka memaksa orang. Aku juga heran kenapa sekarang ini ingin melihat kamu makan es cream."
Enrique nampak ragu. Namun saat memikirkan kalau ini keinginan sang jabang bayi, hatinya jadi tersentuh. "Baiklah."
"Kamu mau rasa apa?" tanya Elora sambil membuka kembali kantong plastik yang berisi es cream.
"Vanila saja."
Elora menyerahkan satu cup es cream rasa vanila.
Enrique membukanya dengan pelan. Ia tak tahu bagaimana rasa es cream karena memang sejak kecil Enrique alergi susu.
"Ayo....di makan!" kata Elora terlihat kurang sabar.
Enrique mengambil sendok kecil itu dan mulai memasukan es cream ke mulutnya. Awalnya ia agak geli. Enrique juga sebenarnya tak terlalu suka dengan sesuatu yang dingin.
"Bagaimana ?" tanya Elora penasaran.
"Enak." kata Enrique lalu memasukan lagi suapan yang kedua di mulutnya.
Jadilah keduanya makan es cream di malam itu. Enrique menghabiskan 2 cup sedangkan Elora 3.
"Aku simpan sisanya di kulkas ya?" kata Enrique lalu segera ke dapur. Ia memasukkan es cream itu ke dalam kulkas lalu mencuci tangannya. Lelaki itu merenung sejenak. Ia sendiri kaget mau mengikuti keinginan Elora untuk memakan es cream itu.
"Elora, ini sudah hampir jam 1. Kamu belum mengantuk?" tanya Enrique.
"Tadi sore aku tidur dari jam setengah empat sampai jam 8 malam. Makanya sekarang belum mengantuk. Kamu pergilah. Aku tak apa sendirian."
Enrique merasa hatinya tak tega melihat Elora sendiri. Ia kemudian mengeluarkan papan caturnya. "Aku akan menemani mu sambil bermain catur."
"Ayo kita main bersama."
"Memangnya kamu tahu?"
"Kalau aku menang 3 kali darimu, maukah kamu memberitahukan password pintunya? Aku bosan sendirian. Terkadang ingin juga jalan-jalan keluar. Aku janji tak akan lari. Pasport ku kan ada padamu."
Enrique diam sejenak. Ia kemudian mengangguk. "Baiklah. Kalahkan dulu aku main catur."
"Atur saja bidaknya." kata Elora dengan penuh keyakinan. Sewaktu SMA, Elora selalu menjuarai pertandingan catur antar sekolah. Ia bahkan pernah mengikuti turnamen catur tingkat nasional dan meraih juara 3. Hampir setiap malam, Elora dan pamannya bermain catur karena Elora tak pernah diijinkan keluar malam dengan teman-temannya.
"Kalau aku menang, kamu jangan ingkar ya?" ujar Elora saat semua bidak sudah berada di tempatnya.
"Tenang saja, Elora. Aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji." kata Enrique dan mulai memulai permainan.
************
Dapatkah Elora mengalahkan Enrique?
masak mama nya pedro yg kerjasama sm istrinya elroy dan anna....
Nah kan tebak tebak buah manggis
bikin geregetan Mom's ☺️
lanjut thor 🙏
waduh 50 biji aja mantan dokter pedro...😂😂😂
astaga si penjahat bisa menemukan Elora... 😱😱😱
siapa yg menginginkan kematian elora??
ksh tahu donk thor 🫢🤭
gws mami....