Demi sebuah kekayaan dan ketenaran, wanita yang sudah berusia 28 tahun itu dengan tega menjual jiwa-jiwa orang yang tidak berdosa.
Bukan tak berdosa, hanya saja Kinan ingin membalas dendam atas sakit hati nya kepada penduduk kampung yang selalu menghina keluarga nya. Bahkan, ayah Kinan meninggal secara tragis di tangan kepala desa hingga membuat Kinan semakin yakin untuk membalas dendam.
Sangat mulus, ketika Kinan menumbalkan satu nyawa, maka harta kekayaan nya akan semakin bertambah. Namun, seiring berjalan nya waktu sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama.
Tanpa sengaja, seorang anak pemuka agama dari kota sebelah jatuh cinta pandangan pertama pada Kinan. Di mulai dari perkenalan itu lah yang membuat hidup Kinan perlahan menjadi hancur.
Jangan lupa baca karya aku ya😊😊
Jangan lupa juga Like Vote Rate and Coment terimakasih😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.Kedatangan Pandu
"Para warga sekalian, perkenalkan ustadz baru kita. Nama nya ustadz Pandu," kepala desa memperkenalkan Pandu dan juga Rizal di hadapan semua warga.
"Assalamualaikum warga sekalian, perkenalkan nama saya Pandu dan ini teman saya nama nya Rizal." laki-laki tampan ini memperkenalkan diri nya dengan senyum hangat di wajah nya.
Para warga menyambut antusias kedatangan Pandu, sebenarnya Pandu tidak ingin di panggil Ustadz.
"Tolong bimbing kami pak ustadz!" ucap salah satu warga. "Kami sudah bosan dengan masalah yang ada di kampung ini." timpal nya kembali.
"Sebelum nya, panggil saya pandu saja. Perihal menolong mari kita serahkan kepada Allah saja." ujar Pandu.
Pak Haris kemudian mengantar Pandu dan Rizal ke rumah yang akan mereka tempati. Pandu merasa jika kampung ini sedang tidak baik-baik saja. Sebagian warga nya lebih memilih mengunci pintu rumah mereka.
Setelah mengantar Pandu, pak Haris pamit pulang. Pandu menghempaskan tubuh nya yang lelah di atas sofa yang masih terlihat empuk itu.
"Kampung ini sepi juga ya." kata Rizal.
"Ada beberapa warga di kampung ini tidak beres. Menurut penglihatan mata batin ku, Kampung ini sudah di kuasai sosok yang mengerikan." ujar Pandu memberitahu. Rizal tidak terkejut, pria ini sudah biasa mendengar hal seperti itu.
Di rumah Kinan, Arka memberitahu kakak nya jika kampung telah kedatangan seorang ustadz yang sangat tampan. Kinan mulai penasaran, wanita ini tahu jika ustadz tersebut yang akan menjadi lawan nya. Karena sejak beberapa hari yang lalu Kinan mulai merasa gelisah di hati nya.
Malam kembali datang, Pandu dan Rizal pergi ke masjid terdekat. Tak banyak warga yang hadir, hanya beberapa orang saja yang melaksanakan sholat maghrib dan isya padahal mayoritas dari mereka adalah muslim.
"Jika di lihat, para warga di sini seperti nya orang berada semua ya." kata Rizal celingukan.
"Iya, tidak malam tidak siang sama saja, sepi...!" ujar Pandu.
Ke dua pria itu berjalan santai menuju rumah yang berjarak sekitar dua ratus meter dari masjid.
"Dari masjid nak Pandu?" sapa pak Mawan.
"Iya pak, jaga malam ya?" balas Pandu ramah.
Pandu dan Rizal pada akhirnya ikut bergabung di pos ronda.
"Ya begini lah, hampir setiap malam kami melakukan ronda." ujar pak mawan.
"Hampir setiap malam ternak warga di mangsa sosok aneh nak Pandu, kami juga tidak bisa menangkap nya." kata pak Herman memberitahu.
"Binatang buas kali pak, toh kampung ini dekat dengan hutan." ujar Rizal.
"Bukan nak Rizal, kami semua warga sudah pernah melihat nya. Dia sosok bertanduk, bentuk manusia kepala nya seperti kepala binatang!" ujar pak Iswan memberitahu.
Pandu terdiam, laki-laki ini kemudian pamit pulang. Setiba nya di rumah, Pandu mulai mengajak Rizal untuk berdiskusi.
"Kita harus bisa mengajak warga kampung untuk meramaikan sholat di masjid dan mushola yang ada. Kau tahu lihat sendiri tadi tidak sampai sepuluh orang." ujar Pandu.
"Sebaiknya besok kita berkeliling kampung, aku yakin jika kampung ini masih banyak hal lain yang terjadi. Apa warga di sini mengambil pesugihan ya?" tanya Rizal langsung di tegur Pandu.
"Jangan berkata seperti itu, nanti jatuh nya Fitnah." ujar Pandu.
Malam semakin larut, entah kenapa malam ini tidak ada suara ternak atau kejadian apa lah. Namun, ketika Pandu melaksanakan sholat malam diri nya seperti ada yang memperhatikan. Selesai Sholat Pandu membuka tirai, melihat ke luar yang masih gelap. Laki-laki itu tersenyum ketika melihat kepulan asap putih menghilang di bawa angin. Pandu menutup tirai kembali, sebentar laki-laki ini kembali menghamparkan sajadah nya lalu berdoa.
..aku sukaaa 🥰