NovelToon NovelToon
R²

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Caramels_

Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera

"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-

"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Kali ini ujian akhir sekolah dimulai. Karena kondisinya yang belum terlalu stabil, membuat Rissa mengerjakan lembar soal di ruang bernuansa putih dengan aroma alkohol di dalamnya.

Hari-hari Rissa di ruang isolasi terasa hampa. Dinding putih yang steril, aroma alkohol yang menyengat, dan deru mesin medis menjadi saksi bisu perjuangannya melawan penyakit dan menyelesaikan ujian akhir sekolah. Lembar soal ujian terasa berat, bukan hanya karena materi pelajaran, tetapi juga karena beban pikiran yang terus menghimpitnya.

Kehadiran Raka, kekasihnya, terasa semakin menjauh. Raka semakin jarang menjenguknya, ia pikir mungkin Raka sedang disibukkan oleh belajar dan persiapan masuk ke perguruan tinggi.

Ia memaklumi kesibukan Raka dalam mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi, namun jarang sekali Raka menjenguknya. Hanya pesan singkat yang sesekali datang, mengingatkannya untuk makan dan minum obat. Kata-kata manis yang dulu selalu menghiasi hari-harinya kini terasa hambar, seperti obat pahit yang harus ditelan.

Suatu siang, saat Rissa berjuang melawan rasa mual dan pusing untuk mengerjakan soal fisika, ponselnya berdering. Nomor Raka. Jantungnya berdebar, bukan karena bahagia, melainkan karena kecemasan. Ia ragu untuk mengangkatnya.

Akhirnya, dengan berat hati ia menjawab panggilan itu. "Halo," suaranya datar, tanpa semangat.

"Hai, Sayang. Gimana ujiannya? Susah?" Suara Raka terdengar ceria, sebuah keceriaan yang terasa menyakitkan bagi Rissa.

"Lumayan," jawab Rissa singkat, berusaha menahan air mata.

"Kamu lagi ngerjain soal apa sekarang?" tanya Raka, tanpa menyadari perubahan nada suara Rissa.

"Fisika," jawab Rissa, suaranya semakin dingin.

"Wah, itu susah nih. Kamu pasti bisa kok, Sayang. Aku percaya kamu pintar," kata Raka, masih dengan nada ceria yang terasa seperti ejekan bagi Rissa.

"Terima kasih," jawab Rissa, suaranya terdengar formal, seperti berbicara dengan orang asing. Kehangatan yang dulu selalu ada di antara mereka telah sirna.

"Aku lagi di perpustakaan, lagi belajar buat ujian masuk universitas. Tapi aku sempetin nelpon kamu," kata Raka, bangga dengan pengorbanannya yang terasa kecil bagi Rissa.

"Baiklah," jawab Rissa, nada bicaranya menunjukkan ketidakpeduliannya.

"Kamu lagi sendirian?" tanya Raka.

"Iya," jawab Rissa. Keheningan yang terasa panjang menggantung di antara mereka.

"Kamu udah makan siang?" tanya Raka, mencoba memecah keheningan.

"Sudah," jawab Rissa.

"Minum obatnya juga ya, Sayang. Jangan sampai lupa," kata Raka, mengingatkan hal yang sudah berulang kali ia lakukan.

"Iya," jawab Rissa, nada suaranya menunjukkan rasa jenuh.

"Aku kangen banget sama kamu," kata Raka.

Rissa terdiam. Pernyataan itu terasa hampa, tidak ada lagi getaran emosi yang mampu menyentuh hatinya. Ia merasakan jurang pemisah yang semakin lebar di antara mereka.

"Aku juga," jawab Rissa, kata-kata itu keluar tanpa emosi.

"Besok aku mau jenguk kamu ya. Aku bawain makanan kesukaan kamu," kata Raka.

"Tidak perlu," jawab Rissa tegas, suaranya mengandung penolakan yang kuat.

"Kenapa, Sayang? Ada apa?" tanya Raka, nada suaranya mulai berubah cemas.

"Tidak ada," jawab Rissa. "Aku sibuk." Ia mengakhiri panggilan itu, meninggalkan Raka dalam kebingungan.

Air mata Rissa jatuh membasahi pipinya. Ia merasa lelah. Lelah berjuang melawan penyakitnya, lelah menunggu perhatian Raka, lelah dengan rasa cemburu yang masih menjalar di dadanya. Rasa sakit dan kecewa menguasai hatinya. Ia tak mampu lagi memaafkan Raka. Ia membutuhkan waktu, waktu untuk menyembuhkan luka hatinya yang tergores. Ia menutup matanya, membiarkan air mata mengalir bebas.

Saat Raka kembali menghubunginya beberapa hari kemudian, Rissa memilih untuk tidak menjawab. Ia memutuskan untuk fokus pada kesembuhannya, tanpa kehadiran Raka. Jarak yang tercipta di antara mereka bukan hanya jarak fisik, tetapi juga jarak hati yang semakin sulit untuk dijembatani.

...****************...

Sementara itu, di sekolah, Raka terlihat sibuk dengan buku-bukunya, menekuri rumus-rumus fisika yang rumit. Ujian masuk universitas semakin dekat, dan tekanan untuk berhasil begitu besar. Ia duduk di pojokan perpustakaan, dikelilingi tumpukan buku tebal. Pikirannya melayang pada Rissa, terbayang wajah pucatnya, aroma alkohol di ruang isolasi rumah sakit, dan tatapan kosongnya saat terakhir kali mereka berbicara. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Ia merasa telah gagal menjadi kekasih yang baik. Ia terlalu fokus pada ujiannya sendiri, terlalu terlena dengan ambisinya hingga mengabaikan orang yang paling ia cintai.

Dera, seorang teman sekelas yang juga teman Rissa, mendekati Raka. Ia memperhatikan Raka yang terlihat murung dan sibuk dengan buku-bukunya. Dera menyimpan rasa suka pada Raka, dan kesempatan ini terasa tepat untuk mendekat.

"Hai, Raka," sapa Dera, suaranya lembut.

Raka mendongak, menatap Dera sekilas, lalu kembali fokus pada bukunya. "Ya?" jawabnya singkat, suaranya datar, tanpa ekspresi.

"Kelihatannya kamu lagi sibuk banget, ya?" kata Dera, mencoba memulai percakapan.

"Iya, lagi belajar," jawab Raka, matanya masih tertuju pada buku.

"Aku bisa bantu, kok, kalau kamu butuh," tawar Dera, mencoba untuk lebih dekat.

Raka menggeleng pelan. "Tidak perlu, terima kasih," jawabnya, nada suaranya masih datar. Ia bahkan tidak menatap mata Dera.

Dera sedikit kecewa, namun ia mencoba lagi. "Mungkin aku bisa bantu ngerjain beberapa soal yang kamu bingungin?"

Raka kembali menggeleng. "Aku bisa ngerjain sendiri," katanya, suaranya sedikit lebih tegas kali ini. Ia berusaha bersikap sopan, namun jelas ia tidak tertarik untuk berlama-lama bercakap-cakap dengan Dera.

Dera menghela napas pelan. Ia menyadari bahwa Raka sedang tidak dalam kondisi yang baik. Pikirannya mungkin sedang terbebani oleh sesuatu. Ia mencoba tersenyum, meskipun hatinya sedikit terluka.

"Oke, kalau gitu. Semoga ujiannya lancar, ya," kata Dera, lalu beranjak pergi.

Raka hanya mengangguk kecil sebagai balasan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia kembali menekuni bukunya, namun pikirannya tetap terpaku pada Rissa. Ia merasa bersalah, merasa telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi kekasih yang baik. Ia menyesali kesibukannya yang telah membuatnya mengabaikan Rissa, dan Dera mengingatkannya pada kejadian dimana Rissa mengalami kecelakaan akibat kesalahpahaman antar mereka. Rasa bersalah itu semakin menghimpitnya, membuatnya semakin tertekan. Namun, ia pun harus tetap fokus untuk menghadapi ujian nantinya, sebab ada tanggung jawab besar yang dipanggul di pundaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
author
mampir back ya kak
author
keren ih alur nya
Caramels_: terimakasiihh
total 1 replies
tasha angin
Membuat terkesan
Caramels_: terimakasiihhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!