NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi dan Jalan Tengah

Sudah seminggu sejak pertemuan dengan bibinya. Meski belum sepenuhnya tenang, hati Cika mulai terasa lebih ringan. Ia kembali menjalani hari-hari di apartemen bersama Al dengan lebih tenang, lebih hadir. Tapi satu pertanyaan mulai tumbuh dalam dirinya: sekarang, setelah semuanya berubah, apa yang akan ia lakukan untuk dirinya sendiri?

Suatu sore, saat sedang membuka email, Cika menemukan balasan dari lamaran yang ia kirim sebulan lalu—tawaran pekerjaan dari startup literasi bernama AksaraKita. Perusahaan kecil yang fokus pada pengembangan minat baca anak-anak dan komunitas literasi di daerah.

Ia membaca kalimat demi kalimat dengan jantung berdebar:

“Kami tertarik dengan latar belakang dan semangat Anda. Kami mengundang Anda untuk bergabung sebagai Koordinator Program Wilayah Jakarta.”

Pekerjaan itu bukan hanya gaji. Tapi juga mimpi.

---

Malamnya, Cika menceritakan tawaran itu pada Al saat mereka duduk di balkon.

“Startup kecil, tapi fokusnya ke literasi anak. Kayak... sesuatu yang dari dulu aku suka.”

Al mendengarkan dengan saksama. “Aku senang kamu dapat kesempatan itu. Kamu mau ambil?”

Cika mengangguk pelan. “Mau. Tapi jam kerjanya nggak seperti kantor biasa. Bisa pagi, bisa malam. Kadang weekend juga dipakai untuk komunitas.”

Al terdiam sejenak. “Kalau itu membuatmu bahagia, aku nggak akan larang. Tapi... jujur aja, aku khawatir kita jadi jarang punya waktu berdua.”

Cika menatap mata suaminya. “Aku juga takut. Tapi aku nggak mau hidup cuma jadi bayangan kamu. Aku ingin punya ruang. Punya kontribusi yang bukan sekadar istri orang sukses.”

Al menggenggam tangannya. “Kita cari jalan tengah. Mungkin bukan berarti kamu harus mundur, atau aku yang menuntut waktu. Tapi kita belajar atur ritme. Nggak harus sempurna, asal kita saling tahu prioritas.”

---

Hari berikutnya, Cika datang ke kantor AksaraKita untuk bertemu langsung. Suasananya jauh berbeda dari gedung tinggi YukBelanja. Ruangan kecil, rak buku di mana-mana, anak-anak volunteer tertawa di sudut. Tapi hatinya langsung hangat.

Ia bertemu dengan Mbak Rina, pendiri startup tersebut. “Kami butuh orang yang bukan cuma bisa kerja, tapi juga punya hati buat ini semua. Kamu siap?”

Cika tersenyum. “Lebih dari siap.”

---

Saat malam tiba, Al sudah menunggu di rumah. Ia membantu Cika menggantung satu kalender besar di dinding ruang kerja kecil mereka.

“Buat jadwal kamu. Supaya kita tahu kapan kamu sibuk dan kapan kita bisa kabur sejenak,” katanya.

Cika tersenyum, menuliskan tanggal-tanggal penting. “Kamu tahu? Ini kayak mimpi. Bisa kerja, punya pasangan yang ngerti, dan tetap jadi diri sendiri.”

Al memeluknya dari belakang. “Dan aku punya istri yang bukan cuma cantik, tapi juga punya misi.”

---

Malam itu, mereka tidur dalam pelukan yang tenang. Bukan karena semua hal sudah sempurna, tapi karena mereka saling percaya bahwa kebahagiaan tidak harus seragam. Selama saling menguatkan, apa pun bisa dijalani.

Dan mimpi... bisa tumbuh berdampingan dengan cinta, asal keduanya dijaga bersama.

---

Akhir pekan datang bersama rencana kecil yang sempat tertunda. Setelah melewati minggu-minggu penuh penyesuaian, pekerjaan baru Cika, dan rutinitas Al yang kembali padat, mereka akhirnya punya waktu untuk melakukan sesuatu yang sudah lama ingin dibicarakan: mencari rumah.

“Rumah yang beneran, bukan apartemen,” kata Cika sambil menyuap sarapan ke mulut. “Yang punya halaman kecil, jendela besar, dan dapur yang bisa buat masak rame-rame.”

Al menatap istrinya dengan senyum tipis. “Yang kamu bayangkan dari dulu, ya?”

Cika mengangguk. “Bukan rumah besar. Tapi rumah yang bisa kita bangun bareng.”

---

Mereka menghabiskan hari itu melihat beberapa unit rumah di pinggiran kota. Perumahan dengan pagar putih, deretan tanaman di depan teras, dan suasana yang lebih tenang dari hiruk-pikuk pusat kota. Al tampak lebih banyak mengamati dibanding bicara, sementara Cika sibuk memotret detail yang ia suka: sudut baca, langit-langit tinggi, ventilasi silang.

Saat mereka tiba di rumah keempat—rumah sederhana bergaya tropis minimalis dengan halaman belakang mungil—Cika mendadak diam lama di pintu masuk.

“Ada yang beda dari rumah ini?” tanya Al.

“Entah kenapa... rasanya kayak bisa lihat masa depan di sini,” jawab Cika pelan.

---

Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, mereka berdiskusi soal anggaran, lokasi, dan kemungkinan renovasi. Untuk pertama kalinya, mereka bicara soal keputusan besar bukan sebagai dua individu, tapi sebagai satu tim.

“Kita nggak harus buru-buru,” kata Al. “Tapi kalau kamu merasa ini bisa jadi rumah kita... aku akan pertimbangkan serius.”

“Yang penting bukan seberapa luas, Mas. Tapi seberapa hangat. Aku cuma pengen rumah yang punya cerita kita dari awal.”

---

Beberapa hari kemudian, mereka kembali ke rumah itu. Membawa arsitek freelance untuk estimasi renovasi kecil. Sekat dapur bisa diubah jadi area terbuka, kamar belakang bisa dijadikan ruang kerja. Sederhana, tapi fleksibel.

Dan akhirnya, di hari Jumat sore yang tenang, mereka menandatangani surat pembelian. Rumah itu resmi jadi milik mereka.

---

Malamnya, di apartemen, Cika duduk di lantai ruang tengah sambil menggambar layout rumah baru di buku sketsanya. Al datang membawa dua gelas teh dan duduk di sampingnya.

“Sudah siap ninggalin apartemen ini?”

Cika mengangguk pelan. “Apartemen ini tempat kita belajar saling kenal. Tapi rumah itu... tempat kita membangun semuanya dari nol.”

Al memeluknya dari samping. “Kita mulai dari ruang tamu dulu, ya. Biar kamu bisa naruh rak buku impianmu.”

Cika tertawa pelan. “Dan dapur buat kamu nyoba resep aneh-aneh.”

---

Rumah memang bukan sekadar tempat berteduh. Tapi tempat di mana dua orang memulai sesuatu bersama. Tempat pertengkaran pertama, tawa pertama, bahkan mungkin tangisan pertama yang benar-benar menyatukan.

Dan bagi mereka berdua, rumah itu... adalah awal dari hidup yang benar-benar mereka pilih sendiri. Bukan kontrak. Bukan kebetulan. Tapi kehendak.

Rumah mereka. Cinta mereka. Cerita mereka.

Bersambung...

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!